Aren Indonesia

Bioetanol Aren

AREN BIOETHANOL

Sumber: http://nneenergy.wordpress.com/ January 7, 2009

A.Pengantar

Bioetanol atau Biofuel dikenal sebagai Bahan Bakar Nabati yang ramah lingkungan, merupakan sumber energi terbarukan yang menjadi alternatif pengganti (substitusi) dari bahan bakar minyak yang akan habis ketersediaannya sebagaimana yang telah mulai dirasakan masyarakat dunia saat ini.

Indonesia telah mengeluarkan regulasi tata-niaga produksi dan pemanfaatan bioetanol (biofuel) melalui KepMen tertangal 26 September tahun 2008 yang memungkinkan dunia usaha mengembangkan produksi bioetanol (biofuel) untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Disamping itu, Kementererian ESDM dan TIMNAS BIOETANOL terus menggalakkan inovasi pengembangan produksi bioetanol di Indonesia.

B. Regulasi Pemerintah

  • Kewenangan setingkat Gubernur untuk izin operasional kapasitas produksi diatas 5.000 ton/tahun s/d 10.000 ton/tahun.
  • Kewenangan setingkat Bupati/Walikota, untuk izin operasional kapasitas produksi hingga 5.000 ton/tahun.
  • Setiap daerah Propinsi/Kabupaten-Kota wajib memanfaatkan penggunaan bioetanol hingga 15% dari kuota BBM didaerahnya.
  • Penggunaan untuk kendaraan otomotif maksimal 10% dari kuota nasional, dalam bentuk campuran.
    Catt. Campuran 9 liter bensin premium + 1 liter bioetanol = PERTAMAX Plus
  • Indikasi harga disesuaikan dengan mekanisme pasar, atau dibawah BBM Non Subsidi
  • Peluang distribusi secara mandiri (independent).
  • Peluang eksport bioetanol

C. Pemanfaatan Produk Bioetanol

  1. Kadar 60% s/d 70%, sebagai substitusi produk alkohol (industri farmasi) sebagai substitusi Bahan Bakar Minyak jenis minyak tanah
  2. Kadar 70% s/d 80%, sebagai substitusi produk alkohol (industri farmasi)
  3. Kadar 70% s/d 90%, sebagai bahan pendukung produksi makanan & minuman
  4. Kadar 99,5% sebagai substitusi Bahan Bakar Minyak jenis bensin.

D. Peluang Industri Pendukung Produksi Bioetanol

  1. Kompor Bioetanol,
    a. Teknologi produksi sederhana dan mudah dikembangkan (inovasi)
    b. Tidak membutuhkan alat pendukung seperti tabung gas elpiji
    c. Nilai efisiensi dan ekonomis sangat tinggi
    · satu liter bioetanol samadengan dua setengah liter minyak tanah
    · proses pemasakan tidak ber-jelaga (bercak hitam) pada wadah memasak
    · proses peng-api-an sangat aman
    · kualitas peng-api-an lebih baik dibandingkan gas
    d. Peluang pasar yang besar dan lebar
  2. Depo Distribusi Bioetanol
    a. Penjualan Produk Campuran
    b. Penjualan Eceran Rumah Tangga dan Industri
  3. Bengkel Modifikasi
    a. Spare-part modifikasi sederhana kendaraan roda dua, atau bengkel modifikasi
    b. Spare-part modifikasi sederhana generator listrik, atau bengkel modifikasi

E. Hambatan dan Tantangan

  1. Kapasitas produksi tertinggi bioetanol yang di-izinkan pemerintah tidak mencukupi untuk memenuhi pasokan kebutuhan nasional dan mengurangi peluang pencapaian laba maksimum.
  2. Pengembangan jaringan produksi dan pemasaran pada setiap wilayah kerja setingkat propinsi dan kabupaten dalam bentuk kemitraan terintegrasi (pendekatan konsorsium) adalah tantangan yang menjanjikan bagi pertumbuhan usaha dan investasi
  3. Pergerakan pasar cenderung bersifat lokal – teritorial, sehingga kualitas dan stabilitas kultur korporasi dan kebijakan manajemen menjadi isu utama untuk dibakukan.

Aren Bioethanol

  • 60% pohon aren di dunia terdapat di Indonesia (Provinsi Sulawesi, Maluku, Papua, dan Sumatera)
  • Getah pohon aren mengandung air nira (saguer) yang dikumpulkan dari
  • Getah dipanen untuk menghasilkan gula dan dapat juga difermentasikan mnjadi cuka dan arak
  • Getah yang telah difermentasikandidestilasi untuk dikembangkan menjadi sumber biofuel (ethanol) yang utama
  • Pohon aren yang (?) digunakan untuk produksi tepung sagu
  • Pohon aren mulai dapat disadap setelah berumur 5 tahun
  • Produktivitas pohon aren mencapai hingga 5 tahun
  • Pohon aren mampu menghasilkan 20 liter air nira per-hari dengan potensi produksi 36.000 liter per pohon.
  • Harga air nira aren berkisar antara Rp. 150,- – 250,- / liter
nne

Nira Aren Bahan Baku Agroindustri Bioetanol Yang Menjanjikan

Sumber: Trubus, Nov 23, 2007; http://www.pusatagroindustri.com/

Pada akhir 2006 Eka Bukit juga menggeluti bisnis bioetanol. Baik biodiesel (sumber energi mobil bermesin diesel) maupun bioetanol alias biopremium termasuk bahan bakar nabati yang bersumber dari tumbuhan. Sarjana Teknik Industri alumnus Universitas Sumatera Utara itu memang tak mengolah dari bahan mentah. Ia bekerja sama dengan puluhan produsen bioetanol skala rumahan di Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.

Masyarakat setempat secara turun-temurun piawai mengolah nira aren menjadi etanol dengan peralatan sederhana. Karena terbiasa mengolah etanol, teknologi produksi sangat mereka kuasai. Dengan demikian, Eka tak harus menyuluh atau mengajari cara menyuling, misalnya. Bagi mereka, etanol nira aren itu sebagai bahan minuman keras yang sohor dengan sebutan Cap Tikus. Malahan minuman itu juga dikapalkan ke Papua.

Bioetanol produksi mereka berkadar etanol 35%. Untuk menghasilkan satu liter perlu 9 liter nira. Padahal, bermacam industri seperti farmasi dan kosmetik memerlukan etanol berkadar 99,6%. Eka kemudian memurnikan hasil sulingan masyarakat Minahasa Selatan hingga diperoleh kadar etanol 99,6%. Menurut perhitungan Eka, untuk menghasilkan 1 liter bioetanol 99,6% menghabiskan 15 liter nira aren.

Di Minahasa Selatan yang menjadi sentra aren, harga seliter nira Rp200. Untuk menghasilkan bioetanol Eka menghabiskan Rp3.000. Itu baru untuk bahan baku. Dengan menghitung biaya proses, transpor Manado-Jakarta, dan pajak, total biaya produksi untuk menghasilkan 1 liter bioetanol 99,6% mencapai Rp4.700. Ongkos transpor Manado-Jakarta Rp700 per liter.

Pasar terbentang

Rata-rata produksi Kreatif Energi Indonesia 1-2 ton per hari atau 20.000 ton per bulan. Kepada reporter Trubus Andretha Helmina, Eka Bukit mengatakan bahwa volume penjualan bioetanol mencapai 1-2 ton per hari dengan harga Rp6.500 per liter. Artinya, setiap hari ia mengutip laba bersih Rp1.800.000-Rp3.600.000 atau Rp36-juta per bulan dari penjualan bioetanol skala rumahan.

Memang produksinya belum dikonsumsi oleh kendaraan bermotor, walau sudah memenuhi standar kualitas bahan bakar nabati. Namun, lantaran konsumen bioetanol sangat luas, Eka baru sanggup memasok industri farmasi. ‘Pasarnya luar biasa besar,’ ujar direktur operasional PT Kreatif Energi Indonesia itu. Sebagai gambaran, hingga saat ini Eka belum sanggup melayani tingginya permintaan bioetanol.

Setidaknya 255 ton permintaan rutin per bulan yang gagal terpasok. Jika itu terlayani, tentu saja Eka bakal meraup laba bersih jauh lebih besar. Oleh karena itu lajang kelahiran Medan 16 Juni 1972 itu kini membuka pabrik pengolahan bioetanol di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Daerah itu dipilih lantaran terdapat 14 kecamatan sentra aren dari total 22 kecamatan. Lokasinya gampang dijangkau dari Jakarta dan relatif dekat.

Jarak yang dekat berarti memangkas biaya produksi, terutama biaya pengangkutan. Di Lebak, Banten, bungsu 5 bersaudara itu juga menerapkan pola kemitraan dengan masyarakat. Ia akan menampung seluruh produksi mereka sepanjang memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan. Saat ini 14 kecamatan itu menghasilkan 120 ton nira per pekan. Eka juga mengembangkan 7 ha sorgum sebagai bahan baku. Anggota famili Gramineae itu memang potensial sebagai penghasil biotenaol (baca: Tanaman Penyumbang Bahan Bakar halaman 22).

Itulah strategi Eka membangun kilang hijau. Kilang adalah instalasi industri tempat pemurnian minyak bumi. Namun, kilang juga berarti fermentasi air tebu atau nira. Proses itu harus dilalui ketika ia mengolah nira menjadi bioetanol yang terus ia kembangkan. Ia sama sekali tak khawatir soal pemasaran. Selama ada kehidupan, bioetanol tetap diperlukan: untuk minuman, makanan, kosmetik, rokok, juga bahan bakar. (Sardi Duryatmo/Peliput: Andretha Helmina). Sumber : Majalah Trubus

Produksi Biotheanol dari Nira Aren Skala Mikro-Kecil

Written by supermin,  Senin, 10 Desember 2007

Sumber: http://www.qmi-mit.com/

Ethanol (Ethyl Alkohol-C2H5-OH) sudah dikategorikan sebgai energi komersial atau energi teknis karena telah mencapai kematangan teknis dan kematangan komersial dengan Brasil sebagai produsen ethanol terbesar di dunia. Saat ini perusahaan-perusahaan otomotif sudah memproduksi mobil dengan bahan bakar ethanol seperti Volswagen AG. Bahkan di Brasil telah mengembangkankan pesawat terbang kecil EMB 202, yang merupakan pesawat terbang pertama di dunia menggunakan bahan bakar ethanol (alcohol) dan saat ini lebih dari 300 pesawat terbang kecil di Brasil telah memakai ethanol sebagai bahan bakar.

bpk johan susilo

Bioethanol merupakan bahan bakar alternatif pengganti premium dan pertamax, sehingga pemakaiannya akan menghemat devisa. Bioethanol dapat dihasilkan dari tetes tebu, singkong, jagung, sorghum maupun aren, sehingga merupakan energi yang dapat diperbaharui. Selain itu gas buang dari mesin yang menggunakan bioethanol mempunyai emisi yang lebih rendah disbanding dengan minyak premium maupun pertamax.Pada umumnya mesin yang bisa memproses bahan bakar ethanol disebut Flex-Fuel dan mesin yang menggunakan bahan bakar minimal nilai octan 90 dapat juga dikonversi pemakaian bahan bakarnya dengan komposisi Premium 80%-90% (perkiraan nilai octan 88) ditambah ethanol 10%-20% (dengan nilai octan 129) sehingga dapat menghasilkan nilai octan 91-93.

Saat ini di Indonesia telah dibangun beberapa pabrik bioethanol plant dengan kapasitas mulai dari 300 liter/hari dengan system batch sampai dengan 600 ton/hari dengan system kontinyu sebagai langkah awal untuk pengembangan selanjutnya ke skala komersial. Keputusan kebijakan untuk menentukan kelayakan penggunaan bioethanol secara umum perlu dilandasi suatu kajian yang mendalam dengan mempertimbangkan penguasaan teknologi, nilai ekonomis, kontinyuitas suplai dan manfaat lain dari penggunaan bioethanol tersebut.

Ethanol saat ini berasal dari beberapa sumber, Brasil dari tebu, Amerika Serikat dari jagung, sedangkan di Indonesia umumnya berasal dari tebu, sorghum, singkong termasuk oleh BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dan PT Blue Indonesia mengembangkan dari aren (airnira) dan nipah. Dengan pengembangan teknologi dari PT Blue Indonesia telah berhasil menciptakan alat distilasi berukuran kecil dan mobile dengan kapasitas 500liter/hari-1500liter/hari (dengan ukuran 2.5m x 0.8 m x 0.5m : kadar output ethanol, 85 %, 95 % dan 98 %) dengan bahan baku dari hasil sadap pohon aren. Alat yang diciptakan PT Blue Indonesia sangat praktis dan cocok dioperasikan oleh masyarakat untuk skala home industri dengan kapasitas 100 l/hari – 1000 l/hari) dengan memakai bahan yang murah dan praktis.

Potensi tanaman aren di Sulawesi Utara.

Menurut Johan Susilo,ST. Direktur Utama PT Blue Indonesia yang telah mengembangkan industri bio-etanol Sulawesi Utara, pada Workshop Budidaya dan Pemanfaatan Aren untuk Bahan Pangan dan Energi, Kamis, 6 Desember 2007 di gedung BPPT II.Tanaman aren merupakan salah satu tanaman hutan/perkebunan yang memiliki fungsi sebagai sumber pendapatan dan tanaman konservasi tanah dan air. Tanaman aren di Sulawesi Utara pada umumnya masih tumbuh liar dan hanya sebagian kecil yang telah ditanam pada daerah aliran sungai atau jurang. Luas areal pertanaman aren di Sulawesi Utara hingga tahun 2004 mencapai 2.942 ha yang tersebar di 7 kabupaten dan 44 kecamatan. Peluang pengembangan dan perluasana areal penanaman baru di Sulawesi Utara masih dapat dilaksanakan. Disampig itu dilaksankan intensifikasi untuk beberapa areal pertanaman yang masih belum teratur pola tanamnya. Peluang pengembangan produk tanaman aren dilakukan dengan cara-cara seperti optimalisasi produk, penggunaan teknologgi dan pengembangan pasar. Jenis produk yang potensial dan mempunyai peluang export adalah alkohol teknis, gula semut, gula merah, alkohol untuk bahan bakar dan minuman beralkohol. Kondisi iklim dan tanah Sulawesi Utara sebagian besar sangat besar sangat sesuai dengan syarat tumbuh aren.

Berdasarkan data lapangan yang ada, diperkirakan terdapat 300-400 pohon per ha, dimana jumlah tanaman yang produktif antara 100-150 pohon per ha dengan perkeiraan jumlah nira rata-rata 25 liter/pohon/hari atau 11/032.500 liter perhari apabila dikonversi ke ethanol setara dengan 735.500 liter perhari atau 264.780.000 liter ethanol pertahun.

Aren Sulut Bisa Atasi Krisis BBM, Produksi Etanol Lima Kali Lipat Konsumsi Bensin

Sumber: Manado Post,  http://www.blue.co.id/berita.htm

MANADO— Jika masyarakat Sulut serius memanfaatkan Cap Tikus untuk mengganti BBM, konsumsi premium (bensin) malah bisa akan digantikan bio etanol. Betapa tidak, jika dimaksimalkan potensi 2 juta pohon aren Sulut maka 876 ribu kiloliter (Kl) bio etanol bisa dihasilkan dalam setahun. Sementara konsumsi bensin untuk kendaraan di Sulut, hanya sekitar 180-an Kl dalam setahun. Artinya, produksi bio etanol hampir 5 kali lipat dibandingkan dengan konsumsi bensin.

Perhitungan yang diberikan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), konsumsi bio etanol sebagai substitusi bensin pun tidak seluruhnya, tapi hanya sepersepuluh bagian. Atau 9 bagian bensin dicampur dengan bio etanol dengan kadar 99,5 persen. “Campuran ini sudah bisa menghasilkan bahan bakar sekelas Pertamax yang beroktan 92,” kata Dr Unggul Priyanto, Direktur Pengembangan Sumberdaya Energi Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Hitung-hitungan kasar juga diberikan. Jika diasumsikan konsumsi premium Sulut sekitar 200 ribu Kl, berarti hanya cukup saja 180 ribu Kl yang dipasok karena 20 ribu Kl sudah bisa digantikan dengan bio etanol dari cap tikus Sulut. “Ini artinya memaksimalkan potensi lokal. Aren sangat berpotensi asalkan masyarakat dan pemerintah punya komitmen. Toh, tidak seluruh produksi untuk substitusi BBM,” tambah Unggul.

Sementara Sekretaris I Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) Dr Ing Evita H Legowo menyatakan, hasil penelitian dari Tim Nasional BBN memang sudah cukup banyak, tapi tinggal menunggu respon pemerintah untuk membuat regulasinya. “Bahan bakar nabati dari bio etanol terutama aren sudah cukup lama diuji coba, kami tinggal menunggu respon dari Pertamina dan pemerintah soal tata niaganya,” kata Dr Evita.

Asisten II Setprov Sulut Marieta Kuntag MBA menyambut baik terobosan ini. Katanya, Pemprov, dalam hal ini Disperindag dan Dinas Perkebunan sementara menyusun program untuk pemanfaatan aren sebagai substitusi BBM. “Kemungkinan akan diperbanyak industri pengolahan air nira menjadi etanol teknis yang fisibel untuk mencampur premium,” katanya. “Kami sudah mengusahakan perbaikan tanaman aren. Sebab, selain untuk produksi gula semut juga untuk etanol,” timpal Kadis Perkebunan Ir Rene Hosang.
Baik Unggul dan Dr Evita menyarankan agar masyarakat Sulut menjaga pohon aren yang sudah ada, bahkan tambah menanam, karena potensi aren sangat besar sebagai pengganti BBM maupun konsumsi lain. “Ini potensi lokal yang harus dikembangkan. Kalau Sulut kelebihan, bisa dilempar ke daerah lain yang kekurangan etanol,” ujar mereka. Saat ini yang memproduksi alkohol dari nabati baru di Jawa dan sebagian Sumatera dari tetes tebu. (sumber: Menado Post)

AREN DAN BIOETHANOL

Written by Dirattanhun

Friday, 25 July 2008

Aren menyebar luas di banyak daerah dengan wilayah penyebaran antara garis lintang 200 LU – 110 LS antara lain Indonesia. Di Indonesia aren banyak tumbuh di wilayah perbukitan, pegunungan dan lembah dengan perkiraan areal seluas 60.482 ha. Semuan bagian dari tanaman aren dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia bahkan nira aren berpotensi untuk memproduksi bioetanol, namun sampai saat ini masih mengandalhan tanaman aren yang tumbuh liar.

Tanaman aren tidak membutuhkan kondisi tanah yang khusus dan tidak memerlukan pemeliharaan yang intensif, dapat tumbuh pada tanah liat, berlumpur dan berpasir, pada ketinggian antara 9 – 2000 m dpl dengan curah hujan lebih dari 1.200 mm setahun. Upaya pengembangannya sangat memungkinkan, disamping masih luasnya lahan tidak produktif yang cocok. Semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia, antara lain nira selain diolah menjadi gula juga bioethanol. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi melaporkan bahwa produktivitas bioethanol dari aren dapat mencapai 40.000 liter per hektar per tahun. Mengingat pohon aren telah banyak ditemukan disejumlah wilayah, maka produksi bioethanol dari aren bisa dilakukan sekaligus bersamaan dengan perluasan tanaman. Produk utama dari aren adalah gula semut yang antara lain telah dikembangkan oleh Yayasan Massarang di Tomohon, Sulawesi Utara. Hasil produksinya di ekspor, sedang untuk nira yang tidak lolos kualifikasi untuk produk gula, diolah menjadi bioethanol.

Sumber: http://ditjenbun.deptan.go.id/tahunanbun/tahunan/index.php?option=com_content&task=view&id=122&Itemid=30

AREN MERUPAKAN SALAH SATU PENYUMBANG PENYEDIAAN BIO-ETHANOL

December 6, 2007, 5:45 pm| Berita Departemen | Klik: 57

Jakarta, 6/12/2007 (Kominfo-Newsroom) – Seorang pejabat Kementerian Negara Riset dan Teknologi mengatakan, Aren merupakan salah satu yang menjadi peyumbang bagi penyediaan bio-ethanol dalam rangka pengembangan bio-ethanol yang diprogramkan pada tahun 2011.

“Dalam pengembangan aren tentu kita perhatikan dari sisi hulu, proses sampai kepada penduduk,” kata Deputi Bidang Perkembangan Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kemenneg Ristek Dr. Ir. Bambang Sapto Pratomosunu, M.Sc pada pembukaan workshop budidaya dan pemanfaatan Aren untuk bahan pangan dan energi di Jakarta, Kamis (6/12).

Dalam pengembangan tersebut, Akademisi, Business, dan Government (ABG) akan mengupayakan dari hulu sampai ke hilir. Dari hulu penyediaan bahan bakunya, prosesnya, dan kemudian di akhirnya akan menangkap untuk bisa disalurkan kepada pengguna.

Di beberapa daerah Aren telah dimanfaatkan, ada yang diambil tepungya, ada yang dimanfaatkan untuk menjadi minuman dengan kadar tertentu, dan sekarang teknologi telah memungkinkan untuk memprosesnya menjadi bahan baker.

Maka pada tingkat proses telah menjadi bahan pokok pembicaraan, tetapi juga pembinaan kepada para penyedia hingga untuk keanekaragam penggunaan tetapi diarahkan menjadi wadah ilmiah untuk mendukung bahan bakar.

“Jadi kondisi hulu, proses, sampai kepada hilir diharapkan akan menjadi pokok pembahasan yang sangat bermanfaat hingga memberikan konstribusi dari salah satu penyedia bahan bakar,” ungkapnya.

Sementara itu, Peneliti Aren Puslitbangbun Deptan Bogor, Dr. David Allorerung dalam acara yang sama mengatakan, Aren sejak jaman dahulu sudah menyebar di seluruh Indonesia, termasuk salah satu keluarga palma yang serbaguna, dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 meter di atas permukaan laut.

Selama ini penyebarannya berlangsung secara alamiah saja, dan bahkan dianggap sebagai tanaman liar saja atau tanaman hutan. Budidaya Aren masih sangat langka karena kegiatan penelitian untuk tanaman tersebut sangat terbatas dan tidak kontinyu sebagai konsekuensi dari rendahnya perhatian terhadap pengembangan komoditas tersebut.

Aspek penemuan varietas unggul adalah salah satu aspek yang tidak disentuh oleh para peneliti, dan hingga saat ini belum ada suatu varietas unggul yang dilepas secara resmi oleh pemerintah.

Sementara Aren bisa dimanfaatkan kalau disadap, artinya memerlukan tenaga kerja terampil, dan beda misalnya kalau tebu. Buruh panen tebu tidak perlu ada keterampilan yang diperlukan ada teknologi di pabriknya, tetapi kalau Aren perlu tenaga terampil, untuk itu semua petani belum tentu mampu memanennya, sehingga perlu diberikan pelatihan.

Dari hasil-hasil penelitian selama ini, disebutkan satu pohon bisa menghasilkan rata-rata 15 liter perhari, kalau dari tanaman yang baik.

Aren selain disadap, juga menghasilkan kolang kaling dari bunga betina sebagai bahan makanan penyegar untuk campuran buah segar atau panganan seperti kolak.

Tanaman Aren tersebut juga lazim ditebang untuk diambil patinya yang banyak digemari karena aromanya lebih disukai dibandingkan pati dari sagu. Pati dari Aren tersebut terutama digunakan dalam industri makanan semacam mie yang disebut sohun (so’un) dan untuk membuat makanan ringan seperti cendol. (T. Gs/toeb/c )

Sumber: http://web.dev.depkominfo.go.id/blog/2007/12/06/aren-merupakan-salah-satu-penyumbang-penyediaan-bio-ethanol/

4 Comments »

  1. saya tertarik sekali dengan pengembangan bioethanol ini. terlebih dengan diberdayakannya sektor umkm. ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan :
    1. dimana pelatihan tentang mengolah bahan baku menjadi bioethanol?
    2. peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk mengolah bioethanol?
    3. berapa biaya yg dibutuhkan untuk membuat pabrik bioethanol skala rumahan/umkm?

    terima kasih sebelumnya ,

    Comment by jonny — January 12, 2011 @ 12:42 pm

  2. saya juga tertarik
    boleh nih di share, atau kirim ke imil
    jawaban pertanyaan dari bung joni di atas

    makasih

    Comment by eko j nugroho — April 21, 2011 @ 10:26 am

  3. saya tertarik dengan pengembangan bioethanol tsb.

    1. Bisa tolong juga dishare jawaban u/ pak Jonny.
    2. saya juga mendapat informasi kalau limbah organik sayuran / buah2an juga dapat diproses menjadi bioethanol ?
    3. Bila bisa, apakah alat pemrosesnya sama.

    Terimakasih.

    Comment by Sapto — March 9, 2012 @ 5:10 am

  4. Sy jg petani aren ingin tau cara mengelolah nira aren menjadi bioetanol mohon penyuluhannya.

    Comment by Jamriadi — July 6, 2013 @ 12:33 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 31 other followers

%d bloggers like this: