Aren Indonesia

Evi Indrawanto

Evi Indrawanto : Manisnya Bisnis Gula Semut

Sumber : Majalah Wirausaha dan Keuangan (WK), Sunday, April 5, 2009; http://gula-aren.blogspot.com/search/label/Kliping

gula semut

Gula semut aren / gula kristal aren merupakan gula merah berbentuk serbuk atau dikenal pula sebagai Palm Suiker. Terbuat dari nira aren dan tidak diberi campuran kimia apapun. Kini semakin banyak peminatnya. Bekerja sama dengan tidak kurang dari 500 orang petani pembuat gula aren sebagai pemasok bahan baku dan telah disertifikasi organik oleh The Institute Marketecology (IMO) Switzerland, Evi Indrawanto, owner CV Diva Maju Bersama ini mengolah dan mendistribusikan gula semut aren organik ini sebagai bisnis utamanya.

Sebelumnya, Evi telah memproduksi sari Jeruk Kalamansi yang kaya Vitamin C, Madu Hutan yang kaya nutrisi, Beras Merah Organik, kemudian ia merambah bisnis gula semut aren ini. Produk-produk ini cukup banyak diminati masyarakat, berkat kesadaran masyarakat yang ingin hidup sehat semakin tinggi. Bisnis gula aren yang ditekuni Evi sendiri berawal dari adanya pasar yang semakin luas yang membutuhkan gula aren ini. Seperti diketahui gula ini sudah sangat dikenal oleh masyarakat, dan digunakan diberbagai jenis masakan dan makanan, namun anehnya hingga saat ini belum ada pabrik gula aren yang representative di Indonesia.

“Saya mencoba menghadirkan gula aren lebih praktis dan higienis kepada masyarakat, karena faktanya gula aren memiliki kandungan gizi yang tinggi, aroma, rasa dan warnanya yang tidak bisa digantikan oleh gula lain, bukan kah kita sedang berbicara tentang sebuah lubang besar yang perlu diiisi?,” ujar Evi. Betul juga. Evi kini memang serius menjual dan menawarkan produk gula ini kepada masyarakat sebagai produk herbal yang sehat untuk keperluan sehari-hari. Berminat hubungi telepon 021-70882420 n

Manisnya Laba dari Bisnis Gula Sehat

Sumber:  Harian Kontan, 11 Maret 2009; http://gula-aren.blogspot.com/search/label/Kliping

evi

JAKARTA. Gula semut alias gula aren memang belum sepopuler gula pasir. Tapi, potensi bisnis gula aren ini tak kalah dengan gula pasir. Meski harganya agak mahal, toh tetap banyak masyarakat melirik gula dari pohon aren ini.

Apalagi mengkonsumsi gula aren merupakan bagian gaya hidup sehat. Sebab, gula semut dipercaya tidak mengandung bahan kimia. Di hotel-hotel berbintang, gula semut disodorkan sebagai salah satu alternatif pemanis minuman kopi atau teh.

Peluang industri gula semut semakin besar setelah beberapa industri makanan dan minuman, khususnya industri roti, mulai meminati jenis pemanis ini. Selain untuk memenuhi kebutuhan industri lokal, beberapa perusahaan dari luar negeri juga butuh pasokan dalam jumlah besar.

Sayangnya, pasokan gula semut ini tidak stabil. Gula jenis ini juga sempat diguncang isu formalin. Makanya, yang diserap industri umumnya adalah gula semut organik yang telah bersertifikat pangan organik. Misalnya, gula semut merek Diva’s, olahan CV Diva Maju Bersama.

Evi Indrawanto mendirikan usaha ini sejak tiga tahun lalu. Kini, Evi meraup omzet hingga Rp 50 juta per bulan dari usaha ini. Omzet ini masih kecil dibanding pendapatan tahun lalu yang pernah mencapai Rp 100 juta per bulan. “Pasaran memang sedang sepi. Tetapi, permintaan jalan terus,” kata ibu berusia 44 tahun ini.

Awalnya, Evi adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Perkenalannya dengan bisnis gula semut berasal dari sang suami. “Waktu itu, suami saya memberikan informasi peluang bisnis sebagai pemasok gula semut,” ujarnya.Evi yang memang berminat berbisnis lantas menyambar kesempatan yang ditawarkan suaminya itu. Dia mulai merintis usahanya dengan men-cari pasokan gula aren. Dengan gigih, ia mendekati petani gula aren di Garut, Cianjur, dan Banten.

Selain pasar lokal, pasar ekspor juga membutuhkan gula semut.

Dalam waktu singkat, Evi berhasil mengumpulkan 400 petari gula aren setengah jadi yang mau memasok kepadanya. Selanjutnya, Evi mulai mendirikan pabrik pengolahan gula aren dengan modal Rp 200 juta di Serpong, Tangerang.

Kapasitas produksi di pabrik pengolahan gula aren milik Evi mencapai 75 ton per bulan. Namun, karena kondisi krisis, saat ini, produksi Evi hanya 10 ton per bulan. Evi menjual produknya seharga Rp 10.000 per kilogram (kg). Dari harga tersebut, hanya mendapat keuntungan Rp 2.000 per kg. “Saya membeli dari petani seharga Rp 8.000 per kg,” tuturnya.

Evi juga menjual gula semut dalam kemasan saset ukuran 225 gram, yang bisa untuk enam kali minum. Harganya Rp 7.500 per saset. Dari harga itu, ia mengambil marjin 30%.

Evi banyak mengandalkan pameran dalam memasarkan produknya. “Sebab, lebih tepat sasaran. Kalau melalui internet, malah tidak banyak terjual,” ujar ibu dua anak ini….( ) #Aprilia Ika

Rejeki Renyah Dari Alam

Sumber: Dari Majalah DUIT! NO. 04/III/April 2008, Thursday, April 24, 2008; http://gula-aren.blogspot.com/search/label/Kliping

Foto DUIT!2

Bersama suaminya dari rumah mereka, Evi Indrawanto membangun bisnis pengolahan nira aren menjadi gula semut/gula aren kristal dengan merek Diva’s Arenga Palm Sugar. Dan mereka menemukan passion kewirausahaan di bisnis yang kini mereka tekuni. Majalah DUIT! Meminta Evi Indrawanto menuliskan refleksinya tentang ‘bisnis rumahan’ mereka. Berikut ini hasilnya.
———————————–
Mengapa kami memutuskan jadi entrepreneur lalu mendirikan CV. Diva Maju Bersama ( DMB ) dan menjatuhkan pilihan pada gula aren semut sebagai bisnis utama? Ini bermula dari beberapa cerita.

Saya memutuskan berhenti kerja kantoran setelah 1 tahun kelahiran anak pertama yang sekarang berusia 16 tahun. Jadi saya mengerti ungkapan ini : Menghabiskan waktu bersama anak-anak, mengawasi dan melihat mereka tumbuh di bawah mata.

Saya kira kenikmatan seperti itu tidak berlaku pada Indra, suami saya. Selama hampir 18 tahun berumah tangga Indra jarang sekali melihat matahari bersama keluarga. Pergi pagi dan pulang hampir pagi lagi. Dia terpaksa memberikan seluruh waktu dan perhatiannya pada karier karena hukum yang berlaku dalam dunia professional adalah semakin tinggi kedudukan semakin tinggi pula tuntutan tanggung jawabnya.

Sebagai mahkluk sosial kita selalu belajar dari lingkungan. Saya dan Indra berasal dari keluarga pedagang. Ke keluarga manapun kami berkunjung, pembahasan mereka tidak jauh dari masalah dagang. Tidak salah bukan kalau kami pun ingin jadi padagang?
Suatu ketika beberapa kerabat ramai-ramai membahas masalah bisnis mereka, kebebasan waktu, sekolah yang memadai bagi anak-anak, tempat liburan, masa pensiun, yang mau tidak mau membuat kami menoleh kepada diri sendiri. Di mana tempat kami ? Yang jelas tidak satu lokasi pun mendekati mereka.

Dan ketika Anda ‘ngotot’ jadi pegawai karena satu-satu cara yang anda tahu hanya itu, sementara ada tuntutan lain yang tidak akan mungkin di raih dengan menjadi pegawai, tak bisa disalahkan bila situasinya jadi menggelisahkan. Tapi Anda juga pasti tahu, 23 tahun berada dalam zona nyaman seorang karyawan lalu membuat surat pengunduran diri dan memilih masa depan yang belum pasti dalam dunia wirausaha juga bukan pilihan favorit para mertua di seluruh dunia. Ibarat masuk hutan, jalan-jalan di muka tidak punya papan tanda, apapun bisa terjadi : masuk lubang atau di mangsa hewan buas.

Namun kesukaan saya kepada Plato dan salah satunya sudah di kutip milyaran orang di muka bumi bahwa ‘kemenangan utama dan terbesar adalah milik mereka yang mampu mengalahkan diri sendiri” membuat saya berani ke luar dari tenda untuk mendukung keputusan suami. Di tambah lagi fakta bahwa ketika lahir tidak seorang pun membawa peta , jadi mengapa harus takut tersesat di jalan?

Bisnis pertama jadi pemulung. Kami membawa ber truk-truk botol minuman bekas dari Lampung ke Jakarta dan langsung game over di ronde pertama. Ketika itu rasanya seperti naik mobil slip di tepi jurang. Sekali kedip langsung jatuh melayang. Untung lah ada dukungan dari tabungan keluarga sehingga kegagalan itu membuat kami serasa seperti Socrates: pengalaman itu memang guru paling mahal. Tidak ada yang bisa disalahkan , belajar bisnis lalu mempercayakan pengelolaannya pada orang lain memang konyol kalau di teropong dari sudut manapun juga.

Ada pula pepatah mengatakan kegagalan masa lalu merupakan pedoman bagi kesuksesan di masa datang. Sacara naluriah Indra juga melihat bahwa dia bisa memulai lagi dari titik dia mengakhiri. Tapi kali ini harus di lakukan secara berbeda. Bersamaan dengan itu pula Allah mengetuk pintu rumah kami dengan mengirim seorang utusan-Nya yang kebetulan dulu bekerja satu perusahaan dengan Indra. Menurutnya perusahaan yang telah mereka tinggalkan, membutuhkan gula semut dalam jumlah banyak dan malah sering kekurangan pasokan.

Waktu itu kami tidak tahu apa itu gula semut. Pernah dengar namanya tapi saya pikir itu semacam zat kimia yang mampu membunuh segerombolan semut merah.
Berbekal informasi minim tersebut kami mulai bergerak dan berburu gula aren sampai ke pelosok-pelosok terpencil. Bertemu banyak orang, menyesuaikan frekuensi , masih sempat juga di bohongi , sampai akhirnya terjadi perjumpaan dengan sekelompok petani yang mampu menyuplai bahan baku gula aren semut yang harus di olah kembali di sebuah pabrik mungil di Serpong agar sesuai standar yang diminta pabrik.

Salah satu cara paling sederhana dan paling murah dalam mengelola bisnis pemula adalah memulainya dari rumah. Dan salah satu cara paling jenius dalam menekan budget adalah merekrut istri sendiri sebagai karyawan.

Saya pikir ide bekerja dari rumah adalah penemuan manusia terpenting setelah internet . Berkendara menyusuri jalan-jalan di Jakarta dan sekitarnya saat ini seperti memikul puluhan kilo gula aren sambil bernyanyi “ killing me softly “. Macet saat ini sudah hampir tidak bisa ditolerir. Saya amat bersyukur sekarang Indra sudah keluar dari sana.

Keuntungan lain, sekalipun tetap dituntut untuk tampil rapi, namun bekerja dari rumah tidak perlu membuat saya harus menyisihkan budget khusus untuk pakaian dan pernik-pernik lain yang dibutuhkan perempuan pekerja dalam menjaga penampilan. Di rumah saya bebas menggunakan T-shirt , jeans bulukan, celana buntung atau rok warisan dari ibu tanpa takut dapat julukan ‘ miss penoda lingkungan “ dari teman-teman.
Tapi bisnis kami harus dikelola secara professional. Pelanggan kami sebagian besar adalah corporate besar. Banyak syarat yang harus dipenuhi sebelum mengetuk pintu mereka, jadi mana mungkin menerapkan manajemen “ jeans butut” dalam mengelola DMB. Pada saat jam kerja saya memang bisa bolak-balik antara dapur dan ruang kerja, antara komputer dengan kompor, namun kala berhubungan dengan dunia luar saya harus tetap memegang kode etik dunia kerja. Membangun bisnis artinya membuka akses ke berbagai kesempatan. Kesempatan itu terbuka kala kita bertemu dengan orang. Dan berusan dengan orang tidak bisa sesederhana cara saya berpakaian.

Bekerja sendiri juga memungkin saya menjadi tuan di atas waktu. Memang tidak bebas-bebas amat, namun keterikatannya tidak sampai menekan perasaan. Kadang malah begitu longgarnya sampai tidak tega menolak ajakan teman jalan-jalan ke mall dan menumpuk beberapa pekerjaan untuk dikebut pada malam hari. Saya juga termasuk paling rajin setor muka di sekolah anak-anak , terutama yang membutuhkan kehadiran orang tua.

Yang sedikit sulit adalah ketika Indra harus ke luar kota atau ke luar negeri. Itu artinya selain mengendalikan kantor di rumah saya juga harus mengawasi proses produksi di pabrik. Belum lagi kalau terima complain dan harus bertemu dengan mereka. Ah pengennya balik ke jaman flintstone, bersembunyi dalam gua.

Sebetulnya saya lebih suka baca novel dan literature yang bersifat sedikit menantang cara berpikir ketimbang buku-buku bisnis yang di tulis secara teknis. Untungnya buku-buku penyemangat seperti yang di tulis oleh Rober t T Kiyosaki, Donald Trump , Anthony Robbins dll. menggunakan gaya bahasa yang sangat menghibur. Sambil rekreasi mereka mengasah intuisi bisnis saya.

Perempuan yang tinggal dan berbisnis dari rumah, sekarang ini tidak perlu menderita seperti katak dalam tempurung. Bila tahu cara memanfaatkan informasi dari buku, majalah, tabloid, radio dan internet, cakrawala pun akan terus memuai sampai tak terbatas. Terutama internet dengan mesin pencari-nya, teknologi ini tidak akan pernah membuat seseorang merasa ketinggalan, karatan dan tua sebelum waktunya.

Lalu apa hebatnya berbisnis gula aren?

Unique selling point dari gula aren semut ini benar-benar bertindak sebagai pembuka jalan bagi bisnis DMB. Setelah sukses membuka pasar bagi gula aren semut, kami mulai mengembangkan produk gula aren cair. Sebuah cara yang sangat praktis dalam pemakain gula aren. Dan Diva’s Gula Aren Kristal dan Gula Aren Cair di buat tanpa pengawet, berbahan dari nira aren yang disadap dari tumbuhan aren liar di hutan dan lereng-lereng gunung. Untuk pasar retail, mereka yang perduli kesehatan lah umumnya yang menjadi pelanggan setia kami.

Terjun ke bisnis dan mendedikasikan seluruh perhatian kepada pengembangannya membuka pintu peluang di segala arah. Saat ini DMB juga bekerja sama dengan para petani Jeruk Kalamansi dari Sumatera dengan memasarkan sari jeruk kalamansi asli yang dikentalkan dengan gula pasir asli ke beberapa restoran di Jakarta dan Serpong. Kami juga mendatangkan madu hutan dan bee pollen dari Sumatera.

Begitu pula ceruk-ceruk pasar yang tadinya tidak terpikirkan satu persatu membuka diri untuk dieksplorasi. Tahu-tahu DMB dikenal sebagai perusahaan berkonotasi hijau, peduli petani dan kesehatan masyarakat. Apa lagi setelah beberapa kali ikut pamera, liputan media, input dari pelanggan, penawaran kerjasamapun datang saling susul menyusul.

Yang paling membanggakan adalah saya mengelola dan member nilai tambah pada hasil kekayaan bumi Indonesia. Dahulu orang hanya mengenal gula aren dalam versi cetak, daya simpan yang singkat untuk kemudian meleleh dengan bentuk kurang menarik. Namun sekarang gula aren ini melenggang sampai Eropa dan mampu bertahan sampai dua tahun tanpa mengurangi mutu dalam kemasan tertutup rapat.

Mengetahui bahwa hasil kekayaan bumi Indonesia ini tidak hanya bermain di kandang sendiri namun dinikmati juga oleh orang asing tidak hanya memikat saya sebagai pengusaha namun juga menarik perhatian beberapa pihak untuk membantu pemasarannya, termasuk pemerintah RI tercinta ini.
——————————
Evi Indrawanto bersama suaminya adalah Pemilik CV. Diva Maju Bersama yang bisnis utamanya mengolah nira aren menjadi gula semut/gula aren Kristal dan gula aren cair. Ia dapat dikontak di diva-arenga@yahoo.com
Diva Maju Bersma, CV
Jl. Sutera Gardenia 5/22
Alam Sutera – Serpong
Telp. 021-70882420, 081932418190

Memicu Lahirnya ‘Diva’

Sumber: http://www.gacerindo.com/2008

Indrawanto mengeksplorasi aren menjadi aneka bentuk dan jenis gula. Karena dibuat dari pohon aren dari pegunungan yang masih alami, ia yakin gula aren akan diterima sebagai gula organik.
Selain negeri nyiur melambai, Indonesia sebenamya dapat juga disebut sebagai negeri yang dipagari enau. Soalnya pohon enau atau aren, tumbuh subur di berbagai pegunungan Tanah Air. Acap kali ia tidak ditanam tetapi tumbuh sendiri.

Ini pula salah satu yang jadi titik berangkat Indrawanto dan istrinya, Evi Indrawanto, ketika tiga tahun lalu mulai mendirikan CV Diva Maju Bersama yang memproduksi gula semut aren atau lebih keren dengan sebutan palm sugar. Dalam hemat Indrawanto, bahan baku aren mudah didapat. Yang berati dalam urusan bahan baku pihaknya tidak kesulitan.

Perusahaananya dia dirikan dengan investasi awal Rp200 juta. Indrawanto menjalin kerjasama dengan para petani dari Jawa Tengah, yang memasok 20-30 ton aren tiap bulannya. Bergerak secara rumahan dari kawasan tempatnya tinggal di Serpong, Tangerang, ia mempekerjakan empat karyawan. Anekaragam gula aren ia produksi, mulai dari yang cetakan hingga bubuk.

Kini, menurut Indrawanto, seperti dapat dibaca dari blog pribadinya bersarna istrinya, dalam sebulan iabisa memproduksi 30 ton gula yang separuhnya diserap berbagai industri makanan. Pelanggannya ada 6 pabrik yang ter-sebar di Tangerang dan Jakarta. Sementara secara ritel gula aren cetakan produksinya me-matok harga Rp7.500-Rp9.000 per kg, sedang-kan yang bubuk Rp8.500-Rpl 1 ribu per kg.

Ada alasan lain mengapa Indrawanto bersemangat menekuni usaha ini. Yakni kecenderungan orang untuk hidup sehat dengan mengkonsumsi produk-produk berbahan baku alami. Gula aren menjawab kecenderungan itu. Sebab kadar manisnya 80% lebih rendah dibandingkan dengan gulapasir. Sebagaimana habitat aren yang tumbuh di pegunungan dan sebagian besar masih tumbuh sendiri —tanpa ditanam— menggambarkan betapa masih alami sifatnya sehingga tak berlebihan bila ia disebut juga gula organik.

Dalam mengeksploitasi aren, Indrawanto mencoba menghasilkan aneka bentuk gula. la, misalnya, menyediakan gula aren dalam bentuk curah dan kemasan. Juga tersedia gula aren cair yang dikemas dalam botol 650 ml. Ada gula bubuk dalam kemasan karung (25 kg), kemasan sachet, dan juga dalam bentuk cetakan. Dan, karena produk ini masih perlu diperkenalkan secara intensif—setidaknyabila dibandingkan dengan gula pasir biasa— Indrawanto rajin mengikuti berbagai ajang pameran. Termasuk baru-baru ini turut serta dalam Halal World Expo 2007 yang di adakan di Abu Dhabi National Exhibition Centre — Uni Emirat Arab.

Salah satu yang menarik dari usaha gula aren adalah menelusuri bagaimana bahan baku diambil yang harus melalui alam pegunungan yang kurang bersahabat. Istrinya, Evi, dalam blog pribadi mereka, mengatakan bahwa pohon aren yang mereka kelola tumbuh di daerah berbukit-bukit, berlereng-lereng dan ber-lembah-lembah. “Pekerjaan membuat gula aren menuntut kerja keras dalam arti sebenar-benarnya. Setiap rumah tangga petani yang kami bina, rata-rata hanya sanggup menyadap nira dari 4 pohon aren setiap hari. Dari proses penderesan sampai menjadi gula cetak yang beratnya kurang lebih 8 Kg dibutuhkan waktu 6.5 jam,” tulis Evi.

Untuk meletakkan lodong penampung nira yang terkadang pohonnya mencapai 20 meter, para penderes membutuhkan tangga bambu. “Mereka harus naik tangga ini 2 X sehari, pagi dan sore karena nira hanya mampu bertahan selama 12 jam. Lewat dari waktu itu, nira berubah menjadi cuka dan tidak bisa lagi diolah menjadi gula aren,” tulisnya lagi. Setelah itu masih dibutuhkan waktu untuk memasaknya, yakni rata-rata empat jam per hari.

Dan, proses menghadirkan bahan baku yang sudah sedemikian rumit dan melelahkannya secara fisik, baru lah setengah dari perjalanan. Sebab, Indrawanto masih pula harus berfikir bagaimana mengemas dan memasarkannya. Di satu sisi potensi bisnisnya cukup besar, mengingat gula aren sudah makin dikenal, termasuk dalam set menu restoran di berbagai hotel terkemuka. Namun di sisi lain, ia masih harus berjuang agar produk yang dihasilkan perusahaannya yang baru seumur jagung itu dapat segera dikenal dan diterima pasar.

Kabar baiknya, beberapa waktu bela-kangan berbagai pusat perbelanjaan terke¬muka sudah bersedia memajang produknya. Tentu ini baru langkah awal dari cita-cita besar Indrawanto yakni melakukan ekspor sendiri gula aren hasil produksi perusahaannya. Sayangnya Indrawanto belum bersedia bicara lebih banyak tentang usahanya ini, karena ia tengah menggodok peluncuran produk baru hasil usahanya. [EBEN EZER SIADARI]

Diva Maju Bersama, CV
Jl. Sutera Gardenia 5/22
Alam Sutera – Serpong
Telp. 021 -7882420, 081932418190

Indrawanto

2 Comments »

  1. Saya adalah produsen madu hutan dari palembang, tadinya telah kontrak suplai madu dengan PT. Madu Pramuka di Cibubur. Sekarang kontrak sudah habis dan bebas. Saya menawarkan madu dengan harga yang kompetetif hanya rp 25.000/kg sampai gudang bapak.silahkan kontak saya langsung di:

    Petrus Purnomo
    Hp. 0819687487
    0711-411-595
    Palembang

    Comment by Petrus Purnomo — March 11, 2010 @ 2:07 am

  2. assalamu’alaikum wr wb
    kami punya kebun aren dalam satu hari bisa menghasilkan air aren sampai 1000 liter.jika bapak membutuhkan hubungi saya
    yon apiek
    yo2napiek@yahoo.co.id
    081279710111

    Comment by yon apiek — November 14, 2012 @ 9:11 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: