Aren Indonesia

Sentra Aren

Jawa Barat

Masyarakat Desa Sirnaresmi dan Pohon Aren

Sumber:  SALAM, 4 september 2003 20

001

Salah satu sumber daya alam yang relatif mudah didapatkan, baik di dalam hutan maupun di kebun-kebun yang dikelola oleh masyarakat adalah aren (Arenga pinnata). Selain bernilai ekonomi tinggi, aren pun sangat bermanfaat bagi pelestarian lingkungan. Berbagai manfaat aren sudah dinikmati sejak jaman nenek moyang kita, mulai dari akar, batang, daun, pelepah daun, buah, sampai pada patinya sudah banyak dikelola menjadi kerajinan tangan untuk berbagai keperluan peralatan rumah tangga dan makanan. Salah satu hasil olahan aren yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat adalah gula aren.

Sejarah pengolahan pohon aren menjadi gula aren tidak bisa dilepaskan dari peradaban sejarah masyarakat Sunda. Sekepal gula aren yang dibawa bersama dengan bekal nasi dan lauk pauk lainnya oleh petani di tanah Sunda merupakan tambahan energi yang menyegarkan setelah seharian lelah bekerja di sawah atau di ladang. Atau sejumput gula aren yang menemani hangatnya teh dan kopi di malam hari, menjadi ritual masyarakat dalam mengisi waktu senggang sambil bercengkerama antarwarga, membicarakan perkembangan yang terjadi di lingkungan mereka. Begitu pula yang masih dilakukan oleh masyarakat adat di Desa Sirnaresmi.

Desa Sirnaresmi merupakan salah satu desa adat yang berada di selatan Kawasan Ekosistem Halimun. Secara administrasi, Desa Sirnaresmi
berada di Kecamatan Cisolok, Kab. Sukabumi. Desa Sirnaresmi memiliki
kebudayaan tinggi yang masih dipertahankan sampai saat ini, tidak hanya
dalam seni budaya, nilai-nilai adat dalam pengelolaan sumber daya alam dan
lingkungan juga masih dipertahankan sampai saat ini. Masyarakat adat
Sirnaresmi masih mengenal peng-klasifikasi-an pengelolaan sumber daya
hutan Leuweung Titipan1 dan pengelolaan sistem wanatani tradisional, seperti sistem Kebun Talun2.

Di dalam kebun talun, masyarakat Desa Sirnaremi menginvestasikan tumbuh-tumbuhan bagi kelangsungan hidup rakyatnya. Tidak hanya tanaman pohon buah dan kayu, tanaman palawija, rimpangrimpangan, serta tanaman obat, masyarakat pun menjadikan kebun talun sebagai gudang tanaman aren.

002

Dilihat dari luasan tata guna lahan di Desa Sirnaresmi, luasan kebun  dan talun relatif kecil (0,59%) bila dibandingkan dengan tata guna lahan lainnya. Namun demikian produksi aren dari Desa Sirnaresmi relatif masih banyak. Hal ini dapat dilihat dari paling sedikit dalam setiap keluarga yang memiliki kebun talun terdapat 5 pohon aren.

Dari semua bagian pohon aren, yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Sirnaresmi adalah niranya yang kemudian diolah menjadi gula aren, kemudian serabut ijuknya, dan buah kolang-kaling yang pemanfaatannya makin meningkat pada masa-masa bulan puasa ramadhan (bulan Islam).

Bentuk gula aren yang dibuat oleh masyarakat Desa Sirnaresmi selain dalam bentuk batok kelapa (tempurung kelapa) juga dalam bentuk butiran pasir (gula semut). Gula aren dalam bentuk batok dijual dengan ukuran kojor (1 kojor=5 batok gula aren), sedangkan gula semut dijual dengan ukuran kilogram.

Dari 4378 jiwa warga Desa Sirnaresmi yang tersebar di 7 kadusunan, hanya ± 567 keluarga yang menjadi pengrajin gula kojor.  Sedangkan gula semut hanya diproduksi oleh warga dari Kadusunan Cikaret. Setiap minggunya, masyarakat Desa Sirnaresmi dapat memproduksi ± 1701 kojor gula aren untuk dikonsumsi sendiri di dalam desa, dan 5 ton gula semut untuk dijual ke luar kota, seperti Jakarta, Bandung, bahkan diekspor ke luar negeri. Sedangkan sekitar 150 orang pengrajin gula semut yang berasal dari 4 Desa yaitu Desa Sirnaresmi, Desa Cicadas, Desa Sirnagalih, dan Desa Cikadu telah tergabung dalam sebuah koperasi dengan nama KUB Karya Bakti. Koperasi tersebut dipimpin oleh Ibu Esah dari Kampung Cipagon, Desa Sirnaresmi. Dalam rangka pengembangan kapasitas, koperasi ini telah bekerjasama dengan Deperindag Sukabumi untuk mendapatkan pelatihan-pelatihan bagi anggota koperasi.

Proses pembuatan gula aren, dimulai dengan menampung air bunga tandan dari pohon aren, atau dikenal dengan nira. Peralatan yang digunakan  adalah pisau atau golok, bambu berbentuk tabung berdiameter 15 cm panjang 1 meter, tali, dan sabuk pengaman. Pemilihan bunga aren merupakan bagian yang paling menentukan untuk dapat menghasilkan nira yang berkualitas baik dan jumlah yang banyak. Kuncup bunga aren dibuka dengan menggunakan pisau atau golok secara hati-hati. Setelah semua tandan terbuka, lalu tandan dirundukan dengan menggunakan tali yang diikatkan pada pelepah daun bagian bawah, dan dibiarkan selama 3–4 hari.

Penampungan atau penderasan nira dapat dilakukan dengan  mengiris ujung tandan bunga. Setiap kali nira diambil, bunga diiris + 0,5 cm dan nira yang keluar ditampung dengan bambu. Sebelumnya bambu diisi dengan kapur sirih atau kulit manggis untuk mencegah nira menjadi asam. Penampungan nira sebaiknya dilakukan dua kali sehari yaitu pagi dan sore.

Setiap pohon aren dapat menghasilkan 8–10 liter nira. Nira yang telah dikumpulkan selama kurang lebih satu hari, kemudian diolah di atas api tungku kayu bakar selama 5–8 jam pada ruangan khusus. Biasanya ruang khusus tersebut terletak di dalam kebun talun, berukuran 3 x 4 meter persegi
dan dipenuhi peralatan dapur untuk mengolah gula aren. Nira terus dimasak
sampai mengental dan berwarna kekuning-kuningan, kemudian gula aren siap dicetak dalam batok-batok kelapa yang sudah dibersihkan dan dibiarkan
hingga mengeras, selanjutnya siap dikemas dengan menggunakan pelepah
daun aren.

Sedangkan pengolahan nira aren menjadi gula semut, sedikit agak berbeda, dan membutuhkan minyak kelapa sebagai bahan tambahan. Proses pembuatannya dimulai dengan menyaring nira agar bersih dari kotoran, kemudian dimasak di atas tungku selama 5–8 jam dengan terus diaduk sampai mengental kecoklat-coklatan. Selama pengadukan, adonan aren ditambah minyak kelapa dengan perbandingan satu sendok makan minyak kelapa untuk ± 25 liter nira.

004

Setelah masak, nira didinginkan sambil terus diaduk perlahan-lahan selama kurang lebih 10 menit, kemudian diamkan beberapa saat agar mengembang. Pengadukan diulangi lagi dengan cepat menggunakan garpu kayu untuk memperoleh butiran-butiran berbentuk pasir/kristal. Setelah itu butiran tersebut diayak dengan menggunakan ayakan ukuran 20 mesh untuk memperoleh butiran-butiran pasir yang seragam sebelum akhirnya dikemas
dalam kantong-kantong plastik dan siap dijual.

Kapasitas produksi gula semut yang dapat dihasilkan adalah 15–20 ton per bulan dengan kualitas baik, dan daya tahan simpan mencapai satu tahun. Sekalipun tanpa menggunakan bahan pengawet. Pemasaran gula semut yang sudah dilakukan meliputi pasar domestik (Sukabumi, Bogor, Bandung, Jakarta) dan mancanegara (Jepang, Australia, Jerman). Produk gula semut ini juga telah diperiksa oleh MUI dan telah dinyatakan halal.

Harga jual gula semut relatif lebih mahal dibandingkan dengan gula kojor. Hal ini karena tidak selalu tersedia di pasar. Di samping itu gula semut memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan gula kojor, antara lain: dapat disimpan dalam waktu kurang lebih dua tahun tanpa mengalami perubahan setelah dikeringkan dan dibungkus rapat, mudah larut , tidak lembek, memiliki aroma yang khas, dan bentuknya menarik serta kering. Gula kojor dijual dengan harga Rp 5.000/kojor di dalam desa, sedangkan di luar desa harganya dapat mencapai Rp 7.000,-/kojor. Sedangkan gula semut dijual Rp 7.000/kg di dalam desa dan Rp 8.000 – Rp 10.000,-/kg di luar desa

Pak Samin, salah satu pengolah gula aren yang kami temui, setiap harinya mendapatkan penghasilan rata-rata Rp 10.000 – 15.000,- dari penjualan gula. Namun, kadang-kadang penghasilan keluarga Pak Samin menurun karena nira aren tidak lagi menghasilkan. Pak Samin percaya bahwa tidak hanya karena umur pohon aren, yang menyebabkan produksi nira pohon aren menurun, tetapi juga kondisi pohon dan lingkungan tertentu.

“Tangkal kawung mah sok aya nu pundung, lamun salah motong, lamun heunteu urang sok lalawora ka tangkal kaung, lepat susuguh, moal we kaluar kaungna” (Kadangkala pohon aren ngambek, kalau kita tidak  memperhatikannya, dan salah memberikan sesaji). Ungkapan Pak Samin menegaskan tidak hanya keahlian teknis yang diperlukan oleh setiap penyadap nira dalam pengelolaan pohon aren agar menghasilkan nira, tetapi juga penguasaan keahlian spiritual. Secara turun temurun kokolot kampung memberikan wejangannya agar selalu melestarikan pohon-pohon aren yang ada di kampung mereka.

“Jeujeuhken kaung tina kahirupan urang, eweuh kaung – eweung kaberkahan jeung kahirupan urang ka hareup” (Jadikan pohon aren sebagai bagian dari kehidupan, jika tidak ada pohon aren maka tidak ada pula berkah di masa yang akan datang) , demikian ungkapan yang selalu disampaikan kepada generasi mendatang di Desa Sirnaresmi.

Pohon aren tumbuh dengan segala manfaatnya dan tidak satu pun bagiannya yang tidak bermanfaat. Tidak mengherankan apabila dengan nasihat yang berkembang menjadikan pohon aren sangat “dihormati’. Hal ini dapat dilihat dari doa-doa mantra yang harus dikuasai dalam memanfaatkan pohon aren. Seorang pemanjat pohon aren harus memahami sisi gaib pohon itu. Berbagai mantra harus dibacakan ketika hendak memanjatnya. Masyarakat mempercayai, apabila menebang pohon aren tanpa membacakan mantra-mantra terlebih dahulu, niscaya kabendon (kutukan dari karuhun/sesepuh terdahulu) dapat menimpa si penebang.

003

Sekalipun bagi masyarakat Desa Sirnaresmi sangat menghormati pohon aren, namun keberadaan pohon aren di Desa Sirnaresmi semakin menurun. Hal ini dikarenakan sejak adanya usaha pengolahan sagu aren, banyak penduduk yang menjual pohonnya dengan harga Rp 1.000/pohon kepada tengkulak untuk diambil sagunya (patinya). Mungkin mereka —para penebang pohon aren itu— tidak mengetahui, bahwa untuk membesarkan sebatang pohon aren diperlukan waktu puluhan tahun, demikan Pak Koyok (salah satu pengrajin gula aren) mengungkapkan.

Saat ini beberapa kokolot lembur, membahas keresahan akibat semakin berkembangnya usaha pengolahan sagu aren berdampak pada semakin berkurangnya pohon aren di desa mereka. Upaya yang telah dilakukan adalah dengan menjadikan masalah ini menjadi masalah bersama, bukan hanya masalah pengrajin gula saja. Karena dengan hilangnya pohon aren, tidak hanya mata pencaharian pengrajin gula aren yang hilang, tetapi juga akan hilangannya suplai gula aren untuk kebutuhan masyarakat desa sirnaresmi sehari-hari, yang berarti akan sulit melakukan lagi kebiasaan-kebiasaan seperti minum teh dan kopi panas sambil menikmati gula aren.
Upaya lain yang akan dilakukan adalah melakukan pembibitan dan penanaman kembali pohon aren, terutama pada lahan-lahan miring.

“Lamun geus kieu, moal bisa ngandeulkeun deui careuh keur melak kaung” (kalau sudah begini, tidak bisa mengandalkan musang – Paradoxurus
hermaphroditus lagi untuk menanam pohon aren), kata kokolot lembur.

Walaupun upaya ini masih belum mendapatkan dukungan dari pihak pemerintahan desa, tetapi mereka masih bersemangat untuk mewujudkannya.

Sumber: RMI, The Indonesian Institute for Forest and Environment

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: