Aren Indonesia

Bank Indonesia

POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK) GULA AREN (Gula Semut dan Cetak)

Re-exposure of 001

Re-exposure of 00

BAB I  PENDAHULUAN

00

Aren atau enau (Arrenga pinnata Merr) adalah salah satu keluarga palma yang memiliki potensi nilai ekonomi yang tinggi dan dapat tumbuh subur di wilayah tropis seperti Indonesia. Tanaman aren bisa tumbuh pada segala macam kondisi tanah, baik tanah berlempung, berkapur maupun berpasir. Namun pohon aren tidak tahan pada tanah yang kadar asamnya terlalu tinggi. Di Indonesia, tanaman aren dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal pada tanah yang memiliki ketinggian di atas 1.200 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara rata-rata 250 celcius. Di luar itu, pohon aren masih dapat tumbuh namun kurang optimal dalam berproduksi.

Pohon aren memiliki potensi ekonomi yang tinggi karena hampir semua bagiannya dapat memberikan keuntungan finansial. Buahnya dapat dibuat kolang-kaling yang digemari oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Daunnya dapat digunakan sebagai bahan kerajinan tangan dan bisa juga sebagai atap, sedangkan akarnya dapat dijadikan bahan obat-obatan. Dari batangnya dapat diperoleh ijuk dan lidi yang memiliki nilai ekonomis. Selain itu, batang usia muda dapat diambil sagunya, sedangkan pada usia tua dapat dipakai sebagai bahan furnitur. Namun dari semua produk aren, nira aren yang berasal dari lengan bunga jantan sebagai bahan untuk produksi
gula aren adalah yang paling besar nilai ekonomisnya. Dalam gambar pohon industri, berikut adalah beberapa produk turunan dari aren yang berpotensi untuk dikembangkan.

0g1

Gambar 1.1. Pohon Industri Produk Turunan Aren

Gula aren sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai salah satu pemanis makanan dan minuman yang bisa menjadi substitusi gula pasir (gula tebu). Gula aren diperoleh dari proses penyadapan nira aren yang kemudian dikurangi kadar airnya hingga menjadi padat. Produk gula aren ini adalah berupa gula cetak dan gula semut. Gula cetak diperoleh dengan memasak nira
aren hingga menjadi kental seperti gulali kemudian mencetaknya dalam cetakan berbentuk setengah lingkaran. Untuk gula semut, proses memasaknya lebih panjang yaitu hingga gula aren mengkristal, kemudian dikeringkan (dijemur atau dioven) hingga kadar airnya di bawah 3%. Jenis
yang terakhir ini memiliki keunggulan yaitu berdaya tahan yang lebih lama, lebih higienis dan praktis dalam penggunaannya.

Luas area pohon aren yang diusahakan di Indonesia adalah 62.120 ha dengan jumlah produksi 36.991 ton dalam bentuk gula merah. Berikut ini adalah enam Propinsi penghasil aren terbesar di Indonesia.

0t1

Gula aren selama ini menjadi sumber mata pencaharian penting bagi para petani di sentra-sentra produksinya. Salah satu sentra produksi gula aren di Indonesia adalah di Kabupaten Lebak, Propinsi Banten yaitu tepatnya di desa Hariang, Kecamatan Sobang. Kabupaten Lebak dikenal sebagai salah satu daerah penghasil gula aren terbesar di Indonesia. Industri gula aren di
kabupaten ini menyerap 5.406 tenaga kerja melalui 2.982 unit usaha mikro dan kecil, belum termasuk tenaga kerja di saluran distribusinya. Kapasitas produksi per tahun mencapai 2.249,4 ton yang tersebar di 44 sentra produksi1. (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab. Lebak, 2005)

BAB II. PROFIL USAHA DAN POLA PEMBIAYAAN

2.1. Profil Usaha

Usaha gula aren pada umumnya dilaksanakan oleh para pengrajin sebagai usaha sampingan. Ini karena waktu penyadapan dapat dilakukan pada pagi dan sore hari di luar waktu kerja utamanya. Usaha ini tergolong jenis home industry karena pengerjaannya secara individual di rumah masing-masing pengrajin. Penyadapan biasanya dilakukan oleh para pria, kemudian proses
pemasakan hingga menjadi gula cetak atau gula semut setengah jadi dilakukan oleh para wanita di rumah.

Proses produksi gula aren di tingkat petani dilakukan dengan peralatan yang sangat sederhana, yaitu menggunakan kuali, pengaduk dan tungku kayu bakar. Gula aren cetak dari hasil produksi para pengrajin (petani) biasanya langsung dijual ke pasar atau pengumpul yang datang pada hari-hari tertentu. Selain daya tahan yang pendek, gula aren cetak memiliki kelemahan, yaitu tingkat harga yang sangat fluktuatif. Pada saat musim hujan, yaitu ketika pasokan gula aren melimpah, harga bisa jatuh hingga kisaran antara Rp. 3000,- dan Rp. 4000,- per kg. Namun pada saat musim kemarau pasokan gula aren sangat terbatas, sehingga harga dapat naik dari Rp. 9.000,- hingga Rp. 10.000,- / kg.

Untuk memasok industri usaha gula aren semut, biasanya pengrajin hanya memproduksi bahan setengah jadi, yaitu gula aren semut dengan kadar air yang masih di atas 5%. Bahan tersebut kemudian dikumpulkan ke sentra produksi oleh para pengumpul. Selanjutnya, gula aren setengah jadi dihaluskan dan dikeringkan kembali hingga kadar airnya di bawah 3%. Proses
pengeringannya dilakukan dengan dua cara yaitu dengan panas matahari dan menggunakan oven.

Usaha gula aren di lokasi penelitian terkonsentrasi pada suatu sentra produksi. Adanya sentra ini membantu pelaku usaha untuk berkembang dan memudahkan pihak-pihak terkait untuk berkontribusi dalam pengembangannya, misalnya bantuan peralatan (penghancur, oven, loyang
penjemur) melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan setempat. Batuan peralatan ini didistribusikan melalui kelompok pengrajin, sehingga pemiliknya adalah kelompok yang bersangkutan/bukan individual. Hasil produksinya kemudian dijual ke pasar dan pedagang besar di kota-kota besar
seperti Tangerang dan Jakarta. Sedangkan, keuntungan yang diperoleh dibagikan di antara anggota (pengrajin dan pengumpul) dengan proporsi yang sudah ditentukan.

2.2. Pola Pembiayaan

Pada tingkat pengrajin, pembiayaan yang dibutuhkan adalah untuk keperluaan konsumsi daripada usaha. Ini karena usaha gula aren hanya membutuhkan peralatan yang sederhana, seperti: lodong atau bambu sebagai penampung nira aren, kuali, pengaduk, tungku, kayu bakar dan konjor atau cetakan gula aren yang terbuat dari kayu. Peralatan tersebut relatif harganya murah dan atau dapat diusahakan sendiri oleh pengrajin. Sedangkan pinjaman konsumsi dibutuhkan untuk kelangsungan hidup keluarga, terutama pada masa paceklik. Sumber pinjaman biasanya berasal dari pengumpul. Di awal bulan pengumpul memberikan pinjaman kepada
pengrajin berupa bahan makanan dan atau uang untuk keperluan hidupnya. Kemudian pengrajin akan membayar pinjamannya dengan gula aren yang dihasilkan.

Pengumpul tersebut terdiri dari dua jenis, yaitu pengumpul murni yang membeli gula aren cetak untuk dijual ke pasar/agen, dan pengumpul yang juga berperan sebagai pengusaha gula aren semut. Pengusaha gula aren semut tersebut memproduksi gula aren semut sebagai produk utama
dan gula aren cetak sebagai produk sampingan.

Pada tingkat pengusaha/pengumpul ini, pinjaman yang diperlukan untuk kebutuhan investasi yaitu pengadaan alat-alat produksi dan modal kerja. Tetapi sejauh ini, pengusaha gula aren di Lebak belum memperoleh fasilitas kredit dari bank, baik kredit investasi maupun kredit modal kerja.

BAB III.  ASPEK TEKNIK PRODUKSI

3.1. Lokasi Usaha

Lokasi usaha produksi gula aren sebaiknya berada di dekat sumber bahan baku yaitu nira aren. Hal ini disebabkan daya tahan nira aren hanya tiga jam sebelum menjadi asam akibat proses fermentasi. Oleh karena itu, bahan baku perlu penanganan yang cepat, nira hasil sadapan harus
segera diolah menjadi gula cetak.

Daerah yang memiliki banyak pohon aren, umumnya menjadi lokasi sentra produksi gula aren baik gula aren cetak maupun gula aren semut. Salah satu sentra produksi yang relatif berkembang ada di Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Di wilayah tersebut terdapat 44 sentra produksi yang mampu menghasilkan ±2.249 ton per tahun gula aren.

3.2. Fasilitas Produksi dan Peralatan

3.2.1. Fasilitas Produksi

a. Saung/bangunan untuk proses produksi

Saung digunakan untuk aktivitas produksi yang ukurannya disesuaikan dengan kapasitas/skala usaha. Kegiatan produksi di saung/bangunan ini adalah proses pemasakan nira aren dan pencetakan gula aren.

b. Lahan penjemuran

Luas lahan penjemuran disesuaikan dengan skala usaha.

c. Tempat penyimpanan gula aren semut yang sudah jadi.

3.2.2. Peralatan

Peralatan yang dibutuhkan dalam usaha gula aren relatif sederhana, yaitu: lodong atau bambu sebagai penampung nira aren, kuali, pengaduk, tungku, kayu bakar, saringan nira, golok sadap, pemukul (paninggur), konjor atau cetakan gula aren yang terbuat dari kayu. Sedangkan untuk usaha gula aren yang sudah berskala industri kecil menggunakan alat tambahan berupa
nampan aluminium untuk menjemur gula aren semut, mesin penggiling, oven pemanas, mesin pengayak dan alat pengayak manual.

3.3. Bahan Baku

Bahan baku utama yang dibutuhkan untuk usaha gula aren adalah nira aren. Perbedaan jenis gula aren yaitu gula cetak dan gula semut karena perbedaan pengolahannya.

Jenis gula aren cetak pengolahan nira dilakukan sesegera mungkin untuk menghindari kemasaman. Pengolahan gula aren cetak selain bahan baku, juga memerlukan bahan pelengkap yaitu sarang madu yang berfungsi sebagai katalisator untuk mengentalkan nira ketika dipanaskan.

Sedangkan untuk gula aren semut, bahan baku selain langsung dari nira aren juga dapat dari gula aren semut setengah jadi. Pada skala industri kecil, umumnya digunakan bahan baku berupa gula aren semut setengah jadi yang diperoleh dari pengrajin dan atau pengumpul.

3.4. Tenaga Kerja

Tenaga kerja pada usaha gula aren umumnya berasal dari anggota keluarga dan masyarakat di sekitar lokasi usaha. Tenaga kerja keluarga biasanya dipraktekkan di tingkat pengrajin, yaitu penyadap oleh anggota keluarga laki-laki dan dibantu anggota keluarga perempuan sebagai pemasak nira aren.

Pada tingkat skala industri kecil, menggunakan tenaga kerja sebanyak 6-12 tenaga kerja yang berasal baik dari keluarga maupun masyarakat sekitar. Tenaga kerja tersebut dapat digolongkan sebagai tenaga kerja tetap dan tenaga kerja tidak tetap yang memproses gula aren semut. Tenaga kerja tetap merupakan tenaga kerja administratif yang digaji per bulan, sedangkan
tenaga kerja tidak tetap dibayar upah sebesar antara Rp. 20.000,- hingga Rp. 30.000,- per hari.

3.5. Teknologi

Teknologi usaha gula aren dapat dibagi menjadi 2, yaitu:

a. Teknologi Tradisional

Teknologi tradisonal digunakan di tingkat pengrajin, yaitu dengan menggunakan peralatan yang sangat sederhana. Penggunaan alat sederhana berpengaruh pada kapasitas produksi dan mutu yang relatif rendah.

b. Teknologi Mekanisasi

Teknologi ini umumnya digunakan pada skala industri kecil. Teknologi mekanisasi yang biasanya dipakai antara lain: mesin penggiling, mesin pengayak dan oven pengering.

3.6. Proses Produksi

3.6.1. Proses produksi gula cetak

0g3

Proses produksi gula cetak dapat dilakukan dengan dua cara yaitu langsung dari nira aren atau dari gula semut reject. Proses produksi gula cetak yang menggunakan nira aren biasanya hanya dilakukan di tingkat pengrajin. Sedangkan, di tingkat industri, gula cetak diproduksi dari gula semut reject yaitu gula semut yang menggumpal dan tidak lolos ayakan.

Meskipun demikian, secara garis besar proses produksinya tidak ada perbedaan. Proses produksi dimulai dari penyadapan nira, pemasakan nira, pengadukan dan pencetakan gula aren.

Penyadapan nira aren biasanya  dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari. Sebelum menyadap, lodong atau bambu penampung diberi sedikit air kapur pada dasarnya yang bertujuan untuk mengurangi resiko rusaknya nira aren akibat pembiakan organisme mikro.

Nira hasil sadapan pagi disaring menggunakan ijuk dari pohon aren kemudian dituang di kuali dan dimasak hingga matang agar menjadi gula cetak setengah jadi kemudian disimpan. Tujuan memasak nira sebelum disimpan adalah untuk menjaga daya tahan, karena nira aren
mentah hanya tahan 3 jam.

Nira yang disadap sore, kemudian dicampur dengan nira pagi yang sudah dimasak untuk kemudian dimasak bersama. Dalam pemasakan nira ini, juga perlu ditambahkan minyak goreng atau minyak kelapa sebanyak 10 gram untuk tiap 25 liter nira. Pada proses memasak, sesekali dilakukan pengadukan. Setelah memasuki fase jenuh yang ditandai dengan terbentuknya buih, pengadukan dilakukan lebih sering hingga nira aren menjadi pekat. Pada fase ini juga dilakukan pembersihan dari buih dan kotoran halus. Kemudian gula aren dicetak di dalam cetakan dari kayu.
Sebelum digunakan, cetakan tersebut terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan air kapur dan merendamnya dengan air bersih untuk memudahkan pelepasan gula aren nantinya. Lama pemasakan nira aren hingga dicetak adalah 3-4 jam.

0g2

Gambar 3.2. Nira aren dimasak sambil diaduk. Gambar 3.3. Gula aren setelah pekat didinginkan

3.6.2. Proses produksi gula semut

Proses produksi gula semut hampir sama dengan gula cetak, perbedaannya adalah gula aren semut proses pemasakan lebih lama dibandingkan pada gula aren cetak. Setelah nira aren yang dimasak berubah menjadi pekat, api kemudian dikecilkan. Setelah 10 menit, kuali diangkat dari tungku dan dilakukan pengadukan secara perlahan sampai terjadi pengkristalan.

0g3

Setelah terjadi pengkristalan, pengadukan dipercepat hingga terbentuk serbuk kasar. Serbuk yang masih kasar inilah yang disebut dengan gula aren semut setengah jadi dengan kadar air masih di atas 5%. Gula semut setengah jadi, kemudian dikirim kepada produsen gula semut skala industri kecil di masing-masing sentra produksi.

Industri kecil gula aren semut yang terdapat di beberapa sentra industri gula aren di Lebak menerima gula semut setengah jadi dari pengrajin. Gula semut setengah jadi dari pengrajin terlebih dahulu digiling dengan mesin penggiling untuk menghaluskan gula yang masih menggumpal.

Setelah penggilingan, gula aren semut diayak sesuai dengan ukuran yang diinginkan.  Ukuran yang umum dipakai adalah 10 mesh, 15 mesh dan paling halus 20 mesh dengan kadar air di bawah 3%.

Untuk memperoleh tiga tingkat kehalusan tersebut, gula yang sudah digiling diayak dengan ayakan dari ukuran yang paling besar terlebih dahulu, yaitu 10 mesh. Gula semut yang tidak lolos pada ayakan ini, yang disebut dengan gula reject. Gula reject tersebut kemudian dimasak kembali hingga meleleh dan mengental untuk dibentuk menjadi gula cetak.

Gula semut hasil ayakan pertama, kemudian diayak kembali dengan ayakan ukuran yang lebih kecil, demikian seterusnya hingga ukuran ayakan yang terkecil. Jumlah produksi gula semut dengan tiga jenis kehalusan ini disesuaikan dengan permintaan pasar.

0g1

Gambar 3.6. Gula Aren semut diayak berdasarkan ukuran kehalusan Gambar 3.7. Gula Aren semut berdasarkan 3 jenis ukuran kehalusan

Selanjutnya, gula semut dengan tiga ukuran ayakan tersebut, kemudian dijemur di bawah panas matahari hingga kadar airnya mencapai di bawah 3%. Jika tidak ada sinar matahari, proses pengeringan dapat dilakukan menggunakan alat pengering, misalnyanya oven pemanas. Gula semut yang sudah kering kemudian dikemas dalam kemasan karung untuk dikirim kepada industri makanan atau pedagang besar dengan kemasan plastik untuk dipasarkan.

Secara garis besar alur proses produksi gula aren dapat dilihat pada diagram di bawah ini:

0g1

0g3

3.7. Jenis, Jumlah dan Mutu Produksi

Usaha gula aren menghasilkan dua jenis produk yaitu gula aren cetak dan gula aren semut. Sedangkan untuk jumlah produksi, baik gula aren cetak atau semut pada skala pengrajin adalah antara 2 – 10 kg per hari. Sementara, pada skala industri kecil, produksi gula aren per hari antara 200 – 2.000 kg. Jumlah produksi dipengaruhi oleh musim, dimana saat musim hujan, jumlah nira aren yang dihasilkan lebih banyak dibanding pada saat musim kemarau. Dengan demikian, hasil produksi gula aren musim hujan lebih banyak dari musim kemarau. Tetapi dari sisi kualitas, gula aren musim kemarau lebih baik daripada musim hujan. Hal ini karena kadar air nira musim hujan lebih tinggi dari musim kemarau.

Mutu gula aren cetak ditentukan oleh tekstur, aroma dan warna. Namun demikian, tidak ada perbedaan harga untuk perbedaan mutu berdasarkan ketiga variabel tersebut baik di tingkat pengrajin maupun industri kecil. Sedangkan, gula aren semut untuk memenuhi standar industri merujuk pada standar tingkat kehalusan serbuk dan kadar air. Kehalusan serbuk dibagi dalam 3 jenis ukuran, yaitu: 10 mesh, 15 mesh dan paling halus 20 mesh dengan kadar air di bawah 3%.

Tingkat kehalusan serbuk gula semut inilah yang menentukan perbedaan harga. Harga gula aren semut ukuran 20 mesh (terkecil) adalah yang paling mahal.

3.8. Produksi Optimum

Hasil produksi gula aren di tingkat pengrajin ditentukan oleh musim dan jumlah pohon aren yang dimiliki. Rata-rata seorang pengrajin memiliki 10 – 60 pohon, dimana hanya sepertiga atau sekitar 4 – 20 pohon diantaranya yang memproduksi nira. Sementara, sisanya pohon masih  muda atau belum berproduksi. Mengingat tidak adanya biaya variabel di tingkat pengrajin gula aren (kayu bakar, minyak kelapa dan nira aren diproduksi sendiri), maka semakin banyak produksi gula aren, keuntungan yang didapat semakin besar.

Sedangkan hasil gula aren di tingkat industri kecil, produksi optimum mencapai ± 2 ton per hari. Hal ini diperhitungkan dari besarnya rata-rata permintaan pasar terhadap produk gula aren di Kabupaten Lebak.

3.9. Kendala Produksi

Kendala produksi yang dialami dalam usaha pembuatan gula aren adalah fluktuasi jumlah nira aren yang dihasilkan dan harga. Fluktuasi ini terjadi karena pengaruh musim. Pada saat musim hujan jumlah produksi meningkat tetapi harga produk justru turun, sementara pada musim kemarau terjadi sebaliknya. .
Selain itu, pada tingkat industri kecil juga mengalami kendala pengadaan peralatan produksi misalnya oven pengering. Oven ini sangat dibutuhkan terutama pada musim pengujan, dimana produksi sedang tinggi tetapi tidak ada panas matahari sebagai pengering.

BAB IV. ASPEK PASAR DAN PEMASARAN

4.1. Aspek Pasar

4.1.1. Permintaan

Usaha gula aren di Indonesia memiliki prospek yang menjanjikan untuk dikembangkan. Ini dapat diketahui dari tingginya permintaan baik di dalam negeri maupun di luar negeri, khususnya untuk jenis gula semut, yang seringkali sulit dipenuhi. Berdasarkan survei, sebuah industri kecil dalam sebulan dapat memperoleh pesanan sebesar 15 – 25 ton. Pesanan tersebut sampai saat ini belum mampu dipenuhi akibat keterbatasan pasokan dan kurangnya modal.

Terkait dengan permintaan dalam negeri, kebutuhan gula semut terbesar datang dari industri makanan dan obat yang tersebar di sekitar Tangerang. Sementara untuk pasar lokal, permintaan tertinggi terjadi pada saat dan menjelang bulan puasa Ramadhan. Sedangkan untuk permintaan ekspor, banyak datang dari Jerman, Swiss dan Jepang.

4.1.2. Penawaran

Di Indonesia, usaha gula aren banyak dikembangkan di wilayah pegunungan. Berdasarkan data pada tabel 4.2. luas areal tanaman relatif meningkat dari tahun ke tahun sehingga produksi gula aren juga cenderung meningkat.

041

Perluasan areal tanaman aren dapat diindikasikan sebagai jaminan pasokan bahan baku. Ini juga berarti usaha gula aren dapat berkelanjutan dan berpeluang untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Dengan demikian, dari sisi penawaran berpotensi untuk menaikan produk gula aren sebagai upaya untuk memenuhi permintaan yang cenderung makin tinggi.

4.1.3. Analisis Persaingan dan Peluang Pasar

Persaingan antar usaha gula aren di lokasi penelitian relatif masih rendah karena jumlah pengusaha gula aren tidak terlalu banyak. Dengan demikian, jumlah penawaran masih lebih rendah dibanding permintaannya, terutama pada saat permintaan tinggi yaitu pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Sebagaimana yang diuraikan pada sub bab 4.1.1 pengusaha seringkali tidak mampu memenuhi permintaan pasar.

4.2. Aspek Pemasaran

4.2.1. Harga

Harga gula aren ditentukan oleh musim, dimana musim hujan saat produksi nira melimpah harga turun, sebaliknya saat musim kemarau saat produksi nira sedang berkurang harga naik. Secara umum fluktuasi harga per kg untuk gula aren cetak berkisar antara Rp3000,- – Rp9000,-, sedangkan gula aren semut berkisar Rp7000,- – Rp.10.000,-.

4.2.2. Jalur Pemasaran Produk

Gula aren, baik gula aren cetak maupun gula aren semut, dapat dipasarkan melalui beberapa jalur pemasaran. Jalu-jalur tersebut antra lain dapat dilihat pada diagram 4.1 dan 4.2

0041

0042

4.2.3. Kendala Pemasaran

Kendala pemasaran yang masih dihadapi oleh pengusaha dalam pemasaran produk gula aren, antara lain:
a. Kurangnya akses terhadap informasi pasar, terutama tentang harga, sehingga pengrajin sangat tergantung pada harga yang diberikan oleh pengumpul (posisi tawar pengrajin rendah).
b. Masyarakat masih kurang mengenal produk gula aren semut sebagai subtitusi gula pasir tebu.

Hal ini menyebabkan gula aren semut lebih dikenal untuk keperluaan industri daripada untuk konsumsi. Padahal, peluang pasar untuk memenuhi kebutuhan pemanis pada pasar konsumsi relatif besar.

BAB V. ASPEK KEUANGAN

5.1. Pemilihan Pola Usaha

Analisis keuangan ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada pengusaha maupun pemerhati usaha gula aren terhadap nilai tambah yang dihasilkan dalam kegiatan usaha ini. Pengusaha dipacu untuk mampu mengembalikan kredit yang diberikan oleh bank dalam jangka waktu yang wajar (±3 tahun). Model kelayakan usaha ini merupakan pengembangan usaha gula aren yang telah berjalan dan untuk menumbuhkan kemandirian usaha serta upaya repliaksi usaha
di wilayah lain.

Pola pembiayaan yang dianalisis adalah usaha gula aren skala industri kecil. Industri yang menjadi contoh adalah usaha gula aren yang dimiliki oleh kelompok tani di desa Hariang, kecamatan Sobang, kabupaten Lebak.

Produk utama yang dihasilkan adalah gula aren semut dengan kadar air 3% dan produk sampingan adalah gula aren cetak yang berasal dari gula aren semut yang tidak lolos pada saat pengayakan. Kapasitas produksi per bulan adalah 12.500kg gula aren semut dan 1.250kg gula aren cetak.

5.2. Asumsi dan Parameter Teknis

Asumsi dan parameter untuk analisis keuangan gula aren menjelaskan gambaran umum variabel-variabel yang digunakan dalam perhitungan analisis keuangan. Asumsi tersebut diambil berdasarkan survei lapangan yang dilakukan terhadap industri terkait. Periode proyek adalah lima tahun dimana tahun ke nol sebagai dasar perhitungan nilai sekarang (present value) adalah tahun ketika biaya investasi awal dikeluarkan. Dengan menggunakan mesin/peralatan dan jumlah tenaga kerja seperti yang tercantum dalam tabel asumsi, seorang pengusaha setiap bulan mampu memproduksi 12.500 kg gula aren semut dan 1.250 kg gula aren cetak dengan angka rendemen sebesar 92%. Harga gula aren semut rata-rata di pasar lokal sebesar Rp 8.000,- per kg, dan gula aren cetak Rp. 6000,- per kg. Hari kerja selama setahun sebanyak diasumsikan 300 hari (25 hari per bulan). Asumsi dan parameter untuk analisis keuangan gula aren dapat dilihat pada tabel 5.1.
Selengkapnya dapat dilihat lampiran 1.

00

5.3. Komponen dan Struktur Biaya

5.3.1. Biaya Investasi

Biaya investasi adalah biaya tetap yang besarnya tidak dipengaruhi oleh jumlah produk yang dihasilkan. Biaya investasi secara garis besar terdiri dari 5 (lima) komponen, yaitu: biaya perizinan, sewa tanah dan bangunan, peralatan produksi, peralatan lain, dan kendaraan carry. Biaya perijinan meliputi SIUP, SITU, ijin usaha industri dan wajib daftar perusahaan yang masa berlakunya 5 tahun, sementara untuk ijin Depkes dan NPWP yang berlaku selamanya. Jumlah biaya perijinan total mencapai Rp. 1.750.000,-. Sewa tanah dan bangunan dibayarkan sekaligus selama masa proyek yaitu 5 tahun, karenanya setiap tahun harus dikeluarkan biaya amortisasi untuk komponen sewa tanah ini. Pada tahun-tahun tertentu dilakukan reinvestasi untuk pembelian mesin atau peralatan produksi yang umur ekonomisnya kurang dari 5 tahun. Jumlah biaya investasi keseluruhan pada tahun ke nol adalah Rp. 259.200.000,-.

Komponen biaya investasi berurutan dari yang terbesar adalah sewa tanah dan bangunan yaitu 46,3% dari total biaya investasi pada awal usaha, kemudian diikuti biaya kendaraan carry yaitu sebesar 27%, peralatan produksi yaitu sebesar 25,7% dan sisanya 1% adalah untuk investasi pembelian peralatan lain dan perijinan. Kebutuhan biaya investasi dapat dilihat pada tabel 5.2. Sedangkan, rincian biaya investasi dapat dilihat pada lampiran 2.

00

5.3.2. Biaya Operasional

Biaya operasional merupakan biaya variabel yang besar kecilnya dipengaruhi oleh jumlah produksi. Komponen dari biaya operasional adalah pengadaan bahan baku, bahan pendukung, biaya pemasaran, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik, serta biaya administrasi dan umum. Biaya operasional selama satu tahun dihitung berdasarkan jumlah hari untuk produksi gula aren. Jumlah hari kerja dalam setahun adalah 300 hari (asumsi yang digunakan adalah 25 hari kerja per
bulan dan 12 bulan kerja dalam setahun).

Biaya operasional yang diperlukan selama satu tahun mencapai Rp.1.107.017.500,-. Komponen biaya operasional berurutan dari yang terbesar yaitu biaya bahan baku menyerap sebesar 81,3% dari total biaya operasional per tahun, diikuti biaya overhead pabrik yaitu sebesar 13,2% dan 5,5% sisanya adalah biaya bahan pendukung, pemasaran, tenaga kerja serta administrasi dan umum.

Tenaga kerja yang digunakan adalah tenaga kerja tetap dan tidak tetap. Tenaga kerja tetap terdiri dari seorang pimpinan dengan bayaran Rp. 2.000.000,- per bulan, 2 orang tenaga administrasi gaji masing-masing Rp. 800.000,- per bulan. Sedangkan tenaga kerja tidak tetap adalah 3 orang yang masing-masing dibayar dengan upah sebesar Rp. 30.000,- per hari. Jumlah biaya operasional untuk usaha gula aren disajikan pada tabel 5.3. Selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3.

00

5.4. Kebutuhan Dana Investasi dan Modal Kerja

Besarnya dana modal kerja ditentukan berdasarkan kebutuhan dana awal untuk satu kali siklus produksi. Usaha produksi gula aren mempunyai siklus produksi (dari pembuatan sampai memperoleh penerimaan dari penjualan) kurang lebih selama 25 hari atau 1 bulan. Sehingga kebutuhan dana modal kerja adalah:

00

Dengan demikian total kebutuhan biaya untuk modal awal usaha gula aren sebesar Rp. 351.451.458,- yang terdiri dari biaya investasi sebesar Rp. 259.200.000,- dan modal kerja awal untuk 1 siklus produksi gula aren (1 bulan/25 hari) yaitu sebesar Rp. 92.251.458,-. Kebutuhan dana investasi maupun modal kerja tidak harus dipenuhi sendiri. Salah satu sumber dana yang dapat dimanfaatkan adalah dana kredit dari perbankan.

Diproyeksikan sebesar Rp.210.000.000,- kebutuhan biaya tersebut diperoleh dari kredit bank dan sisanya dari modal sendiri. Kredit bank tersebut dialokasikan untuk biaya investasi sebesar Rp.150.000.000,- dan biaya modal kerja yaitu: Rp 60.000.000,-. Jangka waktu kredit untuk investasi adalah tiga tahun, sedangkan untuk modal kerja satu tahun. Tingkat suku bunga diberlakukan sama sesuai dengan bunga pasar/komersial yaitu 18 % per tahun tanpa masa tenggang. Sistem perhitungan bunga secara efektif menurun. Kebutuhan dana usaha gula aren selengkapnya dapat ditampilkan pada tabel 5.4 dan lampiran 4.

0a1

Selanjutnya, pada lampiran 5 menunjukkan kumulatif angsuran (angsuran pokok dan bunga). Pembayaran angsuran baik untuk kredit investasi maupun kredit modal kerja dilakukan setiap tahun.

5.5. Produksi Dan Pendapatan

Berdasarkan asumsi-asumsi di atas, maka kapasitas produksi usaha gula aren selama satu tahun adalah 150.000kg gula aren semut dan 15.000kg untuk gula aren cetak. Harga jual gula aren semut rata-rata sebesar Rp. 8.000,-/kg, sedangkan untuk gula aren cetak Rp. 6.000,-/kg. Dengan demikian, pendapatan yang dihasilkan dari produksi gula aren semut adalah Rp. 1.200.000.000,-. dan gula aren cetak sebesar Rp. 90.000.000,- atau totalnya (kotor) mencapai Rp 1.290.000.000 per tahun. Perhitungan produksi dan pendapatan dapat dilihat pada tabel 5.5 atau lampiran 6.

00

5.6. Proyeksi Laba Rugi dan Break Event Point

Tingkat keuntungan atau profitabilitas dari usaha yang dilakukan merupakan bagian penting dalam analisis keuangan dari rencana kegiatan investasi. Keuntungan dihitung dari selisih antara penerimaan dan pengeluaran tiap tahunnya. Tabel pada 5.6. di bawah ini menunjukkan keuntungan (surplus) selama periode proyek.

00

Perhitungan proyeksi laba rugi (lampiran 7) menunjukkan bahwa pada tahun pertama usaha saja, telah menghasilkan keuntungan sebesar Rp 93.812.250,-. Laba ini meningkat pada tahun berikutnya karena makin berkurangnya beban angsuran bunga dan mencapai puncaknya ketika kredit lunas setalah tahun ke tiga. Laba rata-rata selama periode proyek mencapai Rp 107.273.250,- per tahun dengan profit margin rata-rata per tahun sebesar 8,32%.

Dengan mempertimbangkan biaya tetap, biaya variabel dan hasil penjualan gula aren, maka diperoleh BEP rata-rata selama 5 tahun untuk usaha ini adalah sebesar Rp. 840.680.710,- .

Nilai ini sama dengan jumlah BEP rata-rata produksi sebesar 97.754 kg gula aren semut dan 9.775 kg gula aren cetak tiap tahunnya.

5.7. Proyeksi Arus Kas dan Kelayakan Proyek

Untuk aliran kas (cash flow) dalam perhitungan ini dibagi dalam dua aliran, yaitu arus masuk (cash inflow) dan arus keluar (cash outflow). Arus masuk diperoleh dari penjualan produk gula aren semut dan gula aren cetak selama satu tahun, dimana asumsi kapasitas usaha berpengaruh pada besarnya volume produksi yang akan menentukan nilai total penjualan, sehingga arus masuk menjadi optimal. Untuk arus keluar meliputi biaya investasi, biaya modal kerja, biaya operasional termasuk angsuran pokok, angsuran bunga.dan pajak penghasilan.

Untuk penghitungan kelayakan rencana investasi dapat menggunakan beberapa metode, diantaranya adalah penilaian B/C ratio, Net B/C ratio, Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan Pay Back Period (PBP). Sebuah usaha berdasarkan kriteria investasi di atas dikatakan layak jika B/C ratio atau Net B/C ratio > 1, NPV > 0 dan IRR > discount rate.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa usaha gula aren ini menguntungkan karena pada discount factor 18% per tahun net B/C ratio sebesar 1,49 (> 1) dan NPV sebesar Rp. 171.023.442,- (> 0). Dengan nilai IRR 37,75% (> discount rate) artinya proyek ini masih layak dilakukan sampai pada tingkat suku bunga sebesar 37,75% per tahun. Perhitungan kelayakan ditampilkan pada table 5.7. Selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 9

Pada tabel 5.7 juga dapat diketahui bahwa jangka waktu pengembalian seluruh biaya investasi/PBP (usaha) adalah 2 tahun 11 bulan. Dengan demikian usaha ini layak dilaksanakan karena jangka waktu pengembalian investasi lebih kecil dari periode proyek yaitu 5 tahun. Berdasarkan perhitungan di atas maka dapat disimpulkan bahwa usaha gula aren Layak dan Menguntungkan.

00

5.8. Analisis Sensitivitas Kelayakan Usaha

Dalam suatu analisis kelayakan suatu proyek, biaya produksi dan pendapatan biasanya akan dijadikan patokan dalam mengukur kelayakan usaha karena kedua hal tersebut merupakan komponen inti dalam suatu kegiatan usaha, terlebih lagi bahwa komponen biaya produksi dan pendapatan juga didasarkan pada asumsi dan proyeksi sehingga memiliki tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi. Untuk mengurangi resiko ini maka diperlukan analisis sensitivitas yang digunakan untuk menguji tingkat sensitivitas proyek/usaha terhadap perubahan harga input maupun output. Dalam pola pembiayaan ini digunakan tiga skenario sensitivitas, yaitu:

1. Skenario I

Pendapatan proyek mengalami penurunan sedangkan biaya investasi dan biaya operasional dianggap tetap. Penurunan pendapatan bisa diakibatkan oleh penurunan harga gula aren, jumlah permintaan yang menurun ataupun jumlah produksi yang menurun.

2. Skenario II

Biaya operasional mengalami kenaikan sedangkan biaya investasi dan penerimaan proyek investasi tetap. Kenaikan biaya operasional bisa terjadi karena kenaikan harga input untuk operasional seperti bahan baku, peralatan operasional, dll.

3. Skenario III

Skenario ini merupakan gabungan dari skenario I dan skenario II yaitu diasumsikan penerimaan proyek mengalami penurunan dan biaya operasional mengalami kenaikan, sedangkan biaya investasi tetap. Hasil analisis sensitivitas disajikan secara lengkap dalam lampiran 9 – 11.

Pada skenario I, dengan penurunan pendapatan usaha sebesar 6%, usaha gula aren ini masih layak dilaksanakan. Hal ini berdasarkan hasil perhitungan sejumlah kriteria kelayakan investasi (pada discount rate 18%) sebagai berikut: net B/C sebesar 1,12 (> 1), NPV sebesar Rp. 35.062.924,- (> 0), nilai IRR 23,01% (> discount rate), PBP (usaha) adalah 4 tahun 5 (< periode proyek).

Saat pendapatan usaha turun sebesar 7%, usaha gula aren ini sudah tidak layak dilaksanakan. Hal ini berdasarkan hasil perhitungan sejumlah kriteria kelayakan investasi (pada discount rate 18%) sebagai berikut: NPV Rp1.194.644,-, nilai IRR 18,17% (> discount rate), PBP (usaha) adalah 4 tahun 11 bulan (< periode proyek), tetapi net B/C sebesar 1,00 (= 1) sehingga tidak layak untuk diusahakan.

00

Pada skenario II, dengan kenaikan biaya operasional sebesar 7%, usaha gula aren ini masih layak dilaksanakan. Hal ini berdasarkan hasil perhitungan sejumlah kriteria kelayakan investasi (pada discount rate 18%) sebagai berikut: net B/C sebesar 1,12 (> 1), NPV sebesar Rp. 36.374.413,- (> 0), nilai IRR 23,21% (> discount rate), PBP (usaha) adalah 4 tahun 5 bulan (< periode proyek).

Ketika kenaikan biaya operasional mencapai 9% maka usaha ini sudah tidak layak dilaksanakan. Hal ini berdasarkan hasil perhitungan sejumlah kriteria kelayakan investasi (pada discount rate 18%) sebagai berikut: net B/C sebesar 0,92 (< 1), NPV negatif, dan nilai IRR 14,42% (< discount rate). Selain itu PBP (usaha) lebih besar dari periode proyek yaitu 5 tahun.

0a1

Pada skenario III, pada saat terjadi penurunan pendapatan sekaligus kenaikan biaya operasional masing-masing sebesar 3%, usaha gula aren ini masih layak dilaksanakan. Hal ini berdasarkan hasil perhitungan sejumlah kriteria kelayakan investasi (pada discount rate 18%) sebagai berikut: net B/C sebesar 1,18 (> 1), NPV sebesar Rp. 51.991.231,- (> 0), nilai IRR 25,41% (> discount rate), PBP (usaha) adalah 4 tahun 2 bulan (< periode proyek)

00

Hasil analisis sensitivitas di atas menunjukkan bahwa proyek ini lebih sensitif terhadap penurunan pendapatan dibandingkan kenaikan biaya operasional. Dengan memperhatikan kriteria jangka waktu pengembalian investasi (pay back period usaha), proyek ini sensitif pada penurunan pendapatan sebesar 6%, artinya jika penurunan pendapatan lebih besar dari 6% tiap tahunnya proyek ini menjadi tidak layak/merugi. Sedangkan jika dilihat dari perubahan biaya operasional, proyek ini sensitif pada kenaikan biaya operasional sebesar 7% dengan asumsi biaya investasi dan pendapatan tetap. Artinya jika kenaikan biaya operasional lebih besar dari 7% tiap tahun, proyek ini menjadi tidak layak/merugi. Analisis sensitivitas gabungan menunjukkan bahwa proyek ini sensitif pada kondisi terjadi penurunan pendapatan sekaligus kenaikan biaya operasional masing-masing sebesar 3%.

BAB VI. ASPEK EKONOMI, SOSIAL DAN DAMPAK LINGKUNGAN

6.1. Aspek Ekonomi dan Sosial

Dampak ekonomi dan sosial dari kegiatan produksi gula aren antara lain sebagai berikut:
a) Menyediakan lapangan kerja bagi penduduk di sekitar sentra produksi gula aren.
b) Meningkatkan nilai tambah yang dihasilkan dan diperoleh pengrajin dan pengusaha gula aren.
c) Meningkatkan optimalisasi pemanfaatan potensi daerah penghasil gula aren.
d) Meningkatkan devisa negara melalui ekspor produk gula aren ke luar negeri.
e) Mendorong adanya penelitian dan pengembangan teknologi produksi gula aren secara
berkesinambungan.

6.2. Dampak Lingkungan

Usaha produksi gula aren tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, bahkan menciptakan manfaat bagi lingkungan karena:
a) Tidak ada limbah berbahaya yang dihasilkan oleh industri gula aren.
b) Perakaran pohon aren sangatlah dalam, sehingga membantu mengangkat unsur hara dari tanah yang dalam ke permukaan yang berakibat pada semakin suburnya tanah disekitarnya.

Itulah sebabnya di sekitar pohon aren, para pengrajin dapat melakukan kegiatan bercocok tanam secara tumpang sari untuk menambah penghasilan.

BAB VII. KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

a. Industri kecil gula aren dilakukan secara kelompok oleh masyarakat pengrajin di desa Hariang, kecamatan Sobang, kabupaten Lebak merupakan sumber pendapatan keluarga bagi masyarakat.

b. Permintaan dan penawaran gula aren di pasar sangat fluktuatif. Permintaan sangat tinggi pada saat menjelang bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Sedangkan penawaran bergantung pada curah hujan. Saat musim kemarau, air nira yang dihasilkan sangat sedikit sehingga gula aren yang diproduksi jumlahnya kecil, dan sebaliknya di saat musim penghujan.

c. Daerah yang memiliki banyak pohon aren umumnya menjadi lokasi sentra produksi gula aren baik gula aren cetak maupun gula aren semut. Hal ini karena setelah diambil, nira hasil sadapan harus segera diolah. Mengingat daya tahan nira aren setelah disadap hanya 3 jam sebelum menjadi asam akibat proses fermentasi.

d. Terkait dengan replikasi usaha di wilayah lain, sepanjang tersedia bahan baku pohon aren maka usaha gula aren dapat dilakukan. Ini mengingat, usaha gula aren relatif tidak membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan khusus, peralatan yang digunakan sederhana dan hanya membutuhkan modal kecil atau tidak sama sekali jika masyarakat mempunyai bahan bakunya sendiri.

e. Berdasarkan analisis kelayakan finansial terhadap usaha produksi gula aren pada tingkat discount rate 15%, diperoleh NPV sebesar Rp. 184.993.036,- (> 0), net B/C ratio sebesar 1,53 (> 1) dan nilai IRR 35,25% (> discount rate). Hasil perhitungan kelayakan usaha tersebut menunjukkan bahwa usaha pengolahan gula aren ini layak dilaksanakan.

f. Analisis sensitivitas terhadap perubahan penerimaan menunjukkan bahwa proyek ini sensitif terhadap penurunan pendapatan di atas 7% dan kenaikan biaya operasional di atas 8%.  Analisis sensitivitas terhadap perubahan pendapatan sekaligus kenaikan biaya operasional menunjukkan bahwa proyek ini sensitif terhadap penurunan pendapatan sekaligus kenaikan biaya operasional masing-masing sebesar 3%

7.2. Saran

a. Investasi peralatan dibutuhkan baik untuk peningkatan kapasitas produksi maupun untuk perbaikan kualitas produk gula aren. Hal ini mengingat peluang pasar domestik maupun ekspor masih sangat terbuka dan sejauh ini belum optimal mampu dimanfaatkan oleh pelaku usaha gula aren.

b. Pembiayaan dari lembaga keuangan formal (bank) sangat dibutuhkan untuk pengadaan alatalat baik untuk perbaikan mesin maupun pembeliaan mesin baru. Guna memotivasi pelaku usaha untuk mengakses kredit dari perbankan maka perlu ada skim pembiayaan yang dapat mengakomodir siklus produksi dan nature of business gula aren.

c. Untuk meningkatkan dan memperbaiki mutu produk yang dihasilkan, maka pengusaha perlu lebih memperdalam pengetahuan mengenai teknik produksi, teknologi, dan informasi mengenai produksi gula aren yang efektif dan higienis.

d. Untuk meningkatkan produksi, perlu diadakan pembudidayaan bibit gula aren secara intensif untuk menggantikan pohon aren yang sudah tidak produktif lagi. Selain itu perlu adanya transfer teknologi pengolahan gula aren cetak dan semut melalui pelatihan dan penyuluhan secara berkala dan pengenalan teknologi tepat guna sehingga lebih efisien.

e. Untuk memperbaiki pola pemasaran, pengusaha sebaiknya mendapat pelatihan mengenai strategi pemasaran yang baik untuk meningkatkan penjualan produknya dan mendapatkan harga yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Sumber: Neraca Bahan Makanan, BPS (199996-1999); dan Neraca Bahan Makanan, Deptan (2000-2002).

Clive Gray, Pengantar Evaluasi Proyek, Gramedia Pustaka Utama, 2007.

Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Penanaman Modal Kab. Lebak, Profil Potensi Komoditi Gula Aren. Lebak: 2005.

Husein Umar, Studi Kelayakan Bisnis: Manajemen, Metode, dan Kasus, Gramedia Pustaka Utama, 1997.

Rachman, Benny, dkk, Kajian Sosial Ekonomi Gula Aren, Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten, Serang: 2005.

6 Comments »

  1. Terimakasih, atas pemuatan artikel ini. Akan banyak berguna untuk pengembangan masyarakat di Maluku (Halmahera). Namun masyarakat banyak menggantungkan diri dari Pohon Aren Alam,belum ada kesadaran untuk mem budidayakan ; jadi butuh usaha untukmengumpulkan air Nira dari berbagai tempat, mohon untuk dibahas pada kesempatan lain. Adakah usaha perkebunan Aren ditempat lain ? Berapa luasnya sehingga layak diusahalan ? THX

    Comment by FX Hartono Gunawan,dr — July 10, 2010 @ 8:35 pm

  2. Saya petani kecil, tinggal di kawasan Bogor timur, bila saya ingin mengajukan kredit untuk usaha aren, apa syarat dan bagaimana caranya? Mohon pencerahan. Terima kasih.

    Comment by Komunitas Pemerhati Pohon Langka — December 17, 2011 @ 3:00 am

  3. saya dari sulawesi barat an m.jalias djafar.punya air nira dari petani sebanyak kurang lebih 3000 ltr per harinya
    bagaimana cara untuk mengajukan kridit pengadaan mesin pengelolah gula aren.mohon bantuannya.terima kasih
    coll 081355576143

    Comment by m.jalias djafar.p — December 11, 2012 @ 6:10 am

    • pak kalo di sulawesi baratnya mana,apakah skrng msih oprasi gula merah

      Comment by aprianto — June 7, 2013 @ 1:40 am

  4. keren rab nya, sayang rate nya masih tinggi 18 % setahun, dibanding bank di singapore yang bisa kasi rate dibawah 10%

    Comment by jemmykosasih — July 3, 2013 @ 4:05 am

  5. saya sebagai masyarakat kebetulan mulai mencoba usaha gula aren…bagi saudaraku yg usaha nya sdh jln mhn bimbingan nya….
    kelompok tani sengon abadi ulpa bogor.

    Comment by budikaryana — January 9, 2014 @ 9:41 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: