Aren Indonesia

Berita 2003

Oktober 2003

Bogor Konsumsi 100 Ton Kolang-kaling

Sumber: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/; Selasa, 28 Oktober 2003

KOLAK, es campur, cendol, biji salak, dan minuman-minuman manis lain adalah makanan pembuka berbuka puasa selama bulan Ramadhan. Di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, di hari pertama puasa ini sudah banyak ditemui para pedagang dadakan yang menjual berbagai makanan dan minuman untuk keperluan buka puasa.

Lokasinya bisa di emperan-emperan toko, di halaman pasar, sampai ke gang- gang sempit di perkampungan padat penduduk. Tidak ketinggalan, hampir setiap pedagang menjajakan makanan- minuman manis khas Ramadhan itu.

Tak heran pula kalau berbagai jenis bahan untuk membuat makanan atau minuman itu laris manis.

Sehari menjelang Ramadhan, Minggu (26/10) misalnya, Maman, seorang pedagang sayur di Pasar Kemang, Kota Bogor, sudah mendatangkan 15 ton kolang-kaling. Daging buah aren itu didatangkan dari daerah Sukabumi dan Lampung untuk dijual kepada warga maupun pedagang di Bogor.

Buah aren ini merupakan salah satu bahan kolak yang dicampur dengan pisang dan ubi. Selain untuk kolak, kolang-kaling juga dijadikan campuran es. Zat gizi yang terkandung di dalam kolang-kaling ini, antara lain dapat memulihkan gizi dan kebugaran setelah berpuasa seharian.

Pada bulan Ramadhan, kolang-kaling ini diserbu pembeli. Oleh karena itu, sejumlah pedagang sekurang-kurangnya tiga hari menjelang bulan Ramadhan telah siap mendatangkannya dari daerah Sukabumi. Di Bogor, diperkirakan tiap minggu selama bulan puasa terjual sebanyak 25 ton kolang-kaling. Dengan demikian, selama sebulan 100 ton kolang-kaling terjual di daerah Bogor.

“Setiap bulan puasa dalam seminggu, saya menerima kiriman sebanyak 20 ton kolang-kaling dari pengumpul asal Sukabumi dan juga Lampung, belum pedagang lainnya,” kata Maman yang setiap bulan Ramadhan mendatangkan kolang-kaling dari Sukabumi dan Lampung.

Kolang-kaling ini kemudian dijual kepada pedagang pengecer yang tersebar di berbagai pasar tradisional di Kota/ Kabupaten Bogor. Minggu pertama bulan Ramadhan ini, Maman yang didampingi istrinya, Ny Yayah, menyebutkan harga jual untuk pedagang pengecer setiap karung isi 80 kilogram dengan harga Rp 200.000 atau Rp 2.500 per kilogram. Pedagang eceran termasuk pedagang sayur keliling biasanya menjual Rp 3000-Rp 3.500 per kilogramnya

PROSES pembuatan kolang-kaling ini tidak secepat ketika dimasak dijadikan campuran kolak. Cukup sulit dan membutuhkan keterampilan tersendiri. Buah kolang-kaling yang sudah terlepas dari tangkainya harus direbus sekitar dua jam hingga getahnya hilang. Getah buah aren ini cukup gatal bila kena badan. Dalam keadaan hangat-hangat, kulit buah yang berwarna hijau kemudian dibelah dengan menggunakan pisau. Daging buahnya yang berwarna putih dicungkil dari sela-sela kulit yang tebal.Dari satu buah aren, bisa didapat tiga mata kolang kaling.

Pohon aren (Arenga pinnata) sebelumnya tidak pernah ditanam atau dibudidayakan oleh manusia, tetapi berkembang karena jasa musang yang memperbanyak tanaman ini melalui kotorannya setelah memakan buah aren. Sejak tahun 1990-an, pohon aren telah berhasil dibudidayakan setelah melalui proses penelitian, tidak lagi mengandalkan musang.

SELAIN kolang-kaling, labu kuning (timun suri) asal Parakan Temanggung, Jawa Tengah, juga sudah mulai dijual di sejumlah pasar dan pinggir jalan, bahkan sejak sebelum Ramadhan. Pertengahan Oktober lalu, sekurang-kurangnya lima ton labu kuning didatangkan oleh pedagang labu di Jalan KH Soleh Iskandar, Bogor, dari Parakan.

Slamet, pedagang labu di Bogor, menyebutkan, labu yang didatangkan dari Parakan itu dijual Rp 2.500/kg. Berat labu terkecil sekitar dua kg, sedang yang besar sekitar 20 kg/buah.

Ny Yayah menambahkan, pihaknya tahun ini ingin menjual labu kuning di samping andalan jualan buah kolang- kaling. Dari kiosnya di Pasar Kemang, Ny Yayah dan suaminya, membagi kolang-kaling kepada para pedagang ecerannya untuk dijual di berbagai pasar di Kota Bogor. “Saya ingin coba jualan labu kuning,” kata Ny Yayah. (pun)

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: