Aren Indonesia

Evi Indrawanto

Laissez Faire Aren Indonesia

Sumber:  http://arengasugar.multiply.com/journal/item/186/Laissez_Faire_Aren_Indonesia May 12, ’08

Pak Daeng Lo

Bapak Daeng Lo, pembibit pohon aren.

Konon frasa Laissez Faire ini berasal dari bahasa Francis yang secara harafiah berarti membiarkan berbuat/melakukan. Tuturan laissez faire secara lengkap begini: “Laissez faire, laissez passer, le monds va de lui-meme”. Terjemahan bebasnya kurang lebih: “Biarkanlah, jangan campur tangan, alam semesta dapat mengatur dirinya sendiri”.

Kalimat ini dilontarkan oleh kaum fisiokrat Francis yang dipelopori oleh F. Quesney Mirabeau, A.R.J. Turgot dan du Pont. Mereka inilah yang disebut sebagai pencetus aliran Laisser Faire yang menyerukan agar orang-orang kembali ke ajaran tradisional mengenai hasil kekayaan yang melulu dari alam. Hanya segala suatu yang tumbuh dari alam (tanah) lah yang nyata.

Manusia tak bisa hidup tanpa pangan, serat, kayu dan barang tambang. Alamlah yang memproduksi kebutuhan itu untuk manusia. Pemilik tanah dan pengolah tanah disebut sebagai produsen. Sementara pengusaha, pedagang, dan pengrajin tidak bisa disebut produsen, karena mereka tidak mengolah dan berhubungan langsung dengan tanah.

Jadi di mata paham Laissez Faire karena tidak terlibat dalam perawatan, pemeliharaan dan menyadap nira aren langsung dari batangnya, saya ini tidak bisa disebut sebagai produsen gula aren. Mungkin lebih tepat disebut sebagai pedagang yang memberi nilai tambah terhadap salah satu produk dari tanaman aren.

Saya menemukan paham ini juga sangat cocok untuk memotret sistem sebagian besar perkebunan aren nasional yang hingga detik ini pengusahaannya masih banyak dalam bentuk eksploitasi tumbuhan aren liar.

Beberapa propinsi memang sudah bergiat dalam pemulihan populasi aren secara terencana. Namun sebagian besar pertumbuhan dan perkembangan populasi aren masih secara alami yaitu lewat perantaraan musang. Musang memakan buah aren masak lalu membuang kotorannya berupa biji aren di semak belukar. Maka guyon pun lahir bahwa tanaman ini serta seluruh hasilnya sebetulnya adalah hak keluarga musang karena mereka lah yang menumbuhkan, memelihara dan membesarkannya.

Karena musang tidak punya alamat usaha yang spesifik, inilah sebab mengapa lokasi pohon aren liar sangat menyebar, bahkan banyak pula yang tumbuh tebing-tebing terjal. Akibatnya adalah banyak dari tanaman aren produktif tidak bisa disadap petani.

Disamping itu pekerjaan menyadap hanya digeluti kelompok petani berumur tua saja. Sementara kaum muda lebih suka mencari pekerjaan ke luar desa atau kota di sektor non-pertanian yang dianggap jauh lebih berprestise. Sekalipun pendapatan riilnya belum tentu lebih tinggi dari kegiatan menyadap aren tapi pekerjaan menyadap mendapat kedudukan prestise paling rendah dibandingkan dengan pekerjaan-pekerjaan non-pertanian di wilayah urban.

Kenyataan ini lah yang mengkuatirkan beberapa pihak bahwa populasi aren akan terus menurun dan mungkin pada suatu saat akan hilang. Dari segelintir orang itu tercatat nama Dian Kusumanto di Nunukan- Kalimantan Timur. Untuk menunjang pemulihan populasi aren nasional, bapak ini beserta teman-temannya saat ini mulai membudidayakan sekitar 30 ribu bibit yang beliau sebut sebagai Kebun Aren di Nunukan. Rencananya sehektar kebun akan ditanam 200-250 pohon. Semangat yang luar biasa!

Tertarik dengan proyek beliau? Silahkan berkunjung ke sini.

Alam memang harus dibiarkan mengatur dirinya dalam kerangka keseimbangan naturalnya. Demi kemakmuran bersama, manusia sebagai bagian dari alam, juga tetap perlu berperan. Tidak mengeksploitasi namun bergerak secara harmonis bersama hukum-hukumnya.

Salam persahabatan,

— Evi
DIVA’S GREEN SHOP
Arenga Palm Sugar
Natural Sugar for All Purpose Sweeteners

Gula Aren : Alternatif Pemanis yang Aman

Sumber: http://arengasugar.multiply.com/journal/item/125/Gula_Aren_Alternatif_Pemanis_yang_Aman; May 1, ’08 11:30 AM

2

Hampir 2 tahun menjadi juragan gula aren, sedikit banyak membuat saya mengerti pada pola kebiasaan masyarakat di beberapa desa yang menjadi supplier kami. Umumnya mereka tidak memakai gula pasir untuk pemanis sehari-hari. Jika Anda menganggap wajar karena gula aren berlimpah di sekeliling mereka, mungkin anda sedikit keliru. Dari menggali lewat beberapa pertanyaan, mereka lebih memilih gula aren karena khasiat, rasa dan aromanya yang cenderung tidak tergantikan oleh gula lainnya.

Dulu, sebelum terjun di bisnis ini, saya menganggap palm sugar atau ada juga yang keliru menyebutnya sebagai brown sugar, tidak punya hubungan kekerabatan dengan gula aren. Maklum lah otak belum mampu membangun koneksi antara tumbuhan palmae dan gula, ditambah lagi namanya terdengar jauh dari kampung; Palm Sugar. Karena tidak puny ide dari mana datangnya, kebetulan ketemunya di hotel-hotel berbintang, café-café dan beberapa toko-toko kue, jadi wajarkan kalau dulunya gula ini saya anggap sebagai gulanya orang kaya?

Tidak mengetahui apa-apa memang merusak. Jadi bapak dan ibu berhati-hatilah dengan ketidak tahuan kita. Padahal kalau sedikit saja berbalik, nenek moyang saya menggunaka gula alami ini dalam masakan sehari-hari. Sayur asem itu hanya sedap kalau memakai palm sugar. Rujak dan gado-gado tidak akan disebut demikian kalau tidak ada kandungan palm sugar-nya.

Jadi, orang-orang kampung yang saya sebutkan diatas memperoleh keberkahan sendiri dari Yang Diatas. Mereka hidup dengan gula sehat dan tidak perlu mempertaruhkan kesehatan dengan gula pasir. Disamping itu mereka juga telah membuat saya lebih cerdik dengan memakai gula aren untuk segala jenis pemanis dan penggurih masakan di rumah. Dan saya juga terkekeh membayangkan, para petani itu menyamakan kedudukan dengan para café goers yang keren-keren melalui pemakain palm sugar dalam minuman kopi, teh dan susu mereka.

Sebetulnya gula aren dipakai orang dalam makanan apa saja sih?

Sedikit diantaranya : pempek, dodol, apem, kue codot, jojorong, klepon, kue tutun atau dodol cina, wajid, kue ali, cucur, lupis, dodongkol, teng-teng, awug, cendol, dan aneka jenis kolak.

Bahkan meminum gula aren yang dilarutkan dalam air putih merupakan kebiasaan yang umum di desa. Minuman ini memiliki kelebihan, selain menimbulkan tenaga, juga dapat menghilangkan sakit pinggang dan pegal-pegal. Kalau ditambahkan batu es, rasanya tambah sedap.

Nah, dari informasi ini, saya bertambah yakin bahwa upaya mensubtitusi gula putih atau gula pasir yang umumnya berasal dari gula tebu dengan gula aren sangat berpeluang. Peluang tambah menjulur apabila setiap orang semakin memahami bahwa sesungguhnya gula aren memiliki berbagai kelebihan nutrisi dibandingkan dengan gula putih, terutama kalau kita bicara soal gizi dan kesehatan.

Salam sehat,
— Evi
Gula Sehat

Mengurangi Angka Kemiskinan Dengan Pohon Aren

Oleh : Evi Indrawanto

Sumber: http://kebunaren.blogspot.com/

s575969262_1005

Ada yang bertanya, bagaimana potensi ekonomi tanaman aren di Indonesia? Jawab saya: sangat besar! Ini bukanlah sekedar jawaban optimis tanpa dasar alias OMDO ( omong doang). Mengingat tanaman ini sudah lama dikenal masyarakat, tersebar hampir diseluruh dataran Indonesia dan tidak memerlukan banyak perawatan, tidak begitu sulit dipahami bahwa sesungguhnya aren berpotensi mengurangi jumlah kemiskinan ( poverty alleviation) melalui optimalisasi pemanfaatan tanaman. Ini bisa dilakukan dari tingkat rumah tangga petani.

Sangat menarik mempelajari potensi ekonomi tanaman ini, ia mirip pohon kelapa, setiap bagian dari pohonya sangat bermanfaat.

Contoh, buah aren muda yang diproses melalui teknologi sederhana menghasilkan buah kolang-kaling. Buah berwarna bening keputihan ini bisa diolah menjadi aneka panganan ringan. Sebut saja manisan kolang-kaling. Distribusinya selain di pasar-pasar tradisional, kolang-kaling sudah lama menembus pasar swalayan. Dijual dalam kemasan menarik bahkan tak jarang diberi bahan pewarna makanan untuk menarik perhatian calon pembeli. Selain itu, temukan kolang kaling dalam es campur dan skoteng. Iseng-iseng coba perhatikan setiap gerobak es campur di seluruh Indonesia, dimanapun mereka berjualan, kolang-kaling tidak pernah ketinggalan sebagai unsur pelengkap isi. Kolak kolang-kaling di bulan puasa, dicampur sedikit santan dan gula aren, rasanya manis, legit dan krenyes-krenyes kala dikunyah, penuh serat dan kaya nutrisi.

Lalu ijuk pohon aren dipakai orang untuk membuat sapu, sikat, atap cottages atau hiasan2 interior lainnya. Ijuk yang dipakai untuk keperluan ini berasal dari pohon aren muda dan belum mengeluarkan bunga. Tekstur ijuk dari pohon aren muda halus dan lentur. Sementara yang berasal dari pohon tua, ijuknya kasar dan warna hitamnya tidak begitu menarik.

Akar tanaman aren bisa dipakai untuk membuat anyam-anyaman. Rendam lebih dahulu dalam air hingga kulitnya mengelupas lalu dibelah-belah. Para sais delman jaman dahulu kala memanfaatkan akar tanaman aren sebagai pecut kuda. Selain itu akar aren sering dimanfaatkan masyarakat Indonesia sebagai obat tradisional penghancur batu kandung kemih.

Daun mudanya digunakan kaum aki-aki dipedesaan sebagai pembungkus tembakau. Namanya rokok kawung. Belum lagi, lidi, pelepah dan batangnya sebagai penghasil tepung ( pati aren)

Terakhir adalah tandan bunga yang disadap niranya sebagai bahan baku GULA SEMUT atau PALM SUGAR.

Menurut kajian BPPT Banten, dalam setahun setiap pohon aren bisa memproduksi nira 300-400 liter / tandan bunga. Setiap tandan bunga mampu menghasilkan nira 300-400 liter per musim bunga ( selama 3- 4 bulan). Jadi dalam satu pohon aren mampu menghasilkan nira kurang lebih 900-1.600 liter / tahun. dan untuk setiap liter nira dapat di olah menjadi sekitar 0.15 – 0.17 kg gula semut. Harga setiap kilogram gula semut ditingkat kebutuhan industri pangan saat ini kurang lebih Rp. 9.000,-/ kg, untuk ekspor di pasar Swiss dan Eropa, tidak kurang dari Rp. 30.000,-/kg. Sekalipun daya serap pasar retail lokal terhadap gula semut belum tinggi, terkendala dengan harga yang lebih tinggi dari gula pasir, diharapkan dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap gula alami sebagai bahan pemanis, gula semut diharapkan mampu mengisi celah ini.

Kita memiliki jutaan batang tanaman aren yang tersebar dari Sabang- Merauke. Jika tanaman ini di kelola dengan layak, potensi ekonominya sebagai upaya pengurangan penduduk miskin bukanlah hal mustahil.

Sumber : http://arengasugar.multiply.com

(Artikel ini ditulis oleh Ibu Evi Indrawanto, pemilik DIVA’S Maju Bersama, pada April 2006. Tulisan ini masih sangat relevan untuk menjadi referensi kita semua. Sukses Bu Evi!! Bisnis Aren dan Bisnis Aren Serta Bisnis Aren dan seterusnya Bisnis Aren)

2 Comments »

  1. bu,,kami tertarik dengan potensi pohon aren…tapi kami ada kesulitan untuk cara pembibitannya….klo ada mohon kirimkan ke email saya.

    Comment by aties — June 29, 2012 @ 4:14 am

  2. bu mohon informasi untuk yg terima gula semut aren. terimakasih.

    Comment by Tjee Luky Haryanto — June 26, 2013 @ 5:09 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: