Aren Indonesia

Yuni Ikawati

Bioetanol: Jarak Menjauh, Aren Dijajaki

Oleh : Yuni IKAWATI

Sumber: http://www2.kompas.com/;  Senin, 14 Januari 2008

Berkurangnya cadangan minyak bumi ditambah tingkat kebutuhan dan harganya yang terus menanjak kian mendorong upaya pemanfaatan berbagai sumber energi alternatif, termasuk bahan bakar nabati, sejak tahun 2005. Tebu, jagung, singkong, hingga jarak pagar pun telah diuji coba.

Namun, semua terhambat pengembangannya oleh faktor ekonomis dan budidaya. Kini mulai dijajaki alternatif lain, yaitu aren (Arenga pinnata Merr), yang memiliki tingkat produktivitas tertinggi dibandingkan dengan yang lain.

Tanaman jenis bijian, pati, atau umbi yang mengandung kadar gula memang berpotensi dijadikan etanol. Namun, umumnya dimanfaatkan untuk pangan sehingga terjadi tarik-menarik kepentingan.

Kini, tarikan ke arah pemanfaatan sebagai bahan baku energi begitu kuat. Sebanyak 63 persen produksi etanol di dunia digunakan untuk bahan bakar. Selebihnya untuk industri, farmasi, dan minuman keras. Produksi etanol dunia untuk bahan bakar naik dari 19 miliar liter (lt) pada tahun 2001 menjadi 31 miliar lt pada 2006. Produksi total dari 40 miliar lt pada 2004 menjadi lebih dari 65 miliar lt pada 2010.

Negara-negara yang banyak mengembangkannya yaitu Brasil, Amerika Serikat, dan Kanada (Benua Amerika), Jerman (Eropa), dan Australia. Brasil telah menggunakan sejak tahun 1930. Asia selama ini banyak memproduksi etanol untuk minuman dan industri turunan alkohol. Baru beberapa tahun terakhir mengarah ke pengembangan bahan bakar minyak (BBM).

Jepang, misalnya, tahun 2005 mengintroduksi penjualan etanol sebagai bahan bakar otomotif. Sedangkan India telah mewajibkan penggunaan 5 persen etanol pada BBM di seluruh negeri. Pemerintah Thailand mulai merintis penggunaan bahan bakar etanol sejak tahun 2000 dan mendorong produksi etanol dengan memberikan insentif pajak bagi industri berupa pembebasan pajak dan bea masuk.

Bioetanol di Indonesia

Pada cetak biru Pengelolaan Energi Nasional, pemanfaatan bioetanol dan biodiesel ditetapkan 2 persen (tahun 2010) dan 5 persen (2025). Produksi bioetanol di Indonesia, berdasarkan data dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan (2002), sekitar 180 juta liter dengan etanol berkadar 95-97 persen.

Penelitian tentang etanol telah dirintis oleh Balai Besar Teknologi Pati Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dengan mengembangkan produksi bioetanol dari bahan baku berpati atau ubi kayu atau singkong. Tahun 1982 dibangun pabrik percontohan di Lampung berkapasitas 8.000 liter per hari.

Hari Purwanto, Asisten Deputi Program Tekno Ekonomi Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) mengungkapkan, pengembangan aren sebagai bahan bakar mulai dijajaki, karena pemanfaatannya sebagai bahan pangan dan minuman tergolong terbatas, yaitu sebagai gula merah dan minuman keras, kolang-kaling dan soun.

Aren termasuk keluarga palma. Tanaman ini tersebar di hampir seluruh wilayah Nusantara, di 24 provinsi dengan areal hampir 60.000 hektar (ha). Dari areal seluas itu, antara lain, dihasilkan 49.000 lebih ton gula merah. Di beberapa daerah, aren ditanam sebagai tanaman pinggiran atau tanaman sela di antara tanaman pepohonan lainnya.

Aren bisa menjadi sumber bioenergi penting karena produktivitasnya sangat tinggi. Potensi etanol dari aren mencapai 20.160 liter/ha/tahun—paling besar di antara semua sumber yang saat ini dikembangkan— singkong, sorgum, ubi jalar, sagu, tebu, dan nipah. Demikian dikatakan Kepala Bidang Program Pertumbuhan Ekonomi dan Daya Saing KNRT Sjaeful Irwan.

Untuk memenuhi kebutuhan etanol 4 juta kiloliter diperlukan aren sekitar 200.000 ha atau dari 31,2 juta pohon. Jumlah ini hanya perlu 20 persen dari kebutuhan lahan untuk menanam singkong yang menghasilkan etanol dalam jumlah yang sama.

Tanaman ini menghasilkan biomas di atas tanah dan dalam tanah yang sangat besar, yaitu hingga 2 ton per pohon, sehingga dapat berperan penting dalam mengikat CO2.

Aren merupakan tanaman serbaguna. Hampir semua bagiannya bernilai ekonomi dan tidak butuh pemeliharaan intensif sehingga cocok bagi petani miskin di lahan marginal. Setelah selesai masa produktifnya, kayunya dapat diolah menjadi mebel dan kerajinan tangan dengan tekstur khas, serta bahan bakar untuk mengolah nira.

Produksi bioetanol aren

Menurut Syaeful, uji coba pembuatan aren menjadi bioetanol akan dilakukan di Balai Besar Teknologi Pati BPPT di Lampung Tengah tahun ini. Untuk membuat prototipe industri etanol kadar 95 persen berkapasitas 6.800 lt-7.300 lt butuh biaya Rp 100 juta lebih. Break event point dicapai dalam 3 tahun.

Dalam penggunaannya kini pada kendaraan berbahan bakar bensin, bioetanol dicampur premium dikenal pula gasohol dengan perbandingan 10:90. Kualitas etanol yang digunakan tergolong fuel grade ethanol (FGE) yang kadar etanolnya 99 persen. Keuntungan lain dari bioetanol adalah nilai oktannya lebih tinggi dari bensin sehingga dapat menggantikan fungsi bahan aditif seperti methyl tertiary buthyl ether (MTBE) dan tetra ethyl lead (TEL). Belakangan ini, kedua aditif tersebut dipilih untuk menggantikan timbal pada bensin.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: