Aren Indonesia

Penghijauan Aren 2003

Februai 2003

Merapi Dihijaukan Lagi dengan 10.000 Bibit Tanaman

Sumber: http://www2.kompas.com/; Senin, 24 Februari 2003

Sleman, Kompas – Untuk kesekian kalinya, kawasan Gunung Merapi, Sabtu (22/2) pagi, dihijaukan dengan penanaman 10.000 bibit berbagai jenis tanaman. Penghijauan itu dilakukan oleh ratusan orang dari berbagai kalangan dan masyarakat setempat sebagai langkah merehabilitasi 350 hektar kawasan hutan yang hancur akibat kebakaran hutan antara Oktober hingga Desember 2002. Langkah ini juga merupakan tindak lanjut anjuran Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X dan Menteri Kehutanan (Menhut) Ir M Prakosa akhir Januari 2003, untuk menyelamatkan cadangan air tanah sekitar 1,2 juta meter kubik (m³) di kawasan Pegunungan Merapi.

Kegiatan penghijauan dengan penanaman bibit pohon gayam, salam, suren damar, puspa, dan aren itu, seluruhnya dipusatkan di lokasi penanaman Petak III milik Perhutani. Lahan ini berjarak sekitar empat kilometer dari Dusun Turgo Tegal, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, atau sekitar 1,5 jam jalan kaki.

“Seluruh Petak III ini terbakar habis pada kebakaran Oktober–Desember tahun lalu, bahkan apinya sampai di Bukit Turgo. Pak Bupati minta penanaman bibit di lokasi paling parah itu,” kata Suharno, Lurah Desa Purwobinangun.

Adapun Bupati Sleman Ibnu Subianto kepada pers mengemukakan, jika Merapi bisa dipulihkan, bukan cuma Sleman yang akan mengambil manfaat pelestarian cadangan air tanah, tetapi juga Kota Yogyakarta dan kabupaten lain. Cadangan air di lereng Merapi, khususnya arah selatan di Provinsi DIY, selama ini bukan hanya dimanfaatkan sebagai sumber air minum bagi PDAM setempat, tetapi juga air minum penduduk serta kebutuhan ternak dan pertanian.

Menurut Suharno, ratusan orang yang terlibat dalam penghijauan Merapi itu antara lain pelajar, mahasiswa, pencinta alam, perwakilan instansi pemerintah, TNI dan Polri serta masyarakat setempat.

Kegiatan yang dimulai pada pukul 07.00 pagi, dengan pendakian yang dibekali nasi bungkus dan air kemasan itu, dipimpin Bupati Sleman Ibnu Subianto, Lurah Purwobinangun Suharno serta Kepala Dusun Turgo Tegal FX Suwadji.

Penduduk sekitar sengaja diberangkatkan belakangan. Tujuannya untuk “menyapu” bibit-bibit pohon yang tak sempat tertanam di kawasan yang berbatasan dengan daerah kosong tanpa vegetasi di bawah titik Kendit. Lokasi penanaman cukup jauh jaraknya, terjal, dan berada di atas Pos III.

Tindak lanjut

Diperoleh informasi, penghijauan Merapi kali ini merupakan tindak lanjut penghijauan serupa tanggal 28 Januari 2003 lalu, ketika Menhut dan Gubernur DIY melaksanakan rehabilitasi Merapi dengan menanam 125.000 bibit. Ketika itu, penghijauan dipusatkan di daerah sekitar titik candi di sisi timur Bukit Turgo.

“Hingga saat ini, yang berhasil ditanam baru 110.000 batang bibit tanaman. Berupa bibit pohon suren, salam, pinus, jambu air, dan damar. Mengapa demikian, karena sebagian bibit belum didatangkan. Ketika itu anggaran langsung dari Menteri Kehutanan,” kata Suharno.

Anjuran menindaklanjuti penanaman pohon itu mendapat sambutan antusias penduduk. “Berapa pun bibit yang ada pasti akan tertanam, karena penduduk menanggapi sungguh-sungguh program penghijauan ini,” kata Suharno.

Untuk penanaman 10.000 bibit kali ini, Bupati Sleman memberi insentif biaya pembuatan lubang tanam untuk 4.000 bibit Rp 250 per lubang, 3.000 bibit diserahkan kepada peserta penghijauan untuk menanamnya, dan sisanya (3.000) dikerjakan masyarakat Desa Purwobinangun dan Tritis, Turgo, dan desa lain di Kecamatan Pakem.

Penanaman 125.000 bibit pertengahan Januari 2003 sangat menguntungkan penduduk sekitar, karena dialokasikan dana untuk kegiatan “anjir” (pematokan calon tempat pohon ditanam), biaya angkut bibit ke atas, dan biaya menggali tanah untuk penanaman bibit.

“Untuk satu batang pohon satu orang akan memperoleh Rp 900. Wah, penduduk senang sekali. Ada yang dalam seminggu memperoleh upah Rp 1 juta lho,” kata Suharno.

Berdasarkan pengamatan, kebakaran hebat tahun 1994 akibat awan panas yang menghanguskan Bukit Turgo, kondisi hutan pulih dalam waktu lima tahun. “Dengan penghijauan, kita harapkan hutan Merapi akan pulih dalam tiga tahun, dan sebagian tanaman buah yang ditanam bisa dikonsumsi,” katanya menambahkan. (hrd)

BKP Tanam 10 Ribu Pohon Penghijauan di Bukit Barisan

Sumber: http://groups.yahoo.com/

Medan Bisnis – Medan

Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) akan melakukan kegiatan penghijauan berupa penanaman 10 ribu pohon tanaman keras bernilai ekonomis di kawasan pinggiran Pegunungan Bukit Barisan, Desa Sukamakmur, Tanah Karo. Aksi penghijauan itu direncanakan berlangsung pada tanggal 18 Agustus 2003, tepatnya di Areal Retreat Centre Taman Jubelium 100 tahun GBKP Sukamakmur dan Tanah Karo.

Hal itu disampaikan Ketua Panitia HUT ke-8 Mamre (Kaum Bapa) GBKP Tahun 2003 Dana Barus SH CN saat diterima Gubsu HT Rizal Nurdin di ruang kerjanya, Jumat (1/8). Saat itu, ia didampingi panitia lainnya Ir Sukaria Sinulingga, Pdt Firman Ginting, Pdt Kasna Barus, Drs Nabari Ginting, dan Dr Masang K Sitepu SpM.

Kepada Gubsu, mereka menjelaskan beberapa jenis tanaman keras itu di antaranya jenis pohon enau, mahoni dan lainnya. “Penanaman akan dilakukan di atas lahan seluas 35 hektar,” kata Dana Barus. Kepada panitia, Gubsu mengatakan sangat mendukung kegiatan yang dilakukan oleh panitia HUT ke-8 Mambre GBKP ini.
Gubsu HT Rizal Nurdin dalam kesempatan itu mengungkapkan kegembiraannya atas rencana reboisasi itu. Ia mengungkapkan rasa salut terhadap kegiatan yang dilakukan oleh pihak gereja GBKP itu. “Walalu organisasi ini merupakan organisasi gereja, ternyata masih memberikan kontribusi bagi lingkungan hidup”, ujar Gubsu.

Gubsu dalam pertemuan itu didampingi Kabag Kesbanglinmas Propsu Edi Aman Saragih, Ka Bappedaldasu Hakimil Nasution, Kadis Kehutanan Prie Supriadi dan Humas Pimpinan Ernita Bangun SE.

Menyangkut rencana penanaman pohon, Prie Supriadi menyatakan, rehabilitasi lahan kritis saat ini mendapat perhatian utama mengingat jumlah lahan kritis di Sumut mencapai seluas 1 juta hektar.

Dari luas lahan kritis tersebut, 600 hektar di antaranya terdapat di dalam hutan. “Dengan penanaman pohon yang memiliki nilai ekonomis, tidak saja baik bagi lingkungan juga berguna bagi masyarakat,” kata Prie.

Dia menambahkan, partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan dalam pengentasan lahan kritis. Pasalnya, dana reboisasi yang dialokasikan ke daerah jumlahnya sangat minim dibanding dengan luasan lahan yang kritis.
Selain acara penghijauan, pihak panitia juga menggelar berbagai kegiatan, antara lain olahraga yang dimulai sejak tanggal 3, 10 dan 24 Agustus (bola volley, catur dan tarik tambang), pertandingan gerak jalan lintas alam beregu dilaksanakan 18 Agustus, perlombaan sayembara 30 Agustus dan kegiatan sosial lainnya.

Puncak acara dilangsungkan pada tanggal 30 Agustus yang bertempat di Jambur Jubelium 100 tahun GBKP Sukamakmur dengan menghadirkan pengkotbah Pdt DR SAE Nababan, Pdt Jadiaman Peranginangin DTh dan Pdt Musa Sinulingga STh. (vin)

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: