Aren Indonesia

Penghijauan Aren 2006

Mei 2006

Gerakan Penghijauan Diarahkan ke Fungsi Konservasi  59 Hektar Hutan di Turgo Terbakar

Sumber: http://www2.kompas.com/; Kamis, 18 Mei 2006

Yogyakarta, Kompas – Sekitar 59 hektar hutan lereng di Gunung Merapi yang berlokasi pada petak dua Turgo terbakar akibat sering munculnya awan panas atau wedhus gembel dari gunung tersebut. Pemerintah pusat menyatakan siap membantu proses rehabilitasi hutan yang mayoritas ditanami pohon aren. Demikian dikatakan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi DI Yogyakarta Ir Sunardi, Rabu (17/5), di ruang kerjanya. Menurut dia, petak dua Turgo itu berlokasi sekitar satu kilometer dari puncak Gunung Merapi. Selama ini pemerintah selalu berusaha ekstra keras guna melaksanakan program rehabilitasi dan penghijauan kawasan hutan di lereng Merapi.

“Bagaimana tidak kerja keras? Setiap tahun kita selalu mengalokasikan penanaman dan penyebaran bibit pohon. Namun, kendala yang dihadapi kalau tidak tersapu wedhus gembel, bibitnya tidak tumbuh dengan baik. Namun, kita memakluminya karena itulah konsekuensi dari hutan yang terletak di kawasan gunung berapi,” kata Sunardi. Ia mengemukakan, pada tahun 1994 saat Gunung Merapi mengeluarkan awan panas dengan kekuatan yang lebih besar dari saat ini, pihaknya sudah melakukan rehabilitasi dan penghijauan pada sekitar 300 hektar lahan hutan. Berikutnya pada 2001 juga dilakukan gerakan yang sama. Sampai sekarang, kata dia, total luas hutan Merapi yang sudah direhabilitasi dan dihijaukan mencapai sekitar 400-500 hektar.

Siap membantu Pihaknya juga baru saja melakukan pemantauan terhadap 59 hektar hutan pada petak dua Turgo yang terkena wedhus gembel Gunung Merapi tahun ini. Dia membenarkan hutan tersebut terbakar. Menurut dia, Departemen Kehutanan Republik Indonesia siap membantu Pemerintah Provinsi DIY untuk merehabilitasi dan menghijaukan hutan tersebut. Sunardi menambahkan, gerakan rehabilitasi hutan melalui penghijauan menjadi program yang rutin dilaksanakan setiap tahun, khususnya pada areal hutan negara dan rakyat di DIY. Tahun ini gerakan rehabilitasi diarahkan pada upaya pengembalian fungsi hutan sebagai wilayah konservasi utama sehingga berdampak positif pada aspek sosial- ekonomi masyarakat. “Sejak dicanangkan tahun 2003 lalu kita sudah mereboisasi hutan negara seluas 6.810 hektar dan penghijauan di hutan rakyat seluas 15.830 hektar, dan penghijauan di jalan utama provinsi sepanjang 60 kilometer,” ujar Sunardi. (ONI)

November 2006

PLTP LEHENDONG : PLN Perhatikan Masalah Lingkungan

Sumber: Suarakarya (www.suarakarya-online.com/news.html?id=16121730-Nov-2006; 09:26 – im

Kamis, 30 November 2006

TOMOHON (Suara Karya): Pihak PLN amat memperhatikan masalah lingkungan dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lehendong di Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Untuk itu PLN dan pemerintah daerah setempat akan menanam pohon Enau di sekitar PLTP tersebut, untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup sehingga panas bumi yang ada bisa tetap digunakan untuk pembangkit energi listrik.

Hal ini dikatakan Direktur Pembangkitan dan Energi Primer PT PLN Pusat, Ir Ali Herman Ibrahim, dalam acara pemasangan turbin pada PLTB Lehendong 2 di Tomohon, Selasa (28/11). “Kita sekarang lebih mengembangkan energi nonfosil, termasuk penggunaan energi panas bumi dan pembangkit listrik tenaga air. Untuk itu tentunya kelestarian lingkungan hidup perlu dijaga agar potensi energi seperti air dan panas bumi ini tetap dapat dipertahankan,” ujar Ali.

Ali meminta PLN Suluttenggo segera menanam pohon enau di sekitar area panas bumi ini, karena Menteri Pertanian RI sendiri telah merekomendasikan pohon ini untuk penghijauan di seluruh Indonesia.

Proyek PLTP Lahendong 2 dikerjakan oleh kontraktor Jepang, Sumitomo Corporation. Sedangkan PLTP Lehendong 1 yang telah rampung dikerjakan oleh kontraktor Perancis. Menurut Ali, PLN telah merencanakan membuat PLTP Lehendong sebanyak empat unit.

PLTP Lehendong 1 sudah selesai, PLTP Lehendong 2 hampir rampung, PLTP Lehendong 3 sudah ditenderkan, sedangkan PLTP Lehendong 4 akan dilaksanakan dalam waktu dekat. PLTP ini masing-masingnya dapat menghasilkan listrik sebesar 2 kali 20 megawatt (Mw).

Pembangunan PLTP Lehendong 1 dibiayai dengan dana pinjaman lunak Perancis, PLTP Lehendong 2 didanai oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) dengan nilai 30 juta dolar AS. Sedangkan PLTP Lehendong 3 dan 4, masing-masing nantinya akan dibiayai oleh Japan Bank of International Coorporation (JBIC).

Sementara itu, Wakil Walikota Tomohon, Ny Syeni Watulangkou, yang hadir mewakili pemeritah daerah, mengatakan, pihaknya siap untuk menyediakan bibit pohon Enau dan tenaga ahli.

“Selama ini kami mengembangkan bibit pohon Enau untuk bahan dasar pembuatan gula aren. Di samping itu, kami juga sudah mengirim bibit Enau untuk penghijauan di Pulau Jawa dan Kalimantan. Jadi, tidak masalah untuk pengadaan pohon Enau bagi PLTP Lehendong yang telah memberikan nilai tambah kepada rakyat di sini,” ujar Ny Syeni yang bersuamikan seorang doktor ahli lingkungan dari Belanda itu.

GM PT PLN Suluttenggo, Sigit Prakoso, langsung menyatakan bahwa pihaknya dalam waktu dekat melakukan reboisasi di sekitar PLTP dengan tanaman pohon enau. “PLN Suluttenggo dalam mengembangkan proyek-proyek kelistrikan akan selalu memperhatikan lingkungan,” ujar Sigit. (Imanuel)

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: