Aren Indonesia

Penghijauan Aren 2007

Mei 2007

Pencanangan penghijauan lahan kritis oleh Presiden dan Ibu Negara

Sumber: http://222.124.34.131/, 2 Mei 2007

presiden siram pohon

Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ibu Negara berkenan mencanangkan penghijauan lahan kritis di wilayah Sulawesi Tengah, Khususnya yang berada di Kota Palu. Ini dilakukan Presiden usai meresmikan PLTU Mpanau Palu, 2 Mei 2007.

Presiden menanam bibit pohon aren di lokasi peresmian di kawasan PLTU Mpanau. Program ini adalah kelanjutan dari GENTARU BBN (Gerakan Tanam Aren Untuk Bahan Bakar Nabati yang diprakarsai oleh PLN Wilayah Suluttenggo. Pemerintah daerah Sulawesi Tengah melalui Pemerintah Kota Palu menyediakan lahan seluas 500 hektar untuk ditananami pohon Aren dan Eboni. Pencanangan ini ditandai dengan penanaman pohon oleh Presiden dan Ibu Negara di areal PLTU Mpanau Palu usai acara peresmian.

Secara sibolik, presiden menanam pohon Aren, sedangkan Ibu Negara Ny. Anni Yudhoyono menanam pohon Eboni. Upaya ini dilakukan demi menyelamatkan hutan/lahan kritis agar kembali hijau dan dapat berdaya guna bagi masyarakat.

Juni 2007

Pengabdi Lingkungan 2007:  Max Harry Kaunang

Alamat: Jalan Ratulangi, Kelurahan Matani III, Tomohon Tengah, Sulawesi Utara-95362  Telepon 0812 449 1962

Mata pencaharian sebagian besar masyarakat Tomohon adalah mengandalkan sumber daya alam setempat dan berladang. Kebiasaan masyarakat menebang pohon dan membuka lahan untuk berladang mengakibatkan lereng pegunungan dan perbukitan menjadi gundul sehingga banjirpun tidak terelakkan saat musim penghujan tiba. Sungai-sungai kecil di sekitar Gunung Masarang banyak yang hilang karena pendangkalan.

Max Harry Kaunang adalah pria kelahiran Tomohon, 21 Maret 1962. Ia adalah salah satu petugas lapangan Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup yang tergugah untuk melakukan penanaman kembali kawasan yang gundul untuk mencegah agar banjir dan tanah longsor tidak terjadi lagi. Bermodalkan pendidikan dan pelatihan sebagai Petugas Lapangan Reboisasi pada tahun 1983, Pria yang disapa dengan nama Erik itu melakukan bimbingan teknis tentang reboisasi di beberapa kawasan hutan. Pada tahun 1985, Erik mulai melakukan penangkaran berbagai jenis tanaman hutan berjenis nantu, kayu manis, dan aren.

Anak seorang penyadap nira ini mulai membentuk kelompok tani “Roktakel” kependekan dari ‘Rokrok Talun Akel’ yang berarti ‘Rokrok Hutan Aren’. Erik mengumpulkan sejumlah petani penyadap aren dan memberikan penyuluhan kepada mereka. Saat itu para petani aren mulai enggan memelihara pohon aren dan mulai beralih ke tanaman lain. Erik mulai memberikan pemahaman bahwa pohon aren memiliki banyak manfaat. Usaha Erik tidak sia-sia. Hal ini terbukti pada tahun 1986, kelompok tani aren telah berhasil membuat bibit tanaman aren sebanyak 15.000 buah secara swadaya. Bibit-bibit tersebut ditanam di wilayah pegunungan Rokrok maupun di luar Tomohon, bahkan, sampai dikirim ke Kalimantan.

Kendala yang dihadapi dalam mengembangkan tanaman aren saat itu adalah harga jual gula aren yang begitu rendah dibandingkan dengan biaya produksi. Produksi gula aren saat itu juga hanya untuk konsumsi domestik karena belum memenuhi standar ekspor. Ditambah lagi proses pembuatan gula menggunakan bahan bakar kayu yang dapat mengancam kelestarian hutan.

Berkat usaha Erik mendekati sebuah LSM lingkungan dan pakar teknologi alternatif, akhirnya berdirilah sebuah pabrik gula aren “Masarang” yang diresmikan oleh petinggi republik ini di tahun 2007. Pabrik ini sangat ramah lingkungan karena bahan bakar penggerak mesin pabrik dihasilkan dari energi panas bumi yang terdapat di wilayah Tomohon dan dikelola oleh Pertamina. Alhasil, produksi gula aren berhasil berhasil menembus pasar manca negara.

Oleh masyarakat, pabrik ini sangat dirasakan manfaatnya. Betapa tidak, saat ini terdapat 2.222 orang petani terdaftar sebagai pemasok bahan baku nira ke pabrik “Masarang”, sehingga mereka memperoleh peningkatan penghasilan. Ditambah lagi, karena pabrik “Masarang” dikelola oleh sebuah yayasan nirlaba, maka seluruh keuntungan pabrik dikembalikan lagi kepada para petani pemasok nira setiap tahun. Dengan demikian, masyarakat semakin gencar untuk menanam pohon aren, sehingga upaya konservasi pun tercapai.

Selain menanam pohon aren, Erik juga mengembangkan tanaman cempaka sejak tahun 1989. Ia belajar mulai dari waktu musim cempaka berbuah, bentuk buah, kapan buahnya matang sampai pada teknik penyemaian. Pembudidayaan tanaman cempaka memang tergolong sulit karena untuk memperoleh biji anakan tidak hanya menunggu burung menjatuhkannya, tetapi harus dilakukan pemanjatan yang jelas-jelas lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan memanjat pohon jenis lainnya. Akan tetapi, berkat bimbingan dari pakar lingkungan berkewarganegaraan asing bernama Dr. Willie Smits, Erik akhirnya memahami betul bagaimana menyemaikan tanaman cempaka sehingga dapat tumbuh pesat serta menghasilkan kayu yang berkualitas.

Pada tahun 1990, Erik berhasil mengembangkan 10.000 bibit tanaman cempaka secara swadaya. Kegiatan kampanye pun mulai dilakukan oleh Erik. Isi kampanye pada intinya adalah memberikan perhitungan ekonomi dari kayu cempaka. Erik mulai menyumbangkan bibit hasil persemaian tanaman cempaka kepada masyarakat dan melakukan penyuluhan kepada mereka maupun kepada kaum bapa di beberapa gereja baik di Tomohon maupun di Manado.

Kendala yang dihadapi saat itu adalah masyarakat bersedia menanam bibit cempaka asalkan disediakan di lokasi penanaman milik mereka. Namun hal ini tidak menyurutkan keinginan Erik untuk membantu masyarakat mengembangkan tanaman cempaka. Dengan mengorbankan harta benda dan tenaganya, Erik pun mengangkut sendiri bibit cempaka untuk dibawa ke lokasi penanaman.

Usaha Erik tidak sia-sia karena masyarakat saat ini telah sadar dan mau mengambil maupun menanam sendiri bibit cempaka serta melakukan pembibitan sendiri. Hal ini mengingat kenyataan bahwa rumah panggung dengan bahan baku kayu cempaka mulai diminati masyarakat. Beberapa kilometer menuju lokasi penanaman pohon cempaka terdapat perkampungan yang sebagian masyarakatnya berprofesi sebagai pengusaha rumah jadi berbahan baku kayu cempaka. Rumah-rumah baru yang siap dipindahkan secara knock-down ke lokasi manapun sesuai keinginan pembeli tersebut, saling berjejer rapi dipajang di sepanjang jalan sejauh satu kilometer di kota Tomohon dan tidak sedikit di antaranya dikirim ke Eropa.

Bukti kerja keras Max Harry Kaunang alias Erik telah berbuah. Hasil tanaman penghijauan yang dilaksanakannya mulai dirasakan masyarakat Tomohon. Sekarang sudah tidak terjadi lagi luapan air di musim hujan. Sebagian lahan kemiringan di atas 40% di sekitar Gunung Masarang yang merupakan daerah tangkapan air untuk sumber air bersih Tomohon dan Minahasa yang semula kritis kini telah menjadi hijau. Secara keseluruhan, Erik telah berhasil melakukan penghutanan kembali areal kritis seluas 400 hektar di pegunungan Masarang, perkebunan Rokrok dan Mandengan di wilayah kelurahan Matani Satu, serta perkebunan Paslaten dan Pinaras.

Sumber: Kementerian Negara Lingkungan Hidup

Agustus 2007

Persiapkan Masa Depan Anak Melalui Gerakan Tobasa Menanam

Sumber: http://hariansib.com/ 31 Agustus  2007

Balige (SIB)
Pemerintah Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) mengajak seluruh masyarakat untuk mempersiapkan masa depan anak dengan program Gerakan Tobasa Menanam (GTM) yang tujuannya adalah untuk mempersiapkan masa depan anak dengan menanam pohon. GTM juga bertujuan sebagai upaya untuk mengatasi degradasi hutan.

Demikian dikatakan Bupati Tobasa Drs Monang Sitorus SH MBA saat pencanangan GTM di Desa Sigaol Barat Kecamatan Uluan Kabupaten Tobasa, Kamis (30/8). Dikatakannya, GTM merupakan terobosan Pemkab Tobasa guna mendukung percepatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) di Tobasa.

“Kepedulian masyarakat terhadap kelestarian alam diharapkan dimulai dari lingkungan di sekitarnya, maka masyarakat menanam masing-masing dua batang pohon di pekarangan rumahnya,” ujar Monang.

Dikatakan, GTM itu merupakan gerakan moral dengan harapan dapat mengajak seluruh lapisan masyarakat agar berperan aktif dalam melaksanakan penghijauan pada lahan kritis, dengan menanam tanaman produktif seperti mangga, durian, petai dan alpukat. Untuk menyukseskan program GTM tersebut, Pemkab Tobasa menjalin kerjasama dengan Departemen Kehutanan, Lembaga Pendidikan, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama. Penanaman pohon di sekitar lokasi tempat ibadah, sekolah dan fasilitas umum lainnya sekitar 7000 pohon telah dilakukan. “Oleh karena itu saya mengajak semua pihak agar mendukung pelaksanaan Gerakan Tobasa Menanam untuk mempersiapkan masa depan anak,” ujar Monang.

Plt Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Tobasa Ir Alden Napitupulu mengatakan, GTM sebenarnya telah dimulai pada 25 Mei 2007 di Dolok Tolong Kecamatan Balige. Sebagai kelanjutannya Dishutbun Tobasa melaksanakan penanaman pohon di seluruh kecamatan secara bertahap. Sebagai dukungan terhadap program Pemerintah Pusat melalui Departemen Kehutanan dalam melaksanakan RHL dengan luasan tertentu yaitu 25 hektar ke atas. Sedangkan untuk luasan 25 hektar ke bawah dilaksanakan Tobasa dengan program GTM dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. “Untuk pelajar mulai dari tingkat SD sampai SMA melalui motto Kecil Menanam Dewasa Memanen (KMDM),” ujar Alden Napitupulu.

Untuk mendukung program pelestarian alam tersebut, Pemkab Tobasa melalui Dishutbun menyediakan bibit secara cuma-cuma. Bibit itu akan dibagikan kepada masyarakat yang mau menanam di sekitar pekarangan rumah masing-masing. GTM itu juga ditujukan untuk penanaman pohon pelindung untuk mendukung Kota Balige menuju Kota Adipura. “Untuk Kota Balige telah kita tanam melalui Camat Balige sebanyak 400 batang pohon mangga,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Monang Sitorus menyerahkan bibit kepada masyarakat, bibit tersebut berupa 1000 batang bibit aren, 500 batang bibit ingul, 500 batang bibit kopi dan 500 batang bibit mangga. (T11/m)

November 2007

Al-Zaytun Model Konservasi Hutan Kota

Sumber: http://www.beritaindonesia.co.id/Friday, 23 November 2007

Kampus Al-Zaytun adalah taman yang indah! Kampus ini patut dimeteraikan sebagai sebuah model konservasi hutan (taman) kota. Pernyataan ini tak terbantahkan tatkala kita menyelusuri dan menyaksikan kehijauan kawasan Al-Zaytun setelah ditata secara terencana sejak mula berdirinya.

Kawasan Kampus Al-Zaytun yang tampak hijau

Penataan kawasan hijau Al-Zaytun dilandasi prinsip Syaykh Abdussalam Panji Gumilang bahwa menanam dan memelihara pepohonan (lingkungan) adalah salah satu ciri orang beriman.

Reportase ini ditulis menjelang penyelenggaraan Conference of Parties Ke-13 United Nations Framework Convention on Climate Change, di Denpasar, Bali, 3-14 Desember 2007 yang dihadiri para pemimpin berbagai negara. Konferensi berniat menyelamatkan (menghijaukan) bumi dari kekuatiran terjadinya pemanasan global (global warming) yang berakibat pada perubahan iklim (climate change). Sementara, Al-Zaytun sejak mula telah berkarya menata alam dan lingkungan hidup sekitarnya tanpa harus menunggu pemimpin dunia berkumpul membahasnya.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan terpadu, Al-Zaytun sejak awal telah giat berkarya membuat payung lingkungan di sekitarnya. “Sejak awal di sini kita buat payung. Delapan atau sembilan tahun ke depan, mungkin ada panas yang tidak diduga, kita telah sedia payung sebelum panas. Kalau orang-orang sedia payung sebelum hujan, kita sedia payung sebelum panas. Dan sekarang sudah ada payung-payungnya,” jelas Syaykh Al-Zaytun Dr AS Panji Gumilang.

Komitmen itu diawali dengan program takris (bakti sosial) yang mewajibkan setiap calon penghuni menanam sedikitnya satu bibit pohon. Syaykh menargetkan penanaman dua juta pohon jati mas di kurang lebih 1.200 hektare areal Al-Zaytun.

Pada pertengahan November 2007 semua santri, kecuali SD, diajak kerja bakti menanam dan memelihara pohon di kawasan Al-Zaytun. “Kita ajak semua, kita kenalkan, itulah ciri orang beriman. Kalau kamu berdoa di gereja, solat di mesjid, itu masih minta, ‘oh Tuhan, terimalah bakti kami ya Tuhan’. Belum tentu diterima. Tapi kalau kita menata lingkungan, sudah bisa kita lihat ‚oh, bersih’, Tuhan pun pasti senang. Malaikat lapor: Tuhan, lingkungan sana sudah bersih. Kalau kita solat di mesjid, itu masih robbana, oh Tuhan, terimalah kami. Belum tentu diterima. Kamu pura-pura, kan gitu. Tapi kalau membersihkan, memproning, indah, sudah. Kita sebut kepada anak-anak, itulah fikih lingkungan,” kata Syaykh Panji Gumilang dalam percakapan dengan Wartawan Berita Indonesia di Wisma Al-Islah, Jumat 23 November 2007.

Menurut Syaykh, harus ada suatu sikap yang keras dan tegas menangani lingkungan. Dalam menjelaskan hal ini, Syaykh menguraikan bahwa Tuhan itu mempunyai dua macam sifat, yaitu sifat feminin dan maskulin. Sifat feminin adalah rahman rahim, kasih sayang, ghafur, pengampun, halus, lembut. Tapi juga punya sifat maskulin, harus keras, tegas, al mutakabir, artinya kenal harga diri. Kalau sudah harga diri, tak mau diusik, kena ancam, maskulin. “Tapi jangan dianggap Tuhan itu laki-laki dan perempuan,” kata Syaykh mengingatkan.

Syaykh berharap, pemerintah mempunyai regulasi yang keras. Sebab kalau tidak, ya, semua bangsa ini akan terperosok kepada efek semua yang disebutkan dalam global warming itu.

Dalam pekan ini, Syaykh merenung seperti begini. Ternyata di kota dan di hutan, atau di desa dan di kampung sama tidak pedulinya terhadap tanaman. “Ada sebuah pohon di depan Istana, tidak jauh. Saya baca sebuah koran ibukota, mahoni besar tumbang, kemudian di pangkalnya itu ada api. Itu kan menandakan dibakar, tidak mungkin kalau tidak dibakar. Kan tiap hari orang melihat, satu pun tidak ada yang memadamkan, padahal musim hujan,” ungkap Syaykh.

Di lingkungan kampung-kampung pinggir hutan juga begitu, sesukanya membakar hutan. Di kota, pohon yang peneduh dibakar, dirusak dan tidak ada orang peduli. “Itu kita renungi, kenapa begitu?” katanya.

Menurut Syaykh, sekarang harus disadarkan, bahwa membakar tanaman itu mestinya dilaknat. Membakar kayu itu wajib dilaknat. Regulasinya begitu, dilaknat. Karena dulu Nabi Muhammad membuat regulasi di negara Madinah yang begitu gersang, itu regulasinya begini. Madinah diharamkan untuk berbuat yang tidak senonoh. “Kita kira, tidak senonoh itu pergaulan dan sebagainya. Nabi Muhammad waktu itu tidak cerita itu,” jelas Syaykh. Tapi poin pertama tidak senonoh itu: Tidak boleh memotong pohonan. Serius pada waktu itu, haram, diharamkan memotong pohonan. Memotong pohonan itu berbuat yang tidak senonoh.

“Kok pertamanya memotong pohonan. Bagaimana itu, kan iman namanya itu. Sekarang orang menebang tanaman merasa tidak dosa. Sepertinya yang banyak pahala itu masuk mesjid saja. Nebang tanaman tidak bersalah.

Syaykh juga mengungkapkan tentang orang yang mengatakan bahwa dia kapok, menanam angsana, karena angsana tumbang. Menurut Syaykh, angsana itu tidak mungkin tumbang kalau akarnya tidak dipotong-potong, melebarkan jalanan, akarnya dipotong. Melebarkan trotoar akarnya dipotong, mana bisa bertahan. Kemudian tidak diproning setiap saat. Jadi bukan angsananya, kitanya yang tidak mengenal tanaman.

Syaykh mengemukakan filosofi, kalau engkau menanam pohon, atau tanaman, kenali tanaman itu.
Syaykh mengemukakan filosofi, kalau engkau menanam pohon, atau tanaman, kenali tanaman itu.
Kalau engkau menanam pohon, kenali lingkungan. Kalau engkau mau menanam pohon, kenali musim. Kalau engkau menanam pohon dan tidak mengenal semua itu, kamu menanam dirimu sendiri. “Kenali, angsana, oh, tidak boleh terlalu menjuntai. Menjuntai, proning, proningnya mestinya jam 11 malam, jam tiga selesai angkut. Jadi tidak mengganggu lingkungan,” jelasnya.

Syaykh Panji Gumilang memberi contoh Singapura yang menata lingkungannya, antara lain dengan menanam angsana. Mereka tidak mengeluh bahwa angsana itu gampang tumbang, karena mereka memeliharanya dengan baik.

Jadi, intinya, kata Syaykh, peliharalah lingkungan supaya manusia ini bisa berteduh. Jadi jangan pernah kapok menanam. “Karena angin, pohon tumbang, terus kapok. Nanam belum, sudah kapok. Salah memelihara kok kapok. Mahoni juga, kalau dibakar ya tumbang. Jati juga, kalau nggak dirawat tumbang,” kata Syaykh.

Jadi mestinya, ujar Syaykh, tanaman itu ada perawatannya. Hutan kota itu wajib ada. Kemarin kita tengok di koran-koran orang banyak membagikan bibit-bibit kayu, ditanam di mana tidak dijelaskan. Menanam itu paling gampang, memeliharanya yang tidak gampang, perlu ketelitian ketekunan.

Perlu juga ada undang-undang yang tegas, baik itu hutan alam ataupun hutan kota. Menurut Syaykh, DKI Jakarta sudah bagus, tidak boleh nebang, harus ijin, tapi diluaskan lagi mestinya. Menurut Syaykh, orang punya tanaman, punya pohonan banyak, itu lebih daripada punya makanan segudang. Kenapa, kalau punya pohonan banyak, makanan segudang ada. Kalau tidak punya pohonan makanan segudang habis, dijual untuk beli ini itu. Kalau pohonan banyak yang segudang tetap. Karena apa, oh sejuk, enak adem, jangan dijual.

Syaykh menjelaskan tentang manfaat menanam pohonan. Antara lain, oksigen kita perbanyak. Tanaman memberi oksigen. Kalau kita banyak gerak memberikan karbon ke tanaman. Jadi saling beri. “Nah, baru bisa menciptakan ke depan itu air yang bagus. Sorga itu, saya pernah cerita dulu sorga itu, isinya air bersih, susu yang lezat, anggur yang enak diminum, madu yang lezat, buah-buahan yang enak. Sorga itu kan taman,” urai Syaykh.

Syaykh mengajak agar setiap orang menciptakan taman-taman, mulai dari lingkungannya sendiri, tingkat desa, tingkat kecamatan, tingkat kabupaten, tingkat provinsi, tingkat negara. “Kan jadi keluarga sorga semua. Taman yang indah. Kalau sudah begitu, nanti setelah wafat, Tuhan kasih yang indah dan yang lebih indah lagi. Kalau di dunia nggak mau menata, malaikat lapor: Tuhan, jangan kasih dia taman yang indah itu,” jelas Syaykh Panji Gumilang. (Lebih lanjut pandangan Syaykh tentang penanaman pohon akan kami sajikan dalam Berita Utama edisi depan).

Taman Indah Al-Zaytun
Keinginan Al-Zaytun untuk menata lingkungan dengan menanami berbagai tanaman yang bermanfaat tak terlepas dari posisi Indonesia yang dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki hutan tropis terluas yang menjadi paru-paru dunia, serta memiliki keanekaragaman hayati (biodiversity) hutan tertinggi di dunia. Namun dalam 35 tahun terakhir, kondisi hutan Indonesia telah rusak oleh ulah manusia yang dengan tamak dan rakus mengeksploitasi kekayaan alam tersebut dengan semena-mena.

Mencermati kondisi itu, sebagaimana disebut Syaykh Al-Zaytun Abdussalam Panji Gumilang tergerak untuk peduli (awareness) terhadap kondisi kehutanan itu dengan “Program Menghutankan Kembali Hutan Tropis Indonesia” yang pada tahap awal dimulai dengan menciptakan hutan taman tropis di areal Al-Zaytun. Program ini juga sekaligus berorientasi pendidikan yang ditujukan bagi para santri agar mereka memahami dan mengerti pentingnya hutan dan taman kota sebagai fungsi penyeimbang ekosistem.

Pengembangan kehutanan (penghijauan) di Al-Zaytun dikelompokkan dalam dua pengembangan yakni di areal kawasan pendidikan seluas 200 ha dan di areal kawasan penunjang seluas 1.000 ha. Pengembangan kehutanan di areal pendidikan ditujukan sebagai sarana belajar dan penelitian serta laboratorium alam bagi para santri dan mahasiswa. Sedangkan pengembangan di lahan pendukung yaitu berupa hutan lindung berfungsi sebagai penyeimbang ekologis kawasan dan sebagai hutan tanaman industri (HTI).

HTI itu dimaksudkan menjadi investasi jangka panjang guna mendanai kegiatan pendidikan di Al-Zaytun. Tanaman industri yang dikembangkan antara lain jati (tanaman utama) dan tanaman keras lainnya seperti eucalyptus, mahoni, sengon, akasia, gaharu, albasia serta tanaman hortikultura dan tanaman penguat teras.

Syaykh Panji Gumilang selalu menekankan bahwa generasi Al-Zaytun adalah generasi yang melestarikan hutan, bukan generasi yang merusak hutan. “Kita sebagai kader umat manusia sudah harus memulai untuk melestarikan kembali hutan Indonesia Raya ini mulai sekarang. Sehingga kelak, hutan itu akan mampu membiayai perjalanan selanjutnya,” jelas Syaykh Al-Zaytun.

Kini, kegersangan kawasan ini telah menjadi sebuah cerita masa lalu tatkala Al-Zaytun belum berdiri. Kawasan ini telah berubah menjadi sebuah kawasan hutan yang asri, taman yang indah. Pencanangan Syaykh Panji Gumilang untuk menanam sebanyak 2 juta pohon di komplek dan sekitar Al-Zaytun menjadi suatu jaminan atas berlangsungnya penghijauan di kawasan ini. Pencanangan itu direspon dengan komitmen kuat oleh setiap eksponen Al-Zaytun untuk mewujudkannya.

Komitmen itu diawali dengan program takris (bakti sosial) yang mewajibkan setiap calon penghuni menanam sedikitnya satu bibit pohon. Belum lagi target dua juta pohon tercapai, kondisi lingkungan kawasan ini sudah terlihat hijau dan asri. Dampaknya pun sudah langsung terasa, baik pada musim kemarau maupun musim hujan. Sebelumnya kawasan ini masih gersang hanya ditumbuhi ilalang, saat musim hujan akan kebanjiran dan air sulit meresap, sebaliknya pada musim kemarau akan kekeringan. Tapi saat ini, tatkala musim hujan, sebagian air dapat tertampung di lumbung air, danau, resapan air atau terserap oleh berbagai tanaman yang ada. Sebaliknya tatkala musim kemarau tiba, tidak lagi kekeringan karena cadangan airnya bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Bukan itu saja, seiring telah hijaunya lingkungan Al-Zaytun maka dengan sendirinya keseimbangan ekosistemnya pun kembali berlangsung alami. Dulu tatkala lingkungan Al-Zaytun belum hijau, tak seekor burung pun datang. Tapi sekarang ini, setiap pagi, tengah hari, sore hari, bahkan malam hari kita bisa mendengarkan nyanyian kicau burung. Satu contoh lain lagi, dulu di sini banyak tikus, diracun baru mati, tapi sekarang tidak perlu diracuni. Burung-burung malam yang berdatanganlah yang kemudian memangsa tikus sehingga keseimbangan ekosistemnya berlangsung kembali.
Penanaman berbagai jenis pohon hutan itu sendiri telah dimulai sejak tahun 1996, diawali dengan penanaman tanaman sawo kecik di sekitar jalan di trotoar jalan depan gedung Abu Bakar, terasering dan taman. Penanaman pohon jati dimulai pada tanggal 26 Februari 1999 yaitu jenis jati emas, dengan lokasi penanaman di Gedung Pembelajaran Umar Ibnu Khattab.

Untuk mencapai target 2 juta pohon itu, selain melalui program takris (bakti sosial) juga dipersiapkan berbagai sarana dan prasarana pendukung. Di antaranya membangun laboratorium kultur jaringan beserta green house-nya untuk penyediaan bibit unggul.

Pohon jati ditanam rapi di setiap trotoar gedung di Al-Zaytun

Di laboratorium kultur jaringan itu, tanaman yang dikembangkan bukan hanya tanaman jati (walaupun merupakan prioritas utama), tetapi juga berbagai tanaman langka, tanaman hortikultura, tanaman hias dan tanaman khas (zaytun dan tiin). Kapasitas produksi laboratorium tersebut menyediakan bibit mencapai 10.000 bibit per bulan.

Metode dan teknik kultur jaringan dipilih karena memiliki banyak keunggulan, seperti produksi tanaman dalam jumlah besar pada waktu singkat terutama varietas-varietas unggul, memperoleh tanaman yang bebas patogen, dan mempercepat pencapaian pertumbuhan tanaman. Selain menyediakan bibit untuk kebutuhan intern dan ekstern, laboratorium kultur jaringan Al-Zaytun juga berprogram untuk memperkaya keragaman jenis tanaman atau koleksi plasma nutfahnya.

Apa yang mendorong tercetusnya visi konservasi hutan di kawasan Al-Zaytun? Syaykh yang mencetuskan visi itu melihatnya dari sudut posisi potensial Indonesia sebagai salah satu sentral paru-paru dunia. Juga karena Indonesia memiliki berbagai jenis tanaman yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain. Kemudian dalam perkembangan sejarahnya, Indonesia menjadi daerah yang gundul akibat eksploitasi tanaman hutan secara berlebihan dan tak terkendali. Sementara di sisi lain penghijauannya dilupakan.

“Atas dasar fakta sejarah itulah kita ingin mengembalikan Indonesia sebagai paru-paru dunia,” kata Syaykh AS Panji Gumilang. Dan itu mesti dimulai dari satu arena yang kecil seperti Al-Zaytun. Dalam hal memulai dari arena yang kecil itu, Syaykh tidak ingin disebut sebagai sponsor atau pelopor. “Kita hanya ingin memulai. Siapa tahu nanti banyak lembaga atau LSM-LSM atau pribadi-pribadi lain dan institusi-institusi lain yang mengikutinya,” ujarnya merendah.

Ia ingin visi penghijauan itu menjadi kebiasaan bagi setiap orang. Apa yang baik telah dilakukan di kawasan Al-Zaytun bisa dijadikan contoh pembiasaan memelihara kelestarian hutan dan alam di sekitarnya.

Itulah pesan kuat yang kita petik setelah menyaksikan proses dan hasil penghijauan dan konservasi hutan dan taman di kawasan Al-Zaytun. Bahwa semua aktivitas di Al-Zaytun bermakna dan bermuara pada pembelajaran. Syaykh dalam beberapa kesempatan mengatakan pendidikan itu bermakna pembiasaan yang tak henti-hentinya. Jika warga negara tidak dibiasakan maka maknanya mereka tidak dididik. Muara segala kemajuan dan kemunduran itu bisa dinilai dari nilai pendidikannya. Bagus pendidikan maka baguslah negara itu, kurang pendidikan maka kuranglah kemajuan negara itu.

Syaykh juga menguraikan betapa pentingnya peranan hutan dalam kehidupan manusia. Selain sebagai penyeimbang ekosistem, penentu siklus kehidupan, dan pengatur tata air, hutan juga berperan besar menghasilkan berbagai bahan baku produksi seperti kayu, rotan dan getah-getahan. Hutan, terutama hutan tropis, juga berfungsi sebagai paru-paru dunia.

Indonesia tercatat memiliki hutan tropis terluas nomor dua di dunia dengan kekayaan keanekaragaman (biodiversitas) hayati flora dan faunanya. Namun rahmat dari Tuhan itu ditelantarkan, dirusak, dan dieksploitasi tanpa nurani yang dampaknya akan dirasakan oleh sistem tata lingkungan dunia.

Ironisnya, eksploitasi hutan itu tidak diimbangi dengan usaha penanaman kembali. Akibatnya tingkat kerusakan hutan di Indonesia sudah mencapai ambang 2,4 juta ha/tahun dari luas hutan Indonesia yang 108,57 juta/ha. Jika tidak segera diatasi baik melalui reboisasi maupun rehabilitasi hutan, dalam jangka waktu sekitar 45 tahun, hutan Indonesia akan punah.

Berdasarkan data dari Forest Watch Indonesia, dari luas hutan ideal 30% dari luas daratan, luas hutan di Jawa kini sudah berada di bawah angka 14% dari luas daratannya. Di tingkat nasional, akibat kegiatan penebangan ilegal luas hutan Indonesia tinggal 40% saja. Diperkirakan, setiap menit hutan Indonesia kehilangan sekitar 5 ha.

Dampak dari kerusakan hutan sudah dirasakan oleh masyarakat. Ketika musim hujan tiba, banjir dan tanah longsor terjadi di mana-mana. Sebaliknya, ketika musim kemarau datang krisis air menghantui berbagai daerah. Berkurangnya kawasan hijau sebagai daerah resapan air mengurangi kemampuan tanah untuk menyimpan air.

Solusinya, reboisasi dan penghijauan harus dilakukan terutama untuk tanah-tanah kritis yang harus segera dihijaukan dan dipulihkan kesuburannya, terutama yang bisa membahayakan kelangsungan pembangunan dalam suatu wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS). Pelaksana utama dari reboisasi adalah pemerintah, sedangkan untuk penghijauan dilaksanakan oleh berbagai lapisan masyarakat dan dilakukan secara terpadu terutama oleh masyarakat dan para petani yang tinggal di daerah-daerah kritis.

Tentu, mesti ada strategi yang juga memberi manfaat ekonomis sehingga masyarakat tidak merasa yang dilakukannya hanya sekadar kerja bakti. Salah satunya reboisasi dan penghijauan dalam terminologi hutan tanaman industri (HTI) melalui penanaman tanaman keras (tanaman industri). Tanaman industri berfungsi ganda, selain untuk penghijauan, secara ekonomis juga sebagai investasi ekonomis jangka panjang. Dana yang dihasilkan dapat dipergunakan untuk kepentingan bersama, seperti untuk pendidikan atau pembangunan di segala bidang.

Pohon Tiin dan Zaytun
Syaykh mengatakan, seluruh tanaman yang ada di dunia ini pada hakikatnya bisa tumbuh di Indonesia. Tentunya dengan penanganan-penanganan khusus, termasuk di dalamnya penataan iklim khusus.
Syaykh mengatakan, seluruh tanaman yang ada di dunia ini pada hakikatnya bisa tumbuh di Indonesia. Tentunya dengan penanganan-penanganan khusus, termasuk di dalamnya penataan iklim khusus.
Dan untuk itu semua sudah ada ilmunya.

Pernyataan ini bukan sekadar basa-basi atau utopia. Melainkan sesuatu yang sudah dibuktikan. Bahkan, pohon tiin yang di negeri asalnya Timur Tengah ataupun di Eropa baru akan berbuah setelah berumur empat tahun, ternyata di Al-Zaytun umur empat puluh hari sudah mulai berbuah. Ini menandakan bahwa seluruh tanaman yang ada di dunia bila ditangani dengan seksama maka akan tumbuh dan berbuah dengan memuaskan di Indonesia.

Inilah sebuah ‘keajaiban’ yang kita saksikan di Al-Zaytun. Keajaiban yang menyuguhkan kembali kepada kita tentang hasil uji coba (bermuatan pendidikan) yang dilakukan dengan tekun mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebuah tanaman khas Timur Tengah, yang di negeri asalnya itu telah dibudidayakan sejak 5.000 tahun lalu dan umat Islam pun mengenal karena nama Tiin disebut dalam Alquran.

Adalah Syaykh sendiri yang berinisiatif menggagas penanaman tiin dan zaytun di Al-Zaytun. Maka jadilah kebun tiin di seputar Al-Zaytun. Tumbuh subur dan berbuah sekali setahun. Buah tiin biasanya berbuah pada musim hujan, kemudian mulai matang setelah satu bulan. Biasanya buahnya matang secara berurutan.

Pada musim buah, akan menjadi kesan tersendiri bagi para pengunjung, terutama kaum ibu. Karena mereka setiap kali pulang akan menyempatkan diri mampir dulu ke Kantin untuk membeli oleh-oleh buah tiin. Setiap musim hujan menjelang musim panas, kebun tiin yang ada di komplek Al-Zaytun selalu menghasilkan panen yang menggembirakan. Panen tumbuhan eksotik di Al-Zaytun dilakukan secara manual, menggunakan tangan. Pada musim berbuah, panen dilakukan tiap hari dan langsung dijual di kantin Al-Zaytun dalam keadaan masih segar.

Dua Juta Jati Emas
Pohon jati (tectona grandis) merupakan primadona tanaman hutan yang dikembangkan di Al-Zaytun. Pohon berdaun lebar ini bernilai ganda, selain bernilai ekonomi juga berfungsi sebagai pohon pelindung dan peneduh. Ditargetkan menanam dua juta pohon jati emas di kawasan Al-Zaytun. Pohon jati yang ditanam pun bukan sembarang, tetapi merupakan bibit jati pilihan (unggul), yang pada awalnya didatangkan dari Myanmar dalam bentuk stek dan dari Cepu, Jawa Tengah.

Hijaunya lingkungan di Al-Zaytun telah mengembalikan keseimbangan ekosistem di sana

Kemudian pembibitan pohon jati dikembangkan melalui teknologi kultur jaringan. Bibit-bibit jati yang dikembangkan dengan teknologi kultur jaringan itu merupakan hasil seleksi dari 250 ribu pohon jati yang ditanam di Al-Zaytun. Dari ribuan pohon unggul tersebut, berhasil diseleksi 572 pohon terbaik dengan berbagai nilai plusnya. Kemudian diseleksi lagi hingga hanya 286 pohon atau sekitar 50 persen saja yang kemudian dijadikan sebagai sumber explant.

Penebangan pertama jati di Al-Zaytun dilaksanakan pada 23 Juni 2001. Sebatang pohon jati yang berusia 28 bulan dengan ketinggian 10,20 m dengan diameter 8 cm, ditebang untuk dijadikan sebagai explant kultur jaringan. Setelah berhasilnya kultur jaringan, maka Al-Zaytun tak perlu lagi mengimpor bibit-bibit jati dari luar, bahkan akan mampu menyediakan bibit pohon jati untuk menyukseskan obsesi penghijauan kembali Indonesia Raya.

Hal ini berarti, pembibitan pohon jati secara langsung telah memberikan sokongan ekonomi terhadap pendidikan. Bayangkan, harga sebatang pohon bibit jati yang siap tanam dijual antara Rp.15.000 hingga Rp.20.000,- Bahkan sebelumnya ketika Al-Zaytun mengimpor bibit jati dari Myanmar harganya mencapai 3 dollar Amerika, atau setara dengan Rp 27.000 (kurs 1 U$=Rp 9.000), yang berarti terjadi penghematan.

Jenis jati yang dikembangkan pun sangat unggul. Keunggulannya terlihat dari pertumbuhan (besar dan tingginya) yang lebih cepat dibandingkan dengan jati-jati lokal biasa. Juga jangka masa panennya yang begitu cepat berkisar antara 5 sampai 15 tahun. Itulah sebabnya penduduk setempat menyebut pohon-pohon jati yang ditanam di Al-Zaytun sebagai pohon emas.

Penyebutan nama itu, pada mulanya berawal dari penamaan pohon jati MAZ (Ma’had Al-Zaytun). Oleh penduduk setempat dilafalkan pohon jati mas. Kemudian dipopulerkan menjadi pohon jati emas. Pohon jati unggul yang bernilai ekonomi emas sekaligus berfungsi tinggi sebagai pohon penghijauan.

Penanaman pohon jati emas ini telah dilakukan sejak tahun 1999 sejalan dengan dimulainya pendidikan di Al-Zaytun. Pohon-pohon jati emas itu telah menghijaukan kompleks Al-Zaytun dan telah menjadi daya tarik tersendiri. Pohon-pohon jati berdaun lebar dan berbatang “bongsor” itu tampak tumbuh subur menghiasi keasrian dan kesejukan komplek ini. Sehingga bagi setiap pengunjung, pemandangan pohon-pohon jati itu telah menjadi daya tarik tersendiri yang antara lain mengundang keingintahuan tentang keunggulannya.

Keingintahuan itu juga didorong oleh belum banyaknya upaya pengembangan jati emas di Indonesia. Jangankan bagi awam, bahkan beberapa peneliti seperti dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI), PT. Perkebunan Nusantara XII dan Seameo Biotrop, Bogor, pernah datang ke Al-Zaytun untuk menyaksikan dari dekat pertumbuhan jati.

Juga beberapa Pemerintah Daerah yang berkunjung ke Al-Zaytun dengan spontan menyatakan ketertarikan mereka untuk melakukan kerja sama dalam pengembangan jati. Mereka tertarik atas keunggulan jati emas dibandingkan dengan jenis jati lainnya. Seperti jati lokal yang dianggap unggul yang dijumpai di Cepu, Jawa Tengah biasa dipanen dengan diameter 45 cm kalau usianya sudah 30-45 tahun. Sedangkan jati emas dapat dipanen setelah berumur berkisar 5-15 tahun. Lebih cepat dari jati di Myanmar, India dan Thailand yang bermasa panen antara 15-25 tahun.

Dalam upaya pengembangan jati emas ini, tim pertanian Al-Zaytun melakukan berbagai uji coba dan studi banding. Mereka antara lain studi banding melihat pohon jati super yang ditanam di Balung Estate, Sabah, Maret 2000. Dari Sabah, pihak pertanian Al-Zaytun belajar bahwa ternyata jati memang merupakan tanaman potensial yang bisa ditumpangsarikan dengan tanaman kakao, sawit, aren, serta rotan.

Lalu di Al-Zaytun, jati yang telah cukup tinggi disulam dengan tanaman lada perdu. Lada ini pada prinsipnya perlu pelindung di saat-saat pertumbuhannya sehingga mengurangi penguapan. Hal ini memenuhi harapan bahwa Al-Zaytun ingin memanfaatkan secara produktif setiap jengkal tanah yang ada di arena pendidikan ini.

Menurut Syaykh Panji Gumilang, keseluruhan apa yang ada di komplek ini didedahkan (diperlihatkan) untuk memberikan inspirasi kepada santri bahwa bila kita berminat mengolah bumi, maka Allah akan memberikan kemakmuran.
apa yang ada di komplek ini didedahkan (diperlihatkan) untuk memberikan inspirasi kepada santri bahwa bila kita berminat mengolah bumi, maka Allah akan memberikan kemakmuran.

Budidaya Gaharu
Selain membudidayakan jati, Al-Zaytun juga membudidayakan gaharu. Pembibitannya dilakukan melalui kultur jaringan. Jenis tanaman gaharu yang sedang dikembangkan dari jenis Aquilaria filaria.

Jenis gaharu lainnya yang dikembangkan adalah Aquilaria malaccensis, gaharu dari Jambi dalam bentuk stek dan bibit cabutan. Gaharu dari Jambi ini juga akan ditanam berbarengan dengan bibit dari kultur jaringan. Penanamannya dilakukan di bawah tanaman peneduh berupa pohon eucalyptus grandis yang telah berumur kurang lebih 2 tahun.

Pembudidayaan gaharu ini dilatarbelakangi nilai ekonomis pohon ini. Menurut Syaykh, satu di antara hasil hutan Indonesia yang memiliki nilai ekonomis tinggi adalah kayu gaharu. Hasil utama dari gaharu bukan kayunya, melainkan gubal yakni gumpalan berwarna coklat muda, coklat kehitaman sampai hitam yang terbentuk pada lapisan kayu gaharu beraroma wangi.

Terjadinya gumpalan atau padatan yang beraroma wangi itu disebabkan adanya pelapukan yang diakibatkan oleh serangan jamur. Namun tidak semua tanaman gaharu dapat menghasilkan gubal gaharu. Dalam gubal gaharu tersebut beragam kandungan zat seperti agarofuran, agarospirol, jinkohol, jinkohol-eremol, kusunol, dibydrokaranone, jinkohol II, oxo-agarospirol dan lain-lain.

Selain itu, gaharu mengandung substansi aromatik yang termasuk dalam golongan sesquiterpena dengan struktur kimia yang sangat spesifik, sehingga sampai saat ini tidak dapat dipalsukan atau dibuat sintetis. Itulah yang membuat harga jual gaharu menjadi semakin mahal.

Pada musim hujan, kawasan Al-Zaytun tidak lagi kebanjiran

Sekadar catatan, harga jual gubal gaharu saat ini berkisar antara US $ 25 hingga US $ 500 per kilogram, tergantung dari kualitasnya. Aroma wangi yang terdapat pada gubal gaharu itu banyak dipergunakan untuk keperluan ritual agama, juga sebagai bahan baku industri kosmetika seperti parfum.

Bukan itu saja gubal gaharu ini juga dipergunakan untuk bahan baku obat-obatan seperti obat rematik, sakit perut, asma, malaria, tonikum serta pengobatan setelah melahirkan. Banyaknya manfaat dari gubal gaharu menjadikan permintaan pasar luar negeri terus meningkat, seperti India, Cina, Korea, Jepang, Arab Saudi ataupun Singapura.

Apalagi semenjak tahun 1994 dalam konferensi CITES II di Florida, kuota gubal gaharu yang ditetapkan untuk Indonesia sebanyak 250 ton per tahun. Namun sangat disayangkan, tingginya permintaan dan mahalnya harga gubal gaharu telah membuat banyak orang untuk mengeksploitasinya tanpa adanya regenerasi tanaman.

Akibatnya populasi gaharu semakin menyusut. Saat ini, hanya Aceh dan Irian Jaya yang memiliki tanaman gaharu. Jika ini dibiarkan tanpa adanya regenerasi tanaman tidak mustahil kayu gaharu tinggal menjadi “kayu kenangan” Indonesia. Apalagi pertumbuhan gaharu sangat lambat. (BI 51)

Puncak Aksi Serentak Gerhan Digelar di Karangasem

Sumber: http://www.beritabali.com/; 28.11.2007 19:26

Rendang, Puncak aksi penanaman (Gerhan) serentak untuk seluruh Indonesia, Rabu (28/11) dipusatkan di Kabupaten Karangasem, mengambil lokasi di Pura Pengubengan, Desa Besakih, Kecamatan Rendang.

Hadir dalam acara tersebut Menbudpar, Jero Wacik, Dirjen perlindungan hutan dan konservasi alam, I Made Subadia, Sekdaprop, Drs. I Nyoman Yasa.M.Si, Unsur Muspida, perwakilan Bupati/Waliokota se-Bali, Dinas dan Instansi yang membidangi, Mejelis desa pekraman, siswa-siswi serta masyarakat setempat yang dilibatkan dalam puncak Gerhan tersebut.

Dirjen, Subadia menyampaikan arti penting penghijauan selain sebagai upaya menjaga kelestarian alam, juga memiliki arti penting guna turut serta berpartisipasi untuk dunia guna menangkal pemanasan global yang akhir-akhir ini mulai menjadi kekhawatiran sebagian besar negara di dunia.

Gubernur Bali, dalam sambutannya dibawakan Sekdaprop, Drs. I Nyoman Yasa Msi, terkait gerakan penghijauan di Bali, intinya menyebutkan sejak tahun 2004-2007, Gerhan di Bali telah menyasar 28.520 hektar lebih, sementara itu sisa lahan kritis yang masih dimiliki Bali hingga tahun 2007 ini seluas 26.793 hektar.

“Seluruh lahan kritis ini sesuai target harus sudah tuntas dihijaukan pada tahun 2011 mendatang,“ sebutnya.

Berdasarkan penilaian kinerja Gerhan tahun 2004-2005, oleh lembaga penilaian independent sebut Yasa secara keseluruhan Bali memperoleh nilai baik. Aksi penanaman serentak itu juga disingkrunkan dengan pemberian penghargaan kepada Kabupaten ataupun kelompok atas beberapa kategori penilaian antara lain penilaian kinerja Gerhan, penilaian kelompok tani gerhan tahun 2005 dan penilaian penghijauan konservasi alam tahun 2007.

Kabupaten Karangasem sendiri berhasil keluar sebagai juara Pertama Kategori Kinerja Gerhan yang diterima langsung Bupati Karangasem, I Wayan Geredeg, selain itu kelompok penghijauan Datah juga berhasil meraih juara harapan.

Acara penanaman serentak itu juga diisi penanaman simbolis sebanyak 17.500 Batang pohon dengan berbagai jenis antara lain Kusta, Ampupu, Enau, Kemiri, Cempaka, beringin dan pule yang diikuti oleh sekitar 1500 Orang.

Sementara menyinggung tentang Pemanasan Global, disela-sela acara Menbudpar Jero Wacik yang hadir membawakan sambutan Menkokesra, Aburizal bakri mengatakan isu global warning itu menjadi tanggung jawab seluruh negara di dunia ini termasuk Indonesia sendiri.

Tujuan digelarnya Konverensi Global Warming yang akan berlangsung pada 3-14 Desember mendatang di Bali itu, disebutkan salah satunya diharapkan lahirnya Konsesus bagi setiap negara untuk ikut terlibat berkomitmen terhadap pelestarian hutan secara global. (kkk)

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: