Aren Indonesia

David Allorerung

Dr. Ir. David Allorerung MS

Sumber: http://www.litbang.deptan.go.id/peneliti/one/355/

image

Nama: Dr. Ir David Allorerung, M.S.
Unit Kerja: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Pendidikan: S3
Jabatan: Peneliti Madya
Bidang Penelitian: Budidaya Tanaman
E-mail: criec@indo.net.id, puslitbangbun@litbang.deptan.go.id
Komoditas Kelapa, Palma

Profil

Dr. Ir. David Allorerung, M.S. mendapatkan gelar sarjana pertanian pada tahun 1978 dari Universitas Hasanudin, Ujung Pandang. Pendidikan S2 ditempuh di Institut Pertanian Bogor pada tahun 1982, jurusan ilmu tanah. Sedangkan gelar Doktor diperoleh tahun 1988 dari Universitas dan jurusan yang sama.

Sejumlah tugas yang pernah diembannya yaitu sebagai Pemimpin Program Penelitian Kelapa (1989-1990), Kepala Unit Perencanaan Puslitbang Tanaman Industri (1991-1995), Kepala Balai Penelitian Tanaman Kelapa (Balitka) tahun 1995-2002 dan sebagai Kepala Puslitbang Perkebunan sejak tahun 2002 hingga September 2005.

Yang bersangkutan pernah mendapatkan penghargaan dari Presiden RI tahun 1998 berupa Satya Lancana Wirakarya

AREN MERUPAKAN SALAH SATU PENYUMBANG PENYEDIAAN BIO-ETHANOL

December 6, 2007, 5:45 pm| Berita Departemen | Klik: 83

Sumber: http://web.dev.depkominfo.go.id/

Jakarta, 6/12/2007 (Kominfo-Newsroom) – Seorang pejabat Kementerian Negara Riset dan Teknologi mengatakan, Aren merupakan salah satu yang menjadi peyumbang bagi penyediaan bio-ethanol dalam rangka pengembangan bio-ethanol yang diprogramkan pada tahun 2011.

“Dalam pengembangan aren tentu kita perhatikan dari sisi hulu, proses sampai kepada penduduk,” kata Deputi Bidang Perkembangan Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kemenneg Ristek Dr. Ir. Bambang Sapto Pratomosunu, M.Sc pada pembukaan workshop budidaya dan pemanfaatan Aren untuk bahan pangan dan energi di Jakarta, Kamis (6/12).

Dalam pengembangan tersebut, Akademisi, Business, dan Government (ABG) akan mengupayakan dari hulu sampai ke hilir. Dari hulu penyediaan bahan bakunya, prosesnya, dan kemudian di akhirnya akan menangkap untuk bisa disalurkan kepada pengguna.

Di beberapa daerah Aren telah dimanfaatkan, ada yang diambil tepungya, ada yang dimanfaatkan untuk menjadi minuman dengan kadar tertentu, dan sekarang teknologi telah memungkinkan untuk memprosesnya menjadi bahan baker.

Maka pada tingkat proses telah menjadi bahan pokok pembicaraan, tetapi juga pembinaan kepada para penyedia hingga untuk keanekaragam penggunaan tetapi diarahkan menjadi wadah ilmiah untuk mendukung bahan bakar.

“Jadi kondisi hulu, proses, sampai kepada hilir diharapkan akan menjadi pokok pembahasan yang sangat bermanfaat hingga memberikan konstribusi dari salah satu penyedia bahan bakar,” ungkapnya.

Sementara itu, Peneliti Aren Puslitbangbun Deptan Bogor, Dr. David Allorerung dalam acara yang sama mengatakan, Aren sejak jaman dahulu sudah menyebar di seluruh Indonesia, termasuk salah satu keluarga palma yang serbaguna, dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 meter di atas permukaan laut.

Selama ini penyebarannya berlangsung secara alamiah saja, dan bahkan dianggap sebagai tanaman liar saja atau tanaman hutan. Budidaya Aren masih sangat langka karena kegiatan penelitian untuk tanaman tersebut sangat terbatas dan tidak kontinyu sebagai konsekuensi dari rendahnya perhatian terhadap pengembangan komoditas tersebut.

Aspek penemuan varietas unggul adalah salah satu aspek yang tidak disentuh oleh para peneliti, dan hingga saat ini belum ada suatu varietas unggul yang dilepas secara resmi oleh pemerintah.

Sementara Aren bisa dimanfaatkan kalau disadap, artinya memerlukan tenaga kerja terampil, dan beda misalnya kalau tebu. Buruh panen tebu tidak perlu ada keterampilan yang diperlukan ada teknologi di pabriknya, tetapi kalau Aren perlu tenaga terampil, untuk itu semua petani belum tentu mampu memanennya, sehingga perlu diberikan pelatihan.

Dari hasil-hasil penelitian selama ini, disebutkan satu pohon bisa menghasilkan rata-rata 15 liter perhari, kalau dari tanaman yang baik.

Aren selain disadap, juga menghasilkan kolang kaling dari bunga betina sebagai bahan makanan penyegar untuk campuran buah segar atau panganan seperti kolak.

Tanaman Aren tersebut juga lazim ditebang untuk diambil patinya yang banyak digemari karena aromanya lebih disukai dibandingkan pati dari sagu. Pati dari Aren tersebut terutama digunakan dalam industri makanan semacam mie yang disebut sohun (so’un) dan untuk membuat makanan ringan seperti cendol. (T. Gs/toeb/c )

Memopulerkan Pohon Aren sebagai Sumber Energi

Senin, 10 Desember 07 – oleh : admin

Sumber: http://www.infoanyar.com/?pilih=lihat&id=2122

Pohon aren memiliki manfaat yang besar.Selain sebagai bahan pangan,yakni gula dan tepung,kandungan alkoholnya juga potensial dijadikan bioetanol. Hal itu membuat nama tanaman yang memiliki nama latin Arenga pinnata merr mencuat sebagai tanaman yang bisa menghasilkan bahan bakar alternatif pada beberapa tahun terakhir.

JAKARTA(SINDO) –Selain itu, pohon aren bisa mengobservasi lahan karena kemampuannya mengikat air permukaan. Peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Perkebunan (Puslitbangbun), Departemen Pertanian (Deptan), David Allorerung menyatakan, saat ini pohon aren tidak setenar tanaman jarak yang lebih dianggap potensial menghasilkan biodiesel.

Namun, bukan berarti pohon aren kalah potensial dibandingkan tanaman penghasil minyak lainnya. ’’Meskipun lebih dikenal sebagai tanaman hutan, aren telah mulai dibudidayakan secara baik oleh suku Batak Toba sejak awal tahun 1900-an.Tanaman itu tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia pada berbagai kondisi agroekosistem,” paparnya.

Tanaman yang masuk keluarga palma itu memang serbaguna.Menurut David, aren dapat tumbuh pada ketinggian 0–1500 meter di atas permukaan laut. Hampir semua bagian tanaman aren dianggap berguna bagi manusia,baik untuk pangan, bahan baku industri, dan energi terbarukan. Aren juga memiliki fungsi hidrologis yang tinggi sehingga sangat sesuai untuk tanaman konservasi.

Di Pulau Jawa, tanaman aren banyak ditebang untuk dipanen patinya. Meskipun dianggap menurunkan populasi,batang pohon aren merupakan penghasil tepung yang baik. Bahkan, tepung untuk bihun terbaik berasal dari aren. Data mengenai populasi pohon aren tampaknya masih belum bisa dipastikan secara tepat meski sudah terbukti potensial sebagai sumber bahan baku energi bioetanol.

Berdasar data Departemen Pertanian, luas arealtanamanarensebanyak59.495 hektare (ha) pada 2005. ’’Pengetahuan dan informasi tentang budi daya aren masih sangat terbatas. Pasalnya, kegiatan penelitian terhadap tanaman itu tidak dilakukan secara kontinu sebagai konsekuensi rendahnya perhatian pada pengembangan aren,”ungkapnya.

Meski demikian,ujar David,aren bisa diperbanyak secara generatif melalui biji dari buah yang sudah matang.Ada juga pohon yang benihnya berkecambah hanya dalam waktu dua bulan sudah mencapai 90%. Padahal, pohon lain masih kurang dari 60% dalam waktu tiga bulan. ’’Meski penelitian mengenai pemupukan pada pohon aren praktis belum dilakukan, pada prinsipnya semua jenis tanaman akan memberikan respons positif terhadap perlakuan pemupukan, baik organik maupun anorganik,”paparnya.

Namun,Balai Kelapa dan Palma telah menerbitkan standar pohon aren yang unggul, di antaranya produksi nira antara 15–20 liter per hari, memiliki 7–8 mayang bunga jantan,umur mulai disadap 9–10 tahun, jumlah mayang yang disadap 15–20 mayang jantan sepanjang umur produktifnya, lama penyadapan 6–12 bulan untuk mayang jantan pertama.

Tanaman aren baru mulai menghasilkan nira pada umur 8–10 tahun dengan masa produktif 2–4 tahun.Petani harus terikat setiap harinya untuk menyadap nira pada pagi dan sore. Sebab, jika tidak dilakukan penyadapan, aren akan berhenti memproduksi nira.

’’Sebagai estimasi,jika rata-rata per pohon per hari menghasilkan 10–15 liter nira dan ada 80 pohon dalam 1 ha, dengan kemampuan rata-rata penyadapan 200 hari, tanaman aren itu bisa menghasilkan 20 ton alkohol.Kunci dari pengembangan ini adalah bagaimana menciptakan sharing benefit yang adil antara petani, industri rumahan, dan industri,”jelasnya.

Asisten Deputi Program Tekno Ekonomi Kementrian Riset dan Teknologi Hari Purwanto menambahkan, program pengembangan aren sudah dimulai sudah lama. Namun,baru belakangan ini intensif dilakukan dan kembali dipopulerkan. Menurut dia, tanaman itu lebih cocok ditanam di wilayah dataran tinggi dengan kondisi tanah yang subur sehingga menghasilkan nira yang maksimal, yakni 15–20 liter per hari.

Beberapa wilayah di Indonesia yang memang sudah mengembangkan aren, yakni Jawa, Sumatra Utara, Sulawesi Utara,Bengkulu,Sulawesi Selatan,dan lain-lain. ’’Jadi, sebenarnya mau teknologi yang sederhana atau teknologi tinggi, aren tetap berguna. Menebangnya pun bisa berguna. Masalahnya, aren itu untuk bahan makanan atau energi. Itulah yang masih diperebutkan,”tandasnya. (abdul malik) sumber:www.seputar-indonesia.com

Workshop Budidaya dan Pemanfaatan Aren Untuk Bahan Pangan dan Energi

Sumber: http://www.ristek.go.id/ Kamis,06 Desember 2007 11:52

Lonjakan harga minyak bumi pada akhir 2005 telah memaksa kita untuk mencari bahan bakar alternatif. Sejalan dengan isu lingkungan dan kesehatan, maka upaya pemenuhan kekurangan suplai energi ke depan diarahkan ke sumber terbarukan dan ramah lingkungan, antara lain biofuel. Namun hampir semua sumber bahan baku biofuel bersaing dengan kebutuhan pangan. Dalam konteks ini, aren dapat berperan sebagai salah satu sumber bioenergi yang penting mengingat produktivitasnya yang sangat tinggi dan selain itu aren juga dapat ditanam di antara tanaman yang sudah ada atau sebagai komponen tanaman untuk reboisasi sehingga tidak bersaing dengan komoditas pangan. Hal tersebut disampaikan oleh David Allorerung Peneliti Aren Puslitbangbun Deptan Bogor pada Workshop Budidaya dan Pemanfaatan Aren untuk Bahan Pangan dan Energi di Gedung II BPPT Jakarta, 6 Desember 2007.

Workshop ini dimulai dengan pembacaan laporan oleh Hari Purwanto Asdep Program Tekno Ekonomi, dan dilanjutkan dengan pembukaan oleh Bambang Sapto P, Deputi Bidang Perkembangan Riset Iptek. Sebagai pembicara pada workshop ini adalah David Aroerang, Peneliti Aren Puslitbangbun Deptan Bogor, (Budidaya Aren dan Pemanfaatannya untuk Pangan, Industri, Energi dan Konservasi Lingkungan), Johan Bukit, Pembina Pengrajin Gula Merah di Berbagai Daerah (Pemanfaatan Nira Aren sebagai Bahan Baku Gula Merah), Johan Susilo, Dirut PT Banyu Lancar Unggul Engineering (Produksi Bioetanol dari Nira Aren Skala Mikro-Kecil); M Rosjidi, Peneliti Teknologi Proses BPPT (Sinergi Aren dengan Tanaman-tanaman Penghasil Nira Lainnya untuk Produksi Bioetanol Bahan Bakar) ; dan Johan A Mononutu, Manajer Proyek percontohan Etanol dari tanaman aren Sulawesi Utara (Pemberdayaan Petani Aren Melalui Produksi Bioetanol Bahan Bakar).

Bambang Sapto dalam sambutannya mengatakan bahwa aren yang merupakan salah satu penyumbang bioetanol, dalam pembudidayaan dan pemanfaatannya diharapkan memperhatikan prosesnya mulai dari hulu hingga hilir. “Bukan hanya prosesnya tapi juga pelakunya.” tambah Bambang.

Workshop ini diikuti oleh peserta yang berasal dari Litbang LPND dan LPD serta perguruan tinggi, Lembaga Non-Pemerintah yang berkecimpung di gula dan bioetanol, dan Lembaga Pemerintah yang berkaitan dengan topik diskusi. (humasristek)

1 Comment »

  1. saya membutuhkan hasil penelitian tentang peran aren dalam konservasi lahan. terima kasih

    Comment by lilis — March 16, 2011 @ 10:50 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: