Aren Indonesia

Penghijauan Aren 2008

Pebruari 2008

Bukit Bandung Utara Dihijaukan 10.000 Pohon Enau

Sumber: http://www.gatra.com/; Bandung, 22 Pebruari 2008 13:10

Gugusan perbukitan di Desa Mekar Saluyu Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung, Jumat (22/2), dihijaukan oleh 10.000 batang pohon enau (nira), yang ditanam pejabat dan sejumlah aktivis lingkungan.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Suyanto Kardiman, Komisaris Utama PT PLN (Persero) A Hilal Hamdi, Rektor Unpad Prof. Dr. Ganjar Kurnia, tokoh lingkungan Abah Iwan Abdurachman, aktivis pecinta alam Wanadri, serta ratusan warga setempat beramai-ramai melakukan penghijauan tersebut.

“Pohon enau ini sangat bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat, akarnya bisa memperkuat struktur tanah dan air niranya bisa meningkatkan perekonomian masyarakat,” kata Menristek, usai menanam pohon nira, yang lokasi yang bersebelahan dengan kawasan Dago Golf Resort Bandung.

Menurut Menristek, upaya penanama nira itu sebagai upaya untuk menyelamatkan tiga unit pembangkit terbesar di Indonesia yakni PLTA Saguling, Cirata dan PLTA Jatiluhur yang saat ini mengalami pendangkalan yang hebat dan mengancam ketangguhan pasokan listrik dari kawasan itu.

Lokasi penanaman 10.000 pohon nira itu berada di kawasan Bandung Utara tepatnya sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Bandung. Kawasan itu berada di Sub Daerah Aliran Sungai Cikapundung yang merupakan areal DAS Citarum.

“Pengembangan dan budidaya pohon enau ini melibatkan Fakultas Pertanian Unpad agar bisa cepat produktif. Kalau biasanya enau menghasilkan setelah 15 tahun diharapkan dengan teknologi dari Unpad bisa menghasilkan pada usia 7-8 tahun,” kata Menristek.

Sementara itu Komisaris Utama PT PLN Persero A Hilal Hamdi mengatakan, pohon enau yang ditanam di kawasi Cimenyan Kabupaten Bandung itu merupakan hasil pengembangan di kawasan Cirata.

“Pohon enau itu bibitnya sama dengan jenis unggul yang dikembangkan di Minahasa. Diharapkan dalam sepuluh tahun ke depan bisa menghasilkan bagi masyarakat sekitarnya,” kata Hilal Hamdi.

Selain melibatkan Unpad, budidaya pohon enau itu juga melibatkan LSM Bina Mitra. Selain mengembangkan di lahan milik kehutanan, warga, juga akan ditanam di sempadan sungai di kawasan Bandung Resort.

“Selain ditanami nira, juga akan dikembangkan penanaman rumput gajah dan peternakan penggemukan sapi dan kambing,” kata Ketua LSM Bina Mitra, Wawan. [TMA, Ant]

Agustus 2008

Lima Belas Ribu Pohon Hijaukan Bandung

Jum’at, 01 Agustus 2008 | 16:55 WIB

TEMPO Interaktif, BANDUNG: Warga Kota Bandung dan sekitarnya akan diajak menghijaukan kota mereka bersama-sama Sabtu (2/8) besok. “Saat ini kami sudah menyiapkan lima belas ribu bibit pohon untuk acara ini,” ujar Wawan Djuanda, penyelenggara acara saat dihubungi Tempo, Jumat (1/8).

Menurut Wawan, acara bertajuk Sampoerna Hijau Kotaku Hijau ‘Ayo Hijaukan Lingkungan Kita” itu digelar selama dua hari di Lapangan Tegallega Bandung. “Di kawasan ini pula, para kepala negara dari benua Asia dan Afrika menanam pohon saat mengikuti Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika, tahun 2005 lalu,” katanya.

Acara ini akan dimeriahkan pula oleh berbagai kegiatan seni, musik dan budaya menarik yang berpayung pada penghijauan dengan mengusung tema ‘Eco Creative Program’. Kegiatan itu antara lain Expo ‘Eco Clinic’ (produk lokal yang ramah lingkungan), ‘Eco Fashion’ (parade busana dengan mengenakan bahan alami), serta ‘Eco Culinary’ (bazar makan sehat).

Selain itu akan ditampilkan pula perpaduan ‘Eco Teatrikal’ dan ‘Eco Musik’ bersama musisi-musisi seperti The Sigit, Pure Saturday, Rocket Rocker, The Abbabiels Attack, Cult, 4 Peniti, JikuNsprain, Arumba, Ozenk Percussions, ITB String Esemble, dan Bandung String Esemble.

Pada hari pertama, acara akan diisi oleh Expo, Fashion Show, dan Konser Musik mulai pukul 10 pagi hingga 10 malam. Sedangkan puncak acara digelar keesokan harinya mulai pukul 10 pagi hingga pukul 9 malam.

Pada Minggu pagi, bersamaan dengan acara di Tegallega, akan dilakukan penanaman pohon di empat lokasi yaitu Situ Ciburuy Bandung Barat berupa penanaman pohon aren, di Pasir Impun Bandung Timur berupa pohon mangga, di Dayeuh Kolot Bandung Selatan berupa pohon sukun, dan di Punclut Bandung Utara berupa pohon pinus. “Ada juga pohon jengkol dan petai,” kata Wawan.

Menurut Brand Manager Sampoerna Hijau, Suminto Alexander Hermawanto, program penanaman pohon ini ditujukan untuk menyebarkan kecintaan masyarakat terhadap lingkungan. “Apalagi kondisi lingkungan kita terutama di empat lokasi itu, sudah mengalami kerusakan yang cukup parah,” kata Suminto.

Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Kota Bandung Nana Supriatna menyambut baik program ini. Menurut Nana, jumlah pohon di Kota Bandung pada akhir tahun 2007 mencapai 1.005.509 pohon. Jumlah itu masih kurang bila dibandingkan dengan jumlah penduduk kota. “Jika diasumsikan setiap orang perlu satu pohon, maka Kota Bandung masih kekurangan sekitar 1,5 juta pohon,” katanya.   Rana Akbari Fitriawan

BANDUNG KOTAKU HIJAU – Menanam Kesadaran Menjaga Lingkungan

Sumber: http://bandungadvertiser.com/Thursday, 28 August 2008

Jalanan dipenuhi dengan kendaraan yang tengah merayap. Di sisi kanan serta kiri jalan yang tak terlalu lebar itu puluhan pedagang kaki lima dengan seenaknya menggelar dagangan, menutupi hampir semua trotoar yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki. Debu demikian jelas memendar dari aktifitas ratusan manusia tersebut. Jangankan menghirup udara segar, pepohonan pun begitu jarang terlihat. Tegalega, demikian daerah itu dinamai. Satu-satunya kesegaran yang bisa dijumpai di daerah ini mungkin hanya di sekitar Monumen Bandung Lautan Api yang dipenuhi oleh pepohonan nan rindang.

Dan di sanalah pada beberapa waktu yang lalu diselenggarakan sebuah event bertajuk “Bandung Kotaku Hijau”, sebuah event berwawasan lingkungan yang tampaknya memang sengaja mengambil tempat di salah satu wilayah berpolusi cukup tinggi di Kota Kembang, kontradiktif namun sekaligus menyentil dan menggugah kesadaran para pengunjung tentang betapa pentingnya menjaga lingkungan kota tempat tinggal.

Acara yang diselenggarakan oleh Republic of Entertainment sebagai event organizer dan berpusat di lapangan parkir barat Tegalega ini ditata sedemikian rupa. Venue didekor dengan menggunakan bahan baku bambu. Tidak hanya itu, seluruh arena Bandung Kotaku Hijau dikemas pula dengan desain outdoor yang sama untuk memberikan rasa nyaman dan sejuk di sekitar monumen Bandung Lautan Api, Bandung. Puluhan stand berdiri dengan nuansa kesegarannya masing-masing, mulai dari stand-stand para penjaja bunga, stand aktifis lingkungan hidup, sampai stand-stand dari beragam institusi pendidikan yang memajang bermacam peralatan ramah lingkungan seperti alat penjernih air dan lain sebagainya. Di samping itu, “Bandung Kotaku Hijau” mengadakan pula aneka workshop mengenai lingkungan.

Gelaran “Bandung Kotaku Hijau” sendiri resmi dibuka oleh Ketua BPLHD Kota Bandung, Nana Supriatna, yang diawali dengan penanaman enam buah pohon Patrakomala. Menurut Supriatna, Bandung sebenarnya masih sangat membutuhkan penghijauan karena Ruang Hijau Kota (RTH) di ibukota Jawa Barat ini masih sangat kurang, “Saya pribadi sangat apresiatif terhadap acara ini karena ini sejalan dengan visi Bandung Hijau yang terangkum di dalam 7 program kota Bandung,” lanjutnya kemudian.

Sesuai dengan tajuknya, event ini pun mengisi kegiatannya dengan berbagai aktifitas penghijauannya seperti kampanye lingkungan keliling kota Bandung dengan menggunakan kendaraan roda empat dan sepeda. Selain itu, aksi penanaman 8000 pohon dilakukan pula di empat penjuru Bandung. Bandung Barat, di kawasan Situ Ciburuy ditanam 2000 pohon Aren. Bandung Selatan, di kawasan Dayeuh Kolot ditanam sebanyak 2000 pohon Sukun. Bandung Timur, di kawasan Pasir Impun ditanam sebanyak 2000 pohon Mangga. Bandung Utara, di kawasan Punclut ditanam juga 2000 pohon Pinus.

Kegiatan penghijauan ini sendiri sebenarnya dimaksudkan untuk menanamkan kesadaran kepada semua lapisan masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi lingkungan, kepedulian terhadap lingkungan untuk masa depan anak bangsa. Dengan kata lain, “Bandung Kotaku Hijau” merupakan ajakan kepada semua pihak untuk mulai memperhatikan lingkungan secara nyata melalui tindakan penanaman pohon. Siapa lagi yang dapat melakukan upaya penghijauan jika bukan manusia-manusia yang tinggal di dalam lingkungan tersebut.

Memang, jika ditilik secara lebih mendalam, Bandung yang bercita-cita menjadi kota dunia ini sepertinya telah mulai dilupakan alam hijaunya, sehingga tidak sedikit masyarakat kota Bandung yang merasa kurang nyaman untuk sekadar tinggal dan berkreasi budaya akibat arus pembangunan tata kota yang hampir melupakan hijaunya sebuah tempat tinggal. Tengok saja kawasan Punclut di Bandung Utara yang dari hari ke hari kian menipis areal hijaunya digantikan oleh bangunan-bangunan beton, padahal daerah tersebut adalah salah satu daerah resapan air yang cukup penting. Akibatnya? Tentu kita bisa melihat pada setiap musim penghujan. Daerah-daerah dataran rendah Bandung pun diserang banjir, memberikan pilu kesedihan akibat ulah manusia yang tak peduli dengan lingkungannya sendiri.

Sebuah pesan penting lalu tersirat melalui “Bandung Kotaku Hijau”, yaitu sebuah pesan agar kita memiliki sebuah kesadaran untuk kembali melihat alam sebagai entitas yang perlu dijaga untuk keseimbangan hidup antar kosmos di tengah peradaban global dan teknologi manusia dalam mengejawantahkan kreatifitas dan akal budinya. Terdengar terlalu berat? Tentu saja tidak jika kita menerjemahkannya dengan realisasi nyata. Jadi, mulailah memperhatikan lingkungan sekitar, jangan membuang sampah sembarangan, kurangi pemakaian kendaraan bermotor, dan mulailah menanam pohon untuk kelangsungan hidup generasi mendatang.
(Nugraha Sugiarta)

November 2008

Sindoro-Sumbing;  Empat Juta Bibit Pohon untuk Penghijauan

Sumber: http://cetak.kompas.com/; Sabtu, 15 November 2008 | 00:59 WIB

Temanggung, Kompas – Pemerintah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, akan memulai gerakan penghijauan di kawasan Sindoro dan Sumbing. Saat ini disiapkan 4 juta bibit pohon untuk ditanam di areal seluas 34.000 hektar, mulai dari lereng gunung hingga Daerah Aliran Sungai Progo yang berada di bawahnya.

Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Pemkab Temanggung Rahayu Istanto mengatakan, dalam program penghijauan ini, pihaknya bekerja sama dengan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara.

”Dalam hal ini, Perhutani bertanggung jawab untuk menghijaukan zona I, yaitu kawasan puncak Gunung Sindoro-Sumbing,” kata Rahayu, Jumat (14/11) di Temanggung.

Perhutani KPH Kedu Utara bertanggung jawab menghijaukan areal seluas 6.000 hektar di kawasan puncak gunung yang berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut.

Adapun 4 juta bibit pohon yang disediakan akan ditanam di kawasan di bawah zona I, yaitu zona II hingga IV. Di daerah zona II yang merupakan kawasan lereng akan ditanam pohon suren. ”Penanaman pohon ini dipastikan tidak akan mengganggu kehadiran tanaman lain yang banyak ditanam warga, yaitu tembakau,” ujarnya.

Dengan pola ini, Rahayu mengatakan, penghijauan tidak akan mengganggu perekonomian masyarakat yang selama ini bergantung pada tanaman tembakau.

Bahkan, untuk meningkatkan taraf hidup warga, Pemkab Temanggung akan membantu menyediakan bibit tanaman kopi arabica untuk ditanam di kawasan tersebut.

Di zona III atau yang disebut hamparan akan ditanami berbagai jenis pohon. ”Di zona itu, sepanjang jalan kabupaten dan provinsi akan ditanami pohon mahoni, damar, dan suren. Adapun di tepi jalan desa akan ditanami pohon buah-buahan,” katanya.

Zona IV, yaitu daerah aliran Sungai Progo, akan ditanami pohon suren dan aren.

Penghijauan, menurut Rahayu, berangkat dari keprihatinan akan rusaknya lingkungan di Kabupaten Temanggung. Dari 87.000 hektar luas total wilayah Kabupaten Temanggung, sekitar 40.000 hektar di antaranya, termasuk kawasan Sindoro-Sumbing, dalam kondisi kritis dan rawan bencana karena banyak ditanami tanaman semusim.

Belum optimal

Administratur Perum Perhutani KPH Kedu Utara Agus Ruhiyana mengatakan, akhir tahun ini, penghijauan di kawasan Sindoro-Sumbing ditargetkan selesai. Saat ini, fungsi ekologis dari sebagian tanaman sebagai penyimpan air dan pencegah erosi belum optimal. Penyebabnya adalah usia pohon masih satu hingga dua tahun.

”Biasanya fungsi ekologis baru optimal jika tegakan sudah berumur lebih dari 10 tahun,” ujar Agus. (EGI)

4.500 Ha Lahan Hutan di Temanggung Terdegradasi

Sumber: Suara Merdeka;  Rabu, 26 November 2008 ; http://www.perumperhutani.com/

TEMANGGUNG, SELASA – Tahun ini, Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah akan memulai pengembangan tanaman penghasil bio energy di kawasan hutan lindung dan hutan produksi di Jawa Tengah. Tanaman yang akan dikembangkan adalah jenis nyamplung, sorgum, dan aren.

Kepala Biro Pembinaan Hutan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah Suwarno mengatakan, tahun ini, program pengembangan tanaman penghasil bio energy akan dilakukan dengan menanam 200.000 bibit aren, 2,2 juta bibit nyamplung, serta menanam sorgum di areal seluas 250 hektar.

“Ketiga tanaman tersebut nantinya dapat diolah untuk menghasilkan bioetanol,” ujarnya, saat ditemui di sela-sela acara Bulan Menanam Nasional dan Penanaman Sengon di Desa Selosabrang, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Selasa (25/11). Selama lima tahun ke depan, aren direncanakan akan ditanam di areal seluas 16.000 hektar.

Penanaman akan dilakukan di hutan lindung di batas desa, serta di hutan lindung. Setiap satu hektar di kawasan hutan lindung akan ditanami 200.000 bibit aren. Sesuai dengan karakteristik tanamannya, aren akan ditanam di daerah-daerah pegunungan seperti Temanggung, Banyumas, Pekalongan, Purworejo, dan Wonosobo.

Untuk pengembangan nyamplung, selama 10 tahun mendatang akan dilaksanakan di areal seluas 100.000 hektar. Nyamplung nantinya akan ditanam di kawasan hutan produksi jati menyebar di seluruh Jawa Tengah.

Selama dua hingga tiga tahun ke depan, areal penanaman sorgum direncanakan mencapai 4.000 hektar. Sorgum nantinya akan ditanam di kawasan hutan produksi dengan jenis tegakan kayu putih di Grobogan.

Produksi bioetanol dari aren, menurut Suwarno, terbilang luar biasa besar. Untuk satu hektar tanah yang ditanami 200.000 bibit aren, akan menghasilkan sekitar 4.000 liter bioetanol.

Jika harga satu liter bioetanol mencapai Rp 5.000, maka dipastikan satu hektar aren akan menghasilkan pemasukan Rp 2 juta, ujarnya.

Selain itu, tiga tanaman penghasil bio energy tersebut juga memberi beragam manfaat lain. Aren dapat berfungsi optimal menjaga cadangan air dalam tanah, dan buahnya, berupa kolang kaling, dap at dikonsumsi. Untuk sorgum, selain memanfaatkan batangnya untuk bioetanol, bijinya dapat diolah menjadi tepung untuk pembuatan roti.

Selain memberikan solusi terhadap krisis energi, menurut Suwarno, pengembangan tanaman penghasil bio energy ini dilakukan untuk meningkatkan fungsi kawasan hutan, tidak hanya sebagai penghasil kayu tapi juga sebagai penghasil energi. “Dengan tidak terus-menerus memanfaatkan kayu yang dihasilkan, maka kita pun secara otomatis akan menjaga fungsi hutan sebagai kawasan konservasi,” ujarnya. (EGI)

Kawasan Hutan untuk Pengembangan Tanaman Bio Energy

Sumber : Kompas, Rabu, 26 Nopember 2008 ; http://www.dishut.jabarprov.go.id/

Tahun ini, Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah akan memulai pengembangan tanaman penghasil bio energy di kawasan hutan lindung dan hutan produksi di Jawa Tengah. Tanaman yang akan dikembangkan adalah jenis nyamplung, sorgum, dan aren.

Kepala Biro Pembinaan Hutan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah Suwarno mengatakan, tahun ini, program pengembangan tanaman penghasil bio energy akan dilakukan dengan menanam 200.000 bibit aren, 2,2 juta bibit nyamplung, serta menanam sorgum di areal seluas 250 hektar.

“Ketiga tanaman tersebut nantinya dapat diolah untuk menghasilkan bioetanol,” ujarnya, saat ditemui di sela-sela acara Bulan Menanam Nasional dan Penanaman Sengon di Desa Selosabrang, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Selasa (25/11). Selama lima tahun ke depan, aren direncanakan akan ditanam di areal seluas 16.000 hektar.

Penanaman akan dilakukan di hutan lindung di batas desa, serta di hutan lindung. Setiap satu hektar di kawasan hutan lindung akan ditanami 200.000 bibit aren. Sesuai dengan karakteristik tanamannya, aren akan ditanam di daerah-daerah pegunungan seperti Temanggung, Banyumas, Pekalongan, Purworejo, dan Wonosobo.

Untuk pengembangan nyamplung, selama 10 tahun mendatang akan dilaksanakan di areal seluas 100.000 hektar. Nyamplung nantinya akan ditanam di kawasan hutan produksi jati menyebar di seluruh Jawa Tengah.

Selama dua hingga tiga tahun ke depan, areal penanaman sorgum direncanakan mencapai 4.000 hektar. Sorgum nantinya akan ditanam di kawasan hutan produksi dengan jenis tegakan kayu putih di Grobogan.

Produksi bioetanol dari aren, menurut Suwarno, terbilang luar biasa besar. Untuk satu hektar tanah yang ditanami 200.000 bibit aren, akan menghasilkan sekitar 4.000 liter bioetanol.

Jika harga satu liter bioetanol mencapai Rp 5.000, maka dipastikan satu hektar aren akan menghasilkan pemasukan Rp 2 juta, ujarnya.

Selain itu, tiga tanaman penghasil bio energy tersebut juga memberi beragam manfaat lain. Aren dapat berfungsi optimal menjaga cadangan air dalam tanah, dan buahnya, berupa kolang kaling, dap at dikonsumsi. Untuk sorgum, selain memanfaatkan batangnya untuk bioetanol, bijinya dapat diolah menjadi tepung untuk pembuatan roti.

Selain memberikan solusi terhadap krisis energi, menurut Suwarno, pengembangan tanaman penghasil bio energy ini dilakukan untuk meningkatkan fungsi kawasan hutan, tidak hanya sebagai penghasil kayu tapi juga sebagai penghasil energi. “Dengan tidak terus-menerus memanfaatkan kayu yang dihasilkan, maka kita pun secara otomatis akan menjaga fungsi hutan sebagai kawasan konservasi,” ujarnya. (EGI)

Gerakan Menanam Pohon

Sumber: http://www.fkm.ui.ac.id/; 28 November 2008

nanem

Dalam rangka menyambut Bulan Menanam Nasional, pada tanggal 28 November 2008, kembali FKM UI berpartisipasi dengan menanam 10 pohon yang terdiri dari Pohon Aren, Kenari dan Gamelina.

Acara dibuka oleh MC tepat pukul 08.30 di Selasar Gd. G dengan mengundang para ketua departemen, ketua kelompok studi serta para manajer dan asisten manajer. Pada kesempatan tersebut PLH Dekan, Dr. Dian Ayubi, SKM, MQIH berkenan memberikan sambutan mengenai pentingnya penghijauan sebagai salah satu cara mengurangi dampak global warming. Setelah sepatah dua patah kata dari pimpinan, maka acara penanaman pohonpun dimulai. Unit Fasilitas membagikan sarung tangan kepada para undangan.

Acara kemudian ditutup dengan ramah tamah dan menikmati camilan yang telah disediakan. Semoga dapat menginspirasi individu-individu untuk memulai semua hal baik dari diri sendiri. A giant leap to the moon begins with one small step. Semoga !!!

3 Comments »

  1. terimakasih untuk PDAM,DINTANBUNHUT,RSK.NGESTIWALUYO.RM,ANI.RM SIGANDUL,RM.DIENG KLEDUNG PASS,MATAHARI PHOTO,SAE GROSIR , BADAN LINGKUNGAN HIDUP TEMANGGUNG,YAMAHA MATARAM SAKTI PARAKAN,DAN SEGENAP MASYARAKAT TEMANGGUNG YANG SUDAH PERDULI DENGAN LINGKUNGAN DI TEMANGGUNG ,KPH KLEDUNG ,
    kami JOGOREKSO COMMUNITY SIAP MELAKSANAKAN AMANAH DARI DUKUNGAN TERSEBUT YANG PURA-PURA PERDULI TAPI TIDAK MENDUKUNG MUDAH – MUDAHAN SADAR .

    Comment by jogorekso community — November 27, 2009 @ 8:59 am

  2. SATU HATI UNTUK SINDORO DAN SUMBING
    TRADITIONAL DECEMBER EVENT

    Comment by jogorekso community — November 27, 2009 @ 9:01 am

  3. Makasih Informasinya
    Silahkan kunjungi BLOG kami http://h0404055.wordpress.com
    Terdapat artikel yang menarik dan bermanfaat, apabila berkenan tolong silahkan beri komentar
    Salam Kenal dan Terima Kasih

    Comment by h0404055 — April 5, 2010 @ 10:04 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: