Aren Indonesia

Berita 2008

Januari 2008

Aren, Sumber Energi Terbarukan Murah

Sumber: http://www.technologyindonesia.com/02 Januari 2008

JAKARTA : Tahun ini, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menargetkan pembuatan prototipe mesin destilasi aren dengan kapasitas 200 liter/hari. Aren yang sebagian besar dikonsumsi dalam berbagai bentuk produk pangan dan minuman ini, berpotensi diolah menjadi ethanol (bahan bakar terbarukan).

“Mesin destilasi ini memiliki kemampuan operasional hingga 24 jam. Harganya cukup murah sekitar Rp 15 juta rupiah. Namun, jika dilengkapi dengan fasilitas evaporator untuk uapkan ethanol yang mampu tahan lama, bisa mencapai Rp 20 juta,” ujar Dr Arief Budiarto, peneliti Balai Etahonol BPPT Lampung saat dihubungi melalui telepon beberapa waktu lalu.

Sedangkan desain bangunan yang diperuntukkan untuk pengolahan aren, kata Arief, tergantung masing-masing kebutuhan pengusaha aren tersebut. “Semakin dekat lokasi perkebunan, maka nilai energi yang dihasilkan bisa lebih murah,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Hari Purwanto, Asisten Deputi Program Tekno Ekonomi Kementerian Negara Riset dan Teknologi, prospek aren sebagai bahan bakar terbarukan sangat baik. “Nira aren sebagai sumber energi terbarukan masuk buku putih Ristek untuk program 2010-2015,” ujarnya.

Perkebunan aren tersebar di beberapa wilayah Indonesia, seperti Minahasa (Sulawesi Utara), Rejanglebong (Bengkulu), serta di Jawa Timur. “Sebagian diolah sebagai minuman keras, bahkan di Jawa Timur, pohonnya ditebangi untuk dibuat campuran produk bihun,” ujarnya.

Dibanding singkong, nilai energi dalam bentuk ethanol yang dihasilkan dari aren, kata Hari Purwanto, jauh lebih rendah. “ Satu hektar singkong hanya mampu memproduksi 4500 liter etahanol. Sedangkan, dari aren bisa menghasilkan 56 ton ethanol,” ujarnya.

Ethanol (Ethyl Alkohol) dengan rumus molekul adalah C2H5-OH sudah dikategorikan sebagai energi komersial. Saat ini, Brasil tercatat sebagai produsen ethanol terbesar dunia.

Perusahaan-perusahaan otomotif kini, bahkan sudah memproduksi mobil dengan bahan bakar ethanol, seperti Volkwagen AG. Mesin yang bisa memproses bahan bakar ethanol disebut Flex-Fuel, namun mesin yang menggunakan bahan bakar biasa (minimal nilai Octan 90) juga dapat dikonversi dengan bioethanol, dengan campuran premium 80% – 90%.

Campuran tersebut dapat meningkatkan nilai octan yang lebih tinggi sehingga dapat dikategorikan bahan bakar bersih lingkungan. Untuk premium, perkiraan nilai octan 88 ditambah ethanol 10% – 20% (dengan nilai octan 129) sehingga dapat menghasilkan nilai octan sekitar 91 – 93.

Sebuah perusahaan di Brasil, bahkan telah memperkenalkan pesawat terbang kecil EMB 202, yang merupakan pesawat terbang pertama di dunia menggunakan bahan bakar ethanol (Alcohol), dan saat ini lebih dari 300 pesawat terbang kecil di Brasil telah memakai ethanol sebagai bahan bakar yang terbuat dari tebu.

Ethanol saat ini berasal dari beberapa sumber, Brasil dari tebu, Amerika Serikat dari Jagung, sedangkan di Indonesia umumnya berasal dari tebu, sorghum, termasuk singkong. (Lea)

Disbunsu Akan Menanam 5 Ha Kebun Percontohan Aren

Sumber: http://watsonmanalu.wordpress.com/ Januari 8, 2008, 1:30 pm

MedanBisnis – Medan

Untuk mendukung swasembada gula, tahun ini Disbunsu mulai menanam pohon aren seluas 5 hektar di Tanah Karo. Selain memanfaatkan lahan tidur, langkah ini diharapkan mendorong minat masyarakat bercocok tanam pohon aren.

Kasubdis Bina Produksi Disbunsu, Herawati N, mengatakan, penanaman pohon aren merupakan program Departemen Pertanian yang sudah terealisasi di daerah Sulawesi Utara. Menurutnya, pohon aren memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi, apalagi aren cocok ditanam di lahan tidur seperti bantaran sungai ataupun lembah.

“Masyarakat masih menganggap pohon aren tumbuh sendiri. Jadi, kami mulai mensosialisasikan budidaya pohon aren,” jelas Herawati kepada MedanBisnis, Senin (7/12) di Medan. Pasar gula aren, katanya, masih terbuka lebar dengan kondisi Indonesia yang masih melakukan import gula.

Sekitar 5 Ha kebun aren tersebut akan menjadi percontohan di Sumut. Setiap Ha lahan dapat ditanami 1.000 batang aren. Pohon aren akan berproduksi pasa usia 6 sampai 7 tahun. “Memang tergolong lama, tetapi prinsip budidayanya adalah penghutanan. Jadi, pengurusan tidak intens,” tambah Herawati.

Aren Sangat Potensial Menghasilkan Biofuel dibanding yang Lain

Sumber:  www.republika.co.id , 17-01-2008 10:11:01

Pohon aren

Tanaman aren (Arenga Pinnata) sangat potensial menghasilkan biofuel (bahan bakar nabati) dan perlu dikembangkan sebagai perkebunan besar seperti halnya kelapa sawit atau jarak pagar.

“Kelebihan tanaman aren ini bisa dipanen setiap hari sepanjang tahun, menghasilkan lebih banyak dan cepat bahan bakar dibanding tanaman lain,” kata Kepala Bagian Jasa Iptek Puslit Kimia LIPI Dr Hery Haeruddin di Jakarta, Senin.

Pohon aren, ujarnya, tidak seperti tanaman lain penghasil bioethanol (bahan bakar pengganti bensin) yaitu singkong yang memiliki masa panen enam bulan atau tebu tiga bulan untuk sekali panen saja serta keterbatasan lainnya. Aren, lanjut dia, bisa dipanen terus-menerus di mana setiap satu pohon aren bisa menghasilkan nira 1-20 liter per hari yang 10 persennya bisa diproses menjadi ethanol.

“Setiap hektar bisa ditanami 75-100 pohon sehingga setiap hektar bisa menghasilkan 1.000 liter nira per hari atau sekitar 100 liter ethanol per hari. Bandingkan dengan sawit yang satu hektarnya hanya menghasilkan maksimal enam ton biodiesel per tahun,” katanya.

Pada masa lalu penanaman aren, tanaman asli Indonesia ini, sangat sulit dan hanya bisa dilakukan oleh musang, tetapi kini Puslit Biologi LIPI telah mampu membudidayakannya dan menyediakan bibitnya, ujarnya.

Dari mulai bibit hingga menjadi tanaman aren yang menghasilkan, ia akui, memerlukan 6-8 tahun, namun demikian angka itu tidak terlalu lama jika dibandingkan dengan tanaman lain seperti kelapa sawit yang memerlukan waktu 5-6 tahun untuk menghasilkan minyak sawit.

Menurut dia, getah nira yang menetes dari bunganya, lebih mudah dijadikan bioethanol dibanding dijadikan gula aren. Getahnya cukup difermentasi (diberi ragi/mikroba) lalu setelah menjadi alkohol dipisahkan dari airnya.

Tanaman aren selain bisa diproses menjadi subtitusi bensin juga baik dalam hal menyimpan air tanah serta mencegah bencana banjir dan longsor. Saat ini aren banyak ditanam antara lain di Rangkas Bitung, Cianjur Selatan, Ciamis, hingga di Sulawesi Utara.

Pohon Aren Dilirik untuk Pemanfaatan Bioethanol

Sumber: DIKUTIP DARI KALTIM POST, KAMIS, 31 JANUARI 2008, http://perkebunan.kaltimprov.go.id/
NUNUKAN – Meskipun fungsi dan manfaat biofuel (bahan bakar nabati yang diyakini ramah lingkungan) jenis bioethanol sama dengan biofuel jenis biodiesel, ternyata pengolahan bioethanol lebih mudah dan murah daripada biodiesel.
Bioethanol yang juga berfungsi sebagai pengganti bahan bakar premium, alkohol dan juga berguna untuk industri makanan, minuman atau kosmetik ini, bisa dikelola sendiri oleh petani dan tidak membutuhkan bahan campuran.

Sedangkan biodiesel memerlukan crude palm oil (CPO), yang pastinya membutuhkan biaya tinggi dan bahan kimia seperti methanol sampai dengan 20 persen untuk bahan campurannya.

Ketua Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kabupaten Nunukan Dian Kusumanto menuturkan, selain gula, aren (Arenga pinnata Merril) atau enau dapat menghasilkan bioethanol. Berdasarkan penelitian yang ada, potensi aren berkisar antara 20 -56 ribu liter per hektare per tahun. Sedangkan biodiesel hanya 5 ribu liter per hektare per tahun.

Bioethanol dengan bahan baku aren, diperoleh dari nira atau tandan bunganya, dengan potensi 10 liter per hari per pohon. Kemudian dari 3 liter nira tersebut, dapat menghasilkan satu kilogram gula aren yang saat ini dihargai sebesar Rp 8 ribu.

“Dari hasil penelitian ini, Dekopinda melihat aren yang tumbuh di sekitar sungai tersebut, merupakan bahan baku yang akhirnya dapat mengembangkan perekonomian masyarakat,” jelasnya.

Kemudian dapat memberdayakan koperasi-koperasi se-Kabupaten Nunukan, serta bisa berswasembada energi, karena alat pengolahannya tidak terlalu mahal.

Meskipun saat ini Dekopinda masih mewacanakan bioethanol dari aren tersebut, diharapkan, petani aren dapat membudidayakan hasil kebun aren.

Di Kota Nunukan, memang sudah terlihat banyak petani yang mengembangkan pohon aren. Khususnya di Kampung Baru, yang saat ini masih diolah menjadi gula dan arak (tuak) oleh masyarakat.

“Ke depannya, selain membina, mungkin kami juga akan memfasilitasi para petani aren, untuk pengembangan bioethanol di Kabupaten Nunukan,” katanya.

Pebruari 2008

PROSPEK PRODUK GULA AREN DAN MAKANAN LAINNYA DI JEPANG

Sumber: http://www.nafed.go.id/; Thursday 14 Februari 2008

Peluang yang sangat besar saat ini bagi produk Gula Aren (Palm Sugar) di Jepang sudah tidak diragukan lagi. Kandungan kalorinya yang rendah dan dapat digunakan untuk membuat kue menjadikan Gula Aren sangat diminati.

Mr. Ryuji Nishi mengungkapkannya dalam sebuah seminar mengenai potensi produk makanan dari Indonesia di pasar Jepang. Dalam presentasinya, konsultan ini memberi masukan tentang produk Gula Aren yang diminati tidak mengandung bahan kimia dan ditanam di lahan yang alami tanpa pupuk organik. Diperlukan kesungguhan mencari mitra di Jepang dengan pengusaha yang memproduksi kue-kue khas Jepang, produsen gula pasta atau pemilik kedai kopi.

Barang contoh beserta harga jual di toko swalayan juga diperlihatkan dalam seminar tersebut. Dalam contoh yang diperlihatkan, harga Palm Sugar JPY 735/200 gram; Maple Sugar JPY 1000-2000/1 kg; Brown Sugar JPY 240/0,5 kg; Crystal Sugar JPY 160/0,5 kg; Gula Pasta JPY 500/0,5 kg. Negara pesaing untuk produk ini adalah Thailand yang menguasai pasar 49%, Australia 39%, Afrika Selatan 12%, namun belum pernah mengimpor dari Indonesia.

Jagung Kriuk, salah satu produk makanan Indonesia yang juga dibahas dalam seminar ini. Rasanya yang enak namun perlu diperbaharui model kemasannya agar terlihat lebih menarik. Isinya yang bervariasi dicampur dengan jenis kacang-kacangan lain, lebih disarankan, karena konsumen Jepang sangat menggemari makanan kecil seperti ini dengan berbagai rasa. Pada saat yang bersamaan, diperlihatkan contoh produk dari Amerika dan China yang isinya bervariasi dan dibungkus rapi dan menarik dengan harga JPY 105/40 gram, JPY 400/400 gram dan JPY 50/30 gram.

Tanggapan Mr. Nishi terhadap produk Ikan Asin Indonesia sudah bagus dan penampilannya terlihat bersih. Rasanya enak dan agar lebih bernilai diharapkan sebelum pengepakan, ikan asin diletakkan dalam sebuah wadah plastik supaya tersusun rapi dan selanjutnya dibungkus. Lebih disarankan jika dikemas dalam tempat yang kedap udara dan sangat dianjurkan mencantumkan informasi cara pemakaian dan memasaknya. Diperlihatkan produk ikan asin dari Vietnam sebagai contoh dengan harga JPY 400/150 gram.

Kemasan Teh Murbel disarankan agar diperbaharui. Penyimpanan kedalam aluminium foil pada setiap bungkus teh lebih terkesan rapi. Untuk menarik minat konsumen sebaiknya dicantumkan penjelasan tentang kandungan di dalam teh tersebut, khasiatnya dan cara pemakaiannya.

Saat ini Jepang tidak lagi menjual Teh Agaric dan Jamur Agaricus kering secara terbuka. Menurut penelitian, jamur tersebut dapat memicu kanker dan hipertensi. Jika konsumen membutuhkannya hanya dapat dicari dan dibeli melalui internet saja.

Jamur yang dapat mengganggu mulai dijauhi konsumen Jepang. Diperlukan upaya tangguh yang penuh tantangan dan memerlukan tenaga ahli khusus tentang jamur untuk dapat menerangkan kepada konsumen tentang manfaat dan kegunaan jamur serta tidak berbahaya jika dikonsumsi.(dn)

April 2008

Deptan Siap Kembangkan Pabrik Gula Aren

Kapanlagi.com, Senin, 07 April 2008 20:14

Sumber: http://www.kapanlagi.com/h/0000221626.html

Kapanlagi.com – Departemen Pertanian (Deptan) siap mengembangkan pabrik pengolah aren menjadi brown sugar atau gula coklat di beberapa wilayah di tanah air yang menjadi sentra produksi aren.

Dirjen Perkebunan Deptan, Achmad Mangga Barani di Jakarta, Senin mengatakan, saat ini di Indonesia baru terdapat dua pabrik pengolah gula aren yakni di Kabupaten Tomohon dan Minahasa Selatan keduanya di Sulawesi Utara.

“Presiden meminta pengembangan pabrik gula aren di delapan daerah. Kalau di Minahasa Selatan dan Tomohon berhasil akan dikembangkan di daerah lain,”katanya.

Menurut dia, pabrik pengolah gula aren di Kabupaten Tomohon telah berdiri sejak dua tahun lalu dan saat ini produknya berupa “brown sugar” bahkan sudah diekspor hingga ke Belanda.

Di dalam negeri, tambahnya, permintaan gula coklat cukup tinggi dan umumnya untuk memenuhi kebutuhan hotel-hotel.

“Namun secara umum konsumsi gula coklat masih kecil karena masih didominasi gula putih sehingga hanya merupakan pelengkap,” katanya.

Saat ini konsumsi gula putih di Indonesia sekitar 12 kg/kapita per tahun atau jika ditambahkan dengan untuk makanan, minuman dan lainnya menjadi total 15 kg/kapita/tahun.

Sementara itu mengenai pabrik gula aren di Kabupaten Minahasa Selatan, Mangga Barani menyatakan, merupakan bantuan pemerintah untuk kelompok tani aren di daerah tersebut.

Pabrik gula aren yang memiliki kapasitas olah nira aren sebanyak 5000 liter per hari tersebut saat ini masih dalam taraf uji coba sehingga produksinya belum optimal sesuai kapasitas terpasang.

Dirjen Perkebunan menyatakan, pada umumnya tanaman aren di tanah air hingga kini belum dibudidayakan oleh petani namun masih tumbuh dengan sendirinya. Sejumlah wilayah yang menjadi sentra perkebunan aren di tanah air yakni Manado, Papua, Jawa Tengah dan Banten.

“Sejak 2005 di Manado telah dilakukan pembibitan untuk budidaya tanaman aren. Dana pembibitan dari Dirjen Perkebunan untuk 50 ribu pohon,” katanya. (*/rsd)

DEPTAN SIAP KEMBANGKAN GULA AREN

Suara Pembaruan (09/04/2008, 12:48:48)

[JAKARTA] Departemen Pertanian (Deptan) akan mengembangkan pabrik pengolah aren menjadi brown sugar, atau gula coklat, di beberapa wilayah di Tanah Air, yang menjadi sentra produksi aren.

“Saat ini, di Indonesia baru terdapat dua pabrik pengolah gula aren, yakni di Kabupaten Tomohon dan Minahasa Selatan, keduanya di Sulawesi Utara,” kata Dirjen Perkebunan Deptan, Achmad Manggabarani di Jakarta, Selasa (8/4).

Menurut Manggabarani, potensi ekspor gula aren sebetulnya cukup besar, termasuk untuk konsumsi dalam negeri. Sedangkan investasi untuk pabrik ini tidak terlalu mahal, sekitar US$ 1 juta untuk kapasitas 20 ton gula semut per hari.

Ia mencontohkan, pabrik pengolah gula aren di Kabupaten Tomohon yang berdiri sejak dua tahun lalu, saat ini produknya berupa brown sugar sudah diekspor hingga ke Belanda. Sedangkan di dalam negeri, tambahnya, permintaan gula coklat cukup tinggi dan umumnya untuk memenuhi kebutuhan hotel-hotel.

“Namun secara umum, konsumsi gula coklat masih kecil karena masih didominasi gula putih, sehingga hanya merupakan pelengkap,” katanya.

Saat ini, konsumsi gula putih di Indonesia sekitar 12 kg/kapita/tahun. Jika ditambahkan untuk makanan, minuman, dan lainnya, menjadi total 15 kg/kapita/tahun.

Dikatakan, pembangunan pabrik gula aren di Kabupaten Minahasa Selatan itu merupakan bantuan pemerintah untuk kelompok tani aren di daerah tersebut. Pabrik gula aren yang memiliki kapasitas olah nira aren 5.000 liter/hari tersebut, saat ini masih dalam taraf uji coba, sehingga produksinya belum optimal sesuai kapasitas terpasang.

Dirjen Perkebunan menyatakan, tanaman aren di Tanah Air hingga kini belum dibudidayakan oleh petani, namun masih tumbuh dengan sendirinya. Sejumlah wilayah kini menjadi sentra perkebunan aren di Tanah Air, yakni Manado, Papua, Jawa Tengahm, dan Banten.

“Sejak 2005, di Manado telah dilakukan pembibitan untuk budidaya tanaman aren. Dana pembibitan dari Dirjen Perkebunan untuk 50.000 pohon,” katanya.

Aren dengan nama ilmiah Arenga pinnata sudah sejak lama dikenal para petani sebagai tanaman bernilai ekonomis. Namun hingga kini, masukan ilmu dan teknologi pada aren masih sangat minim.

Berbeda dengan kelapa dan kelapa sawit, tanaman sefamili aren. “Oleh karena , Deptan akan memperkenalkan teknologi pengolahan aren ke petani,” ujar Manggabarani. [L-11]

Mei 2008

Janji perhatikan nasib petani Cap Tikus; 2008, Minsel Hadirkan Pabrik Etanol

Sumber: http://www.hariankomentar.com/arsip/arsip_2008/mei_02/lkMinsel001.html; 02 Mei 2008

Pemkab Minsel menyatakan keprihatinannya atas terpuruk-nya pemasaran minuman tradisional Cap Tikus alias Sopi yang menimpa para petaninya belakangan ini. Karena itu, Bupati Minsel Drs Ramoy Luntungan mengimbau agar hadir-nya fasilitas pabrik Gula Aren di Desa Kapitu bisa diman-faatkan sebaik mungkin oleh para petani cap tikus.

“Belum lagi sedang disiapkan tahun 2008 ini di Minsel segera hadir pabrik etanol. Diketahui, baik pabrik gula aren dan etanol ini menggunakan bahan dasar hasil produksi pohon Enau atau Seho. “Cap tikus bisa dijadikan saguer untuk selanjutnya bisa diolah menjadi gula batu (gula aren). Selain itu bisa dijadikan bahan bakar kendaraan yang diolah menjadi etanol,” kata Luntungan di sela-sela kunju-ngan kerjanya ke Desa Wanga, Kecamatan Motoling Timur, Rabu (30/04) lalu.

Dijelaskannya, petani cap tikus di Minsel tak perlu cepat kecewa sebab penolakan sejum-lah pabrik cap tikus di Manado untuk membeli produksi petani belakangan ini, bukan berarti kiamat. “Sudah pasti jika hasil minuman cap tikus tak laku dijual ke pabrik minuman maka pabrik Etanol nantinya siap me-nampungnya. Jadi petani tak seharusnya resah dan cemas lagi,” tandas Luntungan yang saat itu turut didampingi first lady Ny Hetty Luntungan Ma-wuntu SPd.

Ditambahkannya, sejauh ini pihaknya sedang mempersiap-kan dan melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat da-lam hal ini Departemen Perin-dustrian dan Perdagangan un-tuk menghadirkan secepatnya pembangunan pabrik Etanol di Kabupaten Minsel. Untuk men-dirikan pabrik ini telah ditetap-kan proyeksi anggaran sebesar Rp 5 miliar. “Solusi lain, jika di saat penerimaan THR (tunjang-an hari raya) Natal nanti, Pem-kab Minsel berupaya akan membeli hasil produk gula me-rah petani untuk diserahkan ke seluruh pegawai. Ini dirasakan sangat membantu, dan petani tak akan mengalami ancaman gulung tikar,” tegas Luntungan disambut aplaus para petani dan pengusaha pohon seho di tiga kecamatan di Motoling.

Mendengar kabar baik ini, se-orang pengusaha sekaligus pe-tani Cap Tikus sukses di Desa Wanga Kecamatan Motoling Ti-mur Welly Barol Pele mengaku senang dan menyambut baik janji dan perjuangan Pemkab Minsel tersebut. Menurut Pele yang mantan kumtua pertama Desa Wanga ini, kiranya janji pendirian pabrik Etanol ini se-cepatnya direalisasikan.(pen)

Ribuan Petani Cap Tikus Minsel Ancam Demo !

Laporan: Budi H Rarumangkay, Berita Sulut, 7 Mei, 2008
Sumber: http://www.sulutlink.com/mei%207.htm

petani captikus 1

petani captikus 2

MANADO, Sulutlink. Ribuan petani Cap Tikus – alkohol dari Pohon Aren (Seho) yang tersebar di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), mengancam akan melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran di kantor Dewan Sulut dan Kantor Gubernur, jika pihak pabrik minuman keras masih menutup pembelian produksi dari petani. Ancaman ini menyusul sejumlah pabrik minuman keras sejak beberapa waktu lalu, belum melakukan pembelian dengan alasan tidak jelas.

“Ada sekitar delapan ribu petani di Minsel tidak bisa mendapatkan hasil maksimal dari produksi captikus, sehingga sangat mengganggu kondisi ekonomi rakyat,” terang Welly Pele, salah satu perwakilan petani yang bertatap muka dengan anggota dewan Sulut, Selasa, (06/05).

Petani menilai sejumlah pabrik minuman keras di Sulut telah menutupi akses pembelian produksi captikus dengan alasan tidak jelas, sehingga setiap petani merugi sekitar Rp150 ribu setiap hari, untuk menutupi kebutuhan keluarga. Perincian penjualan captikus dari petani ke pengusaha dan pabrik dijual Rp75 ribu per galon. Satu pohon Nira bisa menghasilkan 2 galon captikus.

“Produksi alkohol captikus di Minsel sudah membudaya dan menjadi mata pencaharian warga, sehingga sulit dihilangkan atau dialihkan ke kegiatan lain,” katanya, sambil menyebut pekan ini akan ada aksi unjuk rasa besar-besaran.

Petani juga menolak produksi captikus dikatakan sebagai sumber minuman keras berbahaya, padahal kata mereka, masih lebih banyak selundupan dan suplai ilegal minuman keras dari luar negeri masuk Sulut ketimbang produksi captikus itu sendiri. Sejumlah petani juga mengharapkan, pihak kepolisian daerah untuk tidak sekedar menahan produksi dan melakukan razia captikus dari petani, karena warga sudah melewati ketentuan dengan mengurusi ijin perdagangan, yang tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) dikeluarkan Pemprov Sulut.

Dewan Sulut sendjri berencana akan memanggil hearing pihak pabrikan, pemerintah daerah da kepolisian, untuk mencari jalan keluar dari permintaan warga tersebut “Produksi captikus petani sudah merupakan komoditi unggulan sektor pertanian, sehingga perlu ditangani secara baik,” kata anggota dewan AHJ Purukan. Produksi captikus tidak hanya sekedar menjadi minuman keras yang dikelolah khusus, namun juga telah dikembangkan sebagai bahan etanol untuk kegiatan kesehatan medis, serta dijadikan Bahan Bakar Minyak (BBM) alternatif untuk kendaraan bermotor.

Sementara itu menurut Hanny Sangian, jika Etanol Enau menggantikan seluruh bahan bakar, maka; 1 pohon enau unggul menghasilkan Air Nira 20-30 liter perhari. Dalam 20 liter Nira mengandung 1 liter etanol murni. Konsumsi bahan bakar sekarang 200 juta liter perhari setara dengan 200 juta pohon enau. “Untuk itu kita memerlukan 2 juta hektar lahan pohon enau,”terang Sangian yang baru-baru ini mempopulerkan BBM dari Captikus tersebut.

Perbandingan; Etanol dari Jagung memerlukan luas lahan sebsar 30.000.000 hektar. Etanol dari Tebu memerlukan lahan seluas 25.000.000 hektar. Minyak Sawit (biodiesel) memerlukan lahan seluas 15.000.000 hektar.

Keuanggulan dari pohon Enau terang Sangian, pohon Enau bisa menghasilkan multi produk seperti tepung Sagu, gula Aren dan Ijuk. Pohon enau yang tidak produktif bisa diambil kayunya. Pohon enau tahan terhadap cuaca ekstrim. Pohon enau penahan banjir. Sedangkan dalam penyerapan tenaga kerja; 1 orang dapat menghasilkan 300 liter air nira perhari dari 15-25 pohon enau, setara dengan 15 liter bahan bakar etanol perhari.

“Jika produksi bahan bakar etanol 200.000.000 liter perhari, maka, jumlah tenaga kerja yang terserap itu adalah sebanyak 13.333.000 orang. Belum lagi tenaga kerja pada tingkat industri procesing,”urai Sangian.

Alkohol Cap Tikus untuk Pengganti BBM?

Sumber : Antara, Minggu, 11 Mei 2008 ; http://www.kompas.com/

MANADO, MINGGU- Sejumlah petani di Kecamatan Motoling, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, menawarkan kepada pemerintah untuk mengelola alkohol cap tikus (turunan nira) milik petani untuk dikelola menjadi pengganti bahan bakar minyak.

“Alkohol cap tikus juga memiliki sumber energi nabati yang bisa dimanfaatkan pada semua kendaraan bermotor, sehingga bisa dioptimalkan saat pemerintah menaikkan harga BBM,” kata Royke Paat, salah satu petani Cap tikus, Minggu (11/5), di Manado.

Program pemanfaatan dan penyulingan cap tikus ke bahan bakar nabati atau biofuel, pernah diperagakan sejumlah warga di Motoling, serta disaksikan langsung sejumlah peneliti dari Kementrian Riset dan teknologi (Ristek) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Petani tidak bisa melanjutkan peragaan penyulingan bahan bakar nabati tersebut ke tingkat nasional, akibat minimnya anggaran serta teknologi dalam membantu kegiatannya.

Tawaran petani itu dilakukan setelah melihat rencana kenaikkan harga BBM sudah meresahkan warga. Apalagi pemerintah semakin “hilang akal” dengan mengantisipasi dampak dari kenaikkan harga minyak mentah dunia, sehingga berdampak pada posisi keuangan negara.

“Jika pemerintah berminat mengelola hasil cap tikus milik petani menjadi bahan bakar biofuel, (itu) bisa memberikan efek positif juga bagi kegiatan ekonomi warga, ” katanya.

Peneliti dari Univeversitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Hanny Sangian mengatakan, jika etanol nira (enau) menggantikan seluruh BBM kendaraan bermotor, maka setiap satu pohon enau unggul yang dikelola baik menghasilkan air nira 20-30 liter per hari. Dalam 20 liter nira terkandung satu liter etanol murni.

Konsumsi BBM sebanyak 200 juta liter per hari, setara dengan 200 juta pohon enau, sehingga diperlukan dua juta hektar lahan enau untuk dikelola secara baik, sementara Provinsi Sulut memiliki potensi tanaman tersebut melalui budidaya secara tersistematis.  msh

Minuman Beralkohol Cap Tikus Diusulkan sebagai Pengganti BBM

Sumber: http://www.ciptapangan.com/13/05/08

Selasa. Ada kabar agak melegakan bagi Anda yang cemas dengan rencana kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Sejumlah petani di Kecamatan Motoling, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara (Sulut), telah membuktikan bahwa alkohol produksi mereka yang terbuat dari turunan nira (air sadapan pohon enau atau aren), bisa jadi BBM murah.

Oleh karena itu, di tengah rencana kenaikan harga BBM saat ini, para petani di sana menawarkan kepada pemerintah alkohol turunan nira milik mereka itu, untuk dikelola sebagai pengganti BBM. Di Minahasa Selatan, alkohol turunan nira itu populer disebut sebagai alkohol cap tikus.

“Alkohol cap tikus memiliki sumber energi nabati yang bisa dimanfaatkan pada semua kendaraan bermotor, sehingga bisa dioptimalkan saat pemerintah menaikkan harga BBM,” kata Royke Paat, salah satu petani cap tikus, Minggu (11/5), di Manado.

Royke tidak tahu pasti asal-muasal sebutan cap tikus karena nama itu sudah disebut turun-temurun di Minahasa. Diduga, nama tersebut muncul karena pembuatannya dilakukan di sela-sela pepohonan aren di kebun, tempat di mana tikus hutan biasa hidup.

Kantor berita Antara pernah menyebutkan, program pemanfaatan dan penyulingan cap tikus menjadi bahan bakar nabati (biofuel) pernah diperagakan sejumlah warga di Motoling. Peragaan itu disaksikan langsung beberapa peneliti dari Kementerian Riset dan Reknologi (Ristek) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Petani tidak bisa melanjutkan peragaan penyulingan bahan bakar nabati tersebut ke tingkat nasional, akibat minimnya anggaran serta teknologi dalam membantu kegiatannya.

Tawaran petani Motoling itu dilakukan setelah melihat rencana kenaikan harga BBM, yang sudah meresahkan warga. “Jika pemerintah berminat mengelola hasil cap tikus milik petani menjadi bahan bakar biofuel, itu bisa memberikan efek positif juga bagi kegiatan ekonomi warga, ” katanya.

Peneliti dari Univeversitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Hanny Sangian mengatakan, jika etanol nira menggantikan seluruh BBM kendaraan bermotor, maka setiap satu pohon aren unggul yang dikelola dengan baik akan menghasilkan air nira 20-30 liter per hari. Dalam 20 liter nira terkandung satu liter etanol murni.

Konsumsi BBM sebanyak 200 juta liter per hari, setara dengan 200 juta pohon aren. Dengan begitu, diperlukan dua juta hektare lahan aren untuk dikelola secara baik, sementara Provinsi Sulut memiliki potensi tanaman tersebut melalui budidaya secara sistematis.

Berdasarkan sejumlah penelitian di laboratorium, kadar alkohol cap tikus sekitar 40 persen. Namun, semakin bagus sistem penyulingannya, dan semakin lama disimpan, kadar alkohol cap tikus akan semakin tinggi. Di kalangan warga Minahasa, cap tikus yang baik akan mengeluarkan nyala api biru ketika disulut korek api.

Sementara itu, masih terkait rencana kenaikan harga BBM, Ketua Komite Tetap Moneter dan Fiskal Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Bambang Soesatyo, meminta pemerintah mempertimbangkan penerapan harga khusus bagi angkutan umum, barang, dan jasa.

“Saya minta agar harga BBM untuk sektor ini tidak naik. Kebijakan ini penting agar daya beli masyarakat tidak terpuruk terlalu dalam,” kata Bambang di Jakarta, Minggu (11/5). Menurut Bambang, jika harga BBM dinaikkan 28,7 persen secara merata maka ongkos angkutan umum, barang, dan jasa diperkirakan akan naik 30 hingga 40 persen.

Jika itu terjadi, produsen hanya dihadapkan pada dua pilihan, yakni mengurangi volume produksi hingga 40 persen atau menaikkan harga dalam kisaran yang sama agar bisa bertahan. Padahal, di sisi lain, daya beli masyarakat sudah anjlok akibat lonjakan harga berbagai kebutuhan dalam beberapa bulan terakhir ini.

Kalau kenaikan biaya transportasi umum, angkutan barang dan jasa sebesar 30-40 persen itu bisa dihindari, tekanan terhadap laju inflasi berkurang signifikan,” ujarnya.

Dengan demikian, lanjut dia, kenaikan harga barang dan jasa dalam skala besar juga otomatis terhindarkan, karena biaya distribusi bisa dipertahankan pada tingkat yang sekarang.

“Pemerintah harus bekerja keras mencari cara apa pun yang sah untuk bisa meringankan biaya kehidupan rakyat selain lewat Bantuan Langsung Tunai (BLT) Plus,” tegasnya.
Sumber perempuan.com

Juni 2008

PRODUKSI ETANOL BISA CUKUPI KEBUTUHAN BBM RI

Oleh: Ester Nuky, Investor Daily,  25/06/2008

Sumber: http://www.mail-archive.com/

JAKARTA, Investor Daily

Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) bekerja sama dengan pemerintah daerah akan mengembangkan perkebunan aren seluas empat juta hektare (ha), untuk memproduksi bioetanol (pengganti bensin).

Sejumlah kalangan menilai pengembangan perkebunan aren untuk biofuel (bahan  bakar nabati/BBN) feasible atau layak dikerjakan. Berbeda dengan sawit yang dinilai boros air, aren bersifat menahan air. Ditambah dengan sifatnya yang cocok ditanam di lahan miring, tanaman ini sekaligus bisa untuk penghijauan.

“Selain bisa untuk penghijauan, investasinya jauh lebih murah ketimbang sawit. Jika investasi sawit mencapai Rp 28 juta-35 juta per ha hingga tanaman berproduksi (umur empat tahun), investasi aren hanya berkisar Rp 15 juta per ha hingga tanaman mulai dipanen (7-10 tahun),” ucap Winarno.

Per panen (dua hari hingga seminggu sekali), lanjutnya, aren mampu menghasilkan pendapatan bagi petani sebesar Rp 1,5 juta per ha, selama 7-10 tahun. Sementara itu, per bulan, petani sawit pendapatannya hanya berkisar Rp 1,25 juta per ha, meski umur produktif tanaman mencapai 21-26 tahun.

Johan menjelaskan, satu ha aren bisa menghasilkan 270 liter bioetanol, yang harganya kini sekitar Rp 8.000 per liter. Asumsinya, satu ha bisa ditanami 150 pohon, yang akan menghasilkan 20 liter nira atau 1,8 liter bioetanol per panen.

“Dijual dalam bentuk nira saja juga bisa, baik untuk gula aren maupun minuman tradisional. Per liter nira seharga Rp 1.000,” ucapnya

Juli 2008

Hasyim Djojohadikusumo Berminat Tanam Modal Gula Aren di Sulut

Sumber: Antara News, 04 Juli 2008; http://www.antara.co.id/

Manado (ANTARA News) – Pengusaha nasional Hasyim Djojohadikusumo berminat menanamkan modalnya untuk pengembangan produksi gula aren dan etanol di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Di hadapan Gubernur Sulut, Sinyo H. Sarundajang, di ruang Very Important Person (VIP) Bandara Sam Ratulangi Manado, Jumat, Hasyim mengatakan bahwa potensi tanaman aren yang cukup banyak di daerah itu menjadi pertimbangannya untuk menanamkan modal.

“Sulut potensial penghasil gula aren dengan adanya pohon aren yang intensif dibudidayakan petani dan ini merupakan peluang investasi,” kata Hasyim.

Sementara itu, Sarundajang menyambut baik rencana investasi gula aren dan etanol sebab diyakini akan semakin meningkatkan ekonomi daerah Nyiur Melambai itu.

Gula aren, kata Sarundajang, merupakan salah satu komoditi yang banyak menghidupi petani Sulut saat ini, menyusul harga produk tersebut semakin membaik, sehingga memotivasi petani memproduksi dalam jumlah lebih banyak.

“Pemerintah Provinsi Sulut bahkan menawarkan kerjasama investasi dapat ditingkatkan ke sektor lainnya terutama perikanan dan kelautan, yang menjadi salah satu sektor unggulan daerah,” kata Sarundajang.

Potensi investasi di sektor perikanan, menurut dia, yakni laboratorium kelautan dan perikanan, sebab hingga saat ini Sulut masih belum memilikinya.

Sementara itu, potensi di bidang perkebunan yakni pengembangan integrated coconut atau urunan kelapa sehingga dapat lebih beragam diantaranya, sabut kelapa bisa dibuat bahan baku untuk bahan bangunan rumah dan bisa diekspor, katanya menambahkan. (*)

Luar Jawa berpotensi sebagai raja Bioetanol

Sumber: Trubus, Juli 2008

Menipisnya pasokan minyak bumi berakibat melonjaknya harga hingga US$100/barel. Pemerintah pun semakin berat menanggung beban subsidi bahan bakar minyak. Menaikkan harga BBM menjadi salah satu pilihan. Langkah itu semestinya tidak perlu terjadi seandainya 1,25-juta hektar sagu di Papua dan Maluku, serta 2-juta aren di Minahasa Utara dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol.

Sagu salah satu sumber pati tertinggi. Setiap hektar sagu menghasilkan 25 ton pati. Jumlah itu jauh lebih tinggi ketimbang kadar pati beras dan jagung yang masing-masing hanya 6 dan 5,5 ton/ha. Bila diolah menjadi bioetanol bisa menghasilkan 4.000-5.000 liter/ha/tahun.

Seandainya sejuta hektar saja yang diolah menjadi etanol, dapat dihasilkan sekitar 4-miliar-5-miliar liter bietanol/tahun. Jumlah itu dapat memenuhi kebutuhan premium di Papua yang hanya 100-juta liter/tahun atau surplus 3,9-miliar-4,9-miliar liter/tahun. Dengan begitu, Papua justru menjadi pemasok kebutuhan bahan bakar di daerah lain.
Cukup

Potensi aren sebagai bahan baku etanol juga tak kalah hebat. Dari sebatang pohon Arenga pinata diperoleh 15-20 liter nira/hari. Nira itulah yang nantinya difermentasi menjadi bioetanol. Jika dalam setahun aren disadap selama 200 hari, total nira yang dihasilkan 3.000-4.000 liter/pohon. Untuk menghasilkan seliter bioetanol diperlukan 15 liter nira. Jadi, setiap pohon bisa menghasilkan 200 liter etanol/tahun. Bila seluruh populasi aren di Minahasa Utara itu diolah menjadi bioetanol, dapat dihasilkan 400-juta liter/tahun.

Itu baru potensi bioetanol yang dihasilkan dari tanaman liar di hutan-hutan. Belum lagi bila lahan kritis yang ada di masing-masing daerah juga digunakan untuk budidaya tanaman bahan baku bioetanol. Di Papua saja jumlah lahan kritis mencapai 2.935.375 ha. Seandainya seluruh lahan itu ditanami bahan baku bioetanol dengan produktivitas minimal 4.000 liter/ha/tahun, akan menghasilkan 11,7-miliar liter bioetanol/tahun.

Jumlah itu dapat memenuhi kebutuhan premium di Pulau Jawa yang mencapai 12-miliar liter/tahun. Jawa memang paling rakus mengkonsumsi bensin, yakni mencapai 70% dari total konsumsi bensin nasional. Namun, ia paling kurus potensi bioetanolnya, hanya 1,297-miliar liter/tahun. Bila Papua memanfaatkan kekayaan mereka untuk memproduksi bioetanol, ia akan jadi raja energi di tanahair.

Tak hanya Papua yang kaya sumber bioenergi. Pulau-pulau besar seperti Sumatera dan Kalimantan juga menyimpan potensi yang sama. Menurut Dr M Arief Yudiarto, peneliti Balai Besar Teknologi Pati, kedua pulau itu berpotensi menghasilkan masing-masing 11,6-miliar liter dan 11,8-miliar liter bioetanol/tahun. Dengan menggabungkan potensi kedua pulau itu saja, kebutuhan premium nasional yang mencapai 17-miliar liter/tahun dapat dipenuhi. (Imam Wiguna)

Agustus 2008

Aren, Alternatif Lain Untuk Bahan Bakar

Ema Nur Arifah – detikBandung, Sabtu, 02/08/2008 15:28 WIB
Sumber: http://bandung.detik.com/

Bandung – Ketika krisis energi terus menghampiri, maka diperlukan alternatif lain untuk menghalau krisis tersebut. Di Sulawesi Utara misalnya, jika anda mengenal aren sebagai bahan baku gula, tidak begitu dengan mereka.

Aren ternyata tak hanya bisa diolah menjadi gula dan minuman tapi bisa menjadi bahan baku untuk pembuatan bioetanol. Selain ramah lingkungan, bioetanol ini juga lebih murah.

Workshop pembuatan bioetanol ini dapat ditemui di even Bandung Kotaku Hijau, Lapangan Tegallega, Sabtu-Minggu (2-3/8/2008).

Menurut Komisaris Utama PT Seho Energi, Johan A. Mononutu, populasi pohon aren di Minahasa Selatan dan Minahasa Utara sebanyak 3 juta.

“Baru 30 persennya saja dari satu pohon yang dimanfaatkan yaitu jadi gula dan minuman sisanya kami manfaatkan sebagai bioetanol,” jelas Johan.

Menurut Johan, teknologi yang digunakan adalah teknologi dalam negeri binaan dan arahan dari BPPPT. “Namun baru tiga bulan ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat lokal,” ungkapnya.

Johan mengatakan, untuk yang kadar bioetanol 40-50 persen bisa digunakan untuk pengganti minyak tanah, untuk kadar 80-90 persen bisa digunakan sebagai bahan bakar diesel atau genset sedangkan untuk kadar 90-100 persen bisa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.

Pembuatan bioetanol ini melalui dua proses yaitu destilasi (penyulingan) dan dehidrasi. Destilasi tahap perubahan hingga menjadi etanol 90 persen. Sedangkan tahap dehidrasi mengubahnya menjadi bioetanol murni.

“Dari satu pohon bisa menghasilkan 1 liter etanol tiap hari dengan harga Rp 5.500  per liter,” tuturnya. Sejak awal pembuatan hingga saat ini sudah menghasilkan omzet sebesar Rp 1 miliar.

Menurut Johan, pihaknya meminjamkan alat untuk memproses aren jadi bioetanol kepada kelompok-kelompok petani aren. Setelah menjadi bioetanol baru dibeli oleh perusahaannya.

“Ya, dari masyarakat untuk masyarakat,” tandasnya. (ema/ern)

Aren pun Bisa Menjadi Bensin

Sumber: TEMPO Interaktif, Senin, 04 Agustus 2008 | http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2008/08/04/brk,20080804-129635,id.html

TEMPO Interaktif, BANDUNG:– Krisis energi memaksa orang memunculkan beragam kreativitas. Aren yang selama ini identik sebagai bahan baku gula dan minuman keras ternyata bisa menjadi bahan untuk membuat etanol. Proyek yang dikembangkan Johan Mononutu dari Sulawesi Utara itu ramah lingkungan dan murah meriah.

”Hanya aren yang sudah asam yang bisa dibuat menjadi etanol,”kata Johan kepada Tempo ketika ditemui di Lapangan Tegallega, Minggu (3/8).

Komisaris PT Seho Energi ini selama dua hari mengelar workshop pembuatan etanol di pagelaran “Bandung Kotaku Hijau” yang digelar selama dua hari di Lapangan Tegallega, Bandung. Ia memboyong seluruh peralatannya dari kampungnya.

Johan memulai proyek ini pada tahun 2007 di Minahasa Selatan atas dukungan pemerintah daerah. Ia melihat populasi pohon aren di Minahasa, bisa dimanfaatkan untuk menjadi bahan bakar.

Teknologi yang dipakai pun hanya destilator dan dehidrator.
Proses pembuatan bio-etanol ini diawali dengan proses fermentasi nira aren selama 3 hari sejak disadap. Kemudian disuling di dalam destilator yang menghasilkan etanol kadar 90 – 94 persen.

Lalu segera diproses dengan alat dehidrator dengan bahan pembantu molekul sieve yang menghasilkan bio-etanol 100 % kualitas Fuel Grade. Proses destilasi menjadikan etanol 90 persen. Adapun dehidrasi mengubahnya menjadi bioetanol murni. ”Komoditi ini sudah layak untuk pencampuran bahan bakar mobil dan industri,”ujar Johan.

Etanol dengan kadar 70 persen menurut Johan sudah bisa dipakai sebagai bahan bakar di rumah tangga. Biasanya, yang berkadar di bawah 70 persen dipakai pengganti minyak tanah. Adapun yang lebih tinggi, bisa dipakai sebagai bahan bakar diesel atau genset. Sedangkan yang 90-100 persen bisa dipakai sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.

Bahan bakar dari bio-etanol dari aren sendiri punya keistimewaan. Ia tak akan mengeluarkan asap bila dibakar. Alias bebas polusi.

Saat ini selain aren, Johan juga menjelaskan ada bahan lain yaitu sorgum. ”Menarik dengan sorgum karena sorgum adalah sejenis tanaman yang sudah sukses dimana-mana seperti Amerika, India, Kanada. Bijinya dapat dibuat tepung, batangnya diperas menjadi air di nira untuk dibuat etanol,”ujarnya. Adelheid Sidharta

Gula aren laris manis

Oleh Sepudin Zuhri, Kontributor Bisnis Indonesia; Selasa, 12/08/2008

Sumber:  http://web.bisnis.com/

Tak banyak yang mengenal pohon aren atau enau. Padahal, pohon yang banyak tersebar di seluruh wilayah Nusantara ini memiliki banyak manfaat, termasuk sebagai penghasil gula.

Pohon aren banyak tumbuh di Kendal, Sumedang, Sukabumi, Tasikmalaya, Rangkasbitung, Lebak, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, hingga Papua.

Gula aren diperoleh dari sari gula atau yang sering disebut sebagai nira, yaitu tangkai bunga jantan yang dapat disadap ketika tanaman aren berumur lima tahun dengan puncak produksi pada umur 15-20 tahun.

Nira diolah menjadi gula dalam bentuk padat, bubuk dan cair, atau dapat pula diolah lebih lanjut menjadi cuka dan alkohol.

Gula aren berbeda dengan gula biasa. Dibandingkan dengan gula pasir, gula dari pohon enau ini dapat digunakan untuk semua keperluan, mulai dari pemanis minuman, dan bumbu masakan.

Makanan pempek khas Palembang yang enak konon karena menggunakan gula aren sebagai pilihan salah satu pemanisnya.

Kelebihan lainnya, gula yang terbuat dari nira ini tidak mengandung bahan kimia dan bisa menjadi obat. Kandungan kalorinya dan glisenik indeknya yang rendah membuat gula aren tidak berbahaya bagi penderita diabetes.

Ini tampaknya cocok dengan gaya hidup sehat yang semakin populer. Masyarakatnya juga makin selektif mengkonsumsi makanan. Boleh jadi, meski saat ini masih kalah populer dengan gula pasir, gula aren makin banyak dicari pembeli.

“Gula aren produk organik,” ujar Indrawanto, pemilik CV Diva Maju Bersama. Indrawanto merupakan pengusaha gula aren yang sukses merintis bisnisnya sejak 2005.

Diva Maju Bersama mengolah nira menjadi gula aren semut (kristal) dan gula aren cair di Tangerang, Banten. Indrawanto menerima pasokan aren dari para petani setempat untuk diolah menjadi gula dengan kemasan sachet, ukuran 0,5 kg dan 25 kg.

Pelanggannya tidak hanya di Banten dan Jakarta, tetapi sudah meluar ke daerah lain di Sumatra, dan Kalimantan.

Harga aren lebih mahal 30% dibandingkan gula pasir. Tapi, menurut Indrawanto, hal tersebut tidak menjadi masalah karena ada nilai tambah yang ditawarkan produk gula nira ini.

Tak hanya Diva, Koperasi Serba Usaha (KSU) Sukajaya juga menjadi pemain gula aren yang terbilang sukses. Koperasi yang berbasis di Lebak, Banten, ini sudah menangani bisnis gula aren sejak berdiri pada 1999.

Berdasarkan riset Burhanuddin bertajuk Prospek Pengembangan Usaha Koperasi dalam Produksi Gula Aren, tiga tahun lalu KSU Sukajaya sudah menangani bisnis gula aren hingga 50 ton per bulan.

Penjualan di pasar regional (Jabotabek) dilakukan melalui pasar modern seperti Giant, Hypermarket, Sogo Supermarket, dan Kem Chicks.

Potensi permintaan pasar domestik masih terbuka lebar. Permintaan gula aren ditaksir mencapai 120 per bulan, dan pada musim tertentu seperti bulan puasa dan Lebaran, bisa mencapai 180 ton.

Potensi permintaan gula aren makin besar, mengingat industri makanan dan minuman terus bertumbuh. Gula aren bisa menjadi substitusi gula rafinasi bahan baku yang selama ini masih diiimpor.

Masalahnya, memang ada pada harga yang belum komptetitif.

Meski pasar dalam negeri belum tergarap secara maksimal, KSU Sukajaya melakukan terobosan pasar ekspor ke Jerman bekerja sama dengan GTZ melalui sistem bagi hasil. Harga jual ekspor mencapai US$2 per kg, sedangkan harga pokok produksi ditaksir US$1.

Untuk menangkap peluang lebih besar, SKU Sukajaya telah mengusahakan penambahan lima sentra budidaya tanaman aren seluas 3 ha, agar petani sebelumnya hanya menyadap tiga pohon per hari bertambah menjadi 20 pohon.

Koperasi ini juga melakukan mekanisasi produksi, untuk menjamin keberlangsungan produksi, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas yang standard pasar.

Ryuji Nishi, konsultan bisnis gula aren, mengungkapkan peluang produk pangan dari Indonesia di Jepang terbuka. Gula aren yang diminati tidak mengandung bahan kimia dan berasal dari tanaman organik.

Untuk mengembangkan ekspor gula aren ke Jepang perlu mencari mitra di Jepang, seperti produsen makanan khas Jepang, produsen gula pasta atau pemilik kedai kopi.

Harga jenis gula aren di Jepang sebulan terakhir, seperti dikutip http://www.divafood.indonetwork.co.id, palm sugar Y735 per 200 gram, apple sugar Y1000-2000 per kg, brown sugar Y240 per 0,5 kg, crystal sugar JPY160 per 0,5 kg, gula pasta Y 500 per 0,5 kg.

Pemasok gula aren di Jepang saat ini didominasi Thailand yang menguasai pasar 49%, Australia 39%, dan Afrika Selatan 12%. Bila saja, potensi gula aren ini dikembangkan, Indonesia tentu bakal meraup devisa lebih besar lagi. (redaksi@bisnis.co.id)

September 2008

78.000 Ha lahan Perhutani untuk tanaman bioetanol

Sumber: http://web.bisnis.com/; Jumat, 26/09/2008

SEMARANG: Perum Perhutani Unit I di Jawa Tengah (Jateng) tahun ini mengalokasikan lahan seluas 78.000 hektare (ha) lebih untuk pengembangan tanaman penghasil bioenergi, bioetanol dan yang tidak bersinggungan dengan kepentingan pangan.

Wakil Kepala Unit Perum perhutani Jateng Bambang Setia Budi mengatakan jenis tanaman sumber bahan baku bioenergi yang akan dikembangkan adalah nyamplung seluas 10.000 ha, aren (16.000 ha), jarak (34.000 ha), siwalan (3.000 ha), dan sorghum (4.000 ha). “Masing-masing lokasi penanam disesuaikan dengan kondisi iklim,” katanya kemarin di Semarang.

Dia menyebutkan untuk tanaman nyamplung pihaknya mengalokasikan lahan setiap tahun sekitar 10.000 ha di 14 Kesantuan Pemangkuan Hutan (KPH) yang ada. Nyamplung ditanam sebagai tanaman pengisi dan tepi tanaman pokok itu diperkirakan mampu menghasilkan 50 kg per pohon.

Bambang menjelaskan perkiraan produksi bioetanol per pohon mencapai 50 kg, sementara jumlah tanaman nyamplung setiap hektare lahan mencapai 200 pohon.

Bambang menjelaskan untuk tanaman Nyamplung, Perhutani merencanakan penamanam setiap tahun 10.000 ha selama 10 tahun, sehingga lahan yang akan digunakan untuk penanaman nyamplung seluruhnya mencapai 100.000 ha.

Asumsi harga

Jika seluruh lahan seluas 100.000 ha berhasil ditanami nyamplung, maka produksi bioetanol bisa mencapai sejuta liter. Dengan asumsi harga per liter bioetanol sebesar Rp1.000 makan hasil penjualan bioetanol nyamplung bisa mencapai Rp1 triliun.

Untuk tanaman Aren, Perum Perhutani Unit I menanam di atas lahan seluas 16.000 ha yang tersebar di delapan KPH, yaitu KPH Pati, Surakarta, Kedu utara, Banyumas Barat, Banyumas Timur, Pekalongan Barat, dan KPH Pekalongan Timur. Rata-rata setiap KPH menanam 2.000 ha atau setara dengan 400.000 pohon.

Pada 2008 ini Perhutani akan menanam sebanyak 200.000 pohon atau setara dengan 1.000 ha. Selanjutnya, kata Bambang, pada 2009 hingga 2013 akan dilakukan penaman Aren sekitar 3.000 ha per tahun atau identik dengan 600.000 batang per tahun sehingga akan diperoleh tanaman aren sebanyak 16.000 ha atau 3,2 juta pohon di delapan KPH.

Penanaman siwalan akan dilakukan seluas 3.000 ha yang akan dimulai pada 2009. sorghum pelaksanaan penanaman akan dilakukan secara bertahap, yaitu pada 2008/ 2009 seluas 25 ha, sedangkan 2009/2010 seluas 4.000 ha di lokasi kebun tanaman Kayu Putih di KPH Gundih dan KPH Telawa.

Sementara, tanaman jarak, Perhutani sudah memelai penanaman sejak 2007 seluas 34.721 ha atau 9 juta pohon. Pada 2008/2009 ini rencana penanaman sorghum seluas 11.032 ha, sehingga luas total tanaman sorghum mencapai 45.754 ha.

Lokasi penaman di lima KPH yaitu KPH Purwodadi, Gundih, Pati, Semarang, dan kph Banyumas Barat. Oleh Endot Brilliantono

Oktober 2008

2009, Disbun Salurkan 30 Ribu Bibit Aren

Sumber: http://beliti.wordpress.com/Oktober 12, 2008 oleh Candra

Bupati Musi Rawas H Ridwan Mukti beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa kabupaten musi rawas saat ini sudah terkenal dengan Gula Aren yang memiliki kualitas yang sangat baik bahkan ada sebagan telah diekspor keluar negeri. Untuk lebih meningkatakan produktifitas gula aren ini, bupati telah memplotkan daerah di kabupaten yang memiliki potensi pengembangan kelapa aren. Menyambut rencana bupati mura ini, Instansi terkait dalam hal ini dinas perkebunan kabupaten musi rawas pada tahun 2009 mendatang akan menyalurkan bibit aren unggulan ke tiga kecamatan yang berdasrkan persyaratan memenuhi syarat tumbuh untuk tanaman aren ini.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Perkebunan Ir Jauhari Aswan Den melalui Kepala Bidang Program Disbun Mura Eman Suharman SP kepada Koran ini diruang kerjanya.”tiga kecamatan yang akan disalurkan bibit aren diantaranya kecamatan Karang Jaya, Rawas Ulu dan Ulu Rawas. Ke 3 daerah ini akan dijadikan daerah penghasil gula aren tersbesar di kabupaten musi rawas bahkan di sumatera selatan.”Jelas Eman mengungkapkan untuk menumbuh kembangkan tanaman aren ini telah dilakukan pada tahun anggaran 2007 dan 2008 tetapi pada tahun anggaran tersebut dikelola oleh dinas pertanian kabupaten musi rawas untuk 2 kecamatan yakni selangit, STL Ulu Terawas, karang jaya, rawas ulu dan ulu rawas.

Mengapa baru tahun 2009 dikelola oleh Dinas Perkebunan, Eman mengatakan berdasarkan Keputusan menteri pertanian No 74/KPTS/TP.500/2/98 tanggal 26 Februari 1998 tentang Daftar Komuditas Tanaman Binaan dirjen perkebunan mengungkapkan 145 Komoditas yang ditangani oleh dinas perkebunan salah satunya sawit.”berdasarkan kepmentan tersebut maka dinas pertanian menyerahkan untuk pengembangan tanaman aren ini kepada dinas perkebunan yang selama ini pihak pertanian belum mengetahui kepmentan tersebut.”jelasnya

Alasan mengapa pemkab mura menjadikan kecamatan selangit, STL Ulu Terawas, karang jaya, rawas ulu dan ulu rawas sebagai daerah pengahsil gula aren, Eman mengatakan selain daerah tersebut memenuhi syarat untuk ditanami gula aren juga bupati akan menjadikan daerah tersebut sebagai lumbung gula aren.”rencananya bantuan bibit aren tersebut akan disalurkan dalam bentuk bantuan kepada masyarakat dan arahan dinas perkbunan untuk penanaman bibit aren tersebut dengan menggunakan pola agroporestry.”demikian kata Eman.(Candra/Radar Pat Petulai)

Depkop Bantu Rp 2,7 Miliar Bangun Pabrik Gula Aren Di Bengkulu

Sumber: http://beritasore.com/2008/ Sen, 20 Oktober 2008Bengkulu ( Berita ) : Kantor Departemen Koperasi dan UKM akan membantu dana Rp 2,7 miliar untuk membangun pabrik pengolahan gula aren di Kabupaten Rejang Lebong.Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bengkulu Zainal Abiddin mengemukakan di Bengkulu, Minggu [19/10] , bantuan itu awalnya akan dikucurkan pada 2008 tetapi ditunda tahun 2009 namun belum diketahui penyebabnya.Peletakan batu pertama pembangunan industri itu telah dilakukan oleh Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali belum lama ini dan tinggal melanjutkan pembangunan fisik dan pemasangan mesin pengolahnya.

Bantuan dari Depkop dan UKM itu, kata dia, disalurkan lewat Koperasi Ngudi Rukun di Kota Curup, Kabupaten Rejang Lebong yang mengelola industri gula aren itu.

Pembangunan pabrik itu sebenarnya membutuhkan dana sekitar Rp3,940 miliar, namun Menkop dan UKM hanya membantu Rp2,7 miliar dan sisanya akan dibiayai Pemerintah Provinsi Bengkulu dan Pemerintan Kabupaten Rejang Lebong.

Mengenai status lahan yang belum dibebaskan, menurut dia, itu lahan awal, tapi kini Pemkab Rejang Lebong telah menyediakan lahan pengganti di dekat pasar tradisional Curup.

Pembangunan industri pengeolahan gula aren itu mendapat respon dari Menkop dan UKM setelah mendapat rekomendasi dari Balai Penelitian Industri Holtikultura (BPIH) Bogor. “BPIH menyatakan pembangunan industri gula aren itu sangat layak, karena itu Kemneg Koperasi dan UKM pun langsung menyatakan kesanggupannya untuk membantu lewat koperasi Ngudi Rukun,” ujarnya.

Menurut dia, industri itu nantinya akan menghasilkan olahan gula aren sesuai dengan permintaan yakni bisa dalam bentuk batok/balok, gula semut (halus) ataupun gula cair.

Mengenai potensi, kata Zainal, sangat bagus. Industri itu nantinya akan menampung nira dari perkebunan aren masyarakat setempat yang rata-rata mencapai 20 ton per hari. Setiap tujuh liter nira bisa menghasilkan satu kilogram gula aren. ( ant )

Pohon Aren Mulai Langka di Tompobulu

Sumber: http://www.beritakotamakassar.com/Senin, 20-10-2008

PANGKEP, BKM- Dalam beberapa tahun terakhir, pohon aren yang pernah tumbuh hampir sekitar 70 persen di Desa Tompobulu Kecamatan Balocci kini sudah mulai langka. Ratusan pohon mulai punah karena sudah tua.

Beberapa petani di desa yang berada di kaki Gunung Bulusaraung itu, mengaku jika kini kejayaan Tompobulu sebagai penghasil gula aren yang diambil dari pohon enau sudah tidak ada lagi. Muslimin, salah seorang warga di desa itu mengaku, jika pada tahun 1970-an hingga 2000, warga desa sangat sejahtera karena menghasilkan gula aren setiap harinya dari pohon enau, namun kini tidak lagi.

Di desa tersebut, kini hanya tidak sampai 10 orang yang memproduksi gula aren, padahal sebelumnya hampir setiap rumah tangga memproduksi gula aren.

Kepala desa Tompobulu, HM Jabir Turungan yang ditemui oleh koran ini akhir pekan lalu, mengakui jika desa ini sudah semakin sepi dari gula aren. Ia menjelaskan, pemkab sudah memberikan bantuan selama dua tahun ini dengan bibit pohon enau sebanyak 7.000 pohon, namun itu dinilainya masih sangat kurang.

Sementara itu, penyuluh kehutanan setempat, Andi Syukri, juga menjelaskan jika kini pihaknya sudah mengupayakan memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang tata cara budidaya pohon enau dengan baik.
Ia juga mengupayakan penanaman pohon enau secara swadaya sejak dua tahun terkahir. “Kita baru dapat lihat hasilnya lima tahun kemudian,” katanya.

Pohon enau yang mati di desa tersebut rata-rata usaianya sudah mencapai 20-30 tahun, dan pohon tersebut pada umur 10 tahun sudah dapat memproduksi aren hingga 10 tahun kemudian. (K3)

November 2008

Bioetanol dari Pohon Lontar (dan Aren)

Oleh : Himpunan Alumni IPB, Tuesday, 11 November 2008

Sumber: http://kebunaren.blogspot.com/

Hamparan pohon lontar (Borassus flabellifer) yang ter- dapat di Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan (Sulsel), dan beberapa daerah lainnya di Tanah Air, ternyata nilai ekonominya cukup tinggi. Tidak hanya daunnya yang bisa dimanfaatkan untuk atap rumbia atau batangnya untuk bahan bangunan, nira yang dihasilkan lontar, juga sangat besar manfaatnya. Pohon lontar ternyata bisa dimanfaatkan untuk pembuatan bioetanol untuk alkohol medik.

Di beberapa daerah nira hanya dimanfaatkan untuk mem- buat gula merah atau sekadar diminum sebagai tuak. Namun, nira bisa lebih bernilai ekonomi tinggi, jika diolah dengan baik.

Itulah yang ingin ditunjukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan bekerja sama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rote Ndao, dan Badan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Belu.

Upaya kerja sama yang dilakukan adalah pengembangan usaha di bidang produksi bioetanol untuk alkohol medik yang diperoleh dari nira lontar. Kegiatan pengembangan unit usaha produksi bioetanol untuk alkohol medik dari nira lontar bertujuan untuk memproduksi bahan bio medika untuk penyediaan kebutuhan rumah sakit, klinik pengobatan, puskesmas, apotek, laboratorium penelitian, penyedia bahan kimia, dan bioenergi bahan bakar.

Dipilihnya Provinsi NTT sebagai lokasi kerja sama proyek bioetanol dari lontar, karena daerah timur Indonesia itu, selama ini dikenal sebagai daerah yang kaya akan tanaman lontar. Secara tradisional, tanaman ini oleh penduduk setempat dipergunakan sebagai bahan dalam pembuatan minuman beralkohol.

Pengetahuan tradisional tersebut merupakan dasar untuk melangkah menuju proses pembuatan bioetanol. “Kami memang memiliki proyek pengembangan bioetanol dari bahan bakar lontar di NTT,” ujar Murti Martoyo, Kepala Hubungan Masyarakat LIPI kepada SP, Jumat (31/10).

Pasok untuk Dunia

Sementara itu, di tempat terpisah, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Prabowo Subianto, menyatakan, cadangan minyak di perut bumi semakin menipis. Sementara, kebutuhan energi dunia terus meningkat. Sejumlah negara maju yang haus pasokan energi telah mulai menyadari untuk beralih ke bahan bakar nonfosil. Bahan bakar nabati, yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan, menjadi pilihan.

Namun, seperti halnya minyak bumi, bahan bakar nabati tidak mudah diperoleh. Negara-negara yang tinggi kebutuhan energinya, seperti Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa, belum tentu mampu memproduksi bahan bakar yang ramah lingkungan ini.

Dari sisi investasi, tak diragukan, tak ada masalah bagi negara-negara maju untuk mengembangkan bahan bakar nabati. Masalah, justru ada pada ketersediaan bahan baku.

Tanaman sebagai bahan baku bahan bakar nabati, seperti kelapa sawit, jarak, jagung, ubi kayu, aren, dan sagu, justru mudah dijumpai di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Menyadari potensi tersebut, secara gencar, sejak beberapa tahun lalu HKTI telah mengampanyekan perlunya pengembangan bahan bakar nabati. Organisasi nirlaba ini memilih pohon aren sebagai bahan baku bioetanol.

Sejak tahun 2002, HKTI mengembangkan “perkebunan” aren di beberapa wilayah di Sulawesi. Saat ini, yang telah diuji coba untuk menghasilkan bioetanol baru di Minahasa, Sulawesi Utara.

Menurut Prabowo, dibanding tanaman sumber energi lainnya, pohon aren memiliki lebih banyak keunggulan. “Pohon aren mudah ditemukan, menyebar luas di semua wilayah Indonesia. Pengembangan aren untuk bahan bakar tidak berbenturan dengan kepentingan pangan. Selain itu, produksi bahan bakar dari aren tidak mengganggu aspek lingkungan, karena pohon aren bisa tumbuh berdampingan dengan tanaman lain,” kata Prabowo di sela- sela dialog dengan sekitar 1.000 petani di Salatiga, Jawa Tengah, belum lama ini.

Semua bagian dari tanaman aren dapat dimanfaatkan. Bioetanol dihasilkan dari nira atau getah aren. Di Indonesia bioetanol dari aren, sebenarnya telah puluhan tahun dikembangkan. Namun, sejauh ini belum ada yang memproduksinya secara komersial, karena bahan baku yang digunakan juga hanya mengandalkan dari pohon aren yang tumbuh liar.

Pasar Menunggu

Pohon aren mudah tumbuh dan menyebar luas di wilayah perbukitan, pegunungan dan lembah. Tidak harus ditanam pada tanah yang khusus dan tidak memerlukan pemeliharaan intensif. Di Indonesia diperkirakan terdapat sejumlah titik sebaran pohon aren dengan perkiraan areal sekitar 65.000 hektare.

Minahasa merupakan salah satu penghasil nira aren yang tersohor. Apalagi, secara turun temurun masyarakat di Minahasa memiliki keahlian mengolah nira aren menjadi etanol, dengan peralatan sangat sederhana. Etanol yang dihasilkan dari nira aren ini diolah menjadi minuman keras khas Minahasa yang dikenal dengan sebutan “cap tikus”.

Hasil uji coba HKTI di Minahasa, dari satu pohon aren (Arenga pinnata) dapat diperoleh sekitar 15-20 liter nira per hari. Satu hektare lahan dapat ditanami sekitar 671 pohon aren, dan setidaknya sebanyak 70 pohon akan berproduksi sepanjang tahun. Sedangkan sisanya, jika dalam satu tahun, satu pohon disadap selama 200 hari, maka total nira yang dihasilkan mencapai 3.000-4.000 liter per pohon. Untuk menghasilkan satu liter bioetanol diperlukan sekitar 15 liter nira, sehingga setiap pohon aren akan menghasilkan, sekitar 200 liter etanol per tahun. Bila seluruh sebaran pohon aren di Minahasa saja diolah menjadi bioetanol, dalam satu tahun akan dihasilkan setidaknya 400 juta liter bahan bakar yang ramah lingkungan tersebut.

Menurut Prabowo, HKTI akan segera mengembangkan bioetanol dalam skala industri. Mengenai investasi, sejumlah lembaga keuangan internasional telah menyatakan siap membiayai. Untuk membangun satu pabrik bioetanol dengan kapasitas 500 ton per hari diperlukan investasi sekitar US$ 17 juta. “Beberapa investor dari Kanada, Amerika Serikat, dan Brasil siap mendanai. Bahkan, negara-negara itu siap membeli produksi bioetanol kita. Jadi, kalau di dalam negeri tidak ada yang mau membeli, tidak perlu khawatir karena pasar luar negeri sudah menunggu dan siap memborong produk bioetanol kita.

Di pasar Eropa, beberapa waktu lalu harga bioetanol sekitar 600 Euro per ton. Ini potensi devisa yang luar biasa, karena kita memiliki potensi memproduksi bioetanol dalam skala besar,” kata Prabowo

Limbah pati aren akan diolah jadi bahan bakar briket

Sumber: http://klatenonline.com/; SOLOPOS/18 Desember 2008

Tulung (Espos) – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mencanangkan program pemanfaatan limbah pati aren di Desa Daleman, Tulung menjadi bahan bakar briket atau arang.

Oleh karena itu, Dinas ESDM mulai mensosialisasikan pengolahan limbah pati aren menjadi barang bermanfaat ke warga setempat. Pada Rabu (17/12) mereka mengadakan uji coba alat pembakaran limbah pati aren.

”Limbah pati aren di sini sangat mengkhawatirkan karena mencemari lingkungan sekitar. Untuk itu solusi yang paling tepat mengelolanya menjadi sesuatu yang bermanfaat menjadi briket,” ujar Kasi Pengembangan Ketenaga Listrikan ESDM Provinsi Jateng, Imam Nugraha kepada Espos, di sela-sela kegiatan.
Dia melanjutkan, dengan menggandeng Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), ESDM akan berperan aktif dan melakukan monitoring terhadap penanganan limbah pati aren di Desa Daleman.

Mereka telah memberikan bantuan lima alat pembakaran dan lima alat pengepresan yang dapat dipergunakan untuk mengolah limbah pati aren menjadi briket. ”Alat tersebut sangat sederhana, masyarakat bisa merakitnya sendiri. Bahan dasar alat pembakarannnya dari drum sementara pengepresan dari paralon. Penggunaannya juga sangat mudah,” jelas dia.

Aren

Imam memaparkan, tidak tertanganinya persoalan limbah pati aren di Desa Daleman lebih dikarenakan tidak adanya kontrol serta pengawasan terhadap program yang sudah disosialisasikan. Untuk itu, pencanangan pemanfaatan limbah pati aren menjadi briket kali ini akan ditangani secara serius. ”Briket dari limbah pati aren ini akan menjadi bahan bakar alternatif selain minyak tanah dan gas elpiji. Selain itu, pencemaran limbah pati aren di Daleman ini juga bisa teratasi.”

Sementara itu, Dewan Pakar METI, Sri Endah Agustina melanjutkan, permasalahan pencemaran limbah pati aren di Daleman sudah menjadi isu nasional bahkan internasional. Masyarakat Daleman, harus mendapatkan bantuan dan dukungan dari permerintah agar bisa mengatasi persoalan tersebut untuk mengatasinya.

Menurut Kepala Desa (Kades) Daleman, Bactiar Joko Widagdo limbah pati aren yang dihasilkan dari ratusan unit industri rumah tangga warga tersebut bisa mencapai 60 ton per hari. Akibatnya, dengan volume yang tinggi disertai kurangnya kapasitas tempat pembuangan, limbah-limbah tersebut hanya dibuang ke sungai dan tepi jalan. Bahkan, dampak negatif lainnya ikut mencemari beberapa sumur warga sekitar.
”Setiap ada program penanganan limbah seperti ini, kami sangat antusias dengan harapan masalah ini bisa lekas tertangani”. – Oleh : m74

Kawasan Hutan untuk Pengembangan Tanaman Bio Energy

Sumber: Kompas,  Selasa, 25 November 2008 ; http://202.146.4.17/read/

TEMANGGUNG, SELASA – Tahun ini, Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah akan memulai pengembangan tanaman penghasil bio energy di kawasan hutan lindung dan hutan produksi di Jawa Tengah. Tanaman yang akan dikembangkan adalah jenis nyamplung, sorgum, dan aren.

Kepala Biro Pembinaan Hutan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah Suwarno mengatakan, tahun ini, program pengembangan tanaman penghasil bio energy akan dilakukan dengan menanam 200.000 bibit aren, 2,2 juta bibit nyamplung, serta menanam sorgum di areal seluas 250 hektar.

“Ketiga tanaman tersebut nantinya dapat diolah untuk menghasilkan bioetanol,” ujarnya, saat ditemui di sela-sela acara Bulan Menanam Nasional dan Penanaman Sengon di Desa Selosabrang, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Selasa (25/11). Selama lima tahun ke depan, aren direncanakan akan ditanam di areal seluas 16.000 hektar.

Penanaman akan dilakukan di hutan lindung di batas desa, serta di hutan lindung. Setiap satu hektar di kawasan hutan lindung akan ditanami 200.000 bibit aren. Sesuai dengan karakteristik tanamannya, aren akan ditanam di daerah-daerah pegunungan seperti Temanggung, Banyumas, Pekalongan, Purworejo, dan Wonosobo.

Untuk pengembangan nyamplung, selama 10 tahun mendatang akan dilaksanakan di areal seluas 100.000 hektar. Nyamplung nantinya akan ditanam di kawasan hutan produksi jati menyebar di seluruh Jawa Tengah.

Selama dua hingga tiga tahun ke depan, areal penanaman sorgum direncanakan mencapai 4.000 hektar. Sorgum nantinya akan ditanam di kawasan hutan produksi dengan jenis tegakan kayu putih di Grobogan.

Produksi bioetanol dari aren, menurut Suwarno, terbilang luar biasa besar. Untuk satu hektar tanah yang ditanami 200.000 bibit aren, akan menghasilkan sekitar 4.000 liter bioetanol.

Jika harga satu liter bioetanol mencapai Rp 5.000, maka dipastikan satu hektar aren akan menghasilkan pemasukan Rp 2 juta, ujarnya.

Selain itu, tiga tanaman penghasil bio energy tersebut juga memberi beragam manfaat lain. Aren dapat berfungsi optimal menjaga cadangan air dalam tanah, dan buahnya, berupa kolang kaling, dap at dikonsumsi. Untuk sorgum, selain memanfaatkan batangnya untuk bioetanol, bijinya dapat diolah menjadi tepung untuk pembuatan roti.

Selain memberikan solusi terhadap krisis energi, menurut Suwarno, pengembangan tanaman penghasil bio energy ini dilakukan untuk meningkatkan fungsi kawasan hutan, tidak hanya sebagai penghasil kayu tapi juga sebagai penghasil energi. “Dengan tidak terus-menerus memanfaatkan kayu yang dihasilkan, maka kita pun secara otomatis akan menjaga fungsi hutan sebagai kawasan konservasi,” ujarnya. (EGI)

293.850 batang pohon ditanam di Jepara

Sumber: http://www.wawasandigital.com/; Sabtu, 29 November 2008
JEPARA – Pemerintah Kabupaten Jepara menunjuk tiga desa sebagai percontohan penanaman pohon dalam program Bulan Menanam Nasional 2008. Tiga desa tersebut adalah Desa Kepuk (Bangsri), Tanjung (Pakis Aji) dan Bungu (Mayong). Dari tiga desa tersebut Pemkab Jepara berharap bisa mendapatkan indikator keberhasilan program ini, sekaligus sebagai contoh bagi desa-desa dan kelompok tani lainnya.

Bupati Jepara bersama dengan pejabat-pejabat teras di Kabupaten Jepara, Jumat (28/11) memulai program ”Bulan Menanam Nasional”. Kegiatan ini dipusatkan di Desa Kepuk (Bangsri). Secara simbolis para pejabat melakukan penanaman beberapa bibit pohon di sebuah lahan kosong milik desa setempat.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Jepara, Drs Wahyudi menyatakan, program ini akan digelar dalam dua tahap. Setelah dicanangkan bupati, Jumat (28/11), kegiatan yang bersifat massal akan kembali dilakukan pada bulan Desember mendatang. Sampai saat ini Pemkab Jepara mamastikan sudah ada 293.850 batang bibit dari berbagai jenis pohon siap ditanam di wilayah Kabupaten Jepara.

”Turus jalan, sepadan sungai, halaman tempat ibadah, lapangan, kuburan, lahan-lahan milik desa dan halaman sekolah merupakan sasaran dari kegiatan ini. Diharapkan setiap lahan kosong bisa ditanami pohon,” ujar Wahyudi.

Berkelanjutan
Departemen Kehutanan yang menjadi lokomotif kegiatan ini melalui BP DAS Pemali Jratun-Semarang mengirimkan 50.000 batang bibit. Jenisnya beragam mulai dari Jati, Sengon, Glodokan, Ketapang, Mangga, Rabutan dan sukun. Sedangkan dari Dishutbun Jepara menyediakan 210.250 batang bibit dari berbagai jenis.

Tidak ketinggalan, Jepara Forest Conservastion (JFC), sebuah lembaga swadaya masyarakat menyumbangkan 33.600 batang bibit yang terdiri dari tanaman rimba campur dan tanaman MPTS seperti kopi, coklat, aren dan randu.

Bupati Jepara, Drs Hendro Martojo berharap gerakan ini tidak hanya menjadi sebuah seremoni tanpa ada kelanjutannya. Kesadaran masyarakat akan pentingnya tanaman untuk penghijauan adalah muara utama yang harus diwujudkan. Pihaknya berharap seluruh jajarannya tidak hanya selesai dalam batas melakukan seremonial saja. Namun lebih dari itu sebuah tanggung jawab moral dari seluruh masyarakat harus bisa diwujudkan. dis-ip

78.000 Ha lahan Perhutani untuk tanaman bioetanol

Sumber: http://www.inaplas.org

SEMARANG: Perum Perhutani Unit I di Jawa Tengah (Jateng) tahun ini mengalokasikan lahan seluas 78.000 hektare (ha) lebih untuk pengembangan tanaman penghasil bioenergi, bioetanol dan yang tidak bersinggungan dengan kepentingan pangan. Wakil Kepala Unit Perum perhutani Jateng Bambang Setia Budi mengatakan jenis tanaman sumber bahan baku bioenergi yang akan dikembangkan adalah nyamplung seluas 10.000 ha, aren (16.000 ha), jarak (34.000 ha), siwalan (3.000 ha), dan sorghum (4.000 ha). “Masing-masing lokasi penanam disesuaikan dengan kondisi iklim,” katanya kemarin di Semarang.

Dia menyebutkan untuk tanaman nyamplung pihaknya mengalokasikan lahan setiap tahun sekitar 10.000 ha di 14 Kesantuan Pemangkuan Hutan (KPH) yang ada. Nyamplung ditanam sebagai tanaman pengisi dan tepi tanaman pokok itu diperkirakan mampu menghasilkan 50 kg per pohon. Bambang menjelaskan perkiraan produksi bioetanol per pohon mencapai 50 kg, sementara jumlah tanaman nyamplung setiap hektare lahan mencapai 200 pohon.

Bambang menjelaskan untuk tanaman Nyamplung, Perhutani merencanakan penamanam setiap tahun 10.000 ha selama 10 tahun, sehingga lahan yang akan digunakan untuk penanaman nyamplung seluruhnya mencapai 100.000 ha.

Asumsi harga

Jika seluruh lahan seluas 100.000 ha berhasil ditanami nyamplung, maka produksi bioetanol bisa mencapai sejuta liter. Dengan asumsi harga per liter bioetanol sebesar Rp1.000 makan hasil penjualan bioetanol nyamplung bisa mencapai Rp1 triliun.

Untuk tanaman Aren, Perum Perhutani Unit I menanam di atas lahan seluas 16.000 ha yang tersebar di delapan KPH, yaitu KPH Pati, Surakarta, Kedu utara, Banyumas Barat, Banyumas Timur, Pekalongan Barat, dan KPH Pekalongan Timur. Rata-rata setiap KPH menanam 2.000 ha atau setara dengan 400.000 pohon.

Pada 2008 ini Perhutani akan menanam sebanyak 200.000 pohon atau setara dengan 1.000 ha. Selanjutnya, kata Bambang, pada 2009 hingga 2013 akan dilakukan penaman Aren sekitar 3.000 ha per tahun atau identik dengan 600.000 batang per tahun sehingga akan diperoleh tanaman aren sebanyak 16.000 ha atau 3,2 juta pohon di delapan KPH.

Penanaman siwalan akan dilakukan seluas 3.000 ha yang akan dimulai pada 2009. sorghum pelaksanaan penanaman akan dilakukan secara bertahap, yaitu pada 2008/ 2009 seluas 25 ha, sedangkan 2009/2010 seluas 4.000 ha di lokasi kebun tanaman Kayu Putih di KPH Gundih dan KPH Telawa.

Sementara, tanaman jarak, Perhutani sudah memelai penanaman sejak 2007 seluas 34.721 ha atau 9 juta pohon. Pada 2008/2009 ini rencana penanaman sorghum seluas 11.032 ha, sehingga luas total tanaman sorghum mencapai 45.754 ha.

Lokasi penaman di lima KPH yaitu KPH Purwodadi, Gundih, Pati, Semarang, dan kph Banyumas Barat.

Desember 2008

KEMNEG KOPERASI BANTU PEMBANGUNAN PABRIK GULA AREN

Sumber:  http://antarabengkulu.blogspot.com/ Senin, 15 Desember 2008

Bengkulu, (ANTARA) – Kementeran Negara (Kemneg) Koperasi dan UKM membantu pembangunan industri pengolahan gula aren di Kabupaten Rejang Lebong, kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bengkulu Zainal Abiddin.
“Kemneg Koparasi dan UKM akan mengucurkan bantuan dana sebesar Rp2,665 miliar untuk pembangunan industri gula aren itu, katanya di Bengkulu, Senin.
Bantuan itu awalnya akan dikucurkan pada 2007, namun karena ada kendala akhirnya ditunda dan baru bisa dicairkan pada 2008.
Peletakan batu pertama pembangunan industri itu telah dilakukan oleh Menteri Negara Koperasi dan UKM Suryadharma Ali belum lama ini, dan tinggal melanjutkan pembangunan fisik dan pemasangan mesin pengolahannya.
Bantuan dari Kemneg Koperasi dan UKM itu, kata dia, disalurkan lewat Koperasi Ngudi Rukun di Kota Curup, Kabupaten Rejang Lebong yang merupakan pengelola industri pengolahan gula tersebut.
Pembangunan industri itu sebenarnya membutuhkan dana sekitar Rp3,940 miliar, namun yang dibantu oleh Kemneg Koperasi dan UKM hanya Rp2,665 miliar, sisanya sebesar Rp770 juta dari pemerintah Provinsi Bengkulu dan Rp400 juta dari Pemkab Rejang Lebong pulus dua hektare tanah untuk lahan pembangunan pabrik itu.
Mengenai status lahan yang belum dibebaskan, menurut dia, itu lahan awal, tapi kini Pemkab Rejang Lebong telah menyediakan lahan pengganti di dekat pasar tradisional Curup.
Pembangunan industri pengeolahan gula aren itu mendapat respon dari Kemneg Koperasi dan UKM setelah mendapat rekomendasi dari Balai Penelitian Industri Holtikultura (BPIH) Bogor.
“BPIH menyatakan pembangunan industri gula aren itu sangat layak, karena itu Kemneg Koperasi dan UKM pun langsung menyatakan kesanggupannya untuk membantu lewat koperasi Ngudi Rukun,” ujarnya.
Menurut dia, industri itu nantinya akan menghasilkan olahan gula aren sesuai dengan permintaan yakni bisa dalam bentuk batok/balok, gula semut (halus) ataupun gula cair.
Mengenai potensi, kata Zainal sangat bagus. Industri itu nantinya akan menampung nira dari perkebunan aren masyarakat setempat yakni rata-rata mencapai 20 ton per hari, sebab dari tujuh liter nira bisa menghasilkan satu kilogram gula aren.

Prabowo Janji Cari Solusi Pasarkan Bioethanol dan Gula Aren

Sumber: KOMENTAR, l 15 Desember 2008

Amurang, KOMENTAR.  Sabtu (13/12) akhir pekan lalu Ketua HKTI (Himpunan Kelompok Tani Indonesia ) Pusat Prabowo Subianto mengun-jungi Kabupaten Minahasa Selatan. Tamu ‘spesial’ ini didampingi Bupati Minsel, Drs Ramoy Markus Luntungan (RML), jajaran Pemkab Minsel serta Kadis Pertanian Propinsi Sulut, Ir Herry Rotinsulu.
Di Minsel, putra Langowan ini meninjau pabrik bioethanol dan pabrik gula aren yang berlokasi di Desa Kapitu Kecamatan Amurang Barat. Dalam kunjungan tersebut, putra Sulut ini dibuat terkesan dengan adanya pabrik Bioethanol dan gula aren di Minsel. “Ini investasi besar buat daerah ini. Dengan adanya pabrik bioethanol dan gula aren tentu membuka harapan baru bagi para petani di daerah ini,” kata Prabowo.

Tak hanya dibuat terkesan, namun Prabowo juga akan menye-riusi investasi besar tersebut. Di mana ia berjanji ikut mencari solusi solusi terhadap pemasaran kedua komoditas tersebut. Sementara itu Bupati Minsel, Drs RM Luntungan menyambut baik niat Prabowo Subianto tersebut yang memajukan petani yang ada di Minahasa Selatan.
Selanjutnya Prabowo dalam kesempatan tersebut sempat menaiki roda sapi dan traktor bersama Bupati RML. Prabowo juga mengadakan penanaman pohon aren dan jagung. Sementara itu, dalam rangkaian kunjungan Prabowo ke tanah Minsel, beliau juga mengadakan tatap muka dengan para petani yang terdiri atas HKTI Minahasa Selatan, KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) dan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani ) di Minsel.(bly)

Kolombia Akan Adopsi Tanaman Enau dari Tomohon

Oleh: Novie Waladow, Suara Pembaruan; 18 Desember 2008

Sumber:  http://www.sinarharapan.co.id/berita/0812/18/nus04.html

Manado – Presiden Kolombia Uribe sangat respek dan ingin mengadopsi tanaman enau atau aren di Tomohon, Sulawesi Utara (Sulut). Topografi tanah di Kolombia dan Tomohon hampir sama dan sangat cocok untuk budi daya tanaman enau. Demikian diungkapkan Wakil Wali Kota Tomohon Sjennie Lineke Watoelangkow dalam bincang-bincang dengan SH di rumah pribadinya yang asri di Tomohon, Rabu (17/12).

Wakil Wali Kota yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Sulut itu beberapa waktu lalu melakukan kunjungan ke Kolombia, Amerika Selatan. Pertemuan dengan Presiden Uribe yang didampingi seluruh anggota kabinetnya berlangsung di Istana Negara, Bogota, Kolombia. Menurut Sjennie, berdasarkan penjelasan Presiden Uribe, di Kolombia belum ada tanaman enau. Oleh karena itu, Uribe sangat respek dan ingin mengadopsi tanaman serbaguna itu ke Kolombia.

”Presiden sangat respek dengan penjelasan saya soal manfaat dan kegunaan lain dari tanaman enau itu, karena selain menghasilkan etanol, juga bisa menghasilkan gula aren,” ujar Sjennie.

Begitu seriusnya kerja sama itu, Presiden Uribe akan mengirim delegasinya yaitu Menteri Pertanian, berkunjung ke Tomohon, Januari atau Februari 2009. Delegasi itu datang ke Tomohon dan akan melihat sekaligus meninjau cara budi daya pohon enau atau aren di Tomohon.Menurut dia, apabila kerja sama ini terjalin, Kolombia menyatakan siap membeli bibit pohon enau di Tomohon yang selama ini berlimpah di areal perkebunan petani enau.

Gubernur Tak Merespons

Menurut Presiden Kolombia, kata Sjennie, negara tersebut sudah menyiapkan sekitar 6 juta hektare lahan untuk budi daya tanaman enau. Selain Kolombia, negara Tanzania juga sangat berminat untuk menanam enau, bahkan utusan perdana menteri Tanzania, Sabtu (20/12), akan datang ke Tomohon untuk membicarakan kerja sama tersebut.

”Namun, kami mengalami kendala sedikit karena hingga Rabu (17/12) belum ada respons dari Gubernur Sulut soal rencana kedatangan delegasi Tanzania. Saya sudah beberapa kali telepon Pak Gubernur, namun teleponnya tak aktif, demikian juga dengan ajudannya. Kedubes Tanzania juga telah beberapa kali menghubungi melalui telepon namun tidak aktif.

Namun, saya sudah siap untuk menjemput delegasi Tanzania karena ini bukan hanya nama baik daerah yang dipertaruhkan, tapi juga negara Indonesia,” ujarnya kecewa.

Salam untuk Yudhoyono

Selain itu, hal yang membanggakan adalah sebuah kepercayaan penting diemban srikandi Sulut yang sudah menggeluti dunia aktivis lingkungan 25 tahun. Ketua DPD Partai Demokrat Sulut ini mendapat kepercayaan Presiden Kolombia membawa pesan khusus kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pesan khusus kenegaraan Kolombia itu kata Sjennie yaitu keinginan Kolombia menjadi anggota di Forum Asia Pasifik.

Pasalnya, forum tersebut tidak lagi menerima anggota baru. Di sini Watoelangkow tidak hanya menjadi penghubung antara Presiden Uribe dan Yudhoyono, tapi juga melalui pesan ini.

Wanita yang bersuamikan Dr Smith, warga negara Belanda ini turut serta membantu pemerintah Provinsi Sulut mempromosikan kegiatan World Ocean Conference (WOC), mengingat Kolombia berbatasan langsung dengan dua laut penting, yaitu Laut Pasifik dan Atlantik.

Menurut Watoelangkow, Presiden Uribe menyambut positif event internasional tersebut dan menegaskan akan berupaya menghadiri event yang berlangsung Mei 2009 di Manado itu.

Potensi Aren di Banten

Sumber: Sinar Tani, 22 Desember 2008; http://cechgentong.multiply.com/journal/item/210

304883-dscn0416

Banten sudah lama dikenal sebagai produsen gula aren dan potensi tersebut terus dikembangkan setelah Banten berdiri sendiri menjadi propinsi baru setelah memisahkan diri dari Propinsi Jawa Barat, bahkan beberapa tahun belakangan ini gula aren produksi petani Banten kualitasnya terus membaik seiring meningkatnya penguasaan teknologi pengolahan aren menjadi gula.

Gula aren produksi Banten banyak digemari oleh masyarakat luas karena selain rasanya yang khas, juga tingkat kemurniannya serta higienisnya cukup baik. Produksi dari Banten ini selain banyak dipasarkan di wilayah Banten, juga di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, bahkan sampai di Sumatera.

Potensi sebagai sentra produksi aren ini merupakan suatu berkah bagi propinsi yang berbatasan dengan DKI dan wilayah Jawa Barat, karena selain menjadi matapencaharian bagi masyarakat Banten juga para perajin atau pengolah gula aren di wilayah ini. Di sisi lain, memberikan kontribusi ekonomi bagi para petani aren dan para perajin industri rumah tangga.

Daerah sentra produksi aren hampir di semua kecamatan di Kabupaten Lebak, dan luasnya lebih dari 2.013 hektar, dan tahun 2005 luasnya mencapai 1.915 hektar. Sebagai sentra produksi utama aren di kabupaten Lebak adalah Kecamatan Sobang, Desa Sobang dan Cilebang, Kecamatan Malingping, Desa Kersaratu, Kecamatan Leuwidamar, Desa Kanekes dan Kecamatan Cijaku Desa Cimenga. 87 persen tanaman aren di Banten, terletak di Kabupaten Lebak.

Kabupaten Pandeglang punya tanaman aren 408 hektar, khususnya di Desa Curuglanglang Kecamatan Munjul. Produktivitasnya masih kecil mengingat belum semua tanaman aren menghasilkan. Tapi ke depan komoditi memberikan peluang besar untuk mendukung industri pengolahan gula aren, di samping industri makanan seperti kolang-kaling, dan industri peralatan rumah tangga seperti sapu dari bahan ijuk dari aren.

Dukungan yang diberikan terhadap industri pengolahan pangan itu, seperti, dukungan dalam bentuk penyediaan bahan baku aren, ijuk dan lain-lain. Industri ini pada umumnya merupakan industri yang masih berskala industri rumah tangga (home industry). Melalui aren ini mampu menggerakkan roda perekonomian daerah, di samping menyerap tenaga kerja keluarga petani dalam upaya lebih meningkatkan pendapatan petani menuju tingkat kesejahteraan yang lebih baik.

Sumber : Sinar Tani On Line.

Aren Sebuah Jawaban Krisis Energi atau Pesaing Kebutuhan Makanan???

Sumber: http://kebunaren.blogspot.com/Desember 25, 2008

p-david-allorerung

Pada Selasa 6 Desember lalu Kementrian Negara Riset dan Teknologi mengadakan Workshop yang bertajuk Budidaya dan Pemanfaatan Aren Untuk Bahan Pangan dan Energi, workshop ini diikuti oleh para peneliti dan praktisi aren dan energi terbarukan, akademisi dari berbagai universitas, serta berbagai departemen baik pusat maupun daerah diseluruh Indonesia, sementa untuk pembicara terdiri dari akademisi, dan ahli energi terbarukan serta praktisi, pengusaha dan pengembang bio ethanol maupun petani dan pengrajin gula aren.

David Alloreung Pembicara kunci yang merupakan Peneliti pada Puslitbang Tanaman Perkebunan, Departemen Pertanian dalam pemaparanya menjelaskan bahwa aren merupakan tanaman serba guna yang mempunyai potesi besar dalam bahan subtitusi pembuat gula maupun bioethanol, sayangnya sampai saat ini pohon aren yang tumbuh di Indonesia sebagian besar merupakan pohon yang umumnya tumbuh secara liar serta sampai saat ini belum ada penelitian yang memadai tentang pohon aren unggul.

Aren (Arenga pinnata Merr) adalah salah satu keluarga palma yang serbaguna, dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 meter di atas permukaan laut. Sekalipun lebih dikenal sebagai tanaman hutan, aren telah mulai dibudidayakan secara baik oleh suku Batak Toba sejak awal tahun 1900. Tanaman ini tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia pada berbagai kondisi agroekososistem. Penyebaran pertumbuhan aren umumnya berlangsung secara alamiah. Di beberapa tempat, terutama yang memiliki kebiasaan membuat gula atau mengonsumsi minuman beralkohol, aren sudah sering ditanam secara sengaja, meskipun umumnya sebagai tanaman pinggiran atau tanaman sela di antara tanaman pepohonan yang sudah ada. Meskipun para petani penderes mengakui bahwa gula yang dihasilkan dari nira aren sangat menolong ekonomi mereka, perhatian pemerintah terhadap upaya pengembangan tanaman ini sangat terbatas dan tidak konsisten. Hal yang sama dijumpai pada lembaga-lembaga penelitian, penelitian tanaman aren umumnya dilakukan secara insidentil.

Berkaitan dengan sumber energi terbarukan, yang sudah lama disuarakan, kita ternyata tidak memberikan respons secara cepat. Krisis energi di akhir 2005 yang dibarengi dengan fenomena kekacauan iklim telah berhasil memicu kesadaran semua pihak untuk mengembangkan energi terbarukan dan lebih ramah lingkungan. Dalam konteks ini, aren memiliki potensi yang sangat besar sebagai sumber utama bioenergi yang ramah lingkungan di samping sebagai penghasil pangan dan tanaman konservasi.

Kebutuhan bahan bakar premium terus meningkat sejalan dengan kemajuan di bidang ekonomi dan impor meningkat tajam dari sekitar 0.5 juta pada tahun 1998 menjadi sekitar 6 juta KL pada tahun 2004 ketika kebutuhan bahanbakar jenis ini telah mencapai 17 juta KL/tahun. Jika digunakan campuran alkohol sebesar 10 % berarti kebutuhan alkohol akan mencapai 1.7 juta Kl/tahun atau sekitar 4.6 juta liter/hari. Masalahnya adalah hampir sama sumber bahan baku biofuel bersaing dengan kebutuhan pangan di samping persaingan pemanfaatan lahan untuk menghasilkan bioenergi. Dalam konteks ini, aren dapat berperan sebagai salah satu sumber bioenergi yang penting mengingat produktivitasnya yang sangat tinggi sehingga hemat pemakaian lahan. Disamping itu, dapat ditanam di antara tanaman yang sudah ada atau sebagai komponen tanaman untuk reboisasi atau penghijauan sehingga tidak bersaing dengan komoditas pangan.

Tanaman aren memiliki daya adaptasi terhadap berbagai kondisi lahan dan agroklimat, memiliki toleransi yang tinggi dalam pertanaman campuran termasuk dengan tanaman kayu, tumbuh relatif cepat serta memiliki perakaran dan tajuk yang lebat sehingga sangat cocok untuk tujuan konservasi tanah dan air, merupakan tanaman serbaguna karena hampir semua bagiannya bernilai ekonomi dan tidak membutuhkan pemeliharaan intensif sehingga cocok bagi petani miskin di lahan marginal. Tanaman aren juga menghasilkan biomas di atas tanah yang sangat besar satu hingga 2 ton/pohon, sehingga dapat berperan penting dalam CO2 sequestration.

Sumber : QMI-MIT.com

1 Comment »

  1. aren itu sebuah solusi praktis di masa depan

    Comment by jual gula semut — March 19, 2014 @ 9:44 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 32 other followers

%d bloggers like this: