Aren Indonesia

Nira Aren

Menyadap Pohon Aren

Sumber: http://gulasemutaren.blogspot.com/

Menyadap Aren

Menyadap Nira Aren

Bagi petani yang memiliki banyak pohon aren, akan berangkat lebih awal untuk menyadap air nira, karena jika terlambat menyadap air nira akan berubah mennjadi asam cuka dan tuak. Pada pagi hari biasa jauh sebelum matahari bersinar & sore hari sebelum matahari terbenam.
Pohon aren aren mulai bisa di sadap pada usia 5 tahun dan puncak produksi antara 10-20 tahun dan subur, bisa menghasilkan 15-20 liter nira aren tiap hari.

Bagian pohon aren yang di sadap adalah tangkai bunga jantan. Kucuran air nira ini di tampung dalam bumbung (batang bambu yang panjangnya antara 1-1,5 meter).

Menyadap pohon aren memerlukan ketrampilan, kesabaran dan ketekunan yang amat sangat.
Petani-petani itu turun & naik melalui sebuah batang bambu yang di lubangi sebagai tempat pijakan. Pada saat naik & turun jempol kaki kiri & kanan yang menjadi pijakan di lubang bambu-bambu itu. Bukan telapak kaki yang menapak pada bambu seperti jika kita memanjat pohon kelapa. Perhatikan gambar di atas!

Coba Anda bayangkan jika pada saat menyadap nira di pagi hari masih gelap dan hujan. Sungguh semangat yang luar biasa. Anda bisa bayangkan bagaimana tangguhnya petani-petani aren di negeri ini.

Mungkinkah petani-petani aren ini mendapat Asuransi Kesehatan/ Kecelakaan?

TTG PENGOLAHAN PANGAN:  N I R A

1. PENDAHULUAN

Nira adalah cairan yang disadap dari bunga jantan pohon aren. Cairan ini mengandung gula antara 10-15%.

Nira dapat diolah menjadi minuman ringan, maupun beralkohol, sirup aren, gula aren dan nata de arenga.

Penyadapan aren tidak sulit dilakukan. Kegiatan ini dapat dijadikan sumber nafkah utama ataupun sebagai nafkah tambahan di pedesaan.

Bunga Jantan

Pohon aren mempunyai bunga jantan dan bunga betina. Kedua bunga dapat disadap niranya. Yang selalu disadap adalah bunga jantan karena jumlah dan mutu hasil lebih memuaskan dibanding bunga betina. Bunga jantan lebih pendek dari bunga betina. Panjangnya sekitar 50 cm. Sedangkan bunga betina mencapai 175 cm. Bunga jantan dapat disadap pada saat sudah mengeluarkan benang sari.

2. BAHAN

  1. Kapur. Bahan ini digunakan untuk mencegah pH nira menjadi turun selama proses penyadapan.
  2. Pengawet. Bahan ini digunakan untuk memperlambat kerusakan nira selama penyadapan. Bahan yang dapat digunakan, diantaranya ialah akar tanaman wambu, dan kulit batang manggis.

3. PERALATAN

  1. Parang. Alat ini digunakan untuk pembersihan tandan bunga jantan.
  2. Pisau. Alat ini digunakan untuk mengiris tandan bunga jantan yang disadap.
  3. Bumbung. Alat ini digunakan untuk menampung nira yang menetes dari sayatan bunga jantan. Bumbung ini terbuat dari bambu dengan isi 7-10 liter.

4. CARA PEMBUATAN

A. Cara Penyadapan

  1. Persiapan
    a. Pembersihan tongkol. Ijuk yang ada disekitar tongkol bunga disingkirkan agar tidak mengganggu proses penyadapan. Pelepah daun sebanyak 1 sampai 2 buah di atas dan di bawah pelepah juga dibuang.
    b. Pemukulan tongkol. Setelah pembersihan, tongkol bunga jantan diayun-ayun dan dipukul-pukul secara ringan tanpa menyebabkan tongkol luka dan memar. Pemukulan dilakukan sekali 2 hari pada pagi dan sore hari selama 3 minggu. Pemukulan dilakukan 250 kali setiap kali dilakukan pemukulan.
    c. Penentuan kesiapan tongkol disadap. Setelah itu, tongkol dimana untaian bunga melekat ditoreh, jika torehan mengeluarkan cairan nira, berarti tongkol sudah siap untuk disadap. Jika tidak mengeluarkan nira, proses pengayunan dan pemukulan harus dilanjutkan.
    d. Persiapan penyadapan
    Bumbung yang akan digunakan untuk penyadapan dicuci sampai bersih. Bagian dalam bumbung disikat dengan penyikat bertangkai panjang. Setelah itu bumbung dibilas dengan air mendidih, dan diasapi dalam keadaan terbalik dengan asap tungku. Untuk memudahkan penyadapan, pada pohon dipasang tangga dari bambu yang digunakan untuk memanjat pohon.
  2. Penyadapan
    a. Jika tongkol sudah siap untuk disadap, tongkol dipotong pada bagian yang ditoreh untuk penentuan kesiapan tongkol disadap.
    b. Di bawah luka pada bagian tongkol yang dipotong, diletakkan bumbung. Ke dalam bumbung dimasukkan kapur sirih satu sendok makan, dan  1 potong kulit manggis (berukuran 3×3 cm), atau potongan akar wambu (sebesar jari kelingking). Bumbung ini diikatkan secara kuat pada pohon.
    c. Penyadapan berlangsung selama 12 jam. Bumbung yang telah terisi nira diturunkan. Setiap kali penyadapan diperoleh 3-6 liter nira.
    d. Setelah itu tongkol harus diiris tipis kembali untuk membuang jaringan yang mengeras dan tersumbat pembuluh kapilernya. Di bawah irisan baru tersebut diletakkan lagi bumbung yang bersih. Demikian terus menerus selama 3-4 bulan.

B. Pengolahan Menjadi Minuman Ringan

  1. Penyaringan. Nira yang baru disadap dituangkan ke wadah penampungan yang terbuat dari logam tahan karat secara pelan-pelan melalui kain saring berlapis 3 secara pelan-pelan.
  2. Penambahan bahan tambahan makanan. Nira ditambah dengan asam benzoat dan asam sitrat, masing-masing sebnyak 1 gram per liter nira.
  3. Pasteurisasi. Nira tersebut dipanaskan sambil diaduk pada suhu 850C selama 5 menit.
  4. Penyiapan botol. Botol kaca disikat bagian dalamnya dengan detergen.
    Seluruh permukaan botol dicuci sampai bersih dengan menggunakan detergen. Botol dibilas sampai bersih. Kemudian bagian dalam botol dibilas dengan air panas. Setelah itu botol direbus di dalam air mendidih selama 30 menit.
  5. Pembotolan dan pasteurisasi. Botol diangkat dari air panas dan dibalikkan agar airnya keluar dari botol. Ketika botol masih panas, nira yang masih panas dimasukkan ke dalam botol dengan bantuan corong sampai permukaan nira 2 cm dari bibir botol paling atas, kemudian botol segera ditutup dengan penutup botol. Setelah itu botol yang berisi nira direbus di dalam air mendidih selama 30 menit.
  6. Penyimpanan. Nira aren di dalam botol ini dapat disimpan sampai 4 bulan pada suhu kamar.

5. KONTAK HUBUNGAN

Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat, Jl. Rasuna
Said, Padang Baru, Padang, Telp. 0751 40040, Fax. 0751 40040

Jakarta, Januari 2001

Sumber : Teknologi Tepat Guna Agroindustri Kecil Sumatera Barat, Hasbullah, Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat. Editor : Tarwiyah, Kemal

Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340. Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id

Bisnis Tuak Manis di Kawasan Hutan Pusuk

Oleh arixs, Senin, 07-November-2005, 11:54:00 217 klik

Sumber: http://www.cybertokoh.com/

KAWASAN hutan wisata Pusuk selama bulan Puasa lalu, selalu dipenuhi pedagang air aren segar yang biasa disebut tuak manis. Di kiri dan kanan sepanjang jalan menjelang puncak ketinggian Pusuk, para pedagang asyik melayani pembeli yang memang meningkat jumlahnya dalam bulan suci itu.

Selain dalam bulan Puasa, kata Sumiati, pedagang tuak manis, penjualan biasa-biasa saja dan penjual pun tidak sebanyak saat Puasa, yang rata-rata pedagang mampu menjual 20 liter tiap hari. “Dalam bulan lain yang berjualan sedikit, lakunya pun tidak banyak,” ungkap Yati.

Sebagian dari puluhan pedagang yang menggelar dagangannya di depan rumah masing-masing ini merasa lebih beruntung menjual air aren ketimbang setelah jadi gula. Tidak perlu capek-cepek memasak dan mengaduk, toh harganya lebih tinggi ketimbang gula aren. Karena, kata Albar, penyadap aren, begitu air aren diambil bisa langsung dijual dalam keadaan segar. Pembeli yang ingin mendapatkan air aren yang segar biasanya datang ke Pusuk pagi atau sore. Air aren yang ditampung sejak sore diambil pagi hari esoknya, langsung dijual. Demikian juga air aren yang ditampung pagi diambil dan dijual sore..

Meski lebih menguntungkan menjual air aren segar, gula aren selalu tersedia. “Semua tergantung pilihan para penyadap, mau dijual segar ya untung, dijual setelah jadi gula juga untung,” kata Sumiati. Air aren yang tak terjual tetap bisa dibuat menjadi gula, atau dimasak dan dijual kembali. Tuak manis yang sudah dimasak, kurang banyak peminatnya karena tidak segar lagi.

Dalam bulan Puasa lalu, penjual tuak manis pun berdatangan ke Mataram dan sekitarnya. Ada penjual dari Mataram yang datang ke Pusuk untuk membeli tuak manis segar dalam jumlah yang banyak untuk dijual kembali di Mataram dan sekitarnya. Penjual di Mataram biasa mangkal di sepanjang Jalan Udayana, Jalan Majapahit, Jalan Sriwijaya, Jalan Air Langga, di Cakranegara dan Ampenan. Beberapa di antara mereka penjual tetap bukan penjual musiman.- nik

Tangkai Siap Panen harus Dipukul-pukul

RATUSAN, bahkan ribuan pohon aren di kawasan hutan wisata Pusuk, siap menghidupi masyarakat di sekitarnya. Sebatang pohon aren bisa hidup puluhan dan selama itu pula memberikan manfaat dari kucuran airnya yang tiada habisnya. Paling sedikit satu pohon aren mempunyai 30 tangkai dan tiap tangkainya mengeluarkan air tanpa henti selama tiga bulan hingga satu tahun. Dari satu tangkai tiap harinya menghasilkan 40 hingga 50 liter. Jika tiga bulan atau satu tahun mengucur dari ribuan pohon aren, demikian banyak air aren yang dihasilkan.

Untuk dapat menghasilkan air aren yang berlimpah, menurut Yahtul, tidak ada yang tahu bagaimana caranya. Semua sudah diatur dengan sempurna oleh alam. Tidak bisa dilihat dari besar kecil tangkainya atau tinggi pendek pohonnya, besar kecil pohonnya atau juga banyak sedikit buahnya. Para penyadap di Pusuk menuturkan, hingga kini tidak ada yang tahu cirri-ciri fisik pohon aren yang punya air melimpah atau tidak. “Yang pasti selama ini jarang ada pohon aren yang kering airnya,” kata Albar.

Bukan jaminan, jika kecil tangkainya airnya sedikit, kata Mahammad yang pernah mendapatkan air yang melimpah dari tangkai yang sangat kecil. Demikian pula dari tangkai besar justru ditemukan air arennya sedikit dan mengucurnya sebentar, kata penyadap lainnya.

Namun ada cara yang biasa dilakukan para penyadap secara turun temurun untuk lebih memperlancar keluarnya air aren, yaitu memukul-mukul tangkai siap panen.

Ketika bunga aren sudah kelihatan ungu kehitam-hitaman pertanda air aren siap panen, tangkainya dipukul-pukul menggunakan kayu yang dibuat khusus. Seminggu sekali tangkai siap panen dipukul perlahan hingga merata di sekelilingnya selama sekitar setengah jam. Setelah itu jika harum aren sudah mulai tercium, pemukulan dilakukan tiga hari sekali sebanyak lima kali sebelum akhirnya dipotong untuk dipanen. Ketika bunga aren yang berwarna kuning telah pecah maka tangkai benar-benar telah siap dipotong untuk dipanen airnya. Maka mengucurlah rezeki tiada hentinya dari pohon-pohon aren yang silih berganti mati dan tumbuh sepanjang masa. – nik

Tuak Manis Segar, Harum Baunya

TUAK manis segar yang dijual di sepanjang jalan kawasan hutan Pusuk telah dimasukkan dalam botol-botol bekas air mineral. Tiap 1,5 liter dijual Rp 2.500 hingga Rp 3.000. Pembeli biasanya memilih-milih ketika membeli air aren atau tuak manis tersebut. Pasalnya, mereka mengaku tidak ingin mendapatkan tuak manis yang tidak asli alias telah dicampur atau tidak segar. Namun tidak sedikit yang tidak tahu mana yang asli, mana yang palsu. Sial-sialnya, sampai di rumah kecut, ujar seorang pembeli. Itu pertanda tuak manis sudah disimpan lewat sehari tanpa dimasukkan kulkas, kata Ati penjual tuak manis di Pusuk. Ketidakaslian tersebut bisa juga akibat dicampur dengan campuran yang tidak mau disebutkan oleh para penjualnya.

Tuak manis yang segar, kata Albar dan Yahtul, berwarna kuning kecoklat-coklatan, baunya harum dan rasanya manis. Jika sudah berwarna putih susu cair berarti air arennya telah direbus, kata Sumiati. Untuk menjaga kesegarannya, para penjual menyimpan botol-botol yang telah diisi air aren dalam boks-boks yang ditumpuki es batu. Namun, kesegaran asli tidak bisa didapatkan kecuali yang benar-benar baru turun dari pohonnya tanpa didinginkan dengan es batu.

Jika sudah tidak segar, warna perlahan-lahan akan berubah tidak lagi pekat berwarna kuning kecoklat-coklatan melainkan warna makin pudar. Demikian pula baunya tidak lagi harum dan rasanya sedikit hambar. Bagi penyadap yang rajin dan tekun, tuak manis yang diambil pagi dan tidak laku hingga sore hari dimasak menjadi gula aren dan bisa disimpan berbulan-bulan.- nik

Memanen Airnya atau Petik Kolang-kaling

POHON aren bukan hanya memberikan manfaat berupa air manisnya berbulan-bulan yang kemudian dijadikan gula aren dan tuak manis, tetapi juga menghasilkan buah kolang-kaling. Buah ini sering dipakai sebagai campuran kolak dan es campur. Di tangkai pohon aren sebelum mengucurkan air manis, telah terlebih dulu berbuah kolang-kaling. Jika kolang-kaling diambil, tangkai tersebut tidak lagi menghasilkan air aren.

“Tinggal memilih, mau petik kolang-kalingnya berarti tidak dapat memanen airnya atau memanen airnya tanpa ,memikmati kolang-kaling,” kata Yahtul.
Tiap hari, para pedagang gula aren yang berjualan di pasar tradisional, biasanya sekaligus berjualan kolang-kaling. “Tiap hari empat karung kolang-kaling saya jual ke pasar,” kata Rini seorang penampung buah kolang-kaling dan gula aren di Pusuk. Dalam bulan Puasa, kolang-kaling tidak dijual per kilogram, melainkan ukuran ember kecil, sedang dan besar.

Pengecer di pasar tetap menjualnya dengan satuan kilogram. “Satu kg kami jual Rp 5 ribu,” kata Inaq Jenah, penjual kolang-kaling di Pasar Kebon Roek Ampenan. Harga yang sama juga ditemukan di beberapa pasar tradisional Mataram. Bagi sebagian penyadap aren, merasa rugi jika yang dipanen adalah kolang-kaling bukan air manisnya. Karena harga per tangkainya hanya Rp 5 ribu. Buah kolang-kaling yang dijual di pasar sudah dimasak setelah dikupas. – nik

Penawar dahaga sepanjang jalan

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/ 41/XII 11 Desember 1982

Penjual minuman tradisional legen, juga disebut lahang atau nira, dibawah terik matahari para penjual nira menjajakan minumannya, kono banyak pula khasiatnya. (sd)

TERIK matahari menghajar tubuhnya. Namun Titi tidak beringsut. Bahkan kemarau panjang justru melecut semangatnya: dagangannya akan lebih laris. Ia sadar berbagai minuman dalam kaleng atau botol telah membasahi sekian banyak kerongkongan. Tapi ia juga tahu, masih ada lidah yang ingin menikmati minuman yang ia jual: nira.

Di tepi jalan antara Malangbong (Garut) dan Ciawi (Tasikmalaya), setiap hari tak kurang dari 30 orang berderetderet menjual minuman tradisional yang oleh orang Sunda disebut lahang. Minuman yang disadap dari tandan bunga enau itu disimpan dalam tabung bambu yang disebut lodong. “Lumayanlah untuk mengisi waktu, daripada nganggur,” ujar Titi, 18 tahun.

Pembelinya adalah sopir-sopir atau penumpang kendaraan yang lewat di sepanjang jalan itu: Rp 100 tiap gelas. Titi, hanya tamat SD, setiap hari rata-rata bisa menjual dua lodong. Itu berarti bisa membawa pulang sekitar Rp 2.000. “Biarlah saya yang mencari nafkah, agar anak-anak saya bisa bersekolah,” ujarnya. Titi anak sulung dari empat bersaudara. Orangtuanya tidak lagi bertani, sebab sawahnya yang hanya seperempat hektar, tertutup debu Gunung Galunggung.

Para penggemar lahang ternyata tidak hanya sopir dan penumpang kolt, bis atau truk. Tidak sedikit pula ‘orang gedean”, dengan sedan mereka mampir mencicipi minuman khas itu. “Kalau nereka yang minum, itu artinya rejeki nomplok. Mereka sering membayar lebih mahal,” kata Titi lagi.

Namun tidak semua penjual lahang beruntung seperti Titi. Ny. Aan, 27 tahun, teman Titi, pernah sial. Sejumlah pemuda, dengan Toyota Kijang, minum sepuluh gelas, tapi tidak membayar. “Saya tidak bisa berbuat apa-apa,” kata ibu dari lima anak itu. Untunglah, seperti para penjual lahang lainnya, ia punya pohon enau sendiri.

Ada empat hatang enau di kebunnya yang disadap sendiri oleh suaminya. Bunga enau berumur sebulan, yang masih tergantung di pohonnya yang tinggi itulah yang disadap. Sebatang bambu panjang berlubang-lubang digunakan sebagai tangga. “Tandan bunga enau itu harus dipukul-pukul dulu dengan kayu sampai memar, agar airnya keluar lebih banyak,” tutur Jajang, 40 tahun, suami Aan. Setelah ujungnya dipotong, air nira yang keluar ditampun ke dalam lodong ukuran kecil.

Subuh disadap, air lahang itu sudah memenuhi lodong yang dipasang dan bisa diambil. Lodong yang baru pun dipasang. Tapi minuman manis itu hanya tahan 24 jam. Lebih dari itu bisa berubah menjadi cuka dengan rasa asam. Dan bila diolah lagi, antara lain dicam pur dengan ragi, bisa menjadi tuak, semacam minuman keras yang memabukkan. Sebelum menjadi cuka atau tuakcairan itu juga bisa diolah menjadi gula padat.

Cara memasaknya cukup lama. Dipanasi selama 3 jam sambil terus-terusan diaduk. Dengan bahan pewarna tertentu, kulit buah manggis misalnyal gula padat itu berwarna merah. Ada pula yang kekuning-kuningan.

Di Medan minuman tradisional itu disebut air nira, sementara orang Jakarta menyebutnya tuak. Dua-duanya disadap dari tandan bunga enau atau aren. Di Jawa Tengah disebut legen. Orang Jawa Timur menyadapnya dari bunga nilo alias siwalan yang disebut mancung sedang orang Jawa Tengah menyadapnya dari tandan bunga pohon nyiur yany disebut manggar.

Justru di musim panas minuman itu mengucur lebih deras — selama dua-tiga bulan. Rasanya hampir sama: manis-manis segar, agak sedikit apak. Umumnya orang suka karena lebih mampu menawar haus. Dan harganya sangat murah. Tapi konon banyak pula khasiatnya Misalnya menghangatkan badan dan memperkuat tulang dan otot-otot. Atau sebagai penyembuh penyakit kuning Ada pula yang menganggapnya bisa memperlancar air seni.

Bagi wanita yang baru usai bersalin minuman tersebut bisa memperlancar air susu. Bagi Salman Karim, 45 tahun, pengusaha jasa konstruksi dari Bandung air lahang tidak punya khasiat apa-apa “Saya suka meminumnya karena bisa membuat suasana nostalgia. Di masa kanak-kanak saya suka minum lahang orang tua saya biasa membuat gula- gula,” kata Salman kelahiran Garut itu. Bersama istri dan lima anaknya, hampir Setiap Minggu ia bernostalgia di tepi jalan meminum nira.

Di Medan, Mislan K.R., 47 tahun, yang percaya akan khasiat air nira sudah 21 tahun ayah dari lima anak ini menjual nira di tempat-tempat yang ramai seperti pasar Mercu Buana dan Lapangan Merdeka. Ia menjual nira dengan cara membuka keran yang dipasang di bagian bawah dua batang bambu di boncengan sepeda tuanya. Dari rumahnya di Bandar Khalifah (Deli Serdang), 11 km dari Medan, ia mengayuh sepedanya. Pukul 12 siang biasanya dagangannya habis. “Di musim panas paling laris. Di musim hujan dagangan baru habis pukul 4 sore,” kata Mislan.

Mislan menjual hanya Rp 50 segelas. Di belakang rumahnya terhampar kebun yang cukup luas dengan 50 pohon aren yang rata-rata setinggi 8 meter. Setiap sore Mislan yang hanya sempat duduk sampai kelas IV SD itu menderes sendiri arennya. Keesokan harinya dari setiap pohon ia bisa mengumpulkan kira-kira 40 gelas air nira. Sudah tiga kali ia jatuh dari pohon aren. Sampai sekarang tulang pantatnya kadang-kadang masih terasa nyeri.

Kerja pokoknya memang berjualan air nira. Itulah sebabnya ia tetap bertahan dengan profesi tersebut meskipun sesekali dagangannya tumpah di jalan karena disodok kendaraan bermotor. “Tapi orang yang menabrak biasanya baik hati selalu membayar kerugian kepada saya,” katanya.

Bila dagangannya tidak habis ia membuat gula merah. Dari nira itulah Mislan, kelahiran Kalimantan, membiayai keluarganya. Anak sulungnya sudah duduk di bangku SMP. Rumahnya yang setengah beton ukuran 8 x 6 meter, termasuk bagus menurut ukuran di desanya. Apalagi ia juga punya radio. “Tapi saya belum mampu membeli televisi. Sehari paling-paling saya hanya bisa membawa pulang Rp 4.000,” ujarnya.

Di Surabaya, Iksan, 31 tahun, bahkan kewalahan melayani para penggemar legen. Berbeda dari penjual legen yang lain, Iksan tidak menyimpan minuman itu dalam tabung bambu melainkan dalam jeriken-jeriken plastik, masing-masing berisi 25 liter.

Setiap hari ia mampu menjual tak kurang dari 30 jeriken. Ia memang satu-satunya pedagang legen di tepi Jalan Undaan Kulon, salah satu jalan protokol di Surabaya. Langganannya mulai dari abang becak sampai penumpang kendaraan umum dan pemilik mobil mewah. Bahkan selalu terlihat ia dikerumuni para pengendara sepeda motor yang kehausan. Maklum harganya sangat murah, hanya Rp 25 segelas.

Sudah 6 tahun Iksan yang hanya berpendidikan SD itu berdagang legen. Tapi baru tahun ini ia merasa sukses. Tahun-tahun sebelumnya dagangannya hanlpir tak laku, hingga ia terpaksa menarik becak di malam hari. Sekarang setiap hari ia bisa mengantungi keuntungan bersih Rp 20.000–setelah dipotong Rp 4.S00 (untuk gaji ketiga karyawannya) dan ‘Rp 500 uang makannya sendiri.

Dengan penghasilan itu Iksan menghidupi istri dan lima anaknya yang tinggal di Tuban. Ia juga sudah membeli sawah dan kambing, tapi tidak punya kebun siwalan sendiri. Ia mengambil legen dari seorang tengkulak di Jalan Semarang dengan harga Rp 2.000 per jeriken. Tengkulak itu sendiri setiap hari mendatangkan bertruk-truk legen dari Tuban. Hampir semua penjual legen di Surabaya berasal dari sana.

Banyak penduduk Tuban bertani siwalan, seperti Sumadi, 60 tahun, dari Desa Tegalbang, Kelurahan Palang. Ia memiliki 10 pohon siwalan yang setiap batang sehari menghasilkan 20 liter legen, yang dijualnya kepada tengkulak Rp 50 setiap liter. Sebelumnya para tengkulak dari Surabaya melakukan ijon, hingga ketika para petani menderes legen, mereka tidak menerima uang lagi. Sekarang para pengijon sudah lenyap.

Di sekitar Borobudur dan Muntilan Jawa Tengah, harga segelas legen ratarau juga hanya Rp 25. Basrowi, 48 uhun, sudah 3 tahun memikul batang-batang bambu berisi legen dari kampung ke kampung. Setiap hari tak kurang dari 10 km jalan-jalan kampung ditempuhnya, memburu nafkah untuk keenam anaknya. Seperti penjual legen lainnya, Basrowi juga tak umat SD. Untunglah, di daerah Muntilan hanya dia sendiri yang berjualan minuman khas itu. “Apalagi di kampung-kampung belum ada minuman seperti Teh Botol. Kalaupun ada, harganya mahal, Rp 100 sebotol,” ujarnya. Sehari ia hanya bisa mengantungi Rp 1.500, tapi agaknya ia cukup senang. “Kenalan saya jadi banyak,” katanya gembira.

Tapi ada satu hal yang merisaukan Basrowi. “Saya harus lebih sering berganti sandal jepit,” katanya. Sepasang sandal, harganya Rp 175, hanya tahan selama dua bulan saja. Di bagian pundak bajunya penuh tambalan karena selalu robek kena pemikul. Di Jakarta, minuman itu juga berharga Rp 25 segelas. Para penggemar menyebutnya tuak.

Di Ibukota para penjual tuak menambahkan gumpalan-gumpalan es hingga rasanya lebih segar. Maklum, udara di Jakarta lebih panas. Lagi pula hal itu untuk mencegah agar air nira itu tidak terlalu cepat menjadi cuka. Bila para penjual legen di Surabaya hampir semuanya berasal dari Tuban, sementara legen pun banyak didatangkan dari sana, di Jakarta para penjual tuak umumnya berasal dari Serang.

Minuman rakyat itu memang ada yang disadap dari pohon-pohon aren di Jakarta, tapi bila permintaan terlalu banyak, orang Jakarta mendatangkan tuak dari Serang.

Haji Abdurrahman, 60 tahun, bertahun-tahun hidup sebagai petani aren di Jakarta. “Saya punya sepuluh batant pohon aren, tersebar di Kampung Rawa, Kampung Jawa, Cempaka Putih, Rawasari dan Kampung Ambon,” katanya. Ia menjual tuak sejak 1936 ketika harganya cuma secepeng tiap dua gelas.

“Pada aman itu dengan uang seperak saya bisa memiliki sebatang pohon aren sampai mati,” kata bapak dari sembilan anak dan kakek dari 16 cucu itu. Sampai sekarang pohon aren memang diperjual-belikan.

Di Jakarta harganya mencapai Rp 10.000 sebatang. Ada petani pemilik aren yang bekerja sama dengan penderes dengan cara bagi hasil. Setiap batang aren memang menghasilkan air nira dua kali sehari. Haji Abdulrahman lebih suka menderes sendi pohon-pohon arennya.

Di rumahnya, di kawasan Cempaka Putih, haji ini menampung tak kurang dari 30 orang penjual tuak yang semuanya berasal dari Kabupaten Serang. Setiap orang dipungut semacam sewa tempat tinggal Rp 200 seminggu. “Mereka itu pekerja musiman. Sambil menunggu musim panen mereka merantau ke Jakarta berjualan tuak,” ujar si haji lagi.

Setiap hari ia sendiri mengayuh sepeda tuanya mengantarkan satu Jeriken tuak seharga Rp 4.000 ke warung-warung. Udin, 30 tahun, salah seorang penjaja tuak yang berjalan menyusuri jalan-jalan terik di Jakarta. “Kalau ada pekerjaan lain saya lebih baik meninggalkan dagang tuak ini. Memikul empat lodong tuak ke sana ke mari kan berat. Karena itu saya sebal kalau ada orang beli jigo minta satu gelas penuh,” katanya.

Wajahnya yang hitam memang tampak selalu sebal. Orang-orang Jakarta ternyata masih banyak yang gemar minum air nira yang segar dan memancarkan aroma yang khas itu. Rasanya memang berbeda dengan minuman dalam botol atau minuman-minuman dengan merk asing. Yang jelas harganya murah, terjangkau oleh abang-abang becak, penarik bajaj, sopir taksi, penjual sayur, tukang parkir.

13 Comments »

  1. Artikel ini sungguh bagus… Saya sedang mencari bibit aren di Medan.. Tks.

    Comment by Jhonson Silalahi — February 9, 2011 @ 6:44 am

  2. Selain untuk minuman, produk apa lagi yang bisa dihasilkan dari air aren. Apakah bisa dimanfaatkan misalnya untuk pembuatan bahan bakar misalnya? Mohon informasinya. Terima kasih.

    Comment by Firman — June 6, 2011 @ 12:15 am

  3. gula aren juga sangat bermanfaat bagi yang suka nyelam, karena dapat menghangatkan tubuh. coba dech!!! kami sering menggunakannya

    Comment by sam — September 23, 2011 @ 5:54 am

  4. Saya sudah lama mencari air aren / air nira di Surabaya , mohon petujuk dari bapak bapak ibu ibu, dimana saya harus membeli di kota Surabaya.Thanks

    Comment by pak Darno — January 9, 2012 @ 1:07 am

  5. Artikel ini sangat bagus..! bagi yang bersedia kerjasama, saya tawarkan bahwa saya punya lahan 22 hektar, lokasi : Kec. Tl. Ubi Pendopo kab. Muara Enim Prov.Sumatera Selatan. Bagi yg berminat hub saya email: rifai_pendopo2000@yahoo.com atau hp. 0818930859. tks

    Comment by A.Rifai — January 18, 2012 @ 1:39 am

  6. saya ada membaca ttg Pohon aren hybrida…..dimana bisa mendapatkan bibitnya…??

    Comment by Novita — January 27, 2012 @ 7:49 pm

    • saya penggemar tuak dan sekarang lagi merestorasi , makasih atas pulikasinya phon aren

      Comment by bonar simanjuntak — April 28, 2012 @ 10:33 pm

  7. Ada apa ngak ya dampak nya bagi pria bila tiap hari minum air aren (tuak) atau terlalu banyak?
    Thanks

    Comment by deeva — July 25, 2012 @ 3:47 am

  8. saya sedang berencana melakukan penelitian menggunakan nira aren sebagai bahan pengencer semen sapi bali

    Comment by Ray — November 10, 2012 @ 3:38 am

  9. Artikelnya sangat bagus,sekarang saya udah menanam 2500 batang aren target saya 5000 batang aren,supaya bisa menyerap tenaga kerja dan mendapatkan aliran uang dari tetesan nira.

    Comment by Rahmad — May 5, 2013 @ 7:53 am

  10. Mohon informasi ttg manfaat minuman tuak manis bagi kesehatan dan efek sampingnya

    Comment by mujiyanti Rahayu — June 29, 2013 @ 9:42 pm

  11. Ada yang mengatakan satu batang aren yang telah berproduksi bisa menghasilkan uang Rp. 15.000,-
    Apa benar itu!?
    Jika dibuat gula aren, apakah nilai ekonomisnya semakin berkurang!? berapakah harga se kilogram gula aren sekarang!?
    Jika ditamam 2 ha kira-kira berapakah nilai ekonomis setiap bulannya!?

    Comment by Brandon Gilben — July 28, 2013 @ 6:38 am

  12. Bagi yang membutuhkan bibit aren, harga rp.1.500/pokok,umur 2 bulan, bisa kirim antar pulau. Silahkan lihat katalog lengkap produk bibit tanaman kami di :

    http://bibitsawitkaret.blogspot.com/

    Atau hub. 0823 6741 0713 dengan Muhammad Isnaini.

    Comment by Muhammad Isnaini — July 28, 2013 @ 10:57 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 34 other followers

%d bloggers like this: