Aren Indonesia

Ijuk Aren

Kisah Pemburu Ijuk dari Limbangan

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/; Rabu, 31 Oktober 2007 SEMARANG

SUARA parang beradu pokok daun pohon aren bertalu-talu menyeruak di keheningan Wanawisata Hutan Penggaron, Ungaran, suatu siang. ”Tak tok tak tok”, menggema sampai di kejauhan.

Suara-suara itu berasal dari aktivitas Sumardi (45) dan Ngadimin (35) mencari ijuk. Untuk dapat mengambil serat alam berwarna hitam di pohon aren itu dengan mudah, mereka terlebih dahulu memangkas pangkal daun bagian bawah. Lalu dengan ujung parang, ijuk dilepaskan dari batang.

Menjelang tengah hari, ijuk yang mereka kumpulkan telah menggunung. Kedua lelaki asal Limbangan, Boja itu pun menyudahi aktivitas. Ijuk diikat dan mereka pun beristirahat. Sumardi dan Ngadimin adalah pemburu ijuk. ”Pemburu”, karena mereka mencari bahan baku sapu dan tambang itu ke pelbagai daerah. Selain di desa asal, keduanya juga berkeliling ke luar daerah: Ungaran, Batang, Pekalongan, Wonosobo, Banjarnegara, serta Magelang.

”Karena pohon aren di daerah saya terbatas, kami harus mencarinya sampai ke luar daerah. Pokoknya, di mana ada pohon aren, kami datangi,” kata Sumardi.

Ijuk tumbuh berlapis-lapis di bagian atas batang pohon aren. Selapis ijuk, jelas dia, tumbuh dalam kurun empat bulan. Idealnya, panen ijuk dilakukan sekali dalam setahun, yakni pada saat lapisannya berjumlah tiga. Wanawisata Penggaron baru kali pertama mereka sambangi. Sumardi dan Ngadimin mengetahui adanya pohon-pohon aren di kawasan itu dari informasi seorang teman.

Memang, dibanding dari Limbangan, kualitas ijuk Penggaron relatif lebih rendah. Bulatan seratnya lebih tipis dan warnanya cenderung kusam. Namun karena stok di daerah lain masih kosong, ijuk tersebut tetap diambil. ”Menurut saya ijuk dengan kualitas terbaik ada di daerah Boja. Daerah lain masih berada di bawahnya.”

Bayar Uang Rokok

Untuk bisa memanen ijuk di Penggaron, Sumardi dan Ngadimin cuma membayar uang rokok kepada petugas mantri hutan setempat.

Untung banyakkah mereka berdua? Tidak juga. Kata Sumardi, dia masih mengeluarkan biaya produksi yang lain, yakni membayar kendaraan untuk mengangkut ijuk ke Boja. ”Kalau dihitung-hitung untungnya pas-pasan,” ungkapnya.

Ijuk hasil perburuan selanjutnya mereka jual ke pengepul di daerah Boyolali. Namun sebelumnya diolah dan dibersihkan terlebih dahulu menggunakan seritan. Sebagian ijuk dibuat sendiri menjadi sapu. Harga ijuk mentah kualitas pertama saat ini mencapai Rp 1.500/kg, sedangkan kualitas di bawahnya Rp 1.200/kg. Ada pun kalau sudah menjadi sapu dijual seharga antara Rp 3.500 sampai Rp 6.000. ”Boyolali adalah pusatnya jual beli ijuk. Di sana, ijuk diproduksi menjadi sapu atau tambang. Ijuk yang besar untuk sapu, yang kecil dibuat tambang. Ijuk yang berkualitas bagus bahkan diekspor ke luar negeri,” ujar Sumardi.

Sudah 20 tahun Sumardi menggeluti dunia ijuk. Tak terhitung berapa ton ijuk yang telah ia panen dalam kurun waktu itu. Ya, lelaki berkumis itu memang tak pernah menghitung, seperti halnya rupiah yang dia dapatkan untuk menghidupi keluarganya. (Rukardi- 41)

Rutin, Hidupi Keluarga dengan Ijuk

Sumber: http://www.lampungpost.com/; Selasa, 15 Maret 2005

Petani ijuk atau lebih tepat disebut pemilik pohon aren di mana pun, saat bencana kekeringan, bolehlah tersenyum. Pohon aren dengan segala kondisi yang dimiliki, umur panjang dengan masa produksi puluhan tahun, merupakan jenis pohon yang tidak memiliki ketergantungan dengan banyaknya curah hujan.

CUKUP dengan kelembapan udara daerah dataran tinggi, pohon aren tetap bertahan hidup dengan tingkat kesuburan normal. Selebihnya, pohon aren memang tak membutuhkan perawatan. Sekali tumbuh, berarti investasi seumur hidup dengan hasil ganda, buah aren dan ijuknya.

Berangkat dari kondisi panen ijuk yang sepanjang tahun tak pernah mengalami gangguan itulah, pada akhirnya menciptakan sebentuk kreativitas untuk memanfaatkannya.

Ijuk, dengan kreativitas penggarapan tertentu, akan berubah menjadi sebentuk kerajinan berupa genting, sapu, sikat, dan sebagainya.

Desa Natar semula dikenal sebagai sentra perajin ijuk. Perajin berkumpul untuk menjual hasil olah tangan mereka kepada konsumen. Belakangan, karena sesuatu dan lain hal, masing-masing perajin mencari lahan usaha secara sendiri, meskipun usaha di bidang ini tak pernah surut pelanggan.

Seperti diakui Suwignyo (50), warga Way Kandis, Kecamatan Tanjungsenang, Kota Bandar Lampung ini. Beberapa tahun lalu ia dan beberapa rekan perajin bekerja sama membuka usaha kerajinan membuat peralatan rumah tangga. Mulai pembuatan sampai pemasaran. “Semua kebagian tugas dan saya sendiri saat itu kebagian tugas sebagai pembuat keset dan sapu ijuk yang bahan baku utamanya berasal batang pohon aren ini,” ujarnya.

Sayang, kerja sama itu tidak berlangsung lama karena setelah dua tahun usaha tesebut berjalan lancar, satu per satu perajin meninggalkan lokasi usaha dan beralih usaha secara sendiri di tempat yang berbeda. “Yang tertinggal hanya teman-teman perajin rotan,” kata Suwignyo.

Terpusat pada usaha bidang kerajinan ijuk, Suwignyo mengatakan kendati kerajinan yang dihasilkan relatif sedikit, secara umum jumlah permintaan pasar cukup banyak. “Sapu ijuk buatan saya selalu ludes!” kata Suwignyo.

Omzet usaha sapu ijuk perajin yang satu ini terbilang kecil, tetapi umumnya perajin bisa menikmati keuntungan setiap hari karena peralatan rumah tangga ini tidak pernah surut dari konsumennya.

Terbukti setiap rumah tangga butuh sapu, sikat, dan keset. Demikian halnya sekolah,®MDUL¯ perkantoran, hingga rumah-rumah ibadah.

“Jadi, walaupun untungnya kecil, asal lancar, tidak jadi masalah buat saya,” kata Suwignyo.

Peluang Kerja

Dari besarnya permintaan pasar, berkelimpahnya bahan baku, peluang pasar kerja pun praktis makin banyak.

Tak bedanya dengan Suwignyo. Karena faktor usia, ia kini dibantu dua anak-anaknya yang tamat sekolah menengah. Hal itu dilakukan antara lain demi menjaga kelangsungan usaha dan permintaan konsumen.

Setidaknya perputaran barang yang biasa dititipkan di toko-toko berjalan lancar karena cepat laku. Menyusul titipan berikutnya.

Selain itu, Suwignyo menjual sendiri kerajinan tangan dengan berkeliling menggunakan sepeda. Setiap sapu ijuk ditawarkan dengan harga Rp3.000–Rp7.000 per buah.

Berapa pula penghasilan Suwignyo per hari? “Tidak kurang dari Rp50.000 seharinya,” ujarnya.

Sesuai dengan usianya juga, untuk pembuatan gagang sapu, dia menyerahkan sepenuhnya pada dua putranya. “Saya sudah tidak kuat mengerjakannya karena membuat gagang sapu ijuk dilakukan mulai memotong pohon sepanjang 1 meter–1,5 meter kemudian memampasnya dengan golok. Itulah yang ia rasakan sulit. Meskipun dia mengakui masih mampu menyediakan 20-an buah sapu ijuk dalam sehari.

Suwignyo mengaku kesulitan dalam hal bahan baku, khususnya ijuk. Bahkan untuk memperolehnya, dia tidak ragu-ragu “mengejar” hingga wilayah Tanjungbintang (Lampung Selatan) untuk sekadar mendapatkan bahan bakunya.

Tapi apakah di Tanjungbintang ijuk tersebut tersedia cukup banyak? Ternyata tidak selamanya mencukupi. Suwignyo mengatakan terkadang jumlahnya mencukupi, tetapi tidak jarang hingga tidak kebagian karena kalah cepat denga perajin lainnya.

Ditanya kendala dalam pemasaran, pertama maraknya perdagangan barang yang sama dengan bahan baku di luar ijuk. Sehingga menimbulkan persaingan yang begitu tajam.

“Tapi kalau mau dibandingkan dengan sapu yang bagus memang sapu ijuk buatan saya kalah bagus, tapi saya siap menjamin kalau sapu buatan saya lebih kuat dan tahan lama. Yang pasti harganya jauh lebih murah dibandingkan sapu yang bagus, tapi kualitasnya jelek,” kata dia.

Dari usaha ini, Suwignyo mengaku bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bahkan dari pekerjaannya itu ia bisa menyekolahkan kedua anaknya hingga tamat SMA.

“Ya…saya bersyukur bisa menyelesaikan sekolah anak-anak dari keringat saya membuat peralatan rumah ini. Kalau tidak dari sini, mau kerja apalagi saya, apalagi umur makin tua,” ujarnya.

Kendala berikut, usaha kerajinan ijuk sejauh ini berharap ada tambahan modal agar usaha tersebut tetap exist. Terlebih pascakenaikan harga BBM ini, sejumlah harga kebutuhan ikut naik sementara hasil kerajinannya sama sekali belum dinaikkan.

“Bagaimana mau dinaikkan, sudah dikasih harga murah saja masih ditawar pembeli. Maka itu saya sangat membutuhkan modal tambahan agar usaha saya bisa tetap bertahan. Karena kalau begini-begini saja (jalan di tempat, red), bisa-bisa saya tidak bisa bertahan,” katanya.n SWA/KAR/E-3

Tali Ijuk Warisan Yang Tak Tergantikan

Sumber: http://www.acehbaratkab.go.id/; 2008-04-15

Sinar matahari sangat terik siang itu, kami tetap melaju menelusuri jalan aspal yang mulus, dikiri-kanan jalan terhampar sawah dengan aktifitas para petani. Di sebelah kiri jalan terlihat aliran sungai meurebo yang terlihat tenang.

Tujuan kami mengarah ke desa ranto panjang barat yang berjarak 2,5 Km dari pusat kota kecamatan. Meski desa ini berlokasi bukan di pinggir jalan negara, namun sejak dahulu kehidupan masyarakat amatlah tenang. Penduduknya di kenal sebagai pengrajin emas, tapi ada yang lebih menarik soal pekerjaan yang paling banyak di lakukan oleh kaum perempuan dan anak-anak.yaitu membuat tali ijuk.

Desa ranto panjang barat dengan jumlah warga 648 jiwa, terdiri dari 323 laki dan 325 perempuan, sangat dikenal sebagai desa penghasil tali ijuk. Hampir rata-rata pekerjaan ini dilakukan oleh kaum perempuan dari anak-anak sampai wanita usia lanjut.

Di salah satu rumah warga yang bersebelahan dengan Pustu kesehatan, kami menjumpai seorang ibu bersama anaknya sedang membersihkan ijuk.
Maimunah Idris (44 thn) bercerita bahwa membuat tali ijuk telah puluhan tahun dijalaninya, pekerjaan tersebut sudah turun temurun di lakukan oleh perempuan di desanya. Sehingga menjadi sangat mudah untuk di lakukan, dalam keadaan santaipun tali ijuk akan selesai di kerjakan.

Ijuk berasal dari pohon aren yang banyak tumbuh dikecamatan woyla, kwalitasnyapun sangat baik sehingga dibawa orang ke desa mereka untuk dijual. Perkilonya ijuk tersebut dijual seharga Rp.10.000 lain halnya jika kita beli 1 lempeng, dapat dibeli dengan harga Rp.6000 saja.

Ijuk harus berada dalam keadaan kering agar tak perlu lama untuk di olah. Setelah itu ijuk tadi dibersihkan untuk menghilangkan duri-duri yang ada di dalam ijuk tersebut, dengan memakai gunting biasa, waktu yang di habikan untuk membersihkan cukup sehari saja, untuk menghabiskan 2 lempeng ijuk.
Baru disiapkan kayu dan pipa berukuran pendek untuk memudahkan kita memegang dalam melakukan pemutaran pertama. Pekerjaan ini haruslah sabar di kerjakan kadang saking asyiknya kita memutar ijuk bisa saja sudah puluhan meter panjangnya.

Setelah itu baru di lakukan pemutaran kedua, tahap ini dikerjakan sambil berdiri, karena ijuk harus ditarik dari kayu/pipa tadi sehingga dapat di ketahui berapa panjang ijuk yang di perlukan.

Satu gulung ijuk panjangnya sampai 40 meter , sehari maimunah dibantu putrinya munawarah (20 thn) sanggup menggulung ijuk 3-5 .Bahkan dalam sebulan 40-50 gulung ijuk siap dipasarkan.

Dalam hal penjualan, maimunah tidak perlu menjualnya ke pasar, karena di desa tersebut sudah ada agen yang siap membeli ijuk mereka. Harga yang ditawarkan kepada agen kampung cukup Rp. 7000 kecuali jika datang agen lain maka harganya mencapai Rp.8000.

Peran agen kampong menurut maimunah sangatlah membantu, jika mereka kehabisan modal untuk membeli ijuk, dapat meminjamnya dengan sang agen tadi. Sehingga apapun ceritanya usaha membuat tali ijuk ini tidak pernah berhenti. Kecuali si pekerjanya sedang sakit atau melahirkan, sehingga libur sampai berbulan-bulan.

Pekerjaan membuat ijuk tidaklah sesulit yang di lihat, hal tersebut di ungkapkan wanita separuh baya Maimunah Z (58 thn) yang belum lama menjalani profesi ini. Selamat dari tsunami 3 thn lalu, dirinya tinggal bersama anaknya di desa Ranto panjang barat. Seringnya ia melihat tetangga membuat tali ijuk, lama-kelamaan menjadi bisa sendiri. Lumayan hasil penjualan bisa menambah belanja sekalian menghabiskan masa tuanya.
Anak-anak di desa ini meski mereka bersekolah, pulangnya tetap ijuk yang di pegang.Pekerjaan ini di lakukan santai bisa sambil bercerita dengan teman sampai melihat TV tidak apa-apa ucap munawarah sambil mempersilakan kami minum teh hangat.

Meski jaman sudah semakin maju, banyak tali yang lebih modern dibuat untuk mengikat,namun tali ijuk masih di minati oleh sebagian penduduk Aceh. Ntah itu untuk mengikat pagar, membuat kandang ayam, penyapu atau membuat pukat nelayan.

Warisan dari nenek moyang patut kita lestarikan, buktinya dengan meneruskan pekerjaan membuat tali ijuk ini paling tidak perekonomian penduduk setempat mencukupilah untuk kebutuhan sehari-hari bahkan membayar uang sekolahpun bisa teratasi.

Suami-suami mereka turun kesawah sementara istri menunggu di rumah sambil bekerja membuat tali ijuk, setelah pekerjaan rumah masak dan menyuci selesai di kerjakan. Begitulah kehidupan perempuan di desa ranto panjang barat, bagaimanapun pekerjaan tersebut sudah berakar tak ingin menggantinya dengan yang lebih modern.

Matahari sudah mulai tenggelam, kamipun mohon diri, maimunah berjanji untuk mengajarkan cara memutar ijuk yang benar, meski sudah di coba berkali-kali tetap saja tangan ini kaku karena tak terbiasa..’’mau cepat bisa harus duduk di sini seharian agar warisan indatu kami lebih cepat menyerap.’’.!! ( LA )

Engkus raih fulus lewat ijuk rajutan

Sumber: http://www.situshijau.co.id/

Kini usaha pengolahan injuk yang dirintisnya Engkus sudah mencapai omzet penjualan di atas Rp400 juta setiap bulannya, belum termasuk injuk olahan bagi kepentingan ekspor ke beberapa negara terutama Taiwan.

Desa Cimuncang Kecamatan Bantarujeg, Majalengka terletak di kaki Gunung Ciremai yang selama ini dikenal kalangan masyarakat Jawa Barat sebagai daerah pemasok sayur-mayur karena tanahnya yang subur.

Meski sempat dihebohkan oleh gerakan keagamaan yang diduga pemerintah Orde Baru sebagai gerakan menyimpang namun daerah terpencil di kaki gunung atau 40 km dari pusat Kota Majalengka itu kini aman dan damai.

Bahkan roda perekonomian rakyat Desa Cimuncang seolah kian bersinar setelah seorang warga asli desa bernama Engkus merintis usaha pembuatan sapu berbahan baku injuk yang diperoleh dari pohon aren.

Warga setempat pun bangga karena injuk hasil desanya juga telah melanglang buana di pasaran ekspor seperti Taiwan dan Jepang yang dipasok untuk keperluan pembuatan mebel serta peralatan tempat tidur.

Sementara tak kurang dari 60.000 buah produk sapu berbahan baku injuk setiap bulannya terus mengalir ke pasar domestik di berbagai daerah. Malah pasokan sapu dikabarkan masih terasa kurang oleh sejumlah grosir di Jakarta dan Surabaya yang meminta kiriman 80.000 hingga 100.000 buah per bulan.

Engkus yang kini berumur 44 tahun merupakan pelopor berdirinya usaha pengolahan injuk di Bantarujeg dengan nama PD Jaya Indah yang kini menjadi pemasok utama kebutuhan injuk domestik untuk keperluan perajin, proyek properti, ekspor hingga aneka produk berbahan baku tebuan.

“Sekarang saya mempunyai karyawan hingga 135 orang yang berasal dari kampung sendiri. Bila mereka tidak lagi mengerjakan sawah-sawahnya maka karyawannya bisa bertambah banyak,” ujarnya.

Dengan jumlah tenaga kerja seperti sekarang, lanjut Engkus, masih tergolong sedikit sebab permintaan sapu berbahan injuk bisa melebihi 100.000 buah per bulan, sedangkan injuk untuk ekspor permintaannya bisa mencapai 30 ton per bulan.

Sementara kapasitas produksi yang dihasilkan usahanya yang tergolong industri kecil tidak lebih dari 60.000 buah sapu injuk serta 15 ton-20 ton injuk kualitas ekspor per bulan.

Pada awalnya usaha pengolahan injuk yang dirintis sejak 1994 itu hanya geluti tiga sampia sampai empat karyawan. Bekal keterampilan engolahan injuk diperoleh Engkus semasa kerja dengan perusahaan di kota lain.

“Saya dulu hanya seroang pekerja di perusahaan injuk. Tapi karena saya ingin maju dan injuk dari pohon aren banyak bertebaran di desa maka saya mencoba membuka usaha sendiri dengan modal seadanya,” kenangnya.

Usaha Engkus terus berkembang seiring dengan permintaan injuk yang terus naik, terutama injuk berkualitas ekspor bagi kepentingan proyek properti, seperti pengisi sepiteng, untuk sapu injuk, serta untuk kepentingan bahan dasar tempat tidur dan mebel.

Rp400 juta per bulan

Kini usaha pengolahan injuk yang dirintisnya Engkus sudah mencapai omzet penjualan di atas Rp400 juta setiap bulannya, belum termasuk injuk olahan bagi kepentingan ekspor ke beberapa negara terutama Taiwan.

“Usaha ini mulai berkembang cepat setelah Bank Mandiri dari Cirebon memberikan pinjaman usaha kecil sebesar Rp100 juta sehingga membantu dalam pengadaan kakab dari pohon aren yang dibeli dari petani,” katanya.

Kakab atau injuk yang baru diambil dari pohon aren itu sendiri dibeli dari petani seharga Rp5.000 per kg yang kemudian diolah dengan teknik sederhana seperti proses penyisiran rambut serta dipintal dan dijual Rp12.000-Rp17.500 per kg untuk pasar ekspor.

Guna memenuhi permintaan injuk yang sudah diproses untuk kepentingan ekspor, Engkus tidak hanya mengandalkan pasokan bahan baku dari desanya tapi juga mengambil dari petani di wilayah Kabupaten Garut.

Hanya memang, menurut dia, penjualan berbagai jenis injuk tersebut masih melalui beberapa grosir terutama yang berada di Surabaya. Termasuk dalam proses ekspornya yang dilakukan oleh trading house dan tidak dilakukan sendiri.

“Saya malah tidak tahu di Taiwan dan di Jepang-nya itu injuk dipakai untuk apa. Pokoknya saya dan para karyawan hanya perlu menyisir injuk yang baru dibeli dari pohon aren menjadi injuk yang berukuran sama serta yang sudah disisir,” kata Engkus.

Peningkatan penjualan injuk baik dalam bentuk bahan setengah jadi atau yang sudah menjadi sapu dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada tahun 2000, menurut Engkus, nilai penjualan baru mencapai Rp250 juta per bulan.

Namun pada tahun 2003 diperkirakan penjualannya akan lebih besar karena sudah mencapai Rp400 juta per bulan. Apalagi bila kalangan perbankan terus memberikan kreditnya.

“Karena saya itu kalau jual kan kadang menunggu cukup lama sampai cair sementara pembelian kakab atau injuk yang baru diambil dari pohon harus dibayar tunai sehingga kalau penjualannya mau naik maka harus punya uang cukup besar,” katanya.

Menurut Kepala Kanwil VI Bank Mandiri Jawa Barat Kemal Ranadireksa hubungan bank dengan industri kecil semacam PD Jaya Indah memang sudah terjalin sejak industri tersebut bergabung dengan bank eks merger dulu.

Namun, lanjutnya, Bank Mandiri berharap hubungan itu tidak sebatas penyaluran kredit saja melainkan juga pembinaan pada aspek lainnya seperti pengelolaan keuangan perusahaan.

“Dengan begitu industri kecil tersebut benar-benar dapat memanfaatkan dananya seoptimal mungkin,” demikian Kemal.   Sumber: Bisnis Indonesia

PENGARUH PENAMBAHAN SERAT IJUK PADA KUAT TARIK CAMPURAN SEMEN-PASIR DAN KEMUNGKINAN APLIKASINYA

Oleh: Wiryawan Sarjono P dan Agt. Wahjono

Wiryawan Sarjono P, Program Studi Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta Jl. Babarsari 44 Yogyakarta; email : wir@mail.uajy.ac.id

Agt. Wahjono; Program Studi Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta
email : wahjono@mail.uajy.ac.id

Sumber: Jurnal Teknik Sipil, Volume 8 No. 2, Pebruari 2008 : 159 – 169

ABSTRAKSI

Penambahan serat dalam adukan beton terbukti mampu meningkatkan kuat tarik beton. Untuk keperluan non struktur, secara terbatas material serat dapat digunakan dari bahan-bahan alami.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan serat ijuk pada adukan semen-pasir terhadap peningkatan kuat tarik belah, desak dan impact resistance-nya. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi industri bahan bangunan, khususnya untuk diaplikasikan sebagai bahan susun adukan paving block. Benda uji yang digunakan dalam penelitian ini, untuk masing-masing jenis adukan berupa 5 silinder uji tekan, 5 silinder uji tarik belah dan 3 benda uji impact. Perbandingan (volume) adukan adalah 1 : 11 (semen : pasir) sedang serat ijuk yang digunakan dengan panjang 2,5 cm. Penambahan serat ijuk masing-masing jenis adukan sebanyak (1 – 5) % dari berat semen. Kode yang digunakan pada benda uji adalah BI-0 untuk adukan tanpa ijuk, BI-1 untuk adukan dengan ijuk 1%, BI-2 untuk adukan dengan ijuk 2%, BI-3 untuk adukan dengan ijuk 3%, BI-4 untuk adukan dengan ijuk 4% dan BI-5 untuk adukan dengan ijuk 5%.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan serat ijuk sebanyak (1 – 5)% pada campuran semen-pasir mampu meningkatkan: (1) kuat tarik belah, dengan peningkatan kuat tarik tertinggi dicapai oleh penambahan ijuk sebanyak 4% yaitu sebesar 34,81 %. (2) kuat desak, dengan peningkatan kuat desak teringgi dicapai oleh penambahan ijuk sebanyak 4% sebesar 9,86 %. (3) ketahanan kejut.

Kata Kunci : kuat tarik, kuat desak, Impact Resistance

ABSTRACT

Increasing tensile strength of concrete can be obtained by adding fiber to the fresh concrete mix. In limited applications of non structural element, the natural fiber (mineral or organic) can be used.

This research is conducted to know the influence of palm fiber addition in cement-sand mix to increase the tensile, compresive strength and impact resistance. This result will be applicated in building material industries, especially for paving block production. Five cylinders for every mix are used to test the compressive, splitting and impact resistance. Volume fraction of mix are 1 : 11 (cement : sand) whereas 2.5 cm length of palm fibers are used with percentage about 1 – 5 % of cement weight. The sample codes are BI-0 for cement-sand mix only, BI-1 for cement-sand mix and 1 % palm fiber, BI-2 for cement-sand mix and 2 % palm fiber, BI-3 for cement-sand mix and 3 % palm fiber, BI-4 for cement-sand mix and 4 % palm fiber and BI-5 for cement-sand mix and 5 % palm fiber.

The result of this research shows that the addition of 1-5 % palm fiber on cement-sand mix can increase : (1) the tensile strength, and the maximum increasing is 34.81% by adding 4% palm fiber. (2) the compressive strength, and the maximum increasing is 9.86% by adding 4% palm fiber. (3) the impact resistance.

Keywords : compressive strength, splitting test, impact resistance

1. PENDAHULUAN

Dewasa ini adukan semen-pasir banyak digunakan untuk pembuatan paving block (conblock) perkerasan jalan. Dalam keadaan baru, perkerasan jalan dengan menggunakan paving block nampak sangat baik, namun setelah beberapa waktu kemudian, banyak paving block yang pecah sehingga tidak rapi lagi. Pecahnya paving block ini disebabkan oleh tegangan tarik dan desak yang terjadi, akibat beban lalu lintas melebihi kemampuannya.

Randing (1995) Penambahan serat ijuk pada pembuatan genteng beton telah terbukti mampu memperbaiki sifat fisis mekanis yang dimiliki, seperti meningkatkan kekuatan lentur dan mengurangi sifat regasnya. Hasil penelitian Yuwono, S. (1994) juga membuktikan bahwa penambahan ijuk menyebabkan benda uji (genteng dan panel dinding) tidak mengalami patah kejut saat dibebani.

Penelitian ini mencoba mengaplikasikan konsep penggunaan serat dalam campuran semen-pasir. Untuk memperbaiki kemampuan tarik paving block, akan diteliti pengaruh penambahan sejumlah ijuk pada adukan semen-pasir. Pemilihan ijuk sebagai serat dikarenakan bahan ini mudah didapat, awet, tidak mudah busuk serta mempunyai nilai ekonomis. Sementara untuk memperbaiki kemampuan desaknya dapat dilakukan dengan penambahan semen atau mengevaluasi faktor air semennya.

Ijuk merupakan serat alami pada pangkal pelepah enau (arenga pinnata) yang mempunyai kemampuan tarik yang cukup sehingga diharapkan dapat mengurangi retak dini maupun akibat beban. Apabila retak yang terjadi dapat dicegah maka persoalan yang berkaitan dengan kualitas paving block diatas bisa diatasi.

2. PERUMUSAN MASALAH

Dengan menambahkan serat ijuk pada adukan semen-pasir diharapkan akan berpengaruh terhadap sifat-sifat mekanik campuran tersebut. Apabila dipergunakan untuk perkerasan jalan, maka sifat-sifat adukan semen-pasir yang perlu diperbaiki adalah kemampuannya menahan tarik dan ketahanan terhadap kejut. Secara garis besar perumusan masalah yang akan diselesaikan dalam penelitian ini adalah :

a. Berapa besar peningkatan kuat tarik belah adukan semen-pasir akibat penambahan serat ijuk ?
b. Berapa besar peningkatan kuat desak adukan semen-pasir akibat penambahan serat ijuk ?
c. Berapa besar peningkatan ketahanan terhadap beban kejut dari adukan semen-pasir akibat penambahan serat ijuk ?
d. Dengan mempertimbangkan peningkatan kuat tarik, kuat desak dan ketahanan terhadap kejut akan ditentukan jumlah ijuk yang optimal, bila capuran semen-pasirijuk akan diaplikasikan dalam pembuatan paving block.

Peningkatan kuat tarik dan ketahanan terhadap beban kejut dari campuran semen-pasir yang dicampur dengan serat ijuk dikaji kemungkinan pemanfaatannya pada pembuatan paving block.

3. TINJAUAN PUSTAKA

Sorousian & Bayasi (1987), bahwa upaya untuk memperbaiki sifat-sifat yang kurang baik dari beton (misalnya kuat tariknya kurang dan sifatnya yang getas) dapat dilakukan dengan cara menambah serat pada adukannya. Pemikiran dasarnya adalah menulangi beton dengan serat secara merata, dan orientasi penyebarannya secara acak, sehingga dapat mencegah terjadinya retakan-retakan dini, baik akibat panas hidrasi maupun akibat pembebanan. Dengan adanya pencegahan retakan-retakan dini maka kemampuan bahan untuk mendukung tegangan-tegangan dalam seperti aksial, lentur dan geser akan meningkat.

Beberapa jenis bahan serat yang dapat digunakan untuk memperbaiki sifat-sifat beton adalah baja, plastik, kaca dan karbon. Untuk keperluan non-struktural dapat digunakan serat dari bahan alamiah, seperti bambu, ijuk atau serat tumbuhan lainnya. Beberapa hasil penelitian juga menunjukkan bahwa beton fiber mampu memperbaiki sifat-sifat beton, yaitu : (a) daktilitas, (b) ketahanan terhadap kejut, (c) kemampuan menahan tarik dan momen lentur, (d) ketahanan terhadap kelelahan/fatigue life, (e) ketahanan terhadap pengaruh susutan (shrikage) dan ketahanan terhadap ausan, fragmentasi dan spalling.

Ijuk merupakan bahan alami yang dihasilkan oleh pangkal pelepah enau (arenga pinnata) yaitu sejenis tumbuhan bangsa palma. Serabut ijuk biasa dipintal sebagai tali (tali ijuk), sapu atau dijadikan atap, selain itu dalam kontruksi bangunan ijuk digunakan sebagai lapisan penyaring (filter) pada sumur resapan. Ijuk mempunyai sifat awet dan tidak mudah busuk baik dalam keadaan terbuka (tahan terhadap cuaca) maupun tertanam dalam tanah.

Penggunaan beton serat baja untuk perkerasan kaku (rigid pavement) jalan raya dan struktur lantai, yang juga harus menahan beban kejut (impact) yang cukup besar telah dilaporkan oleh Schrader (1987). Dalam pengujiannya beton serat memiliki kuat lentur yang tinggi serta kemampuan menahan fatigue, sehingga dapat mengurangi tebal perkerasan serta memiliki performance yang lebih baik.

Penelitian yang dilakukan oleh Suhendro (1991) dengan menambahkan fiber lokal (berupa potongan kawat bendrat, panjang 60 mm) sebanyak 50 kg untuk setiap meter kubik dengan perbandingan bahan susun beton 1 : 0,85 : 2,14 (semen : pasir : kerikil) diperoleh suatu beton yang mempunyai ketahanan beban impak (impact resistance) yang relatif tinggi bila dibandingkan dengan beton biasa maupun beton granolitic grade-A. Penambahan fiber juga meningkatkan ketahanan terhadap susutan (shrinkage) yang mencapai 1,5 kali lebih besar dibandingkan dengan beton biasa.

Yuwono, S. (1994) dalam penelitiannya memanfaatkan limbah lumpur sedimentasi air bersih yang dicampur serat ijuk untuk membuat genteng dan panel dinding. Hasil yang diperoleh pada pengujian beban patah pada genting limbah dan kuat lentur panel limbah menunjukkan bahwa penambahan serat ijuk mengakibatkan penurunan kekuatan, namun keuntungannya pada saat menerima beban uji beban tidak mengalami patah kejut.

Penambahan serat ijuk juga dilakukan oleh Randing (1995) dalam penelitiannya. Randing (1995) menambahkan serat ijuk sebanyak 1 – 2 % dari berat semen. Hasil penelitian pada pembuatan genting beton, membuktikan bahwa penambahan ijuk sebanyak 1 – 2 % dari berat semen dapat mengatasi sifat regasnya serta meningkatkan kekuatan lentur sebesar 12 – 16 %. Kekuatan lentur dari hasil penelitian ini memenuhi syarat mutu tingkat II menurut SK SNI S 04-1989-F spesifikasi bahan bangunan bagian A.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Adukan semen-pasir untuk pembuatan elemen non struktur, biasa dilakukan dengan perbandingan semen : pasir (volume) sebesar 1 : (7 – 8) dengan kuat desak antara 2,7 – 5 MPa, tergantung jenis semen yang digunakan. Dalam praktek dilapangan para pengusaha paving block menggunakan perbandingan (volume) campuran semen : pasir, 1 : (10 – 12).

Untuk penelitian ini perbandingan campuran ditentukan berdasarkan pada kondisi yang terjadi di lapangan, perbandingan (volume) semen : pasir ditetapkan sebesar 1 : 11. Serat ijuk diperoleh dengan mengurai pangkal pelepah enau sehingga berwujud serat, dan selanjutnya serat ini dipotong-potong sepanjang ± 2,50 cm.

4.1. Kuat Tarik Belah

Benda uji silinder sebanyak 5 buah bagi masing-masing jenis campuran dipersiapkan untuk pengujian tarik belah. Hasil pengujian Kuat tarik belah (splitting test) benda uji silinder pada umur 28 hari diperlihatkan pada Tabel 1 berikut :

Tabel 1. Kuat Tarik Belah Campuran Semen-Pasir-Ijuk
No. Kode Campuran Kuat Tarik
Mpa
Peningkatan
%
1. BI-0 0.807 -
2. BI-1 0.865 7.18 %
3. BI-2 0.932 15.49 %
4. BI-3 1.048 29.80 %
5. BI-4 1.088 34.81 %
6. BI-5 0.850 5.31 %
Keterangan :
BI-0 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 0 %
BI-1 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 1 %
BI-2 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 2 %
BI-3 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 3 %
BI-4 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 4 %
BI-5 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 5 %
Hasil pengujian menunjukkan campuran BI-0 mempunyai kuat tarik sebesar 0,807 MPa.
Campuran BI-1 mempunyai kuat tarik sebesar 0,865 MPa. Peningkatan kuat tarik untuk
campuran semen-pasir dengan penambahan ijuk 1 % (BI-1) adalah sebesar 7,18 %. Campuran
BI-2 dengan penambahan ijuk 2 % mempunyai kuat tarik sebesar 0,932 MPa dan peningkatan
kuat tarik sebesar 15,49 %. Campuran BI-3 dengan penambahan ijuk 3 % mempunyai kuat
tarik sebesar 1,048 MPa dengan peningkatan kuat tarik sebesar 29,80 %. Campuran BI-4
dengan penambahan ijuk 4 %, mempunyai kuat tarik sebesar 1,088 MPa dan peningkatan kuat
Pengaruh Penambahan Serat Ijuk Pada Kuat Tarik Campuran Semen-Pasir
dan Kemungkinan Aplikasinya
(Wiryawan Sarjono P, Agt. Wajono)
163
tarik
Gambar 3. Sisa Hasil Uji Tarik Untuk Campuran Dengan Ijuk

4.2. Kuat Desak

Hasil pengujian Kuat desak benda uji bentuk silinder dapat dilihat pada tabel 2
Pengujian dilakukan pada waktu benda uji silinder berumur 28 hari. Untuk setiap jenis
campuran dilakukan pengujian terhadap 5 buah benda uji silinder. Campuran semen-pasir, BI-
0 mempunyai kuat desak sebesar 7,440 MPa, sedang campuran dengan penambahan ijuk
sebesar 1 %, BI-1 mempunyai kuat desak sebesar 8,073 MPa atau mengalami peningkatan
kuat desak sebesar 8,51 %. Campuran semen-pasir dengan ijuk 2 %, BI-2 mempunyai kuat
desak sebesar 8,094 MPa atau meningkat sebesar 8,79 %. Campuran semen-pasir dengan ijuk
3 %, BI-3 mempunyai kuat desak sebesar 8,104 MPa dan mengalami peningkatan kuat desak
sebesar 8,93 %. Campuran semen-pasir dengan ijuk 4 %, BI-4 mempunyai kuat desak sebesar
8,174 MPa dengan peningkatan kuat desak sebesar 9,86 %. Campuran semen-pasir dengan
ijuk 5 %, BI-5 mempunyai kuat desak sebesar 7,584 MPa sebesar 1,93 %. Peningkatan kuat
desak tertinggi dicapai oleh campuran semen-pasir dengan ijuk 4 % (BI-4) yaitu sebesar 9,86
%.
Tabel 2. Kuat Desak Campuran Semen-Pasir-Ijuk
No. Kode Campuran Kuat Desak
Mpa
Peningkatan
%
1. BI-0 7.440 -
2. BI-1 8.073 8.51 %
3. BI-2 8.094 8.79 %
4. BI-3 8.104 8.93 %
5. BI-4 8.174 9.86 %
6. BI-5 7.584 1.93 %
Keterangan :
BI-0 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 0 %
BI-1 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 1 %
BI-2 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 2 %
BI-3 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 3 %
BI-4 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 4 %
BI-5 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 5 %
Gambar 4. Grafik hubungan kuat desak campuran semen-pasir-ijuk
dengan persentase penambahan ijuk

Dari hasil pengujian yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa penambahan serat ijuk
dalam campuran mampu meningkatkan kuat desak. Untuk penambahan serat ijuk 1 – 4 %
peningkatan kuat desak yang terjadi seiring dengan bertambahnya kandungan ijuk dalam
campuran. Persentase peningkatan kuat desak tidak sebesar pada peningkatan kuat tarik.
Peningkatan kuat desak sebesar 9,86 % sesuai dengan temuan Soroushian dan Bayasi (1987)
yaitu antara 0 sampai dengan 15 %. Meski demikian, peningkatan kuat desak pada campuran
BI-5 sebesar 1,93 %, tidak sesuai dengan yang dilaporkan Soroushian dan Bayasi (1987)
bahwa penambahan serat akan meningkatkan kuat desak campuran. Salah satu penyebab
kejadian ini, yang dapat dijelaskan adalah faktor pelaksanaan benda uji, yaitu tidak meratanya
serat ijuk yang dicampurkan (balling effect). Secara visual dapat dilihat dari bongkahan
silinder sisa pengujian yang dipecah, dimana terdapat beberapa bagian campuran dengan
gumpalan ijuk di dalamnya.

4.3.Ketahanan Kejut

Ketahanan terhadap beban kejut benda uji campuran semen-pasir-ijuk dengan berbagai
variasi jumlah ijuk, memberikan hasil seperti tabel 3. Ketahanan kejut dapat dinyatakan
sebagai rasio antara beban pada saat benda uji patah dengan beban pada saat retak pertama.

Gambar 5 memperlihatkan diagram hubungan antara jenis campuran dengan nilai
impact resistance-nya, yang dinyatakan sebagai jumlah pukulan (blows) yang diperlukan
untuk membuat benda uji mengalami retak yang pertama kali (first crack) dan untuk membuat
benda uji tersebut pecah (failure). Dari gambar 5 juga dapat ditunjukkan bahwa campuran
tanpa penambahan ijuk langsung retak saat diberikan pukulan yang pertama kali. Hasil ini
mengindikasikan bahwa campuran semen-pasir (tanpa ijuk) bersifat getas (brittle).

Campuran BI-1 dengan penambahan ijuk sebanyak 1 % juga mengalami retak pertama
pada pukulan pertama. Ini menunjukkan bahwa keruntuhan yang terjadi juga bersifat getas
(brittle). Penambahan ijuk yang terlalu sedikit tidak berpengaruh pada sifat keruntuhannya.
Disisi lain dengan penambahan serat ijuk sebanyak 2 – 5 % pada campuran semen-pasir
diperoleh peningkatan impact resistance yang cukup besar.

Untuk campuran BI-2 dengan penambahan ijuk sebesar 2 % diperlukan 4 pukulan
untuk mencapai retak pertama (first crack) dan 5 pukulan untuk mencapai kondisi pecah
(failure). Fakta ini menunjukkan bahwa untuk mencapai kondisi pecah dari kondisi retak
pertama diperlukan 1 pukulan.

Tabel 3. Ketahanan Kejut
Rerata Jumlah Pukulan
No. Kode
Campuran Retak Pecah
Ketahanan Kejut
(Impact Resistance)
1. BI-0 * – -
2. BI-1 * – -
3. BI-2 4 5 4/5
4. BI-3 6 11 6/11
5. BI-4 13 19 13/19
6. BI-5 11 17 11/17
Keterangan :
* : retak pada pemberian pukulan pertama
BI-0 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 0 %
BI-1 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 1 %
BI-2 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 2 %
BI-3 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 3 %
BI-4 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 4 %
BI-5 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 5 %
HASIL PENGUJIAN KETAHANAN KEJUT
4
6
13
11
5
11
19 17
0
5
10
15
20
0 1 2 3 4 5
Jumlah Penambahan Ijuk (%)
Jumlah Pukulan
retak
pecah
Gambar 5. Grafik hubungan jumlah pukulan yang mengakibatkan kerusakan
dengan persentase penambahan ijuk

Campuran BI-3 memiliki kandungan serat ijuk sebesar 3 % dari berat semen,
mengalami retak pertama setelah mendapat 6 pukulan dan pecah pada pukulan ke 11. Jumlah
tambahan pukulan yang diperlukan untuk kondisi retak pertama (first crack) sampai kondisi
pecah adalah 5 pukulan. Ini berarti keruntuhan yang terjadi juga bersifat daktail.

Campuran BI-4, dengan penambahan serat ijuk sebanyak 4 % memerlukan 13 pukulan
untuk mencapai kondisi retak pertama (first crack), dan sebanyak 19 pukulan untuk kondisi
pecah (failure). Ini berarti dibutuhkan 6 pukulan lagi dari kondisi retak pertama sampai
mencapai pecah. Sesuai data ini keruntuhan yang terjadi dari campuran BI-4 bersifat liat
(daktail). Bahkan pukulan yang diperlukan untuk kondisi pecah merupakan yang terbanyak
dibanding jenis campuran yang lain.

Campuran BI-5, dengan penambahan serat ijuk sebanyak 5 % memerlukan 11 pukulan
untuk mencapai kondisi retak pertama (first crack), sebanyak 17 pukulan untuk kondisi pecah
(failure). Sama seperti campuran BI-4, dibutuhkan 6 pukulan lagi dari kondisi retak pertama
sampai mencapai pecah. Dari data ini, dapat disimpulkan keruntuhan yang terjadi dari
campuran BI-4 bersifat liat (daktail).

Dari temuan diatas membuktikan bahwa penambahan serat ijuk dalam campuran
semen-pasir mampu memperbaiki sifat campuran yang sebelumnya getas (brittle) menjadi liat
(ductile). Hasil ini sesuai dengan temuan yang diperoleh oleh Yuwono, S. (1994) bahwa
penambahan serat ijuk pada pembuatan genting dan panel limbah, dalam pengujiannya tidak
mengalami patah kejut. Hasil yang senada juga dilaporkan oleh Suhendro (1991) dalam
penelitiannya yang menggunakan serat lokal (kawat bendrat) dalam campuran beton.

Campuran semen-pasir yang digunakan dalam pembuatan paving block (seperti pada kasus
BI-0), berdasar temuan diatas tentu akan bersifat getas dan tidak tahan terhadap beban kejut
sehingga memunculkan retak-retak dini maupun akibat beban luar. Hal ini nantinya akan
dapat diperbaiki dengan menambahkan serat ijuk dalam campuran semen-pasir.

4.4. Aplikasi Penggunaan Serat Ijuk

Seperti telah diuraikan sebelumnya penambahan serat ijuk pada campuran semen-pasir
mempu meningkatkan kuat tarik, kuat desak dan mempunyai ketahanan terhadap kejut
(meningkatkan daktilitas). Disisi lain pembuatan paving block untuk perkerasan jalan dituntut
mempunyai kekuatan terhadap tegangan tarik, desak dan ketahanan terhadap kejut. Dengan
kenyataan tersebut sangat beralasan apabila hasil penelitian ini dapat diaplikasikan dalam
pembuatan paving block, terutama untuk keperluan perkerasan jalan.

Bila campuran semen-pasir-ijuk akan dijadikan sebagai bahan susun pembuatan
paving block, dan mengingat penanganan adukan serat ini agak lain dari pembuatan adukan
biasa maka perlu diperhatikan beberapa hal berikut :

a. Ketersediaan ijuk

Ijuk merupakan produk pertanian sehingga ketersediaannya di alam selalu dapat
diperbaharui, yang berarti proses penyediaannya tidak merusak lingkungan.
Disamping itu ijuk hanya merupakan produk sampingan dari pohon enau sehingga
memiliki nilai ekonomis. Kendala yang dihadapi apabila ijuk akan dijadikan serat
adalah proses pabrikasinya yang masih dikerjakan secara manual dan memakan waktu.

b. Teknik pencampuran

Dari penelitian terdahulu dapat dikatakan bahwa makin banyak jumlah serat yang
ditambahkan dalam adukan beton, akan menurunkan kelecakan (workability) dari
adukan tersebut. Dilain pihak penambahan serat dalam adukan beton akan mampu
memperbaiki beberapa sifat mekanik beton. Hal ini tentunya juga berlaku bagi
penambahan ijuk ke dalam campuran semen-pasir.

Penelitian ini juga telah menunjukkan bahwa penambahan ijuk sampai 4 % (dari berat
semen) mampu memperbaiki performance campuran semen-pasir. Peningkatan performance
campuran lebih lanjut, dapat dilakukan dengan menambah jumlah semen namun akan
berdampak pada biaya produksi.

5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Setelah mengevaluasi hasil penelitian serta pembahasan dalam bab sebelumnya, maka
dengan menambahkan serat ijuk dengan panjang ± 2,5 cm sejumlah 1 – 5 % (dari berat semen)
ke dalam campuran dengan perbandingan (volume) bahan susunnya adalah 1 : 11 dan nilai
faktor air semen 0,64 diperoleh beberapa kesimpulan berikut ini.

  1. Penambahan serat ijuk pada campuran semen-pasir mampu meningkatkan kuat tarik campuran. Peningkatan kuat tarik tertinggi dicapai dengan penambahan ijuk sebanyak 4 % dari berat semen (BI-4), yaitu sebesar 34,81 %.
  2. Penambahan serat ijuk pada campuran semen-pasir mampu meningkatkan kuat desak campuran. Peningkatan kuat desak tertinggi dicapai oleh penambahan ijuk sebanyak 4 % dari berat semen (BI-4), yaitu sebesar 9,86 %.
  3. Penambahan serat ijuk sebanyak 2 sampai 5 % pada campuran semen-pasir mampu meningkatkan daktilitas. Keruntuhan akibat beban kejut tertinggi dicapai oleh campuran dengan jumlah ijuk 4 %, dimana untuk retak pertama diperlukan 13 pukulan, dan untuk pecah diperlukan 16 pukulan.
  4. Ditinjau dari hasil pengujian kuat tarik, kuat desak serta ketahanan terhadap beban kejut, campuran dengan penambahan ijuk 4 % merupakan campuran dengan performa terbaik.

5.2. Saran

Hasil-hasil pengujian di laboratorium yang telah dikaji sebelumnya masih harus
dibuktikan di dalam praktek. Untuk itu perlu mengaplikasikan hasil penelitian ini terutama
untuk pembuatan paving block. Studi perbandingan dapat dilakukan terhadap penggunaan
paving block yang bahan susunnya menggunakan ijuk dan yang tanpa ijuk. Selanjutnya
evaluasi dapat dilakukan secara periodik untuk memperoleh gambaran yang sesungguhnya.

Perlu dikembangkan teknik pencampuran dan pabrikasi serat ijuk agar hasil yang
sudah diperoleh dapat ditingkatkan. Teknik pencampuran yang baik akan mampu membuat
penyebaran serat ijuk merata secara acak, sedang pabrikasi akan sangat membantu penyediaan
serat ijuk secara lebih efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Randing, 1995, Penelitian Pengaruh Penambahan Serat Ijuk Pada Pembuatan Genteng Beton,
Jurnal Penelitian Permukiman Vol 11-1/1995, Puslitbangkim, Bandung.

Schrader, E.K., 1987, State of The Art Fiber Renforced Concrete Pavements and Slabs,
Proceding of The International Seminar on Fiber Reinforced Concrete, Michigan
State University, Michigan.

Suhendro, B., 1991, Ketahanan Kejut (Impact Resistance) Beton Fiber Lokal dan
Kemungkinan Aplikasinya Pada Struktur-struktur Sabo Untuk Penanggulangan
Bahaya Gunung Merapi, Pusat Antar Universitas – Ilmu Teknik UGM, Ditjen
DIKTI, Yogyakarta.

Soroushian and Bayasi, Z., 1987, Concept of Fiber Reinforced Concrete, Proceding of The
International Seminar on Fiber Reinforced Concrete, Michigan State University,
Michigan.

Soroushian and Bayasi, Z., 1987, Fiber Reinforced Concrete : Theoretical, Concept and
Structural Design, Proceding of The International Seminar on Fiber Reinforced
Concrete, Michigan State University, Michigan.

Yuwono, S., 1994, Penelitian Pengaruh Penambahan Serat Ijuk Dan Serabut Kelapa Pada
Bahan Bangunan Genteng Dan Panel Limbah PDAM, Jurnal Penelitian Permukiman
Vol 10-6/1994, Puslitbangkim, Bandung.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 34 other followers

%d bloggers like this: