Aren Indonesia

Ibrahim

PERUBAHAN SOSIAL DAN EKONOMI PADA KOMUNITAS PENGRAJIN GULA AREN

Oleh: Ibrahim

Sumber: E-Learning BPPLSP Regional V, Rubrik : Karya Tulis, Senin, 22 September 2008

Abstract:

Setiap kehidupan manusia senantiasa mengalami perubahan, baik yang bersifat evolusi, revolusi, direncanakan atau tidak direncanakan dan dapat dianalisis dari dua masa yang berbeda. Komunitas pengrajin gula aren adalah bahagian dari masyarakat yang mengalami perubahan di Desa Salebba Kecamatan Ponre Kabupaten Bone.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) perubahan sosial dan ekonomi meliputi; pola hubungan, pola pemukiman, pola hidup, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, perumahan, perabot rumahtangga, dan kepemilikan barang tahan lama (durable goods) dan (2) faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial dan ekonomi
Jenis penelitian ini bersifat deskriptif tanpa melalui proses uji statistik, data yang dikumpulkan dianalisis dan dijelaskan. Metode pengumpulan data adalah dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sasaran penelitian adalah komunitas pengrajin gula aren yang masih aktif, terdiri dari 20 orang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) Secara internal keluarga pengrajin dalam bekerja tidak nampak perubahan yang berarti, hubungan antara produsen dengan pedagang/tengkulak dalam hal pemasaran serta hubungan dengan penentu kebijakan dalam hal pungutan pajak pendapatan desa mengalami perubahan. Perubahan pola pemukiman pengrajin dari terpencar menjadi berkelompok, pola hidup di tinjau dari cara berpakaian, peningkatan pendidikan, pendapatan, semakin membaiknya kondisi perumahan, bertambah lengkapnya perabot rumah tangga, dan kepemilikan barang tahan lama (durable goods) dan (2) faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan sosial dan ekonomi adalah menyangkut faktor internal berupa ketidak puasan terhadap pekerjaan tertentu, orientasi masa depan, dan nilai untuk meningkatkan taraf hidup. Faktor eksternal berupa lingkungan hidup, tuntutan ekonomi penentu kebijakan, dan akumulasi kebudayaan.

PENDAHULUAN

Setiap kehidupan masyarakat manusia senantiasa mengalami perubahan-perubahan. Hal ini terjadi karena manusia mempunyai kepentingan-kepentingan yang berbeda. Perubahan ini adalah merupakan fenomena sosial yang wajar. Menurut Alvin, Suwarsono (1991), bahawa kenyataan sosial selalu berada terus-menerus dalam proses perubahan. Demikian pula yang diungkapkan oleh Soekanto (2000), bahwa setiap masyarakat pasti pernah mengalami perubahan, ini disebabkan tidak adanya masyarakat yang hidup secara terisolasi mutlak.

Para ahli sosiologi mempercayai bahwa, masyarakat manapun pasti mengalami perubahan berlangsung puluhan atau bahkan ratusan tahun yang lalu. Perbedaannya dengan yang terjadi di masa yang lalu adalah dalam hal kecepatannya, intensitasnya, dan sumber-sumbernya. Perubahan sosial sekarang ini berlangsung lebih cepat dan lebih intensif, sementara itu sumber-sumber perubahan dan unsur-unsur yang mengalami perubahan juga lebih banyak.

Perubahan-perubahan yang terajadi bisa merupakan kemajuan atau mungkin justru suatu kemunduran. Unsusr-unsur yang mengalami perubahan biasanya adalah mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perikelakuan, organisasi sosial, lembaga-lembaga kemasyarakatan, stratifikasi sosial, kekuasaan, tanggung jawab, kepemimpinan dan sebagainya. Dalam masyarakat maju atau pada masyarakat berkembang, perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan selalu berkaitan erat dengan ciri dan bentuk perekonomiannya.

Menurut Dagun (1992:48) “Setiap tingkat peradaban manusia cenderung dicirikan oleh tingkat dan bentuk perekonomiannya.” Berdasar dari pendapat tersebut dapat dilihat pada manusia primitif adalah berbentuk komunitas seperti keluarga, klen, marga dan desa yang kesemuanya terdiri dari keluarga-keluarga satu turunan. Pada zaman itu relasi produksi didasarkan pada pemilikan bersama (kolektif) atas alat-alat dan sarana-sarana produksi misalanya alat-alat kerja, tanah, tempat tinggal, alat-alat pertanian dan sebagainya. Dalam perkembangan berikutnya muncullah komunitas yang lebih besar di mana peradabannya setingkat lebih tinggi dari sistem komunitas primitif, yaitu komunitas pedesaan. Komunitas ini masih tergolong tahap komunitas primitif, tetapi sudah mempunyai kesatuan teritorial dari komunitas-komunitas keluarga yang lebih besar.

Sejalan dengan uraian tersebut di atas, Sukmana (2005:12) mengatakan, bahwa:  Dalam periode kehidupan masyarakat primitif ditandai dengan produktifitas rendah. Pada tahap ini bidang kegiatan yang menonjol adalah pertanian. Setelah proses awal ini berakhir terjadi perubahan yang disebut masa pra kondisi transisi karena pada masa ini terjadi peralihan bentuk masyarakat ekonomi dari masyarakat primitif komunal menuju kapitalisme pra menopol.

Fenomena peroses perubahan sosial ekonomi, tentu tidak terjadi begitu saja tanpa ada penyebab-penyebab perubahan itu, baik yang sifatnya evolusi, revolusi, direncanakan atau tidak direncanakan. Sebagaimana terjadi di Indonesia, terutama perubahan sosial ekonomi yang direncanakan dapat dilihat pada periode pembangunan pemerintahan Orde Baru dan Orde Reformasi telah berhasil menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan, terutama hasil-hasil pembangunan yang bersifat fisik (pembangunan infrastruktur) seperti membangun jalan, gedung, penurunan angka kemiskinan dan pengembangan sektor industri. Perubahan sosial yang sifatnya direncanakan ini berakibat terhadap perubahan-perubahan sosial lainnya. Hal ini dapat dilihat pada komunitas pengrajin gula aren di Desa Salebba Kecamatan Ponre Kabupaten Bone yang merupakan gambaran suatu desa yang mengalami peroses perubahan sosial dan ekonomi.

Komunitas pengrajin gula aren adalah sekelompok masyarakat yang hidup di suatu daerah dengan bekal keterampilan hidup (life skill) secara turun temurun, tanpa melalui pendidikan khusus. Keterampilan hidup tersebut diadopsi secara alamiah dengan sistem pembudayaan oleh sekelompok msyarakat yang pada umumnya berada di daerah hutan dan pegunungan.

Perubahan tingkat ekonomi pada komunitas pengrajin gula aren adalah dengan semakin intensifnya kegiatan produksi, ini dibuktikan oleh Nurlaela (2002:45) bahwa “Hasil usaha pembuatan gula aren di Desa Salebba Kecamatan Ponre Kabupaten Bone memberikan keuntungan yang berarti dalam rangka peningkatan kesejahteraan keluarga pengrajin.” Demikian pula hasil penelitian analisis finansial pengelolahan gula aren dikatakan bahwa, usaha pengolahan gula aren skala rumah tangga layak untuk dapat dikembangkan dengan hasil berkisar Rp 1.579.000,-/bulan (Kadir W. Abdul, 2005).

Perubahan sosial ekonomi pada komunitas pengrajin gula aren yang telah diuraikan tersebut di atas, tentu tidak terlepas pada pengaruh-pengaruh dari dalam yang menyebabkan pengrajin gula aren berupaya unuk selalu ingin melakukan perubahan kehidupan sosial dan ekonominya. Hal ini sejalan dengan pendapat Soekanto (2000:486) bahwa “Dalam suatu kelompok masyarakat bahkan semua individu yang ada di dalamnya selalu berupaya untuk mengadakan perubahan-perubahan sosial dalam kehidupannya.” Ini membuktikan bahwa manusia itu pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk mengubah citra dirinya, maupun mengubah lingkungan sosialnya.

Kecenderungan ini tidak lepas dari citra manusia itu sendiri yang selalu berfikir, bekerja keras, menjalin hubungan dengan orang lain atas dasar cinta sesama manusia dan kemanusiaan, mempertinggi kualitas dirinya dan lingkungannya untuk memberi daya dukung bagi terjadinya perubahan sosial. Sejalan dengan hal di atas Bungin (2001) mengatakan, bahwa manusia dalam banyak hal memiliki kebebasan untuk bertindak secara aktif dan kreatif mengembangkan dirinya melalui respon-respon terhadap stimulus dalam dunia kognitifnya. Dengan demikian manusia bertindak sesuai dengan apa yang ada di dalam pemikirannya mengenai perubahan, sehingga terjadi perubahan-perubahan sosial.

Penyebab perubahan sosial ekonomi komunitas pengrajin gula aren adalah juga tidak terlepas dari ketidakpuasan akan pekerjaan-pekerjaan tertentu yang telah digelutinya dengan tingkat penghasilan yang sangat minim. Oleh karena itu mereka termotivasi untuk meningkatkan tarap hidupnya dengan berorientasi pada masa datang yang lebih layak. Penyebab perubahan sosial ekonomi pada komunitas pengrajin gula aren, yang bersumber dari luar (eksternal) adalah antara lain; lingkungan hidup yang memungkinkan masyarakat dapat terinspirasi dalam berbuat dan bertindak oleh keadaan di sekitarnya, tuntutan ekonomi yang semakin hari semakin meningkat seiring oleh laju peningkatan jumlah penduduk yang tidak diiringi peningkatan sumber daya manusia.

Pengaruh yang tidak kalah pentingnya dalam perubahan sosial ekonomi adalah keterlibatan unsur-unsur penentu kebijakan dengan ideologi perubahan, antara lain pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah sebagaimana yang tertuang dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara tentang tujuan pembangunan nasional yakni untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata materil dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pembangunan yang dicanangkan oleh pemertintah adalah merupakan peroses perubahan yang disengaja dan direncanakan sesuai dengan kondisi dan keadaan penduduk. Lebih lengkap lagi, pembangunan berarti perubahan yang disengaja atau direncanakan dengan tujuan untuk mengubah keadaan yang tidak dikehendaki ke arah yang dikehendaki. Istilah pembangunan umumnya dipadankan dengan kata development, sekalipun istilah development sebenarnya berarti perkembangan tanpa perencanaan. Oleh karena itu pembangunan masyarakat desa adalah juga disebut rural development. Berdasarkan uraian di atas, dipahami bahwa pembangunan secara fundamental tidak dapat dipisahkan dari aktivitas manusia ke arah suatu proses perubahan sosial. Gerak penduduk dipandang sebagai bagian integral dan kondisi yang penting dari proses perubahan sosial dan pembangunan ekonomi (Abustan, 1989).

Di negara-negara berkembang, proses perubahan dan perkembangan yang terjadi pada masyarakat, termasuk masyarakat desa tidak lepas dengan campur tangan Pemerintah. Dengan demikian jelas bahwa yang merencanakan dan merekayasa perubahan adalah Negara (Pemerintah). Campur tangan Negara ini dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat akselerasi pembangunan bangsa agar tidak tertinggal dari berbagai dimensi perkembangan kehidupan.

Berdasarkan rumusan pengertian pembangunan di atas, di Indonesia rumusan pembangunan yang dicanangkan sesuai rumusan yang terdapat dalam UUD 1945, maka pada Undang-undang Nomor 85 Tahun 1985 dikatakan bahwa pengertian pembangunan nasional kita sebagai usaha untuk mempertinggi tingkat kehidupan bangsa Indonesia dengan jalan peningkatan produksi dan pengubahan struktur perekonomian yang ada menjadi struktur perekonomian nasional. Semakin memperjelaslah bahwa, perubahan sosial yang direncanakan atau direkayasa oleh pemerintah dapat mempercepat proses perubahan sosial ekonomi masyarakat.

Menelaah kondisi yang telah dipaparkan di atas dan masalah faktual yang menyebabkan terjadinya perubahan adalah dampak perubahan sosial yang terjadi di luar lingkungan masyarakat pengrajin gula aren seperti yang terjadi pada wilayah-wilayah perkotaan yang terdekat dan pengaruh-pengaruh penemuan teknologi baru sehingga komunitas pengrajin gula aren terdesak untuk menyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan, keadaan-keadaan dan kondisi-kondisi baru yang muncul. Perubahan sosial tersebut merupakan gambaran umum yang terjadi di luar perencanaan maupun kesengajaan dan umumnya disebut sebagai perubahan evolusioner. Oleh karena itu menjadi suatu inspirasi untuk mengetahui dan menganalisis perubahan sosial ekonomi masyarakat desa, khususnya pada komunitas pengrajin gula aren yang ada di Desa Salebba Kecamatan Ponre Kabupaten Bone.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis menetapkan beberapa rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah gambaran perubahan sosial dan ekonomi pada komunitas pengrajin gula aren di Desa Salebba Kecamatan Ponre Kabupaten Bone? (2) Faktor-faktor apakah yang menyebabkan perubahan sosial ekonomi pada komunitas pengrajin gula aren di Desa Salebba Kecamatan Ponre Kabupaten Bone?

METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik pengumpulan data meliputi:

  1. Wawancara, teknik ini digunakan untuk mengetahui secara langsung mengenai perubahan sosial dan ekonomi komunitas pengrajin gula aren dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan, dengan berfokus pada perubahan sosial, yakni: perubahan pola hubungan, pola pemukiman, pola hidup, dan tingkat pendidikan. Perubahan ekonomi yang berfokus pada: tingkat pendapatan, kondisi perumahan, perabot rumah tangga yang dimiliki, dan kepemilikan barang-barang tahan lama (durable goods)
  2. Observasi, teknik ini dilakukan untuk mengadakan pengamatan langsung mengenai hubungan sosial dan kegiatan ekonomi yang dilaksanakan oleh komunitas pengrajin gula aren.
  3. Studi kepustakaan, yaitu usaha untuk mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan teori-teori atau konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

HASIL PENELITIAN

Hampir seluruh variabel dalam penelitian ini pada hakekatnya mengalami perubahan ke arah kemajuan, kecuali pola hubungan kerja dalam proses produksi gula aren dalam lingkungan keluarga pengrajin. Hal ini dapat dilihat pada pembahasan berikut :

Pola hubungan

Pola hubungan kerja pada komunitas pengrajin gula aren dalam proses produksi dalam keluarga tidak nampak perubahan yang berarti. Keterlibatan anggota keluarga dalam rumah tangga memasak atau menanak air nira sampai matang dan siap untuk dicetak jadi gula masih seperti itu. Artinya belum ada pembagian kerja yang nyata dalam rumah tangga, kecuali yang menyangkut kegiatan beresiko tinggi masih tetap dilakukan oleh laki-laki seperti memanjat pohon aren, memikul air sedapan nira, mengambil kayu bakar. Pekerjaan yang lain dalam proses produksi masih sering dikerjakan bersama dengan anggota keluarga dalam rumah tangga. Hal ini juga sama dengan proses produksi gula kelapa yang ada di Banyumas (Sajogyo, 1982).

Pola hubungan kerja dalam rangka pemasaran (tata niaga) sudah nampak perubahan, semula teknik pemasaran gula diangkut oleh pengrajin menuju pasar-pasar yang tempatnya agak jauh dari daerah produksi untuk diberikan kepada pedagang eceran di pasar tersebut, sekarang dengan adanya perubahan dan dengan munculnya para pedagang atau tengkulak memudahkan pengrajin untuk memasarkan hasil produksinya. Keberadaan pedagang dan tengkulak di daerah produksi mengubah pola hubungan dibandingkan dengan sebelumnya sebagaimana halnya yang terjadi di Banyumas terhadap pengrajin gula kelapa di mana para tengkulak dapat memberi jasa kepada petani penghasil gula kelapa berupa uang muka.(Sajogyo, 1982). Uang selalu dibutuhkan oleh petani kecil untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Lebih lanjut Sajogyo (1982) mengatakan bahwa para tengkulak dengan memberi uang muka berarti jaminan mendapat setoran gula kelapa dan memenuhi kontrak-kontrak dengannya tanpa ikatan tertulis, hanya dengan saling percaya.

Pola hubungan dengan penguasa atau pemerintah adalah menyangkut aturan pungutan desa yang disebut sebagai pajak pendapatan desa. Sebelum ada perubahan, pajak dibayar berdasarkan banyaknya pohon aren yang tumbuh dan dapat menghasilkan serta berada pada wilayah kekuasaan pengrajin. Pada saat setelah perubahan setiap pengrajin gula aren yang produktif atau dapat menghasilkan gula aren dikenakan kewajiban membayar pajak sebesar Rp.10.00,- per biji gula aren. Proses penyetoran pajak pendapatan dilakukan atas kesadaran sendiri dan diantar langsung oleh pengrajin berdasarkan jumlah gula yang laku terjual. Dengan demikian pola hubungan pengrajin gula aren dengan pedagang gula aren dan hubungannya dengan pemerintah sudah ada perubahan kearah yang lebih maju dibandingkan dengan pola hubungan di tahun 1990an.

Pola hidup

Pola hidup sebenarnya dapat dilihat dari pola komsumsi, pola pergaulan dan lain-lain. Namun pada penelitian ini hanya membahas ditinjau dari cara berpakaian yang sudah mengalami perubahan dibandingkan dengan cara berpakaian sebelum tahun–tahun 1990an, yakni komunitas pengrajin gula aren sudah memperhatikan pakaian khusus yang akan dipakai untuk ke pesta, ke pasar dan lain-lain, walaupun belum sama dengan cara-cara berpakaian di kota-kota.

Pola pemukiman

Pola pemukiman masyarakat Desa Salebba sudah banyak perubahan, dimana pada tahun 1990an masih ada yang bermukim terpencar sesuai dengan letak tempat pekerjaannya atau beredekatan dengan lahan perkebunan yang mereka garap. Pada tahun 2006, sebagaimana hasil survai peneliti menemukan pola pemukiman masyarakat yang sudah teratur dan berdekatan antara masyarakat yang satu dengan lainnya, sedangkan di lahan tempat kegiatan produksi gula aren sudah dekat dengan daerah pemukiman dan bahkan ada ditempat-tempat pemukiman penduduk juga dibuat sebagai tempat produksi gula aren.

Tingkat pendidikan

Pendidikan yang dimaksudkan adalah pendidikan formal, dimana sebelum ada perubahan, tingkat pendidikan masyarakat pada umumnya di desa Salebba sangat rendah, bahkan banyak penduduk yang belum memperoleh pelayanan pendidikan formal. Namun pada saat setelah perubahan terjadi, tingkat pendidikan masyarakat pada umumnya sudah mulai berubah. Walaupun di desa tersebut hanya terdapat dua Sekolah Dasar, namun masyarakat sudah mulai memperhatikan tingkat pendidikan anak-anaknya ke jenjang berikutnya, yakni pendidikan SLTP dan SLTA, ini menunjukkan bahwa pengrajin gula aren sudah mengetahui pentingnya pendidikan

Tingkat pendapatan

Pada tahun 1990an, produksi gula aren di Desa Salebba Kecamatan Ponre Kabupaten Bone belum bisa diprediksi. Sedangkan pada tahun 2006, tingkat pendapatan komunitas pengrajin gula aren sudah menampakkan kemajuan karena didukung oleh terciptanya sistem ekonomi pasar, yakni produksi gula aren rata-rata 35 biji per hari dengan harga satuan Rp. 1.500,- atau sebesar Rp. 52.500,- per hari atau sekitar Rp. 1.575.000,- per bulan.

Analisis finansial pengelolaan nira aren pada masyarakat sekitar hutan 0leh Kadir (2005) bahwa usaha pengolahan nira aren menjadi produk nata pinata sebagai suatu usaha skala rumah tangga layak dikembangkan dengan hasil rata-rata Rp. 1.579.000,-/bulan/petani.

Keadaan perumahan

Keadaan perumahan komunitas pengrajin gula aren sudah berubah dibandingkan tahun 1990an, yakni kondisi rumah-rumah penduduk sudah ada yang permanen, semi permanen dan rumah kayu yang dibuat dengan kayu-kayu pilihan. Atap rumah juga semua sudah memakai seng yang dulunya hanya menggunakan atap yang terbuat dari daun rumbia.

Perabot rumahtangga

Komunitas pengrajin gula aren yang bermukim di Desa Salebba selain membangun rumah dengan kondisi yang layak, juga telah melengkapinya dengan perabot-perabot rumahtangga, antara lain kursi tamu, lemari pakaian dan lemari tempat piring, kompor minyak tanah dan bahkan sudah ada yang memiliki kompor gas. Ini adalah suatu bukti kemanjuan kearah perubahan yang lebih baik.

Kepemilikan barang tahan lama (durable goods)

Barang tahan lama yang dimaksudkan adalah berupa kendaraan bermotor baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat, Televisi dan radio. Barang tersebut sudah mulai merambah masyarakat Desa Salebba sehingga transpormasi informasi sudah mulai agak lancar keluar masuk daerah tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan sosial dan ekonomi
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan sosial dan ekonomi, bersumber dari dalam (internal) dan dari luar (eksternal) masyarakat pengrajin gula aren. Faktor internal yang mempengaruhi perubahan sosial dan ekonomi komunitas pengrajin gula aren di Desa Salebba Kecamatan Ponre Kabupaten Bone adalah berkaitan dengan ketidak puasan terhadap hasil pekerjaan sebagai pengrajin gula aren, sehingga mereka berupaya memperluas akses berusahanya melalui pembukaan pekerjaan lain berupa pertanian dan perkebunan yang dapat menambah hasil usahanya untuk meningkatkan taraf hidupnya. Anggapan lain bahwa kegiatan sebagai Passari (pengrajin gula aren) dengan pola pemasaran seperti tahun 1990an tidak dapat menjamin akan kehidupan masa depan, sehingga pola lama dalam proses produksi dan pemasaran perlu untuk dirubah kearah kemajuan.

Faktor eksternal yang berpengaruh terhadap perubahan sosial dan ekonomi adalah lingkungan hidup, termasuk potensi sumber daya alam untuk dapat dimanfaatkan khususnya di Desa Salebba yang tersedia pohon aren tanpa dibudidayakan, menjadikan masyarakat untuk tetap giat dalam berusaha. Hal lain yang tidak kalah pentingnya yang menyebabkan perubahan adalah mobilitas sosial yang mulai meningkat di berbagai pelosok desa, memungkinkan terjadinya akumulasi kebudayaan, terutama dengan diperkenalkannya alat-alat pertanian, perabot rumahtangga, dan barang-barang mewah lainnya. Peranan pemerintah dalam menjalankan tugasnya sebagai perencana dan pelaksana pembangunan infrastruktur di Desa Salebba juga merupakan faktor eksternal yang berpengaruh terhadap perubahan sosial dan ekonomi.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh variabel penelitian ini yang berhubungan dengan perubahan sosial dan ekonomi pada komunitas pengrajin gula aren di Desa Salebba ditinjau dari dua masa yang berbeda, yakni tahun 1990an dan tahun 2006 mengalami perubahan ke arah kemajuan, demikian pula faktor-faktor penyebab perubahannya. Untuk lebih jelasnya kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Telah terjadi perubahan sosial pada komunitas pengrajin gula aren, menyangkut pola hubungan; pemerintah dengan pengrajin dalam bentuk pungutan pajak, pola pemukiman; dari terpencar menjadi berkelompok, pola hidup; dari berpakaian sederhana menjadi modern, dan tingkat pendidikan; dari tidak memperhatikan pendidikan menjadi tahu tentang arti pentingnya pendidikan
  2. Perubahan ekonomi komunitas pengrajin gula aren di desa Salebba Kecamatan Ponre Kabupaten Bone adalah menyangkut tingkat pendapatan yang semakin tinggi, keadaan perumahan yang semakin baik, penggunaan perabot rumahtangga dan kepemilikan asset barang tahan lama.
  3. Faktor – faktor menyebabkan perubahan adalah juga merupakan faktor-faktor penyebab perubahan yang dilihat dari dua faktor utama, yakni faktor internal yang berasal dari komunitas pengrajin gula aren itu sendiri berupa ketidak puasan atas pekerjaan-pekerjaan yang menjadi rutinitas kegiatan mereka, keinginan untuk memperoleh kehidupan hari depan yang layak, dan hasrat untuk meningkatkan taraf hidupnya. Faktor eksternal yang berpengaruh terhadap terjadinya perubahan sosial ekonomi pada komunitas pengrajin gula aren adalah mengenai lingkungan hidup, tuntutan ekonomi, pengaruh penentu kebijakan dan akumulasi kebudayaan.

S a r a n
Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, maka ada beberapa hal yang perlu untuk mendapat perhatian pemerintah atau pihak instansi terkait serta para peneliti:

  1. Perubahan ekonomi komunitas pengrajin gula aren khususnya di Desa Salebba Kecamatan Ponre Kabupaten Bone hendaknya menjadi suatu perhatian khusus oleh penentu kebijakan agar dapat mengikuti perubahan-perubahan sosial lainnya ke arah yang lebih baik.
  2. Perlu dilakukan usaha-usaha yang lebih intensif bagi pihak terkait, terutama pemerintah daerah melalui Departemen Perindusterian dan Perdagangan serta pihak-pihak terkait lainnya secara terpadu memberikan pembinaan ke arah peningkatan produksi agar komoditas aren dijadikan sebagai produk andalan lokal yang dapat meningkatkan pendapatan dan menggerakkan roda perekonomian desa.
  3. Perubahan sosial ekonomi serta faktor-faktor penyebabnya sangat banyak dan kompleks untuk dibahas, maka diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang perubahan sosial dan ekonomi serta faktor-faktor penyebabnya, khususnya komunitas pengrajin gula aren.

DAFTAR PUSTAKA

Abusatam, M. Idrus. 1989. Gerak Penduduk Pembangunan dan Perubahan Sosial (Kasus Tiga Komunitas Padi Sawah di Sulawesi Selatan). Jakarta: Universitas Indonesia.

Alvin, Y SO. Suwarsono. 1991. Perubahan Sosial dan Pembangunan Indonesia, Teori-teori Modernisasi, Depemdensi, dan Sistem Dunia. Jakarta: LP3ES.

Bungin, Burhan. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif, Aktualisasi Metodologis ke Arah Ragam Varian Kontemporer. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Dagun.Save M. 1992. Sosio Ekonomi, Analisis Eksistensi Kapitalisme dan
Sosialisme. Jakarta: Rineka Cipta.

Kadir W. Abdul. 2005. Analisis Finansial Pengolahan Nira Aren (arenga pinnata) Menjadi Produk Nata pinnata. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Departemen Pertanian.

Nurlaela. 2002. Analisis Pendapatan Pengrajin Gula Merah di Kecamatan Ponre Kabupaten Bone. Tesis tidak diterbitkan. Makassar: Pascasarjana Unhas.

Sajogyo. 1982. Ekologi Pedesaan, Sebuah Bunga Rampai. Jakarta: Rajawali

Sajogyo. Pujiwati. 2002. Sosiologi Pedesaan, Kumpulan Bacaan. Yogyakarta:Gajah Mada Universty Press.

Sanderson, Stephen K. 1995. Makro Sosiologi, Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Soekanto, Soerjono. 1983. Beberapa Teori Sosiologi Tentang Struktur Masyarakat. Jakarta: Rajawali.

Soekanto, Soerjono. 2000. Sosiologi Tentang Perubahan Sosial. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Sukmana, Oman. 2005. Sosiologi dan Politik Ekonomi. Malang: Universitas Muhammadiyah Press.

Sugihan, Bahrein. 1997. Sosiologi Pedesaan Suatu Pengantar. Jakarta: Grafindo Persada.

Susanto. Astrid, S. 1999. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Jakarta: Putra A. Bardin.

Sztompka, Piotr. 1993. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Pernada Media.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 31 other followers

%d bloggers like this: