Aren Indonesia

Dedi Soleh Effendi

Prospek Pengembangan Tanaman Aren (Arenga pinnata Merr) Mendukung Kebutuhan Bioetanol di Indonesia

DEDI SOLEH EFFENDI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Indonesian Center for Estate Crops Research and Development
Jalan Tentara Pelajar No. 1 Cimanggu Bogor 16111. Telp. (0251) 8313083. Faks. (0251) 8336194
E-mail: criec@indo.net.id. Website: http://www.perkebunan.litbang.deptan.go.id
Diterima: 11 Januari 2010 ; Disetujui : 23 April 2010

Perspektif Vol. 9 No. 1 / Juni 2010. Hal 36 – 46 ISSN: 1412-8004, 36 Volume 9 Nomor 1, Juni 2010 : 36 – 46

Sumber: http://perkebunan.litbang.deptan.go.id/

ABSTRAK

Tanaman Aren (Arenga pinnata, MERR) adalah  tanaman perkebunan berpotensi besar untuk  dikembangkan. Produk utama tanaman aren sebagai  hasil dari penyadapan nira bunga jantan dapat  dijadikan gula, minuman, cuka dan alkohol. Selain itu  bagian tanaman yang lain dapat dibuat bahan  makanan. Data tahun 2004 luas areal tanaman aren  telah mencapai 60.482 ha yang tersebar di 14 provinsi.  Sehubungan produk nira aren dapat dijadikan bahan  baku etanol, maka pengembangan tanaman ini untuk  mendukung kebutuhan bioenergi perlu segera  ditindaklanjuti. Peluang mengembangkan tanaman ini  selain ketersediaan teknologi yang ada, tanaman aren  mudah beradaptasi pada berbagai tipe tanah diseluruh  Indonesia termasuk lahan kritis, alang-alang dan untuk  reboisasi dan konservasi hutan. Sedang tantangan  yang perlu ditanggulangi untuk mengembangkan  tanaman ini meliputi : input teknologi masih minim,  perbaikan manajemen produksi, perbaikan  pengolahan, pemasaran masih tradisional, diseminasi  masih terbatas pada sebagian kecil petani, dan  kesulitan bibit unggul. Potensi tanaman aren untuk  dijadikan etanol saat ini sudah cukup besar, dapat  mencapai 1,43 juta KL bioetanoll per tahun. Agar  produk aren yang ada tidak bersaing dalam bentuk  penyediaan pangan dan bioetanol diperlukan pilot  projek di beberapa provinsi yang berminat. Komitmen  pelaksanaan diserahkan kepada provinsi/kabupaten  berminat untuk pembiayaan, pelaksanaan dan  monitoring. Penelitian jangka pendek dan panjang  perlu mendapat prioritas untuk memberikan  kontribusi yang jelas dalam rangka menghasilkan bioetanol sebagai bioenergi dari tanaman aren.

Kata kunci : Arenga pinnata, prospek, penghasil,
bioetanol.

ABSTRACT

Prospect of Arenga Plant As Producer  Bioethanol in Indonesia  Sugar palm (Arenga pinnata MERR) is a crop that has  very high potention to be developed. Sugar palm main  products are produced from extracting male flower it  can be made as sugar, drinks, acetic and alcohol. Other  parts of the plant can be use for ingredient. Data from  2004 shows sugar palm plantation covers 60.482 acres  that are spread in 14 province. Because of the sugar  palm product can be used to made etanol so it has  potential to be developed in order to support biofuel.  The opportunity in developing sugar palm besides the  avalaible technology are that this plants are easy to  adapt in any kind soil type in Indonesia including;  critical soil, weeds, reforestation and forest  conservation. The obstacles that need to overcome are:  low technology input, revising production  management, revising production process, traditional  marketing, dissemination still limited only to a few  farmer, and diffculties in finding good seeds. Sugar  palm can produce etanol until millions of litres, in  order not to mixed sugar palm potention in food suply  with biofuel a pilot project is needed. Commitment in  delivering the project is given to each province that is  interested in funding the project. Further research  should be a priority in order to give a real contribution  in producing bioetanol as a bioenergy from sugar palm.

Keywords: Arenga pinnata, prospect,produce, bioetanol

PENDAHULUAN

Tanaman aren (Arenga pinnata MERR)  adalah tanaman perkebunan yang sangat  potensial dalam hal mengatasi kekurangan  pangan dan mudah beradaptasi baik pada  berbagai agroklimat, mulai dari dataran rendah  sehingga 1400 m di atas permukaan laut (Effendi,  2009; Ditjen Perkebunan, 2004). Pengusahaan  tanaman aren sebagian besar diusahakan oleh  petani dan belum diusahakan dalam skala besar,  karena pengelolaan tanaman belum menerapkan  teknik budidaya yang baik menyebabkan  produktivitas pertanaman rendah. Saat ini  produk utama tanaman aren adalah nira hasil  penyadapan dari bunga jantan yang dijadikan  gula aren maupun minuman ringan, cuka dan  alkohol (Akuba, 2004; Rindengan dan  Manaroinsong, 2009). Selain itu tanaman aren  dapat menghasilkan produk makanan seperti :  kolang kaling dari buah betina yang sudah masak  dan tepung aren untuk bahan makanan dalam  bentuk kue, roti dan biskuit yang berasal dari  pengolahan bagian empelur batang tanaman (Alam dan Baco, 2004. Maliangkay et al., 2004).

Menurut Rumokoi (2004) dari pengolahan  data yang dikeluarkan Ditjenbun tahun 2003 dan  estimasi laju perkembangan areal beberapa  provinsi yang mengusahakan tanaman aren, total  areal yang telah ditanami di seluruh Indonesia  mencapai 60.482 ha dengan produksi gula aren  sebesar 30.376 ton/tahun. Areal dan produksi  gula yang terbesar terdapat pada provinsiprovinsi  : Jawa Barat 13.135 ha dengan produksi  6.686 ton gula/tahun, Papua 10.000 ha dengan  2.000 ton gula/tahun, Sulawesi Selatan 7.293 ha  dengan produksi 3,174 ton gula/tahun, dan  Sulawesi Utara 6.000 ha dengan produksi 3.000  ton gula/ha. Tanaman aren karena memiliki daya  adaptasi terhadap berbagai kondisi lahan, agroklimat, dan toleransi tinggi dalam pola  pertanaman campuran termasuk dengan  tanaman berkayu serta cepat bertumbuh karena  memiliki akar banyak dan tajuk lebat sangat  cocok untuk dikembangkan juga pada lahanlahan  marginal yang kebanyakan dimiliki petani  miskin. Untuk mengatasi peningkatan luas dan  jumlah kawasan lahan miskin di Indonesia  dengan laju yang semakin tinggi diperlukan tipe  tanaman seperti tanaman aren. Tanaman ini  memberikan produksi nira yang layak  diusahakan dengan input rendah dan sangat  cocok untuk tujuan konservasi air dan tanah. Di  samping itu, tanaman aren menghasilkan biomas  di atas tanah dan dalam tanah yang sangat besar  sehingga berperan penting dalam siklus CO2 (Syakir dan Effendi, 2010).

Perkembangan kebutuhan energi dunia  yang semakin meningkat dan keterbatasan energi  fosil menyebabkan perhatian saat ini ditujukan  untuk mencari sumber-sumber energi terbarukan  seperti bioetanol yang berasal dari bahan baku  nabati. Pengembangan bioetanol ini sudah sesuai  dengan Peraturan Presiden No.5/2006 tentang  kebijakan energi nasional yang menetapkan 5 %  konsumsi berasal dari bahan bakar nabati  (Prastowo, 2007). Bioetanol merupakan bahan  baku alternatif yang cenderung murah bila  dibandingkan dengan bensin tanpa subsidi. Saat  ini, selain ubi kayu dan gula tebu, bahan baku  potensial untuk dijadikan etanol antara lain nira  dari tanaman aren. Apabila program substitusi  BBM menggunakan bioetanol mulai diimplementasikan  maka secara langsung akan mendorong  peningkatan bioetanol yang berasal dari tanaman  aren. Untuk menggerakkan usaha pengembangan  tanaman ini diperlukan investasi yang sangat  besar sehingga perlu suatu tindakan dalam  bentuk implikasi kebijakan dari pihak-pihak  yang terkait berupa peraturan-peraturan atau  keputusan ditingkat nasional (Rindengan dan Manaroinsong, 2009). Dengan pertumbuhan luas  areal sebesar 2% setiap tahun, maka untuk  mendukung ketersediaan etanol diperlukan  bahan tanaman selama lima tahun dengan benih  aren sebanyak 1,2 juta benih. Tim Nasional  Pengembangan BBN (2007) dalam road map  pengembangan biofuelnya menetapkan bahwa  pada tahun 2011 – 2015 pemanfaatan bioetanol 10  % akan mengurangi penggunaan premium  sebanyak 2,78 juta kilo liter. Angka ini  menunjukkan kebutuhan etanol selama lima  tahun adalah cukup besar, meskipun sumber bahan baku etanol tidak hanya dari aren.

Tulisan ini mengulas prospek pengembangan  aren terutama potensi areal, perkiraan  produksi etanol, termasuk peluang dan  tantangan serta ketersediaan teknologi yang ada.

PROFIL TANAMAN AREN

Deskripsi Tanaman

Tanaman aren menurut klasifikasi tanaman  dimasukkan dalam divisi Spermatophyta,  subdivisi Angiospermae, kelas Monocotyledonae,  bangsa Spadicitlorae, suku Palmae, marga Arenga  dan jenis Arenga pinnata MERR. Tanaman ini  tumbuh pada beberapa daerah dengan nama   yang berbeda. Di Aceh diberi nama Bakjuk, Batak  Karo dinamai Paula, Nias diberi nama Peto,  Minangkabau nama Biluluk, Lampung nama  Hanau, Jawa Tengah diberi nama Aren, Madura  nama Are dan di Bali nama Hano. Untuk Nusa Tenggara diberi nama : Jenaka, Pola, Nao, Karodi,  Moka, Make, Bale dan Bone. Pemberian nama  tanaman ini untuk Sulawesi: Apele, Naola,  Puarin, Onau, dan Inau. Sedang untuk kepulauan  Maluku diberi nama: Seko, Siho, Tuna, Nawa dan  Roni. (Rindengan dan Manaroinsong, 2009 ).  Berdasarkan habitus tanaman; pohon aren berdiri  tegak dan tinggi, berbatang bulat warna hijau  kecoklatan, daun terbentuk dalam reset batang  dengan anak daun menyirip berwarna hijau  muda/tua, bunga terdiri atas bunga jantan yang  menyatu dalam satu tongkol ukuran panjang 1-  1,2 cm. Bunga betina pada tongkol yang lain  bentuk bulat yang terdiri atas bakal buah tiga  buah, warna kuning keputihan. Buah yang telah  terbentuk berbentuk bulat panjang dengan ujung  melengkung ke dalam, diameter 3-5 cm. Di dalam buah terdapat biji yang berbentuk bulat  dan apabila sudah matang warna hitam. Pohon   aren akan mencapai tingkat kematangan pada  umur 6-12 tahun. Kondisi penyadapan terbaik  pada umur 8-9 tahun saat mayang bunga sudah  keluar. Penyadapan dapat dilakukan pagi dan  sore, setiap tahun dapat disadap 3-12 tangkai  bunga dengan hasil rata-rata 6,7 liter/hari atau  sekitar 900-1600 liter/pohon/tahun. Kualitas nira  terbaik bila kadar sukrosa tinggi. (Balitka, 1992).  Menurut Effendi (2009) tanaman aren dapat  tumbuh dengan baik di dekat pantai sampai pada  dataran tinggi 1200 m dari permukaan laut.  Tanaman aren sangat cocok pada kondisi landai  dengan kondisi agroklimat beragam seperti  daerah pegunungan dimana curah hujan tinggi  dengan tanah bertekstur liat berpasir. Dalam  pertumbuhan tanaman ini membutuhkan kisaran  suhu 20-25°C, terutama untuk mendorong perkembangan generatif agar dapat berbunga  dan berbuah. Sedang untuk pembentukan  mahkota tanaman, kelembaban tanah dan  ketersediaan air sangat diperlukan dimana curah  hujan yang dibutuhkan antara 1200-3500  mm/tahun agar kelembaban tanah dapat dipertahankan.

Areal Tanaman

Pada tahun 2003 total areal tanaman ini  tercatat seluas 49.758 ha dengan produksi 29.174  ton gula (Ditjenbun, 2004). Berdasarkan data  yang ada areal tanaman aren bertambah 2,0 %  per tahun sedangkan produksi meningkat  sebesar 1,9 % per tahun. Menurut Rumokoi (2004)  data ini perlu diverifikasi karena aren sebagian  besar belum dibudidayakan dan penambahan  areal baru belum ada kejelasan. Hasil survei  Manoi dan Wardiana (1990) di Jawa Barat untuk  kategori tanaman menghasilkan jumlahnya  menurun rata-rata pertahun 1,76%, tanaman  belum menghasilkan meningkat 4,7%, Sedang  tanaman tua/rusak meningkat tajam 20,8%.  Dilihat dari jumlah yang ada, proporsi tanaman  menghasilkan 54%, tanaman belum menghasilkan  40%, dan tanaman tua/rusak 6% memperjelas  bahwa areal tanaman aren yang ada di daerah ini  sekitar 13.135 ha tidak bertambah bahkan menurun sejak tahun 1980.

Data perkiraan luas tanaman aren saat ini  kurang tepat jika menggunakan hanya luas areal.  Sebab antar petani di setiap daerah tidak sama  kepadatan per hektar. Di Sumatera kepadatan  tanaman 5-164 pohon/ha, di Sulawesi Utara  menurut Kindangen et al. (1991) 3-120 pohon/ha,  sedang di Papua 7-75 pohon/ha (Akuba, 1993).  Kepadatan populasi tanaman aren sebaiknya  dilakukan berdasarkan data jumlah populasi  aren. Umumnya tanaman aren banyak yang  tumbuh di kawasan hutan sehingga populasi  aren dapat dilakukan dengan menghitung luas  kawasan hutan dikali dengan kepadatan populasi  aren. Berdasarkan data yang dikeluarkan  Ditjenbun pada tahun 2003 dan estimasi berdasarkan laju perkembangan areal sejak 1990.

Menurut Akuba (2004), perkiraan luas areal  tanaman aren berdasarkan provinsi telah  mencapai total 60.482 ha, dimana pertanaman  yang terluas ada di Jawa Barat 13.135 ha, Papua  10.000 ha, Sulawesi Selatan 7.293 ha dan Sulawesi Utara 6.000 ha (Tabel 1).

STATUS TEKNOLOGI

Penelitian tanaman aren secara  komprehensif baru dimulai sejak Balai Penelitian  Tanaman Kelapa mendapat tambahan mandat  menjadi Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan  Palma Lainnya pada tahun 1984. Tanaman yang  termasuk dalam tanaman palma lainnya meliputi  : sagu, aren, pinang, lontar dan gewang. Fokus  penelitian aren dititik beratkan pada : plasma  nutfah dan pemuliaan, perbenihan dan  pembibitan, pengawetan dan pengolahan nira,  dan studi mengenai potensi aren di berbagai  provinsi di Indonesia. Beberapa hasil penelitian  yang sudah dihasilkan dan dapat diterapkan  dalam budidaya pengembangan tanaman aren  untuk menambah potensi hasil nira bagi  kebutuhan energi terbarukan seperti bioetanol dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Seleksi Pohon Induk

Penentuan blok penghasil tinggi sebagai
awal kegiatan seleksi pohon induk dapat  dilakukan melalui pengujian keragaman sifat  tandan, bunga dan buah. Sifat-sifat tandan,  bunga dan buah yang diamati adalah : 1) jumlah  tandan bunga jantan/pohon, 2) jumlah tandan  bunga betina/pohon, 3) jumlah tandan buah/pohon, 4) jumlah buah/tandan.

Dalam seleksi blok ini keadaan  pertanaman seragam dengan bentuk mahkota  tegak, bebas hama dan penyakit, terletak di areal  pertanaman dan mudah dijangkau. Pohon contoh  ditentukan secara acak, kemudian dihitung  jumlah tandan bunga jantan, betina dan buah.  Pengambilan contoh sebesar 10 persen dari  populasi tanaman yang ada. Dalam seleksi pohon  induk, pohon yang terpilih berumur > 10 tahun  karena pohon yang berumur di bawah 10 tahun  produksi niranya belum stabil, sedangkan pohon  yang berumur lebih dari 20 tahun kemampuan  berproduksinya menurun. Pohon induk yang  terpilih ditetapkan produksi niranya lebih dari 10  liter/pohon/tahun. Benih yang akan digunakan  berasal dari seleksi buah yang masak dan bebas  dari gerekan hama. Dalam rangka mendapatkan  jumlah mayang/bunga jantan untuk keperluan  hasil nira korelasi fenotipik jumlah daun dan  panjang tangkai daun mempunyai korelasi nyata pada taraf 1 %. (Tampake dan Wardiana, 1994).

Perkecambahan dan Pembibitan

Benih dikecambahkan pada wadah  perkecambahan dengan media tanah pasir dan  pupuk kandang. Dari beberapa hasil penelitian,  perkecambahan benih aren telah berhasil dengan  daya berkecambah di atas 90 %. Suatu cara atau  metode yang dapat dipakai untuk menghasilkan  daya kecambah benih aren yang tinggi adalah  benih yang telah dibersihkan dari daging buah  langsung dibenamkan 1-2 cm. Benih yang telah  berkecambah (ditandai seperti jaringan spons  wadah putih) selanjutnya membentuk apokol  sepanjang 12 cm ke dalam media dan dari ujung  apokol keluar akar dan tunas (Mailangkay et al,  2004). Hasil penelitian Hadipoentyanti dan  Luntungan (1988) menunjukkan daya kecambah benih yang terbaik apabila benih dikikis dahulu  pada bagian titik tumbuh. Penelitian yang sama  dihasilkan oleh Saefudin dan Manoi (1994)  dimana perlakuan pengikisan bagian titik  tumbuh menghasilkan daya tumbuh tertinggi setelah disemai 5 bulan (Tabel 2).

Setelah benih aren berkecambah mencapai  tinggi 3-5 cm dapat dipindahkan ke tempat  pembibitan (bedeng pembibitan) pada sore hari  untuk menghindari penguapan air. Bibit juga  dapat dipindahkan ke dalam polybag yang  berdiameter 25-40 cm. Tanah yang digunakan  dicampur dengan pupuk kandang dengan  perbandingan 1:2, dan diisi ¾ bagian kantong  polibag. Bibit aren memerlukan penyiraman dan  naungan (atap peneduh) yang tingginya sekitar 1  m agar terhindar dari cahaya matahari secara langsung.

Penanaman dan Penyiangan

Setelah bibit berumur 1-2 tahun tanaman,  dipindahkan ke lokasi penanaman/kebun,  dengan membuat lubang tanam ukuran 50 x 50 x  50 cm atau 60 x 60 x 60 cm. Di dalam penggalian  lubang perlu dipisahkan antara lapisan tanah  atas dan tanah lapisan bagian bawah. Setelah  lubang digali, biasanya dibiarkan selama 1-2  bulan. Hal ini dimaksudkan untuk  menghilangkan gas-gas yang bersifat racun  didalam tanah. Sebelum tanah dikembalikan ke  dalam lubang perlu dicampur dengan pupuk kandang. Pengajiran dan pembuatan lubang  tanam sebaiknya dilakukan diawal musim hujan.  Penyiangan perlu dilakukan agar tidak terjadi  persaingan di dalam pertumbuhan tanaman aren  dengan gulma. Sambil melakukan penyiangan,  lakukan juga penggemburan tanah di sekeliling  batang aren sekitar 1-1,5 m agar aerasi udara  yang akan masuk dan keluar di dalam tanah berlangsung dengan baik.

Pemupukan

Biasanya setelah melakukan penyiangan,  dilanjutkan dengan kegiatan pemupukan pada  tanaman. Pemupukan sebaiknya dilakukan 2 kali  dalam setahun. Menurut Maliangkay et.al., (2000)  pemberian pupuk organik berupa kotoran hewan  pada bibit aren dapat memberikan pengaruh  yang baik terhadap pertumbuhan bibit aren yang  diusahakan. Biaya pemupukan akan semakin  berkurang karena tidak hanya bergantung pada  pupuk buatan tetapi adanya kombinasi antara  pupuk buatan dan bahan organik yang  memberikan hasil yang baik. Pemberian pupuk  kandang akan memperbaiki sifat fisik dan kimia  dari lahan yang digunakan serta dosis yang akan  diberikan. Takaran pupuk untuk bibit aren untuk  bulan 1 diberikan urea 10 g dan pupuk kandang  250 g, untuk bulan ke 2 sebanyak 10 g urea, dan  selanjutnya bulan ke-3 S/P dipindahkan kelapangan  20 g urea. Khusus untuk umur 1 tahun  dan seterusnya pemupukan mengikuti dosis pemberian NPK seperti terdapat pada Tabel 3.

Populasi per hektar 100 tanaman atau   jarak tanan 10m x10m segi empat.  Pengendalian Hama dan Penyakit  Hama dan penyakit tanaman aren sampai  saat ini belum banyak diketahui. Hal ini  disebabkan oleh belum dibudidayakannya  tanaman aren secara intensif oleh masyarakat  sehingga belum ada perhatian khusus terhadap  perawatan tanaman aren. Hama seperti Oryctes  rhinoceros dan Rhynchoporus sp menyerang pucuk  pohon sampai masuk kedalam batang atas dan menembus pangkal pelepah daun muda.  Jaringan muda digerek, cairannya diisap. Pada  daun bekas gerekan terlihat seperti terpotongpotong.  Pengendalian secara mekanik dengan  menebang pohon, kemudian dibakar. Pengendalian  secara kimia, pada pucuk pohon diberi  Heptachlor sebanyak 10 gram. Pengendalian secara biologi dengan menggunakan cendawan  Metarhizium anisopliae yang dapat menyerang  tanaman aren. Selain itu hama penggerek daun  muda Artona sp adalah hama penting pada  tanaman aren. Pengendalian secara mekanis  dilakukan dengan memangkas daun-daun yang  terserang. Pengendalian secara biologi dapat  dilakukan dengan menggunakan parasit  Apanteles artonae. Sedangkan secara kimia dapat  digunakan Arcotine D-25 EC dengan dosis 0,25  gram pertanaman atau dengan racun kontak lainnya.

Dari segi penyakit kebanyakan tanaman  aren disebabkan oleh cendawan Helminthosporium.  Akibat serangannya daun cepat  mengering sehingga mempengaruhi pertumbuhan  bibit. Pada permukaan daun yang masih  muda bagian atas dan bawah daun muncul  bercak-bercak kecil berwarna hijau mengkilat  yang selanjutnya membesar dan berubah warna  menjadi coklat dengan bagian tepi terdapat  lingkaran kuning. Penyakit lainnya yang sering
menyerang tanaman aren disebabkan oleh  cendawan Pestalotiopsis palvarium dan pada  pembibitan ditemukan bersama Helminthosporium  sehingga dapat mematikan bibit aren. Gejala  serangannya pada permukaan daun yang agak  tua, bagian bawah daun dan atas terlihat bercakbercak  membesar berukuran diameter 2-3 cm  berwarna kuning keputih-putihan dan  ditengahnya terdapat bintik-bintik berwarna  hitam. Pengendalian dapat dilakukan dengan  menggunakan pupuk yang mengandung  Chlorine (KCl, NaCl = garam dapur). Dianjurkan  untuk tidak terlalu banyak menggunakan pupuk  N, karena mudah terserang penyakit bercak daun  ini. Pada batang aren umumnya serangan  penyakit ini disebabkan oleh cendawan  Ceratocyctis paradoxa.Gejala serangannya pada  tandan buah, bunga tampak mulai membusuk.  Pelepah daun dapat juga membusuk dan  mengering. Daun muda yang muncul kemudian  akan mengering dan menjalar ke daun-daun  yang lebih tua sehingga tanaman akhirnya akan  mati. Selain penyakit-penyakit diatas tanaman  diserang juga oleh cendawan Fusarium oxysporum.  Gejala terjadi pada saat daun muda belum  membuka. Setelah daun daun membuka, akan  tampak adanya bulatan-bulatan oval. Berwarna  kuning pucat mengelilingi warna coklat. Bagianbagian  tersebut kemudian mengering. Penyakit  ini menyerang bibit dan tanaman muda di lapang.

PROSPEK PENGEMBANGAN TANAMAN AREN

Potensi Lahan

Secara umum suatu keberhasilan  pengembangan pertanaman ditentukan oleh  lingkungan dimana komoditas itu dikembangkan.  Agro ekosistem atau faktor biofisik seperti  tanah dan iklim menjadi peluang atau kendala  dalam pembangunan komoditas tersebut.  Keberhasilan pembangunan pertanian sangat  tergantung pada kemampuan petani atau pelaku  agribisnis menerapkan teknologi yang ada  dengan memanfaatkan sumberdaya alam.  (Departemen Pertanian, 2006). Indonesia  menurut Mulyani dan Las (2008) memiliki  sumberdaya lahan yang luas untuk  pengembangan komoditas pertanian. Dari luas  daratan 188,20 juta ha yang terdiri atas 148 juta  ha lahan kering dan 40,20 juta lahan basah  memungkinkan untuk pengusahaan berbagai  tanaman termasuk tanaman penghasil biofuel  seperti bioetanol. Beberapa tanaman yang  potensial menurut Sumaryono (2006) sebagai  penghasil biofuel adalah kelapa sawit, kelapa,  jarak pagar, ubi kayu, ubi jalar, tebu, sorgum,  aren, nipah, dan lontar. Sesuai dengan kebutuhan  nasional telah dicanangkan 6,40 juta ha selama  2005-2015 untuk ditanam tanaman penghasil  biofuel.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik  (2005) lahan untuk perkebunan yang sudah  ditanam berkisar 18,50 juta ha. Perluasan yang  pesat dari perkebunan terjadi mulai tahun 1986  dimana luasnya baru mencapai 8,77 juta ha. Dari  enam komoditas ekspor yang ada yang telah  mencapai areal yang luas baru kelapa sawit dan  kelapa untuk penghasil biofuel. Sedang tanaman  lainnya relatif kecil seperti : tebu, kapuk, ubi  kayu, sagu dan jarak pagar. Hasil pemutakhiran  data untuk areal pertanian yang dilakukan Balai  Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya  Lahan Pertanian tahun 2007 ternyata lahan yang  tersedia dan belum dimanfaatkan secara optimal  untuk pertanian, baik padang alang-alang, semak  belukar atau kawasan hutan mencapai 30,65 juta  ha. Areal pertanian ini terbagi atas 8,27 juta ha  lahan basah, 7,08 juta ha lahan kering untuk  tanaman semusim dan 15,30 juta ha lahan kering  untuk tanaman tahunan. Khusus untuk  pengembangan komoditas biofuel pada lahan  kering, baik tanaman semusim dan tahunan  berdasarkan sumber Badan Litbang pertanian  (2007) dapat mencapai 22,39 juta ha. Perincian  luas lahan untuk pengembangan areal lahan  kering untuk tanaman semusim dan tanaman tahunan dapat dilihat pada Table 4.

 

Produktivitas Tanaman

Untuk menjamin bahan baku etanol dari  tanaman aren dalam jumlah yang cukup secara  berkelanjutan diperlukan perluasan tanaman  aren ke lahan-lahan yang belum dimanfaatkan  secara optimal termasuk lahan-lahan kritis.  Sehubungan dengan perluasan tersebut, sumber  benih dapat diambil dari seleksi pohon induk  yang berasal dari blok-blok penghasil tinggi nira.  Menurut Handayani (2010) salah satu bahan  bakar yang dapat digunakan mengganti bensin  adalah etanol. Etanol sering disebut etil alkohol  dengan rumus kimia C2H5OH, bersifat cair pada  temperatur kamar. Dari hasil penelitian BNDES  dan CGEE (2008) penggunaan etanol sebagai  bahan bakar dalam mesin dapat dilakukan dalam  dua cara : (1) bensin dicampur dengan anhidrous  ethanol atau (2) etanol murni yang bersifat  hidrasi. Proses pembuatan etanol menurut  Rindengan et al. (2006) dimulai dari fermentasi  awal dengan pembuatan starter. Nira aren diatur  kadar gula mencapai 2 %, kemudian dipanaskan  dan didinginkan, setelah itu diinokulasi dengan  kultur murni antara lain Saccharomyces cerevisiae  lalu diinkubasi selama 24 jam. Kemudian nira  yang telah siap untuk difermentasi jadi alkohol  dipanaskan lalu didinginkan dimana pH diatur  4,0-4,5 menggunakan asam sitrat. Selanjutnya  diinoku-lasi starter 10% lalu difermentasi  mendapatkan kadar alkohol 1,88%. Alkohol atau  etanol ini kadarnya dapat ditingkatkan melalui  destilasi dengan memisahkan etanol dengan air.  Bila etanol dipanaskan pada suhu 98-100oC akan  menguap sehingga dapat dihasilkan etanol  dengan konsentrasi 95 %.

Berdasarkan data luas  areal tanaman aren yang diusahakan oleh  perkebunan rakyat seluruh Indonesia, Rindengan  dan Manaroinsong (2009) membuat perkiraan  produksi nira dari areal pertanaman seluas 60.482  ha dapat menghasilkan nira 303,76 juta liter.  Selanjutnya Syakir dan Effendi (2010) dengan  asumsi perkiraan untuk mendapatkan 1 liter  etanol berasal dari 25 liter nira, maka seluruh  hasil nira aren bila dikonsumsi ke etanol akan  mendapatkan 12,15 juta liter dalam setahun (Tabel 5).

Produksi per hektar di atas dapat  ditingkatkan jika dibandingkan dengan tanaman  aren yang dibudidayakan memakai bahan atau  materi tanaman terseleksi. Perkiraan produksi  nira dan etanol per hektar per tahun dapat dilihat  pada Tabel 6. Karena tanaman aren ini  pengembangannya melalui sistem budidaya yang  baik, dapat diasumsikan produksi pertama dapat dicapai pada umur 6 tahun dan meningkat sesuai  dengan perkembangan generatif tanaman. Dari  satu hektar per tanaman diperkirakan hasil etanol dapat dihasilkan mulai pada umur 6 tahun dan  berproduksi optimal mulai tahun ke 10 sampai  15. Setelah tahun keenam etanol dari nira yang dihasilkan per hektar sebesar 4,8 ton dan  mencapai optimal 10,8 ton. Hasil perhitungan   sederhana memperlihatkan pembuatan etanol  dari nira cukup layak, walaupun hal ini perlu  kajian lebih lanjut. Menurut Allorerung (2007) potensi etanol yang berasal dari nira aren dapat  mencapai 20.160 liter/ha/tahun. Apabila dihitung  dari luasan yang ada dan hanya 50 % yang berproduksi, maka tanaman aren berperan menyumbang etanol sebesar 610 juta lt/th.

PELUANG DAN TANTANGAN

Tanaman aren sudah dikembangkan pada  14 provinsi di Indonesia dengan luas paling  terbesar di Jawa Barat, Papua, Sulawesi Selatan  dan Sulawesi Utara. Namun demikian dilihat  dari potensi produksi yang dihasilkan masih  rendah. Sesuai dengan data Ditjenbun (2003),  areal pertambahan tanaman rata-rata 2,0% per  tahun dengan laju pertumbuhan produksi  sebesar 1,9% per tahun. Data Ditjenbun menurut  Akuba (2004) masih perlu diverifikasi mengingat  aren belum dibudidayakan dan penanaman baru  masih kurang. Data areal aren untuk suatu  daerah berbeda-beda menurut sumber data,  sehingga potensi tanaman belum tepat  gambarannya. Di bawah ini disajikan beberapa  peluang dan tantangan dalam rangka pengembangan tanaman aren ini.

Peluang

Tanaman aren dapat dengan mudah  beradaptasi pada berbagai tipe tanah yang  diusahakan untuk komoditas pertanian termasuk  tanah marginal, selain itu tanaman ini berfungsi  untuk konservasi tanah dan air. Sebagian besar  pertanaman aren belum menerapkan inovasi  teknologi yang ada. Sehingga adanya diseminasi  teknologi akan membawa dampak bukan hanya  produktivitas dan pendapatan petani, tetapi  berkembangnya diversifikasi hasil yang memberi  kesempatan usaha dan lapangan kerja bagi  banyak orang. Ketersediaan teknologi walaupun  belum lengkap telah dilakukan berbagai kegiatan  penelitian untuk menunjang agribisnis aren.  Teknologi yang sudah siap pakai meliputi:  pemilihan pohon induk tanaman, pesemaian,  pembibitan, budidaya, penyadapan, pengawetan  nira, pengolahan gula, gula semut, gula kristal,  pengolahan pati aren dan pembuatan etanol.  Cadangan lahan yang tersedia disetiap provinsi  termasuk lahan kritis, padang alang, dll dapat  ditanami tanaman aren. Adanya gerakan  nasional rehabilitasi hutan dan lahan dapat  mempergunakan tanaman aren untuk program konservasi dan reboisasi.

Tantangan

Masalah utama pengembangan aren : input  teknologi sangat minim, managemen produksi,  pengolahan dan pemasaran masih cara  tradisional; diseminasi teknologi belum mencapai  sebagian besar petani; dampak negatif produksi  aren sebagai minuman keras. Kesulitan dalam  penyediaan benih/bibit unggul. Sampai saat ini  belum ada varietas yang dilepas, benih yang ada  diambil dari Blok Penghasil Tinggi (BPT) yang diseleksi berdasarkan seleksi individu terbaik populasi tersebut. Penggunaan tanaman aren  dari kegiatan reboisasi hanya untuk zona  penyangga dan kegiatan penghijauan oleh  Dinas/Instansi untuk konservasi tetapi belum  memberdayakan petani sehingga tanaman  tersebut belum mempunyai nilai tambah (Ardi,  2004). Kemampuan sumber daya manusia,  petugas dan petani terbatas karena hasil-hasil  diseminasi inovasi teknologi dari lembagalembaga  yang berkompetensi tidak sampai kepada pemakai/konsumen.

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

Kesimpulan

Tanaman aren berpeluang untuk dijadikan  tanaman penghasil bioetanol karena daya  adaptasi terhadap berbagai kondisi lahan dan  agroklimat. Tersedia inovasi teknologi untuk  mengembangkan tanaman aren sebagai  penghasil bioetanol meliputi: sumber benih,  budidaya, penyadapan nira dan pengolahan nira  menjadi bioetanol. Potensi tanaman aren untuk  dijadikan etanol saat ini sudah cukup besar,  dapat mencapai 1,43 juta KL bioetanol per tahun.  Namun demikian untuk tidak menjadi saingan  bahan pangan disarankan pengembangan aren  diarahkan dalam bentuk pengembangan areal  baru khusus untuk bioetanol dengan orientasi  pilot projek pada propinsi dan kabupaten yang  berminat. Sesuai dengan kebutuhan nasional  telah dicanangkan 6,4 juta hektar selama 2005-  2015 untuk tanaman penghasil bioetanol termasuk untuk aren.

Implikasi Kebijakan

Tantangan ke depan bagi pengembangan  tanaman aren bukan hanya untuk sumber  pangan, tetapi dapat dijadikan sumber bioetanol  dan diversifikasi produk lainnya dalam upaya  peningkatan pendapatan dan konservasi lahan.  Diperlukan pilot project yang terpadu dengan  aplikasi inovasi teknologi terkini yang  berorientasi agribisnis. Komitmen pelaksanaan  diserahkan kepada provinsi/ kabupaten untuk  membiayai, melaksanakan, dan monitoringnya.  Penelitian aren untuk menghasilkan bioetanol  oleh Badan Litbang Pertanian harus  mendapatkan prioritas utama. Kegiatan ini harus  dirancang dalam bentuk penelitian aren jangka  pendek dan panjang yang jelas dapat  memberikan hasil konkrit dalam pengembangan  tanaman aren dengan kawasan pelestarian lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Akuba, R.H. 1993. Prospek Pengembangan Aren  di Irian Jaya. Balitka Dok.420/VIII/93.

Akuba, R.H.2004. Profil Aren. Pengembangan  Tanaman Aren. Prosiding Seminar  Nasional Aren. Tondano. Balai Penelitian  Tanaman Kelapa dan Palma Lain. , 9 Juni. hlm.1-9.

Alam, S. dan D. Baco.2004. Peluang Pengembangan  dan Pemanfaatan Tanaman Aren  di Sulawesi Selatan. Pengembangan  Tanaman Aren. Prosiding Seminar  Nasional Aren. Tondano. Balai Penelitian  Tanaman Kelapa dan Palma Lain, 9 Juni hlm.15-21.

Ardi, H. 2004. Tantangan dan Peluang  Pengembangan Aren di Propinsi Kalimantan  Tengah. Pengembangan Tanaman  Aren. Prosiding Seminar Nasional Aren. Tondano, 9 Juni 2004. Balai Penelitian  Tanaman Kelapa dan Palma Lain. hlm.44- 57.

Badan Pusat Statistik. 1986-2006. Statistik  Indonesia, 1986-2006, Badan Pusat Statistik, Jakarta.

Badan Litbang Pertanian. 2007. Prospek dan Arah  Pengembangan Agribisnis: Tinjauan  Aspek Kesesuaian Lahan. Badan Litbang  Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta. 30 hlm.

Balitka. 1992. Prospek Tanaman Kelapa, Aren,  Lontar dan Gewang Untuk Menghasilkan  Gula. Media Komunikasi Penelitian dan  Pengembangan Tanaman Industri. hlm. 37-40.

BNDS and CGEE. 2008. Sugar cane-based bioethanol:  energy for sustainable development. 300 p.

Departemen Pertanian. 2006. Kebijakan Penyediaan  Bahan Baku Biofuel dan PengemProspek   bangan Desa Mandiri. Makalah  Disampaikan Pada Seminar Bioenergi  Prospek Bisnis dan Peluang Investasi.  Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta, 6 Desember 2006.

Ditjen Perkebunan. 2004. Pengembangan  Tanaman Aren di Indonesia. Prosiding  Seminar Nasional Aren. Tondano 9 Juni  2004. Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan palma Lain. hlm.138-143.

Ditjen Perkebunan. 2004. Perkembangan aren di  Indonesia. Prosiding Seminar Nasional  Aren. Tondano, 9 Juni 2004. Balai  Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain. hlm. 138-144.

Effendi, D.S. 2009. Aren, Sumber Energi  Alternatif. Warta Penelitian dan  Pengembangan Pertanian. Tahun 2009. 31(2):1-3.

Hadipoentyanti, E. dan H. Luntungan. 1988  Pengaruh Beberapa Perlakuan Terhadap  Perkecambahan Biji Aren (Arenga pinnata  MERR). Jurnal Penelitian Kelapa 2(2):20- 25.

Handayani, S.R. 2010. Pemanfaatan Bio Ethanol  Sebagai Bahan Bakar Pengganti Bensin.  Hlm. 99-102.  http://blog.its.ac.id/arifinbits/files/2008/12  /pemanfaatan-bio-ethanol.pdf. (15 Maret 2010).

Kindangen, J.G., Jefri, N.M. Mokodongan dan H.  Hasni. 1991. Potensi dan Sebaran  Tanaman Aren di Sulawesi Utara. Buletin Balitka 14 : 83-89.

Maliangkay, R.B., D. Allorerung dan M. Polnaya.  2000. Pengaruh Pupuk Organik dan An  Organik Terhadap Pertumbuhan Bigit  Aren. Buletin Palma No. 26. Balitka Manado.

Maliangkay, R.B., Yulianus Matana, Novalisa  Lumentut, dan E. Manaroinsong. 2004.  Budidaya Tanaman Aren. Pengembangan  Tanaman Aren. Prosiding Seminar  Nasional Aren Tondano, 9 Juni 2004. Balai  Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain. hlm.131-137.

Manoi, F. dan E. Wardiana. 1990. Perkembangan  Luas Areal dan Poduksi Gula Aren di Jawa Barat. Buletin Balitka 11. hlm 92 – 96.

Mulyani, A dan I. Las. 2008. Potensi Sumber  Daya Lahan dan Optimalisasi  Pengembangan Komoditas Penghasil  Bioenergi di Indonesia. Jurnal Penelitian  dan Pengembangan Pertanian 27(1):31-41.  Prastowo, B. 2007. Potensi Sektor Pertanian  Sebagai Penghasil dan Pengguna Energi  terbarukan. Perspektif Pusat Penelitian  dan Pengembangan Perkebunan. 6(2):57- 104.

Puslitbangbun. 2003. Program Perbaikan Lingkungan  dan Pengentasan Kemiskinan  Melalui Pengembangan Agribisnis Aren  Berkelanjutan. Pusat Penelitian dan  Pengembangan Perkebunan Bogor. hlm.1- 9.

Rindengan, B dan E.Manaroinsong. 2009. Aren.  Tanaman Perkebunan Penghasil Bahan  Bakar Nabati (BBM). Pusat penelitian dan  Pengembangan Perkebunan. hlm.1-22.

Rindengan, B., S. Karonev., dan P. Pasang. 2006.  Pengaruh Sabut Kelapa Terhadap Kualitas  Nira Aren Dan Palm Wine. Jurnal Litri Des. 12(4):166 -171.

Rumokoi, M.M.M. 2004. Aren, Kelapa dan Lontar  Sebagai Alternatif Pemenuhan Kebutuhan  Gula Nasional. Prosiding Seminar  Nasional Aren. Tondano.. Balai Penelitian  Tanaman Kelapa dan Palma Lain. 9 Juni.

Saefudin dan F. Manoi. 1994. Pengaruh Perlakuan  Benih dan Media Tumbuh Terhadap  Perkecambahan Benih Aren. Forum  Komunikasi penelitian kelapa dan palma.  Sub Balai Penelitian Kelapa Pakuwon. Hlm.96-100.

Sumaryono, W. 2006. Kajian Komprehensif dan  Teknologi Pengembangan Bioetanol  sebagai Bahan Bakar Nabati (BBN).  Seminar Bioenergi. Prospek Bisnis dan peluang Investasi. Jakarta 6 Desember  2006. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta.

Syakir dan D.S. Effendi. 2010. Prospek  Pengembangan Tanaman Aren (Arenga  pinnata MERR) untuk Bioetanol, Peluang  dan Tantangan. Makalah disajikan dalam  Workshop Peluang, Tantangan dan  Prospek Pengembangan Aren untuk  46 Volume 9 Nomor 1, Juni 2010 : 36 – 46  Bioetanol Skala Industri dan UMKM, Hotel Salak Bogor 21 Januari 2010. hlm.17.  Tampake, H dan E. Wardiana. 1994. Studi  karakter Aren di kabupaten Cianjur Jawa  Barat. Buletin Balitka. Balai Penelitian Kelapa Manado. hlm.53-57.

Tim Nasional BBN. 2007. BBN Bahan Bakar  Nabati. Bahan bakar alternatif dari  tumbuhan sebagai pengganti minyak  bumi dan gas. Dipersembahkan oleh Eka  Tjipta Foundation. Cetakan Pertama. Penerbit Penebar Swadaya. hlm. 55 – 64.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 31 other followers

%d bloggers like this: