Aren Indonesia

Kisah tentang Aren

Putri Sedaro Putih – Asal Mula Pohon Enau

Rejang Folk Tale :  Sedaro Putih Princess – The story of sugar palm tree;  Posted by rejangkeme

Sumber: http://rejangkeme.blogspot.com/2009/02/rejang-folk-tale-putri-sedaro-putih.html

100_1476

Pohon Sedaro Putih atau di kenal dengan Pohon Enau di desa Cawang Baru , Curup Timur, Tanah Rejang

Pohon Sedaro Putih atau di kenal dengan Pohon Enau di desa Cawang Baru , Curup Timur, Tanah Rejang

Cerita rakyat : Suku Rejang (Bengkulu, Sumatera bagian Selatan)

Cerita ini berasal dari Suku Rejang. Dahulu di sebuah desa terpencil hidup tujuh orang bersaudara.Nasib mereka sungguh malang,mereka sudah menjadi yatim piatu semenjak si bungsu lahir.Tujuh saudara itu terdiri dari enam orang laki-laki dan seorang perempuan.Si bungsu itulah yang perempuan.Namanya putri sedoro putih.Tujuh orang bersaudara itu hidup sebagai petani dengan menggarap sebidang tanah di tepi hutan.Si bungsu sangat disayangi keenam saudaranya itu.Mereka selalu memberikan perlindungan bagi keselamatan si bungsu dari segala macam marabahaya.Segala kebutuhan si bungsu mereka usahakan terpenuhi dengan sekuat tenaga.

Pada suatu malam,ketika putri sedoro putih tidur,ia bermimpi aneh.Ia didatangi seorang laki-laki tua.”Putri Sedoro Putih,kau ini sesungguhnya nenek dari keenam saudaramu itu.Ajalmu sudah dekat,karena itu bersiaplah engkau menghadapinya”.
“Saya segera mati?” tanya Putri Sedoro Putih dengan penuh penasaran.
“Benar,dan dari pusaran kuburanmu, nanti akan tumbuh sebatang pohon yang belum pernah ada pada massa ini.Pohon itu akan banyak memberi manfaat bagi umat manusia.” Setelah memberi pesan demikian lelaki tua itu , lenyap begitu saja. Sementara Putri Sedaro Putih langsung terbangun dari tidurnya.Ia duduk termangu memikirkan arti mimpinya.

100_1475

Putri sedaro putih sangat terkesan akan mimpinya itu, sehingga setiap hari ia selalu terbayang akan kematiannya. Makan dan minum terlupakan olehnya. Hal ini mengakibatkan tubuhnya menjadi kurus dan pucat. Saudara sulung sebagai pengganti orang tuanya sangat memperhatikan Putri Sedoro Putih. Ia menanyakan apa sebab adiknya sampai bersedih hati seperti itu. Apakah ada penyakit yang di idapnya sehingga perlu segera di obati ? Jangan sampai terlambat diobati sebab akibatnya menjadi parah .

Dengan menangis tersedu-sedu Putri Sedoro Putih menceritakan semua mimpi yang dialamainya beberapa waktu yang lalu.
Kata sedaro putih,”Kalau cerita dalam mimpi itu benar, bahwa dari tubuhku akan tumbuh pohon yang mendatangkan kebahagiaan orang banyak, aku rela berkorban untuk itu.”
“Tidak adiku, jangan secepat itu kau tinggalkan kami. Kita akan hidup bersama, sampai kita memperoleh keturunan masing-masing sebagai penyambung generasi kita. Lupakanlah mimpi itu. Bukankah mimpi sebagai hiasan tidur bagi semua orang ?”, kata si sulung menghibur adiknya.

Hari-hari berlalu tanpa terasa. Mimpi itu pun telah dilupakan. Putri Sedoro Putih telah kembali seperti sempula, seorang gadis periang yang senang bekerja di huma. Hasil panen pun telah dihimpun sebagai bekal mereka selama semusim.

Pada suatu malam, tanpa menderita sakit terlebih dahulu Putri Sedaro Putih meninggal dunia. Keesokan harinya, keenam saudaranya menjadi gempar dan meratapi adik kesayangannya itu. Mereka menguburkannya tidak jauh dari rumah kediaman mereka.

Seperti telah diceritakan oleh Putri Sedoro Putih. Di tengah pusaranya tumbuh sebatang pohon asing. Mereka belum permah melihat pohon seperti itu. Pohon itu mereka pelihara dengan penuh kasih sayang seperti merawat Putri Sedaro Putih. Pohon itu mereka beri nama Sedaro Putih.

tikoa

Tikoa tabung yang di buat dari seruas bambu untuk menampung air nira

Disamping pohon itu, tumbuh pula pohon kayu kapung yang sama tingginya dengan pohon Sedaro Putih. Pohon itu pun dipelihara sebagai pohon pelindung .

Lima tahun kemudian. Pohon Sedaro Putih mulai berbunga dan berbuah. Jika angin berhembus, dari dahan kayu kapung selalu memukul tangkai buah Sedaro Putih sehingga menjadi memar dan terjadilah peregangan. Sel-sel yang mempermudah air pohon Sedaro Putih mengalir ke arah buah.

Pada suatu hari, seorang saudara Sedaro Putih berziarah ke kuburan itu. Ia beristirahat melepaskan lelah sambil memperhatikan pohon kapung selalu memukul tangkai buah pohon Sedaro Putih ketika angin berhembus. Pada saat itu, datang seekor tupai menghampiri buah pohon Sedaro putih dan menggigitnya sampai buah itu terlepas dari tangkainya. Dari tangkai buah yang terlepas itu, keluarlah cairan berwarna kuning jernih. Air itu dijilati tupai sepuas -puasnya. Kejadian itu diperhatikan saudara Sedaro Putih sampai tupai tadi pergi meninggalkan tempat itu.

Saudara sedaro putih mendekati pohon itu. Cairan yang menetes dari dari tangkai buah ditampungnya dengan telapak tangan lalu dijilat untuk mengetahui rasa air tangkai buah itu. Ternyata, air itu terasa sangat manis. Dengan muka berseri ia pulang menemui saudara-saudaranya. Semua peristiwa yang telah disaksikannya, diceritakan kepada saudara-saudaranya untuk dipelajari. Cerita itu sungguh menarik perhatian mereka.

Lalu mereka pun sepakat untuk menyadap air tangkai buah pohon sedaro putih. Tangkai buah pohon itu dipotong dan airnya yang keluar dari bekas potongan ditampung dengan tabung dari seruas bambu yang disebut tikoa. Setelah sutu malam, tikoa itu hampir penuh. Perolehan pertama itu mereka nikmati bersama sambil berbincang bagaimana cara memperbanyak ketika berziarah ke kubur putri sedaro putih.

100_1474

Buah Sedaro Putih yang di kenal sebagai beluluk di tanah rejang

Urutanya sebagai berikut. Pertama, menggoyang goyang kan tangkai buah pohon Sedaro Putih seperti dilakukan oleh angin. Lalu memukul tangkai buah itu dengan kayu kapung seperti yang terjadi ketika kayu kapung dihembus angin. Akhirnya, mereka memotong tangkai buah seperti dilakukan oleh tupai. Tabung bambu pun digantungkan disana.
Buah Sedaro Putih yang di kenal sebagai beluluk di tanah rejang

Ternyata, hasilnya sama dengan sadapan pertama. Perolehan mereka semakin hari semakin banyak karena beberapa tangkai buah yang tumbuh dari pohon Sedaro Putih sudah mendatangkan hasil.

Akan tetapi, timbul suatu masalah bagi mereka, karena air sadapan itu akan masam jika disimpan terlalu lama. Lalu, mereka sepakat untuk membuat suatu percobaan dengan memasak air sadapan itu sampai kental. Air yang mengental itu didinginkan sampai keras membeku dan berwarna kekuningan.

Semenjak itu, pohon Sedaro Putih dijadikan sumber air sadapan yang manis. Pohon itu kini dikenal sebagai pohon enau atau pohon aren. Air yang keluar dari tangkai buah dinamakan nira, sedangkan air nira yang dimasak sampai mengental dan membeku disebut gula merah.

*****

Keterangan :
Pohon enau atau pohon aren termasuk pohon yang banyak jasanya bagi manusia. Oleh karena itu, untuk memuliakannya banyak versi lain kisah legenda yang berkembang di nusantara tentang asal mula pohon enau ini, salah satunya Putri Sedaro Putih yang berasal dari cerita rakyat suku Rejang. Daerah kediaman suku Rejang saat ini mayoritas wilayahnya masuk propinsi Bengkulu meskipun beberapa daerahnya yang lain masuk Propinsi Sumatera Selatan, Lampung dan Jambi.

Manfaat pohon enau atau pohon aren antara lain sebagai berikut :

  1. Buahnya (disebut beluluk atau kolang kaling) dapat dibuat manisan yang lezat atau campuran kolak.
  2. Ijuk di buat sapu, tali untuk mengikat kerbau, keset kaki, atap dan kuas cat, dan dapat digunakan juga sebagai atap rumah.
  3. Tulang daunnya dibuat sapu lidi dan se nik (tempat meletakkan kuali atau periuk)

Disadur dari :

Kisah Pohon Enau

Sumber: http://melayuonline.com/

Pohon Enau dalam bahasa Indonesia disebut pohon aren, dan sugar palm atau gomuti palm dalam bahasa Inggris. Di Sumatera, tumbuhan ini dikenal dengan berbagai sebutan, di antaranya nau, hanau, peluluk, biluluk, kabung, juk atau ijuk, dan bagot. Tumbuhan ini dapat tumbuh dengan baik dan mampu mendatangkan hasil yang melimpah pada daerah-daerah yang tanahnya subur, terutama pada daerah berketinggian antara 500-800 meter di atas permukaan laut, misalnya di Tanah Karo Sumatera Utara.

Tumbuhan enau atau aren dapat menghasilkan banyak hal, yang menjadikannya populer sebagai tanaman serba-guna, setelah tumbuhan kelapa. Salah satunya adalah tuak (nira). Selain sebagai minuman sehari-hari, tuak memiliki fungsi yang sangat penting dalam kehidupan sosial-budaya bagi sebagian masyarakat Batak di Sumatera Utara, terutama yang tinggal di daerah dataran tinggi.

Dalam tradisi orang Batak, tuak juga digunakan pada upacara-upacara tertentu, seperti upacara manuan ompu-ompu dan manulangi. Pada upacara manuan ompu-ompu, tuak digunakan untuk menyiram beberapa jenis tanaman yang ditanam di atas tambak[1] orang-orang yang sudah bercucu meninggal dunia. Sementara dalam upacara manulangi, tuak merupakan salah satu jenis bahan sesaji yang mutlak dipersembahkan kepada arwah seseorang yang telah meninggal dunia oleh anak-cucunya. Pertanyaannya adalah kenapa tuak (nira) memiliki fungsi yang amat penting dalam kehidupan sosial-budaya orang Batak?

Menurut cerita, pohon enau merupakan jelmaan dari seorang gadis bernama Beru Sibou. Peristiwa penjelmaan gadis itu diceritakan dalam sebuah cerita rakyat yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Tanah Karo, Sumatera Utara. Cerita itu mengisahkan tentang kesetiaan si Beru kepada abangnya, Tare Ilu. Ia tidak tega melihat penderitaan abangnya yang sedang dipasung oleh penduduk suatu negeri. Oleh karena itu, ia mencoba untuk menolongnya. Apa yang menyebabkan Abangnya, Tare Iluh, dipasung oleh penduduk negeri itu? Bagaimana cara Beru Siboau menolong abangnya? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat Kisah Pohon Enau berikut ini!

* * *

Alkisah, pada zaman dahulu kala di sebuah desa yang terletak di Tanah Karo, Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri bersama dua orang anaknya yang masih kecil. Yang pertama seorang laki-laki bernama Tare Iluh, sedangkan yang kedua seorang perempuan bernama Beru Sibou. Keluarga kecil itu tampak hidup rukun dan bahagia.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, karena sang suami sebagai kepala rumah tangga meninggal dunia, setelah menderita sakit beberapa lama. Sepeninggal suaminya, sang istri-lah yang harus bekerja keras, membanting tulang setiap hari untuk menghidupi kedua anaknya yang masih kecil. Oleh karena setiap hari bekerja keras, wanita itu pun jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Si Tare dan adik perempuannya yang masih kecil itu, kini menjadi anak yatim piatu. Untungnya, orang tua mereka masih memiliki sanak-saudara dekat. Maka sejak itu, si Tare dan adiknya diasuh oleh bibinya, adik dari ayah mereka.

Waktu terus berjalan. Si Tare Iluh tumbuh menjadi pemuda yang gagah, sedangkan adiknya, Beru Sibou, tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Sebagai seorang pemuda, tentunya Si Tare Iluh sudah mulai berpikiran dewasa. Oleh karena itu, ia memutuskan pergi merantau untuk mencari uang dari hasil keringatnya sendiri, karena ia tidak ingin terus-menerus menjadi beban bagi orang tua asuhnya.

“Adikku, Beru!” demikian si Tare Iluh memanggil adiknya.

“Ada apa, Bang!” jawab Beru.

“Kita sudah lama diasuh dan dihidupi oleh bibi. Kita sekarang sudah dewasa. Aku sebagai anak laki-laki merasa berkewajiban untuk membantu bibi mencari nafkah. Aku ingin pergi merantau untuk mengubah nasib kita. Bagaimana pendapat Adik?” tanya Tare Iluh kepada adiknya.

“Tapi, bagaimana dengan aku, Bang?” Beru balik bertanya.

“Adikku! Kamu di sini saja menemani bibi. Jika aku sudah berhasil mendapat uang yang banyak, aku akan segera kembali menemani adik di sini,” bujuk Tare kepada adiknya.

“Baiklah, Bang! Tapi, Abang jangan lupa segera kembali kalau sudah berhasil,” kata Beru mengizinkan abangnya, meksipun dengan berat hati.

“Tentu, Adikku!” kata Tare dengan penuh keyakinan.

Keesokan harinya, setelah berpamitan kepada bibi dan adiknya, si Tare Iluh berangkat untuk merantau ke negeri orang.

Sepeninggal abangnya, Beru Sibou sangat sedih. Ia merasa telah kehilangan segala-segalanya. Abangnya, Tare Iluh, sebagai saudara satu-satunya yang sejak kecil tidak pernah berpisah pun meninggalkannya. Gadis itu hanya bisa berharap agar abangnya segera kembali dan membawa uang yang banyak.

Sudah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun ia menunggu abangnya, tapi tak kunjung datang jua. Tidak ada kabar tentang keadaan abangnya. Ia tidak tahu apa yang dilakukannya di perantauan.

Sementara itu, Tare Iluh di perantauan bukannya mencari pekerjaan yang layak, melainkan berjudi. Ia beranggapan bahwa dengan memenangkan perjudian, ia akan mendapat banyak uang tanpa harus bekerja keras. Tetapi sayangnya, si Tare Iluh hanya sekali menang dalam perjudian itu, yaitu ketika pertama kali main judi. Setelah itu, ia terus mengalami kekalahan, sehingga uang yang sudah sempat terkumpul pada akhirnya habis dijadikan sebagai taruhan. Oleh karena terus berharap bisa menang dalam perjudian, maka ia pun meminjam uang kepada penduduk setempat untuk uang taruhan. Tetapi, lagi-lagi ia mengalami kekalahan. Tak terasa, hutangnya pun semakin menumpuk dan ia tidak dapat melunasinya. Akibatnya, si Tare Iluh pun dipasung oleh penduduk setempat.

Suatu hari, kabar buruk itu sampai ke telinga si Beru Sibou. Ia sangat sedih dan prihatin mendengar keadaan abangnya yang sangat menderita di negeri orang. Dengan bekal secukupnya, ia pun pergi mencari abangnya, meskipun ia tidak tahu di mana negeri itu berada. Sudah berhari-hari si Beru Sibou berjalan kaki tanpa arah dan tujuan dengan menyusuri hutan belantara dan menyebrangi sungai, namun belum juga menemukan abangnya.

Suatu ketika, si Beru Sibou bertemu dengan seor ang kakek tua.

“Selamat sore, Kek!”

“Sore, Cucuku!” Ada yang bisa kakek bantu?”

“Iya, Kek! Apakah kakek pernah bertemu dengan abang saya?”

“Siapa nama abangmu?”

“Tare Iluh, Kek!”

“Tare Iluh…? Maaf, Cucuku! Kakek tidak pernah bertemu dengannya. Tapi, sepertinya Kakek pernah mendengar namanya. Kalau tidak salah, ia adalah pemuda yang gemar berjudi.”

“Benar, Kek! Saya juga pernah mendengar kabar itu, bahkan ia sekarang dipasung oleh penduduk tempat ia berada sekarang. Apakah kakek tahu di mana negeri itu?

“Maaf, Cucuku! Kakek juga tidak tahu di mana letak negeri itu. Tapi kalau boleh, Kakek ingin menyarankan sesuatu.”

“Apakah saran Kakek itu?”

“Panjatlah sebuah pohon yang tinggi. Setelah sampai di puncak, bernyanyilah sambil memanggil nama abangmu. Barangkali ia bisa mendengarnya.”

Setelah menyampaikan sarannya, sang Kakek pun segera pergi. Sementara si Beru Sibou, tanpa berpikir panjang lagi, ia segera mencari pohon yang tinggi kemudian memanjatnya hingga ke puncak. Sesampainya di puncak, si Beru Sibou segera bernyanyi dan memanggil-manggil abangnya sambil menangis. Ia juga memohon kepada penduduk negeri yang memasung abangnya agar sudi melepaskannya.

Sudah berjam-jam si Beru Sibou bernyanyi dan berteriak di puncak pohon, namun tak seorang pun yang mendengarnya. Tapi, hal itu tidak membuatnya putus asa. Ia terus bernyanyi dan berteriak hingga kehabisan tenaga. Akhirnya, ia pun segera mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

“Ya, Tuhan! Tolonglah hambamu ini. Aku bersedia melunasi semua hutang abangku dan merelakan air mata, rambut dan seluruh anggota tubuhku dimanfaatkan untuk kepentingan penduduk negeri yang memasung abangku.”

Baru saja kalimat permohonan itu lepas dari mulut si Beru Sibou, tiba-tiba angin bertiup kencang, langit menjadi mendung, hujan deras pun turun dengan lebatnya diikuti suara guntur yang menggelegar. Sesaat kemudian, tubuh si Beru Sibou tiba-tiba menjelma menjadi pohon enau. Air matanya menjelma menjadi tuak atau nira yang berguna sebagai minuman. Rambutnya menjelma menjadi ijuk yang dapat dimanfaatkan untuk atap rumah. Tubuhnya menjelma menjadi pohon enau yang dapat menghasilkan buah kolangkaling untuk dimanfaatkan sebagai bahan makanan atau minuman.

Demikianlah cerita “Kisah Pohon Enau” dari daerah Sumatera Utara. Hingga kini, masyarakat Tanah Karo meyakini bahwa pohon enau adalah penjelmaan si Beru Sibou. Untuk mengenang peristiwa tersebut, penduduk Tanah Karo pada jaman dahulu setiap ingin menyadap nira, mereka menyanyikan lagu enau.

* * *

Cerita di atas termasuk ke dalam cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Di antara pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah memupuk sifat tenggang rasa dan menjunjung tinggi persaudaraan, serta akibat buruk dari suka bermain judi.

Pertama, sifat tenggang rasa. Sifat ini tercermin pada sifat Beru Sibou yang sangat menjunjung tinggi tenggang rasa dan persaudaraan. Ia rela mengorbankan seluruh jiwa dan raganya dengan menjelma menjadi pohon yang dapat dimanfaatkan orang-orang yang telah memasung abangnya. Hal ini dilakukannya demi membebaskan abangnya dari hukuman pasung yang telah menimpa abangnya tersebut. Sifat tenggang rasa dan persaudaran yang tinggi ini patut untuk dijadikan suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. Sifat ini sangat diutamakan dalam kehidupan orang-orang Melayu, sebagaimana dikatakan dalam ungkapan berikut ini.

adat hidup sama saudara,
lebih dan kurang usah berkira
baik dan buruk pelihara memelihara
sakit dan senang bela membela

Kedua, akibat buruk suka bermain judi. Sifat gemar bermain judi tercermin pada perilaku si Tare Iluh. Ia pergi merantau bukannya untuk mencari pekerjaan, melainkan bermain judi. Ia berharap dengan menang dalam perjudian, ia akan cepat kaya-raya. Namun, bukan uang yang melimpah didapatnya, tetapi kesengsaraan. Oleh karena besarnya akibat yang ditimbulkan dari bermain judi, sifat ini sangat dipantangkan dalam kehidupan orang-orang Melayu. Hal ini sesuai dengan ungkapan orang Melayu yang mengatakan:

kalau suka bermain judi,
hidup hina kerja tak jadi

(SM/53/12-2007)

Sumber:
Isi cerita diadaptasi dari Syamsuri, Maulana. t.t. Danau Toba dan Pulau Samosir dengan Beberapa Dongeng Sumatra Utara. Surabaya: Greisinda Press.
Anonim. “Enau: Ekologi dan Penyebaran”, (http://id.wikipedia.org/wiki/Enau#Ekologi_dan_penyebaran, diakses tanggal 21 Desember 2007).
Anonim. 2005. “Tuak dalam Masyarakat Batak Toba”, (http://habatakon01.blogspot.com/2005/07/tuak-dalam-masyarakat-batak-toba.html, diakses tanggal 21 Desember 2007).
Effendy, Tenas. 1994. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru: Bappeda Tingkat I Riau.
——-, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.
Ikegami, Shighiro. “Tuka dalam Masyarakat Batak Toba: Laporan Singkat tentang Aspek Sosial-Budaya Penggunaan Nira”, (http://bambi.u-shizuoka-ken.ac.jp/~kiyou4228021/11_3/11_3_5.pdf, diakses tanggal 21 Desember 2007).

[1] Tambak pada dasarnya merupakan kuburan dari tanah yang terlapis. Tetapi saat ini, kuburan modern yang terbentuk dari semen juga disebut tambak.

Asal Muasal Tuak Bagot, Dari Air Mata Gadis Rupawan

Sumber:  Sumber: batakonline.com;  http://parapat.org

Dari sekian banyak legende atau cerita rakyat Batak Toba, salah satu diantaranya yang cukup menarik adalah cerita tentang asal muasal minuman “tuak bagot”, yakni tuak yang bersumber dari pohon enau. Tulisan ini diterjemahkan/disunting dari tulisan Friemar di surat kabar keliling Imanuel tanggal 19 November 1919. Mungkin ada manfaatnya di dongengkan untuk pengantar anak menjelang tidur.

Menurut cerita, tuak bagot lebih dulu ada dari tuak kelapa. Rasanya pun tidaklah sama. Kalau tuak kelapa rasanya lebih manis dan kadar alkoholnya lebih tinggi dibanding tuak bagot. Sedang tuak bagot bagot rasanya agak asam, kadar alkoholnya lebih rendah. Kebanyakan kedai tuak lebih suka menjual tuak bagot, karena peminatnya juga lebih banyak. Selain itu tuak bagot juga dianggap mujur untuk memperlancar air susu ibu yang baru melahirkan. Itu sebabnya ibu yang baru melahirkan terutama di desa selalu dianjurkan minum tuak, agar “tarusnya” deras sehingga bayinya tidak merasa kekurangan minum.

Mungkin pula bisa dipercaya bisa tidak, hal itu ada hubungannya dengan kisah terjadinya tuak bagot, konon bermula dari airmata seorang gadis rupawan yang mengorbankan dirinya menjelma menjadi sebatang pohon enau (bagot) untuk membebaskan ayahnya dari belenggu hutang. Syahdan, dahulu kala di sebuah perkampungan di pinggiran Danau Toba tersebutlah seorang anak lelaki tua hidup berdua dengan anak gadisnya yang berwajah rupawan (cantik). Lelaki tua itu bernama Jalotua, dan anak gadisnya bernama Pitta Bargot Nauli. Ada pun Jalotua sudah lama menduda sejak kematian isterinya tatkala Pitta Bargot berusia dua tahun. Hidup mereka sangatlah sengsara karena kemiskinan. Kalaupun mereka mengusahai secuil tanah, itu hanya dapat menghidupi mereka untuk jangka waktu tidak lama.

Kesusahan bagi Jalotua dan anak gadisnya datang silih berganti. Apalagi ketika suatu ketika si Pitta Bargot jatuh sakit, bertambahlah kesusahan hati lelaki itu. sudah hidup sulit, datang lagi penyakit menimpa anak tercinta. Pikir punya pikir, akhirnya Jalotua pergi menjumpai orang kaya di kampung itu minta pinjaman uang untuk biaya mengobati anaknya. Tentu saja Jalotua tidak mempunyai borg (jaminan) kecuali sebidang tanah yang mereka usahai selama ini.

Suatu malam, Pitta Bargot berkata pada ayahnya: “Hidup kita terus menerus susah. Aku pikir kita perlu mengadakan suatu acara margondang sambil berdoa kepada Mulajadi Nabolon, siapa tahu nasib kita bisa berobah”.
Tapi ayahnya menjawab: “Bagaimanalah mungkin itu boru, biaya untuk margondang itu cukup besar, apa daya kita. Kalau kita mau pinjam uang pun apa jaminannya nanti, sedang untuk makan pun kita sulit”.

Mendengar ucapan ayahnya itu, Pitta Bargot berkata : “Kalau itu persoalannya, aku bersedia amang berikan sebagai jaminan. Mungkin orang kaya itu mau memberikan uangnya kita pinjam. Mulanya Jalotua tak tega menuruti usul putrinya itu, tapi karena Pitta Bargot mendesak, akhirnya jadi juga anak gadisnya itu ditawarkan kepada orang kaya itu untuk dijadikan “barang” jaminan.

Kemudian berangkatlah keduanya ke rumah orang kaya tersebut. Setelah hal itu diberitahu, si orang kaya ternyata setuju memberikan pinjaman dengan Pitta Bargot sebagai jaminan. Orang kaya itu berpikir, kalau pun nanti Jalotua tidak mampu mengembalikan uang pinjamannya maka sesuai dengan perjanjian, si Pitta Bargot yang cantik itu jadi miliknya dan nanti bisa dijadikan istri kelima. Setelah uang itu diberikan kepada Jalotua,maka Pitta Bargot pun tinggallah sementara di rumah orang kaya itu.

Berangkatlah si Jalotua membawa uang pinjamannya, mencari pargonsi (grup gondang sabangunan) sesuai saran anak gadisnya. Setelah pemusik gondang sudah ditemukan, dan hari pelaksanaannya ditentukan, si Jalotua pun menjumpai anak gadisnya di rumah si orang kaya memberitahu rencana tersebut.

Pitta Bargot kemudian menjumpai si orang kaya meminta izin agar diperkenankan ikut dalam pesta gondang pada hari yang ditentukan ayahnya. Tapi Pitta Bargot juga bertanya : “Bagaimanakah sekiranya penyakitku kambuh saat pesta berlangsung, lalu aku mati di sana, apakah kami juga membayar hutang yang dipinjam damang?”.
Si orang kaya menjawab : “Baiklah, kau boleh pergi menghadiri pesta itu. tapi setelah pesta selesai, kembalilah ke sini. Tentang kematian yang kau sebut, itu adalah takdir setiap manusia kalau sudah waktunya. Kalau memang kau meninggal saat pesta gondang itu, ayahmu tak perlu membayar hutang-hutangnya”.

Pitta Bargot lalu menceritakan hal itu pada ayahnya. Tapi dalam hatinya sudah ada pikiran tertentu, bahwa orang kaya itu ingin memiliki menjadi istri. Pitta Bargot tidak percaya dengan ucapan orang kaya itu. Dia juga kasihan ayahnya tak sanggup membayar hutangnya setelah pesta selesai. Pitta Bargot pun martonggo (memohon) kepada Mulajadi Na Bolon agar ia dijadikan menjadi sesuatu yang nantinya bisa membebaskan ayahnya dari kesusahan. Saat itu Pitta Bargot telah merasakan bahwa keinginannya akan dikabulkan, sesuai dengan mimpinya. Berkatalah Pitta Bargot kepada ayahnya : “Amang, janganlah bersedih bila ini kukatakan. Kalau aku mati nanti di pesta gondang itu, itu adalah berkat bagi kehidupan dan kebahagiaanmu. Tapi ingatlah amang, setelah aku mati, janganlah mayatku dikubur, karena aku nanti akan berubah menjadi sebatang pohon yang tumbuh di atas tanah yang bisa amang saksikan sepanjang masa. Kalau amang membuat rumah nanti, ambillah rambutku menjadi atapnya, dan tanganku bisa dijadikan tiang-tiang dan urur. Kalau badanku, amang ambillah untuk papan lantai atau dinding. Dan kalau amang tak punya uang, pukulilah bagian mataku, agar air mataku keluar. Tampunglah airmata itu, karena nanti itu bisa dijual menjadi minuman yang disukai banyak orang”.

Mendengar hal itu, ayahnya sangat sedih. Pendek cerita gondang pun diadakan di halaman rumahnya. Saat pesta sudah berlangsung dan musik gondang terdengar tiga putaran, si Pitta Bargot mendadak kesurupan. Saat gondang dibunyikan untuk ke tujuh kalinya, Pita Bargot kejang-kejang, dan tak lama kemudian kedua kakinya melesak ke dalam tanah. Yang lebih menggemparkan, sekonyong-konyong seluruh tubuhnya berubah sedikit demi sedikit menjadi sebatang pohon yang makin lama makin besar, lengkap dengan daun-daun sebagaimana halnya sebatang pohon hidup. Seluruh hadirin yang ada di pesta itu terkejut dan berhamburan kesana-kemari, karena peristiwa seperti itu belum pernah terjadi.

Sejak itu pohon itu diberi nama “bagot”, yang diambil dari nama Pitta Bargot. Pohon itu berurat ke bawah, berdaun ke atas. Lama-lama tumbuh pula “mata” pohon yang disebut juga arirang. Setelah tiba saatnya Jalotua memukuli bagian mata pohon itu seperti dipesankan putrinya. Air yang keluar deras dari air mata bagot itu kemudian dinamakan tuak. Sejak itu Jalotua menjualnya kepada orang-orang sekampung, yang lama kelamaan menyebar ke berbagai penjuru. Pohon bagot itu pun beranak pinak, tumbuh di berbagai tempat, dan memberi kehidupan pula bagi orang lain.

Kemudian Jalotua pun mendirikan rumahnya. Semua perlengkapan untuk rumah tak ada yang dibeli, tapi dimanfaatkan dari pohon bagot seperti pesan Pitta bargot. Mulai dari ijuk, batang, sampai lidi menjadi benda yang bermanfaat untuk manusia.

Si Kabayan dan Ijuk

Si Kabayan seringkali diajak mertuanya mengambil ijuk dari pohon-pohon enau yang tumbuh dihutan untuk dijual ke kota. Suatu saat Kabayan sadar bahwa dari pekerjaannya itu, dia sama sekali tidak dibayar oleh mertuanya. Kali ini dia punya akal, setelah dia mengambil ijuk dari hutan, lantas dia meringkuk ke dalam ijuk yang tertimbun itu. Sang mertua datang ke hutan tapi tak dijumpainya Kabayan, maka dia segera memikul ijuk itu ke kota.

Begitu sampai di tempat pemborong ijuk, Kabayan segera loncat keluar sambil tertawa. Sejak kejadian itu, Kabayan menerima sebagian dari hasil penjualan ijuk itu, sedangkan tugas untuk memikul ijuk dilaksanakan bergantian, tapi sang mertua tidak ikhlas, dia ingin balas dendam. Ketika tiba giliran sang mertua untuk memikul ijuk, dia melakukan persis seperti yang pernah Kabayan lakukan tempo hari, meringkuk bersembunyi di dalam tumpukan ijuk.

Ketika Si Kabayan datang ke hutan dan tidak menemukan sang mertuanya, tahulah Kabayan akan tipu muslihat mertuanya. Kebetulan Ki Silah lewat dan Kabayan berkata sambil tertawa dalam hati bahwa dia ingin pinjam korek api Ki Silah. Untuk apa Kabayan tanya Ki Silah sambil mengeluarkan korek api dari dalam sakunya.

Saya mau bakar ijuk ini karena banyak ulatnya, takut menyebar ke tanaman-
tanaman yang lain jawab Si Kabayan. Mendengar percakapan kedua orang
itu, sang mertua langsung keluar dari tumpukan ijuk dan berlari sambil
menutupi wajahnya dengan segenggam ijuk agar jangan sampai kelihatan oleh kedua orang itu.

Citra Aniendita Sari, Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / Hiski, Batu, 12 14 Agustus 2008.

The Story of Sugar Palm Tree

Sumber: http://dhenniemon.blogspot.com/

A husband and a wife lived happily in a village. They had two children a son and a daughter. The son’s name was Tare Iluh and the daughter’s name was Beru Sibou. Their happy life ended when their father died. Since then their mother worked hard for them. She worked so hard that it made her suffer from a terrible illness. Their mother then died. Later, Tare Iluh and Beru Sibou stayed at their uncle’s house.
Days passed by and those kids have grown into adults. Tare Iluh decided to find a job in another village.
He then left his sister and his uncle.
Tare Iluh wanted to make money in a short time. He thought gambling was the answer. He gambled using the money his uncle gave him. At first he won some money. He was so happy and used all the money. Sadly, he lost. All the money he had was gone. He was upset. After that he borrowed money from the villagers, he lost again and he borrowed some money again. He kept on borrowing some money until he had a lot of debts.
When the villagers asked him to pay the debt, Tare Iluh could not pay them.
He did not have any money. The villagers were angry. They put him in the jail!
In the mean time, Beru Sibou was waiting for his brother. She was worried because he had not given her any news. Finally she heard that his brother was in the jail. She rushed to go and wanted to meet her brother.
Beru Sibou did not know the way to the village. She was lost in a jungle.
She met an old man and asked about his brother. The old man knew that there was a man in the jail because of gambling. He then suggested Beru
Sibou to climb a high tree and sang a song about his brother. His brother might hear her song.
Beru Sibou then climbed a high tree. She sang a song about his brother. She sang and screamed his brother’s name.
“My brother Tare Iluh? Where are you? The villagers, please release my brother.”
Nobody listened to the song and that made Beru Sibou frustrated.
She then prayed to God.
“God, I’m willing to pay my brother’s debts. I will pay with my tears, my hair, and all parts of my body can be used by the villagers. But please free my brother.”
Right after she finished praying, heavy storm attacked. And slowly Beru Sibou changed into a tree. It was just not an ordinary tree. All parts of tree were useful. Her tears changed into sweet water. Her hair changed into very strong leaves. People can use them as roof of their houses. The fruits of the tree named kolang kaling are very delicious. People name it as sugar palm tree or pohon enau.
People in other villages name it as pohon aren. ***

Asal Muasal Tuak Bagot, Dari Air Mata Gadis Rupawan

Sumber: http://www.mediabolon.com/

Dari sekian banyak legende atau cerita rakyat Batak Toba, salah satu diantaranya yang cukup menarik adalah cerita tentang asal muasal minuman “tuak bagot”, yakni tuak yang bersumber dari pohon enau.

Tulisan ini diterjemahkan/disunting dari tulisan Friemar di surat kabar keliling Imanuel tanggal 19 November 1919. Mungkin ada manfaatnya di dongengkan untuk pengantar anak menjelang tidur.

Menurut cerita, tuak bagot lebih dulu ada dari tuak kelapa. Rasanya pun tidaklah sama. Kalau tuak kelapa rasanya lebih manis dan kadar alkoholnya lebih tinggi dibanding tuak bagot. Sedang tuak bagot bagot rasanya agak asam, kadar alkoholnya lebih rendah. Kebanyakan kedai tuak lebih suka menjual tuak bagot, karena peminatnya juga lebih banyak. Selain itu tuak bagot juga dianggap mujur untuk memperlancar air susu ibu yang baru melahirkan. Itu sebabnya ibu yang baru melahirkan terutama di desa selalu dianjurkan minum tuak, agar “tarusnya” deras sehingga bayinya tidak merasa kekurangan minum.

Mungkin pula bisa dipercaya bisa tidak, hal itu ada hubungannya dengan kisah terjadinya tuak bagot, konon bermula dari airmata seorang gadis rupawan yang mengorbankan dirinya menjelma menjadi sebatang pohon enau (bagot) untuk membebaskan ayahnya dari belenggu hutang. Syahdan, dahulu kala di sebuah perkampungan di pinggiran Danau Toba tersebutlah seorang anak lelaki tua hidup berdua dengan anak gadisnya yang berwajah rupawan (cantik). Lelaki tua itu bernama Jalotua, dan anak gadisnya bernama Pitta Bargot Nauli. Ada pun Jalotua sudah lama menduda sejak kematian isterinya tatkala Pitta Bargot berusia dua tahun. Hidup mereka sangatlah sengsara karena kemiskinan. Kalaupun mereka mengusahai secuil tanah, itu hanya dapat menghidupi mereka untuk jangka waktu tidak lama.

Kesusahan bagi Jalotua dan anak gadisnya datang silih berganti. Apalagi ketika suatu ketika si Pitta Bargot jatuh sakit, bertambahlah kesusahan hati lelaki itu. sudah hidup sulit, datang lagi penyakit menimpa anak tercinta. Pikir punya pikir, akhirnya Jalotua pergi menjumpai orang kaya di kampung itu minta pinjaman uang untuk biaya mengobati anaknya. Tentu saja Jalotua tidak mempunyai borg (jaminan) kecuali sebidang tanah yang mereka usahai selama ini.

Suatu malam, Pitta Bargot berkata pada ayahnya: “Hidup kita terus menerus susah. Aku pikir kita perlu mengadakan suatu acara margondang sambil berdoa kepada Mulajadi Nabolon, siapa tahu nasib kita bisa berobah”.

Tapi ayahnya menjawab: “Bagaimanalah mungkin itu boru, biaya untuk margondang itu cukup besar, apa daya kita. Kalau kita mau pinjam uang pun apa jaminannya nanti, sedang untuk makan pun kita sulit”.

Mendengar ucapan ayahnya itu, Pitta Bargot berkata : “Kalau itu persoalannya, aku bersedia amang berikan sebagai jaminan. Mungkin orang kaya itu mau memberikan uangnya kita pinjam. Mulanya Jalotua tak tega menuruti usul putrinya itu, tapi karena Pitta Bargot mendesak, akhirnya jadi juga anak gadisnya itu ditawarkan kepada orang kaya itu untuk dijadikan “barang” jaminan.

Kemudian berangkatlah keduanya ke rumah orang kaya tersebut. Setelah hal itu diberitahu, si orang kaya ternyata setuju memberikan pinjaman dengan Pitta Bargot sebagai jaminan. Orang kaya itu berpikir, kalau pun nanti Jalotua tidak mampu mengembalikan uang pinjamannya maka sesuai dengan perjanjian, si Pitta Bargot yang cantik itu jadi miliknya dan nanti bisa dijadikan istri kelima. Setelah uang itu diberikan kepada Jalotua,maka Pitta Bargot pun tinggallah sementara di rumah orang kaya itu.

Berangkatlah si Jalotua membawa uang pinjamannya, mencari pargonsi (grup gondang sabangunan) sesuai saran anak gadisnya. Setelah pemusik gondang sudah ditemukan, dan hari pelaksanaannya ditentukan, si Jalotua pun menjumpai anak gadisnya di rumah si orang kaya memberitahu rencana tersebut.

Pitta Bargot kemudian menjumpai si orang kaya meminta izin agar diperkenankan ikut dalam pesta gondang pada hari yang ditentukan ayahnya. Tapi Pitta Bargot juga bertanya : “Bagaimanakah sekiranya penyakitku kambuh saat pesta berlangsung, lalu aku mati di sana, apakah kami juga membayar hutang yang dipinjam damang?”.

Si orang kaya menjawab : “Baiklah, kau boleh pergi menghadiri pesta itu. tapi setelah pesta selesai, kembalilah ke sini. Tentang kematian yang kau sebut, itu adalah takdir setiap manusia kalau sudah waktunya. Kalau memang kau meninggal saat pesta gondang itu, ayahmu tak perlu membayar hutang-hutangnya”.

Pitta Bargot lalu menceritakan hal itu pada ayahnya. Tapi dalam hatinya sudah ada pikiran tertentu, bahwa orang kaya itu ingin memiliki menjadi istri. Pitta Bargot tidak percaya dengan ucapan orang kaya itu. Dia juga kasihan ayahnya tak sanggup membayar hutangnya setelah pesta selesai. Pitta Bargot pun martonggo (memohon) kepada Mulajadi Na Bolon agar ia dijadikan menjadi sesuatu yang nantinya bisa membebaskan ayahnya dari kesusahan. Saat itu Pitta Bargot telah merasakan bahwa keinginannya akan dikabulkan, sesuai dengan mimpinya. Berkatalah Pitta Bargot kepada ayahnya : “Amang, janganlah bersedih bila ini kukatakan. Kalau aku mati nanti di pesta gondang itu, itu adalah berkat bagi kehidupan dan kebahagiaanmu. Tapi ingatlah amang, setelah aku mati, janganlah mayatku dikubur, karena aku nanti akan berubah menjadi sebatang pohon yang tumbuh di atas tanah yang bisa amang saksikan sepanjang masa. Kalau amang membuat rumah nanti, ambillah rambutku menjadi atapnya, dan tanganku bisa dijadikan tiang-tiang dan urur. Kalau badanku, amang ambillah untuk papan lantai atau dinding. Dan kalau amang tak punya uang, pukulilah bagian mataku, agar air mataku keluar. Tampunglah airmata itu, karena nanti itu bisa dijual menjadi minuman yang disukai banyak orang”.

Mendengar hal itu, ayahnya sangat sedih. Pendek cerita gondang pun diadakan di halaman rumahnya. Saat pesta sudah berlangsung dan musik gondang terdengar tiga putaran, si Pitta Bargot mendadak kesurupan. Saat gondang dibunyikan untuk ke tujuh kalinya, Pita Bargot kejang-kejang, dan tak lama kemudian kedua kakinya melesak ke dalam tanah. Yang lebih menggemparkan, sekonyong-konyong seluruh tubuhnya berubah sedikit demi sedikit menjadi sebatang pohon yang makin lama makin besar, lengkap dengan daun-daun sebagaimana halnya sebatang pohon hidup. Seluruh hadirin yang ada di pesta itu terkejut dan berhamburan kesana-kemari, karena peristiwa seperti itu belum pernah terjadi.

Sejak itu pohon itu diberi nama “bagot”, yang diambil dari nama Pitta Bargot. Pohon itu berurat ke bawah, berdaun ke atas. Lama-lama tumbuh pula “mata” pohon yang disebut juga arirang. Setelah tiba saatnya Jalotua memukuli bagian mata pohon itu seperti dipesankan putrinya. Air yang keluar deras dari air mata bagot itu kemudian dinamakan tuak. Sejak itu Jalotua menjualnya kepada orang-orang sekampung, yang lama kelamaan menyebar ke berbagai penjuru. Pohon bagot itu pun beranak pinak, tumbuh di berbagai tempat, dan memberi kehidupan pula bagi orang lain.

Kemudian Jalotua pun mendirikan rumahnya. Semua perlengkapan untuk rumah tak ada yang dibeli, tapi dimanfaatkan dari pohon bagot seperti pesan Pitta bargot. Mulai dari ijuk, batang, sampai lidi menjadi benda yang bermanfaat untuk manusia.

Sumber: batakonline.com

Asal Usul Pohon Enau

Sumber: http://sutrisblogs.blogspot.com/

Dahulu kala ada dua orang suami istri yang tinggal di satu desa tanah Karo. Mereka hidup berbahagia karena hamper tak pernah terjadi perselisihan di antara mereka. Hidup mereka yang sederhana mereka jalani dengan penuh kesabaran sehingga perasaan mereka selalu tentram dan damai.

Kebahagiaan kedua suami istri itu makin bertambah ketika mereka memperoleh seorang anak laki-laki sebagai anak mereka yang pertama. Sebab menurut adat mereka, anak lelaki adalah anak yang melanjutkan keturunan mereka di kemudia hari. Sesuai dengan ketentuan adat, mereka menyelenggarakan upacara untuk menabalkan nama anak itu. Nama yang ditabalkan baginya ialah si Tare Iluh.

Ktika si Tare Iluh sudah berusia kira-kira satu tahun, hamil pulalah ibunya. Kedua orang tua si Tare Iluh itu mengharapkan agar si Tare Iluh mendapat adik perempuan. Ketika si Ibu Tare Iluh melahirkan ternyata harapan kedua orang tuanya terkabul. Ibunya melahirkan anak perempuan, yang kemudian diberi nama si Beru Sibou. Tentu saja kedua orang tua si Tare Iluh merasa hidupnya semakin bahagia. Karena sudah memperoleh sepasang anak.

Tidak lama kemudian, keluarga si Tere Iluh tiba-tiba lenyap, karena dengan tak disangka-sangka orang tua laki-laki Si Tare Iluh meninggal dunia. Setelah ayah si Tare iluh meninngal dunia, terpaksalah ibunya membanting tulang setiap hari untuk mencari makan bagi kedua anaknya tersebut. Karena terlalu lelah bekerja, ibu si Tare Iluh jatuh sakit. Seminggu kemudian meninggal dunia. Setelah kedua orang tua mereka meninggal dunia, si Tare Iluh dan adiknya si Beru Sibou dipelihara oleh kerabat dekat orang tua mereka. Keadaan mereka yang yatim piatu membuat si Tare Iluh dan adiknya si Beru Sibou semakin saling menyayangi.

Ketika si Tare Iluh sudah tumbuh menjadi pemuda maka pergilah ia merantau. Sebelum berangkat ia berjanji kepada adiknya si Beru Sibou bahwa dia akan segera kembali sesudah berhasil mengumpulkan banyak uang.

Setelah abngnya pergi si Beru Sibou merasa kehilangan segala-galanya dan hatinya sedih sekali. Karena sejak kecil mereka tidak pernah berpisah satu hari pun juga. Si Beru Sibou berharap abangnya si Tare Iluh cepat kembali setelah berhasil mengumpulkan banyak uang di perantaraan.

Harapan si Beru Sibou itu hanya harapan yang sia-sia saja. Sebab yang dilakukan abangnya si Tare Iluh di prantauan hanyalah berjudi kalau dia sudah mendapatklan uang. Oleh karena itu dia tidak pernah berhasil mengumpulkan uang. Malahan uang yang telah terkumpul segera habis karena setiap kali ia berjudi selalu kalah. Namun, dia terus juga berjudi, karena ia berharap satu ketika ia akan menang banyak. Akhirnya utang judinya bertumpuk-tumpuk dan tidak dapat ia bayar. Karena si Tare Iluh tidak dapat membayar utangnya, maka dia dipasung orang. Oleh karena itu si Tare Iluh tidak dapat kembali menemui adiknya si Beru Sibou yang setiap hari menunggu kedatangannya dengan perasaan sedih.

Karena sudah terlalu lama si Tare Ilu tidak kembali juga maka pergilah si Beru Sibou mencarinya meskipun dia tidak tahu dimana tempat abangnya yang pasti. Ketika si Beru Sibou berjalan melintasi hutan untuk mencari abangnya, dia bertemu dengan seorang lelaki yang menanyakan hendak kemana si Beru Sibou. Dia katakana bahwa dia hendak mencari abangnya yang bernama si Tare Iluh. Yang sudah lama pergi merantau. Tetapi ia sendiri tidak tahu kemana tempat abangnya itu.

Kemudian lelaki itu mengatakan kepada si Beru Sibou bahwa dia pernah mendengar cerita orang tentang seorang pemuda yang bernama si Tare Iluh. Menurut cerita orang itu si Tare Iluh gemar sekali berjudi tetapi ia tidak pernah menang. Akhirnya ia dipasung orang karena tak sanggup membayar hutang judinya. Tetapi lelaki itu juga tidak tahu dimana tempat si Tare Iluh dipasung orang.

Mendengar cerita lelaki itu si Beru Sibou menangis tersedu-sedu. Karena kasihan sekali melihatnya, lelaki itu menganjurkan agar si Beru Sibou memanjat pohon yang tinggi. Kalau sudah sampai di puncaknya dia bernyanyi-nyanyi memanggil-manggil abangnya si Tare Iluh. Siapa tahu panggilan si Beru Sibou itu itu akan terdengar oleh kakaknya.

Setelah lelaki itu berlalu, si Beru Sibou memanjat sebatang pohon kayu yang tinggi. Setelah sampai dipuncaknya, bernyanyilah si Beru Sibou sambil menangis memanggil-manggil abangnya si Tare Iluh. Dia juga menyanyikan kata-kata yang memohon agar si Tare Iluh dilepaskan dari pasungannya. Selanjutnya, sambil terus bernyanyi dengan menangis si Beru Sibou memohon kepada Yang Maha Kuasa agar semua utang abangnya si Tare Iluh bisa dilunasi dengan air matanya, dengan rambutnya, dan dengan anggota-anggota tubuhnya. Karena hanya itulah yang bisa diberikannya untuk membayar hutang-hutang abangnya. Si Beru Siboujuga memohon agar orang-orang lain pun dapat memanfaatkan air matanya, rambutnya dan seluruh anggota tubuhnya untuk kepentingan mereka.

Tak lama setelah si Beru Sibou selesai mengucapkan permohonannya itu, sambil menangis menjelmalah dia menjadi pohon enau. Dengan begitu maka air matanya menjelma menjadi nira enau, rambutnya menjelma menjadi ijuk., dan seluruh anggota tubuhnya menjelma menjadi bagian dari pohon enau. Semuanya itu dapat dimanfaatkan orang sesuai dengan permohonan si Beru Sibou.

Di kemudian hari pohon enau yang merupakan penjelmaan si Beru Sibou dapat disadap orang untuk diambil niranya yang merupakan penjelmaan air mata si Beru Sibou. Ijuk enau yang merupakan penjelmaan dari rambut si Beru Sibou juga diambil orang untuk dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Begitu juga bagian-bagian lain yang merupakan penjelmaan dari anggota tubuh si Beru Sibou dapat dimanfaatkan orang untuk berbagai keperluan.

Karena diyakini bahwa pohon enau adalah penjelmaan dari si Beru Sibou maka pada masa dahulu di Tanah Karo terdapat kebiasaan untuk menyanyikan pohon enau pada waktu menyadapnya untuk mendapatkan nira.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers

%d bloggers like this: