Aren Indonesia

Aren

Aren

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Enau

416px-Arenga_pinnata_Blanco2.419

Enau atau aren (Arenga pinnata, suku Arecaceae) adalah palma yang terpenting setelah kelapa (nyiur) karena merupakan tanaman serba guna. Tumbuhan ini dikenal dengan pelbagai nama seperti nau, hanau, peluluk, biluluk, kabung, juk atau ijuk (aneka nama lokal di Sumatra dan Semenanjung Malaya); kawung, taren (Sd.); akol, akel, akere, inru, indu (bahasa-bahasa di Sulawesi); moka, moke, tuwa, tuwak (di Nusa Tenggara), dan lain-lain. [1]

Bangsa Belanda mengenalnya sebagai arenpalm atau zuikerpalm dan bangsa Jerman menyebutnya zuckerpalme. Dalam bahasa Inggris disebut sugar palm atau Gomuti palm.

Aren adalah tumbuhan yang dilindungi oleh undang-undang.

Pemerian/Deskripsi

200px-Aren_pinna_070612_042_stgd

Pohon enau Situgede, Bogor, Jawa Barat

Palma yang besar dan tinggi, dapat mencapai 25 m. Berdiameter hingga 65 cm, batang pokoknya kukuh dan pada bagian atas diselimuti oleh serabut berwarna hitam yang dikenal sebagai ijuk, injuk, juk atau duk. Ijuk sebenarnya adalah bagian dari pelepah daun yang menyelubungi batang.

Daunnya majemuk menyirip, seperti daun kelapa, panjang hingga 5 m dengan tangkai daun hingga 1,5 m. Anak daun seperti pita bergelombang, hingga 7 x 145 cm, berwarna hijau gelap di atas dan keputih-putihan oleh karena lapisan lilin di sisi bawahnya.

Berumah satu, bunga-bunga jantan terpisah dari bunga-bunga betina dalam tongkol yang berbeda yang muncul di ketiak daun; panjang tongkol hingga 2,5 m. Buah buni bentuk bulat peluru, dengan diameter sekitar 4 cm, beruang tiga dan berbiji tiga, [2] tersusun dalam untaian seperti rantai. Setiap tandan mempunyai 10 tangkai atau lebih, dan setiap tangkai memiliki lebih kurang 50 butir buah berwarna hijau sampai coklat kekuningan. Buah ini tidak dapat dimakan langsung karena getahnya sangat gatal.

Kegunaan

Pohon enau menghasilkan banyak hal, yang menjadikannya populer sebagai tanaman yang serbaguna, terutama sebagai penghasil gula.

Nira dan gula

200px-Aren_pinna_080814_2157_Fl_srna

Tongkol bunga jantan (kanan) dan yang disadap niranya (sebelah kiri)

Gula aren diperoleh dengan menyadap tandan bunga jantan yang mulai mekar dan menghamburkan serbuk sari yang berwarna kuning. Tandan ini mula-mula dimemarkan dengan memukul-mukulnya selama beberapa hari, hingga keluar cairan dari dalamnya. Tandan kemudian dipotong dan di ujungnya digantungkan tahang bambu untuk menampung cairan yang menetes.

Cairan manis yang diperoleh dinamai nira (alias legen atau saguer), berwarna jernih agak keruh. Nira ini tidak tahan lama, maka tahang yang telah berisi harus segera diambil untuk diolah niranya; biasanya sehari dua kali pengambilan, yakni pagi dan sore.

Setelah dikumpulkan, nira segera dimasak hingga mengental dan menjadi gula cair. Selanjutnya, ke dalam gula cair ini dapat dibubuhkan bahan pengeras (misalnya campuran getah nangka dengan beberapa bahan lain) agar gula membeku dan dapat dicetak menjadi gula aren bongkahan (gula gandu). Atau, ke dalam gula cair ditambahkan bahan pemisah seperti minyak kelapa, agar terbentuk gula aren bubuk (kristal) yang disebut juga sebagai gula semut.

Di banyak daerah di Indonesia, nira juga biasa difermentasi menjadi semacam minuman beralkohol yang disebut tuak atau di daerah timur juga disebut saguer. Tuak ini diperoleh dengan membubuhkan satu atau beberapa macam kulit kayu atau akar-akaran (misalnya kulit kayu nirih (Xylocarpus) atau sejenis manggis hutan (Garcinia)) ke dalam nira dan membiarkannya satu sampai beberapa malam agar berproses. Bergantung pada ramuan yang ditambahkan, tuak yang dihasilkan dapat berasa sedikit manis, agak masam atau pahit.

Dengan membubuhkan bahan yang lain, atau dengan membiarkan begitu saja selama beberapa hari, nira dapat berfermentasi menjadi cuka. Cuka dari aren ini kini tidak lagi populer, terdesak oleh cuka buatan pabrik.

Nira mentah (segar) bersifat pencahar (laksativa), sehingga kerap digunakan sebagai obat urus-urus. Nira segar juga baik sebagai bahan campuran (pengembang) dalam pembuatan roti.[1]

Kolang-kaling

200px-Aren_pinna_080813_1988_K_srna

Buah aren dan kolang-kaling

Buah aren (dinamai beluluk, caruluk dan lain-lain) memiliki 2 atau 3 butir inti biji (endosperma) yang berwarna putih tersalut batok tipis yang keras. Buah yang muda intinya masih lunak dan agak bening. Buah muda dibakar atau direbus untuk mengeluarkan intinya, dan kemudian inti-inti biji itu direndam dalam air kapur beberapa hari untuk menghilangkan getahnya yang gatal dan beracun.[1]. Cara lainnya, buah muda dikukus selama tiga jam dan setelah dikupas, inti bijinya dipukul gepeng dan kemudian direndam dalam air selama 10-20 hari. Inti biji yang telah diolah itu, diperdagangkan di pasar sebagai buah atep (buah atap) atau kolang-kaling.

Kolang-kaling disukai sebagai campuran es, manisan atau dimasak sebagai kolak. Teristimewa sebagai hidangan berbuka puasa di bulan Ramadhan.

Produk lain

Sebagaimana nipah dan rumbia, daun pohon enau juga biasa digunakan sebagai bahan atap rumah rakyat. Pucuk daunnya yang masih kuncup (janur) juga dipergunakan sebagai daun rokok, yang dikenal pasar sebagai daun kawung. Lembar-lembar daunnya di Jawa Barat biasa digunakan sebagai pembungkus barang dagangan, misalnya gula aren atau buah durian. Lembar-lembar daun ini pun kerap dipintal menjadi tali, sementara dari lidinya dihasilkan barang anyaman sederhana dan sapu lidi.

Seperti halnya daun, ijuk dari pohon enau pun dipintal menjadi tali. Meski agak kaku, tali ijuk ini cukup kuat, awet dan tahan digunakan di air laut. Ijuk dapat pula digunakan sebagai bahan atap rumah, pembuat sikat dan sapu ijuk. Dari pelepah dan tangkai daunnya, setelah diolah, dihasilkan serat yang kuat dan tahan lama untuk dijadikan benang, tali pancing dan senar gitar Batak.

Batangnya mengayu di sebelah luar dan agak lunak berserabut di bagian dalam atau empulurnya. Kayunya yang keras ini dipergunakan sebagai papan, kasau atau dibuat menjadi tongkat. Empulur atau gumbarnya dapat ditumbuk dan diolah untuk menghasilkan sagu, meski kualitasnya masih kalah oleh sagu rumbia. Batang yang dibelah memanjang dan dibuang empulurnya digunakan sebagai talang atau saluran air.

Dari akar dihasilkan serat untuk bahan anyaman, tali pancing atau cambuk.[1]

Ekologi dan penyebaran

Pohon enau mudah tumbuh. Memiliki asal-usul dari wilayah Asia tropis, enau diketahui menyebar alami mulai dari India timur di sebelah barat, hingga sejauh Malaysia, Indonesia, dan Filipina di sebelah timur. Di Indonesia, enau tumbuh liar atau ditanam, sampai ketinggian 1.400 m dpl.. [2] Biasanya banyak tumbuh di lereng-lereng atau tebing sungai.

Meskipun getahnya amat gatal, buah enau yang masak banyak disukai hewan. Musang luwak diketahui sebagai salah satu hewan yang menyukai buah enau ini, dan secara tidak langsung berfungsi sebagai hewan pemencar biji enau. Di Bangka, pada masa lalu orang-orang Tionghoa memasang perangkap di bawah pohon enau yang tengah berbuah, untuk menangkap rombongan babi hutan yang berpesta buah enau yang berjatuhan. [1]

Perbanyakan

Enau atau aren dapat dikembang biakkan secara generatif yaitu melalui bijinya. Agar diperoleh keturunan yang baik, benih sebaiknya diambil dari pohon induk yang memiliki kriteria sebagai berikut :

  • Batang pohon harus besar dengan pelepah daun merunduk dan rimbun. Sampai saat ini dikenal dua macam tanaman aren yaitu Aren Genjah yang memiliki batang agak kecil dan pendek dengan produksi nira antara 10–15 liter/tandan/hari, dan Aren Dalam yang memiliki batang besar dan tinggi dengan produksi nira 20–30 liter/tandan/hari. Untuk kepentingan produksi nira dan turunannya, dianjurkan untuk menggunakan varietas Dalam sebagai pohon induknya.
  • Pohon terpilih harus memiliki produktivitas yang tinggi. Perlu diketahui bahwa tidak semua pohon aren dan tidak semua mayang (tandan bunga) jantan yang keluar (9 – 11 mayang) menghasilkan nira. Hal ini sangat dipengaruh oleh proses fisiologi tanaman. Calon pohon induk perlu diperiksa produktivitasnya dengan menyadap nira dari mayang jantan pertama atau kedua; jika hasilnya banyak maka pohon itu pantas dijadikan pohon induk. Kemudian pohon induk ini tidak lagi disadap niranya, agar kualitas benih yang dihasilkan tetap baik.

Selanjutnya tahapan penyediaan bibit tanaman aren adalah sebagai berikut:

  1. Pengumpulan buah
    Buah yang digunakan sebagai sumber benih harus matang, sehat yang ditandai dengan kulit buah yang berwarna kuning kecoklatan, tidak terserang hama dan penyakit dengan diameter buah ± 4 cm. Sebaiknya buah yang diambil adalah yang terletak di bagian luar rakila. Buah aren ini dapat disimpan selama 2 minggu pada karung plastik atau dus untuk memudahkan pemisahan biji (benih) dari kulit.
  2. Pengambilan biji dari buah
    Pengambilan biji dari dalam buah aren harus menggunakan sarung tangan karena buah aren mengandung asam oksalat yang akan menimbulkan rasa gatal apabila kena kulit. Cara lain, yaitu dengan memeram buah-buah aren yang telah dikumpulkan sampai kulit buah menjadi busuk sehingga biji terpisah dengan sendirinya dari daging buah. Dengan cara ini, biji dapat diambil dengan mudah dan kulit buah aren tidak gatal lagi.
  3. Perkecambahan
    Benih disemaikan dalam tempat persemaian dengan media campuran pasir dan serbuk gergaji dengan perbandingan 2:1. Untuk mempercepat perkecambahan, tempurung biji dapat digosok dengan kertas pasir (ampelas) di bagian punggungnya, tempat keluar apokol, selebar kira-kira 3 mm kemudian biji direndam dalam air agar air meresap ke dalam endosperm sampai jenuh, lalu disemaikan. Benih disiram setiap hari untuk mempertahankan kelembaban yang tinggi sekitar 80%.

    200px-Aren_pinna_080814_2152_S_srna

    Anakan (semai) pohon aren

  4. Pembibitan
    Semai aren yaitu setelah terbentuk apokol yang telah mencapai panjang 3 – 5 cm dipindahkan ke tempat pembibitan atau ke dalam kantong plastik (polibag) yang berdiameter 25 cm, yang telah diisi ¾ bagiannya dengan tanah-tanah lapisan atas yang dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1:2. Bibit-bibit yang telah dipindahkan ini memerlukan penyiraman dan naungan agar terhindar dari cahaya matahari secara langsung. Bibit aren dapat dipindahkan (ditanam) ke lapangan setelah berumur 6-8 bulan sejak daun pertama terbentuk.

Rujukan

1 ^ a b c d e Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 1. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 447-455.
2 ^ a b Steenis, CGGJ van. 1981. Flora, untuk sekolah di Indonesia. PT Pradnya Paramita, Jakarta. Hal. 139.
Phang Wien Ho et al. A Guide to the Botanic Gardens Jungle. Pusat Sains Singapura (1983). ISBN 9971-88-010-5.

Pranala luar

Kew Palms Checklist: Arenga pinnata
Germplasm Resources Information Network: Arenga pinnata
Global Compendium of Weeds: Arenga pinnata
Fairchild Tropical Botanic Garden: herbarium specimen
PACSOA: Arenga pinnata
(ms) Gula aren.

AREN (Arenga pinnata)

Sumber: http://x-jungle.blogspot.com/2008/05/aren-arenga-pinnata.html

Aren (Arenga pinnata) termasuk suku Arecaceae (pinang-pinangan), merupakan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae). Tanaman aren bisa dijumpai mulai dari pantai barat India, sampai ke sebelah selatan Cina dan kepulauan Guam. Habitat aren juga banyak terdapat di Filipina, Malaysia, Dataran Assam di India, Laos, Kamboja, Vietnam, Birma (Myanmar), Srilanka, dan Thailand (Lutony, 1993). Di Indonesia, tanaman aren banyak terdapat dan tersebar di seluruh wilayah nusantara, khususnya di daerah-daerah perbukitan yang lembab.

Daun tanaman aren pada tanaman bibit (sampai umur 3 tahun), bentuk daunnya belum menyirip (berbentuk kipas). Sedangkan daun tanaman aren yang sudah dewasa dan tua bersirip ganjil.

Perakaran pohon aren menyebar dan cukup dalam, sehingga tanaman ini dapat diandalkan sebagai vegetasi pencegah erosi, terutama untuk daerah yang tanahnya mempunyai kemiringan lebih dari 20 %.

Buah aren terbentuk setelah terjadi penyerbukan dengan perantaraan angina atau serangga. Buah aren berbentuk bulat, berdiameter 4-5 cm, di dalamnya berisi biji 3 buah. Bagian dari buah aren terdiri dari:

  • Kulit luar, halus berwarna hijau pada waktu masih muda, dan menjadi kuning setelah tua (masak).
  • Daging buah, berwarna putih kekuning-kuningan.
  • Kulit biji, berwarna kuning dan tipis pada waktu masih muda, dan berwarna hitan yang keras setelah buah masak. Endosperm, berbentuk lonjong agak pipih berwarna putih agak bening dan lunak pada waktu buah masih muda; dan berwarna putih, padat atau agak keras pada waktu buah sudah masak.
  • Daging buah aren yang masih muda mengandung lendir yang sangat gatal jika mengenai kulit, karena lendir ini mengandung asam oksalat (H2C2O4). Tiap untaian buah panjangnya mencapai 1,5-1,8 m, dan tiap tongkol (tandan buah) terdapat 40-50 untaian buah. Tiap tandan terdapat banyak buah, beratnya mencapai 1-2,5 kuintal. Buah yang setengah masak dapat dibuat kolang kaling. Pada satu pohon aren sering didapati 2-5 tandan buah yang tumbuhnya agak serempak.

Tanaman aren sesungguhnya tidak membutuhkan kondisi tanah yang khusus, sehingga dapat tumbuh pada tanah-tanah liat (berlempung), berkapur, berpasir. Tetapi tanaman ini tidak tahan pada tanah yang kadar asamnya terlallu tinggi (pH tanah terlalu asam).

Semua bagian pohon aren dapat diambil manfaatnya, mulai dari bagian-bagian fisik pohon maupun dari hasil-hasil produksinya. Hampir semua bagian fisik pohon ini dapat dimanfaatkan, misalnya : akar (untuk obat tradisional dan peralatan), batang (untuk berbagai macam peralatan dan bangunan), daun muda atau janur (untuk pembungkus atau pengganti kertas rokok yang disebut dengan kawung).

Hasil produksinya juga dapat dimanfaatkan, misalnya : buah aren muda (untuk pembuat kolang-kaling sebagi bahan pelengkap minuman atau makanan), air nira (untuk bahan pembuatan gula merah atau cuka), pati atau tepung dalam batang (untuk bahan pembuatan berbagai macam makanan atau minuman).

Pada prinsipnya, pengembangan tanaman aren di negara kita itu sangat prospektif. Disamping dapat memenuhi kebutuhan konsumsi di dalam negeri atas produk-produk yang berasal dari tanaman aren, dapat juga meningkatkan pendapatan petani dari usahatani tanaman aren, dan dapat pula untuk melestarikan sumberdaya alam serta lingkungan hidup.
Di Indonesia tanaman aren dapat tumbuh baik dan mampu berproduksi pada daerah-daerah yang tanahnya subur pada ketinggian 500-800 m di atas permukaan laut. Pada daerah-daerah yang mempunyai ketinggian kurang dari 500 m dan lebih dari 800 m, tanaman aren tetap dapat tumbuh namun produksi buahnya kurang memuaskan.

Di samping itu, banyaknya curah hujan juga sangat berpengaruh pada tumbuhnya tanaman ini. Tanaman aren menghendaki curah hujan yang merata sepanjang tahun , yaitu minimum sebanyak 1200 mm setahun. Faktor lingkungan tumbuhnya juga berpengaruh. Daerah-daerah perbukitan yang lembab, dimana di sekelilingnya banyak tumbuh berbagai tanaman keras, tanaman aren dapat tumbuh dengan subur. Dengan demikian dengan demikian tanaman ini tidak membutuhkan sinar matahari yang terik sepanjang hari.

Penyadapan nira

Nira dihasilkan pohon aren. Nira dihasilkan dari penyadapan tandan bunga jantan. Untaian-untaian bunga jantan lebih pendek dari untaian-untaian bunga betina. Jika untaian buang jantan panjangnya hanya sekitar 50 cm saja, maka untaian bunga betina panjangnya dapat mencapai 175 cm.
Persiapan penyadapan merupakan kegiatan yang sangat penting agar dapat memperoleh nira yang cukup banyak dan lama penyadapannya dapat lebih lama. Kegiatan ini terdiri dari pembersihan tandan. Bunga dan memukul-mukul tandan. Pekerjaan ini memang harus dilakukan dengan sabar agar dapat diperoleh hasil yang memuaskan. Pembersihan tandan dilakukan jika bunga jantan belum pecah kulitnya, yaitu dengan membersihkan ijuk yang ada di sekitar tandan dan sekaligus membuang (menghilangkan) dua pelepah daun yang berada di atas dan di bawah tandan bunga. Pembersihan ini dilakukan agar lebih mudah melakikan penyadapan.

Setelah di sekeliling tandan bersi, kemudian tandan diayun-ayunkan dan di pukul-pukul agar dapat memperlancar keluarnya nira melalui pembuluh kapiler (pembuluh phloem). Pemukulan dilakukan dengan kayu secara ringan (tidak terlalu keras). Dan tandan jangan sampai terluka. Pengayunan dan pemukulan tersebut dilakukan berulang-ulang selama tiga minggu dengan selang waktu dua hari. Untuk melihat apakah bunga jantan yang sudah di ayun dan dipukul itu sudah atau belum menghasilkan nira, maka tandan ditoreh (dilukai).jika torehan belum mengeluarkan cairan, maka tongkol perlu diayun-ayunkan dan dipukul-pukul lagi. Jika torehan sudah mengeluarkan cairan, maka sudah siap disadap niranya. Kemudian potonglah tandan bunga tepat pada torehan tersebut dengan sabit atau parang yang tajam. Setelah tandan di potong, kemudian taruhlah sebuah bumbung bambu yang khusus dibuat untuk menampung nira di bawah tandan yang dipotong, atau ujung tandan yang sudah di potong masuk sedikit dalam mulut bumbung. Agar kedudukan bumbung tersebut kuat, maka bumbung harus diikat dengan batang pohon aren atau pangkal tandan.

Penyadapan nira dilakukan 2 kali sehari (dalam 24 jam). Penyadapan pada sore hari, nira yang tertampung diambil pada pagi hari, dan penyadapan pagi hari niranya diambil pada sore hari. Setiap mengganti bumbung, tandan tempat keluarnya nira harus diiris tipis agar saluran atau pembuluh kapiler terbuka, sehingga nira dapt keluar secara lancar. Setiap tandan bunga jantan dapat disadap selama 3-4 bulan, yaitu sampai tandannya habis atau mengering.

Sumber:
Ir. Hatta Sunanto, BSc, Ms . 1993. Aren – Budidaya dan multigunanya, Kanisius, Yogyakarta

Aren / Enau

Sumber: http://www.kehati.or.id/

0001432

Spesies :
Arenga pinnata (Wurmb) Merrill

Nama Inggris :
Sugar palm, Aren palm, Gomuti palm.

Nama Indonesia :
aren, enau

Nama Lokal :
Aren (Jawa), enau, kawung (Sunda)

Deskripsi :
Palem pohon yang tidak bercabang-cabang dan tunggal, mati setelah berbunga, bisa mencapai 20 m.dengan diameter 30-65 cm. Batang ditutupi oleh bekas pangkal tangkai daun dan serat-serat panjang berwarna hitam keabu-abuan. Daun menyirip dengan panjang 6- 10 m, tangkai daun 1-1,5 m dengan pelepah daun pada pangkalnya. Perbungaan berumah satu, tumbuh di antara ketiak daun, merunduk kadang-kadang lebih dari 2 m panjangnya, bunga betina ada di ujung dan bunga jantan tumbuh di bagian bawah batangnya. Buahnya seperti buah batu, bulat sampai bulat telur dengan panjang 5-8 cm, berdaging, terdiri dari 2 – 3 biji, hitam.

Distribusi/Penyebaran :
Tumbuh di Asia Tenggara sampai Papua bagian timur, Jepang (P. Ryukyu), Vietnam (Annam) dan Himalaya Timur.

Habitat :
Sangat baik tumbuh di daerah hangat dengan sinar matahari penuh dan suplai air yang melimpah pada tanah subur. Dapat tumbuh dari pantai – 1400 m dpl. Tumbuh liar di hutan primer atau sekunder, banyak dijumpai di sekitar perkampungan.

Perbanyakan :
Sudah banyak ditanam di pekarangan, kebun skala kecil sampai besar. Perkebunan aren banyak terdapat di Indonesia terutama di daerah Tasikmalaya, Jawa Tengah, Jawa Timur, sebagian di Kalimantan Timur. Perbanyakan bisa dengan biji atau anakan (seedling) yang dijumpai di bawah pohon induk

Manfaat tumbuhan :
Semua bagian tumbuhan palem dapat dimanfaatkan untuk banyak produk. Batang mengandung teras pati yang lunak dengan banyak serabut kasar dan berkayu; pati dapat diekstrak dari empulur batang. Produk makanan yang berasal dari pati biasanya untuk membuat makanan khusus seperti `bakso` (Indonesia), dan tempoyak yang dibuat dari palem kumbang (Rynchophorus ferrugineus) yang dibusukkan pada batang-batang yang jatuh dan dapat dimakan secara segar, digoreng atau dikukus. Produk utama lainnya yang berasal dari sadapan tangkai perbungaan adalah sari beraroma manis:nira (bentuk segar) dan toddy (bentuk fermentasi), cuka dihasilkan dari fermentasi yang terus menerus, alkohol dapat disuling dari anggur palem dan khamir yang dibuat dari residu yang disimpan selama fermentasi. Pohon aren dapat menghasilkan gula aren. Gula aren dipakai sebagai bahan pembantu untuk menimbulkan warna, memperkuat ketahanan warna dari pewarna alami. Selain itu gula aren dicampur dengan air dan kapur dipergunakan untuk nyareni. Gula aren juga dipakai untuk memberi warna coklat makanan. Daun-daun muda yang tetap berwarna putih, dimakan seperti kubis.`Kolang kaling` (Indonesia) dibuat dengan memasak endosperma putih dari biji-biji yang belum masak dengan gula. Serabut yang dikumpulkan dari akar, empulur batang, tangkai daun dan disekeliling batang (panjang dan berwarna hitam-kelabu=`ijuk`, Indonesia), dapat digunakan untuk berbagai keperluan misalnya: tali pada kapal, pelindung kayu dalam tanah dan dalam air laut, keranjang, konstruksi atap, untuk mengikat, sikat, sapu, jaring ikan, perangkap dan tikar. Bulu keras dan kuat diantara serabut-serabut tipis dekat pangkal daun digunakan sebagai pena, anak panah, suluh, bahan bakar bahan-bahan yang berbau. Sedangkan akar-akar yang tumbuh dari pangkal batang kadang-kadang dijadikan papan berserabut untuk pembudidayaan anggrek. Pinak daun digunakan untuk membuat keranjang basket, tangkai daun untuk sapu dan tusuk sate, sedangkan yang masih muda bisa dimakan. Tangkai daun yang besar dapat digunakan sebagai kayu bakar, tongkat dan alat-alat musik.Kayu berwarna hitam dan kuning yang berasal dari batangnya digunakan untuk ubin, peralatan rumah tangga, alat-lat pegangan dan sebagai kayu bakar yang bernilai tinggi. Akar mudanya untuk mengobati batu ginjal, sedangkan yang tua untuk sakit gigi, gula untuk pencahar dan daging yang ada diantara pelepah daun untuk mempercepat pemulihan luka bakar. Di daerah-daerah tertentu gula pohon palem dibayarkan sebagai mas kawin.

Sinonim :
Arenga saccharifera Labill.

Sumber Prosea :
9: Plants yielding non-seed carbohydrates p.53-59 (author(s): Smits, WTM)

Kategori :
Pewarna alami

Arenga pinnata

Sumber: http://www.worldagroforestry.org/

Species identity;

Taxonomy

Current name: Arenga pinnata
Authority: (Wurmb.) Merr.
Family: Arecaceae

Synonym(s)

Arenga saccharifera Labill.

Common names

(English) : arenga palm, sugar palm
(German) : Zuckerpalme
(Indonesian) : ejow, gomuti, kaong

Botanic description

Arenga pinnata is a solitary, unarmed, pleonanthic, monoecious feather palm. The bole is solitary, unbranched and usually reaches a height of 15-20 m, with a diameter of about 30-40 cm. Leaves pinnate, ascending, up to 8.5 m long. Leaflets dark green above and whitish beneath, giving the trees a dirty greenish appearance. The leaf sheaths cover the stem; their margins are fibrous with black hairs. Young leaf sheaths are usually covered on their lower surfaces with an abundance of soft, mosslike white hairs. The first inflorescence arises from a node near the top meristem. Inflorescences appear in descending order from the uppermost leaf axil and continue for about 2 years until the palm is exhausted and dies. Each node bears only one inflorescence. Fruits are yellow when mature, about 5 cm in diameter, with 2-3 seeds each.

Ecology and distribution

History of cultivation

Although the origin of A. pinnata is not known with certainty, it may be from the region of Minahassa in North Sulawesi, Indonesia, in view of the great abundance of this palm at all sites. As early as 1821 it was reported that 439 450 sugar palms were harvested for ijuk (black fibres), yielding as much as 300 000 ropes from a single factory during one month. At that time the sea water-resistant fibres were the main product, as in the extensive sugar palm plantings in Malacca in the 19th century. Its great versatility makes it one of the oldest cultivated plants, and it was probably a source of plant sugar long before sugarcane was cultivated for that purpose. Among the Minahassa, for example, legends about the use of the ‘toddy’ date back to the time of Toar and Lumimuut, who were the first human beings on earth, according to their traditional belief.

Natural Habitat

Native to southeast Asia, occurring in tropical rainforest and dry forest. Usually it grows close to human settlements where anthropic propagation plays a major role. Otherwise it prefers secondary forest at the border of primary rainforests.

Geographic distribution

Native : Bangladesh, Brunei, Cambodia, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Papua New Guinea, Philippines, Singapore, Sri Lanka, Thailand, Vietnam

Biophysical limits
Altitude: 0-1 400 m

Reproductive Biology

This monoecious palm first flowers when around 10-12 years old; however, sometimes it flowers as early as 5-6 years. Maturity is indicated by simultaneous appearance of 2 short leaves at the top of the stem. The average flowering period of an untapped tree is 4-6 years.

Propagation and management

Propagation methods

The best method of producing planting stock is through nursery-raised seedlings from selected seeds. Seeds should be scratched near the germination spot until the brown, inner seed-coat layer becomes visible, then soaked in water overnight. An alternative is a pretreatment in water of around 30 deg. C for 24 hours. The seeds should then be seeded in a clean medium with good aeration, planted with the germination spot downward and covered with a 1-cm layer of sand. The sand should be kept moist at all times. Within 2-3 weeks about 80% of the seeds will have germinated and can be transplanted to any type of container. Direct sowing is possible but seedlings take a long time to establish well and may grow at irregular distances. Untreated seeds freely dispersed show 10-20% germination after 6 months. A. pinnata can also be propagated through suckers.

Tree Management

Depending on altitude and temperature and to a lesser degree on factors such as soil fertility, climate and competing vegetation, the palms will stay in the rosette stage for 3.5-6 years, and then grow to full size in another 3-9 years. Usually after 5-6 years, the fibres can be collected for the first time and after that, every 2 years. When the palm begins flowering, tapping for the sweet sap can start, but farmers usually wait for the first male flowers. The sap is usually tapped only from male inflorescence stalks, because female inflorescences are said to produce sap of inferior quality, and the more fibrous stalk of the females requires extra effort to prepare. Usually, the closer to the ground the male inflorescence arises, the less sap it produces. One inflorescence can produce about 5 litres of sap a day. An inflorescence of sugar palm can be tapped for 1-2 months, and 2-4 inflorescences may be tapped at a time. Since sago, the starchy layer on the inner part of the trunk, is obtained only by cutting trees, it is usually the last product obtained; trees are usually cut for sago when they are more than 30 years old. As the heavy shade and the dense root system of the sugar palm limit its combination with other crop plants, it is best planted on steeper slopes, easily eroding lands, or in single or double rows near the boundaries of fields, where it contributes to soil stabilization without taking up considerable land area.

Germplasm Management

Behaviour of seed in storage is recalcitrant; the seed is short-lived, and only 25% survive for 3 months in open storage.

Functional uses

Products

Food: A. pinnata is a popular plant because of its year-round food production, especially in the dry season when other food is scarce. Its most important product is sweet sap, called saguer, which is used as a drink and as the raw material for sugar production. Fruits contain 6.8% moisture, 7.9% ash, 16.2% crude fibre, 10% crude protein and 1.5% fat. Trees more than 15 years old produce, which people in some parts of Indonesia use like rice as a staple food. A sago-like flour can be ground from the trunk pith and used for cakes, noodles and other dishes. A product typically made from A. pinnata in West Java is kolang kaling, the cooked endosperm of young sugar palm fruits. One infructescence yields about 4 500 endosperms. It is used for a cocktail and local refreshment known as kolak. The stem is a form of sago, which is converted into sugar when the palm first begins to flower. Palm cabbage is eaten raw as a salad or cooked. Apiculture: The flowers are a good source of nectar for honey production. Fuel: Old woody leaf bases as well as the long leaves, can be used for fuel. The hairs found on the base of the leaf sheaths are very good tinder for igniting fire. Fibre: The leaf sheath is a source of a tough, black fibre (gomuti or yonot fibre). It is used chiefly for a durable rope tolerant of both fresh and salt water and of fire; it is used for marine work, thatching and brushes. The split petioles are used for basketry and a form of marquetry. The youngest leaves are sometimes used as cigarette paper. Timber: The very hard outer part of the trunk is used for barrels, flooring and furniture. Posts for pepper vines, boards, tool handles and musical instruments like drums are all made from the wood of A. pinnata. Alcohol: A simple distillation process applied to the fermented sugar sap produces tuak, a beverage containing over 30% alcohol. Poison: The roots of A. pinnata are a useful insect repellent. Medicine: Roots provide medicinal products, such as a tea decoction used to cure bladder trouble. Other products: The pith of the leaf rachis is an ideal shape for use as a drinking cup.

Services

Erosion control: Root up to 3 m deep and 10 m wide contribute to soil stabilization. Intercropping: Although sugar palm grows very well among larger trees when there is sufficient overhead light, very few plants thrive under it. Coffee and pineapple survive under these palms but hardly yield. The tree has a relatively short life span, which must be considered when promoting it as a species for agroforestry or any programme directed towards its propagation. The life span, however, fits well into the practiced rotation cycles of shifting cultivation in Indonesia, which are usually between 12 and 15 years in traditional systems.

Pests and diseases

A. pinnata is rarely attacked by pests or diseases.

Bibliography

Boland DJ, Brophy JJ, House APN. 1991. Eucalyptus leaf oils, use, chemistry, distillation and marketing. ACIAR/CSIRO. INKATA Press. Melbourne.
Hong TD, Linington S, Ellis RH. 1996. Seed storage behaviour: a compendium. Handbooks for Genebanks: No. 4. IPGRI.
Mogea J, Seibert B, Smits W. 1991. Multipurpose palms: the sugar palm (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.). Agroforestry Systems. 13:111-129.
Perry LM. 1980. Medicinal plants of East and South East Asia : attributed properties and uses. MIT Press. South East Asia.
Wickens GE (ed.). 1995. Non-wood forest products 5; Edible nuts. FAO, Rome.
Withington D et al. (eds.). 1988. Arenga pinnata: a palm of agroforestry. In: Multipurpose trees species for small-farm use: proceedings. Winrock International/ IDRC.

Aren: Pohon Kehidupan?

Sumber: http://triagrosukses.blogspot.com/

Pohon Aren sudah lama terkenal dengan banyaknya jenis produk yang dihasilkannya, termasuk berbagai jenis obat seperti misalnya akar yang bisa dijadikan obat sakit gigi atau obat untuk menghancurkan batu ginjal. Ada bagian Aren yang dapat dijadikan obat luka bakar dan secara umum nira aren sejak dulu dianggap sebagai minuman berkhasiat, di India dan di berbagai daerah di Indonesia . Namun sekarang ini mulai muncul aspek dari gula Aren yang belum banyak dikenal masyarakat luas. Dari hasil penelitian Yayasan Masarang yang dilakukan oleh Dr.Ir. Willie Smits dan Dr.Ir. Julius Pontoh terungkap efek gula Aren yang luar biasa terhadap kesehatan manusia.

“Kami telah menganalisa lebih dari 1000 kasus kematian di Tomohon dan coba melihat apa penggunaan gula Aren atau gula putih berpengaruh secara signifikan atau tidak terhadap harapan hidup masyarakat Tomohon. Dan ternyata hasilnya di luar dugaan kami” demikian yang disampaikan Dr.Ir. Willie Smits, yang juga ketua Yayasan Masarang dan dosen FMIPA UKIT dan UNSRAT.

“Memang adanya efek kesehatan dari zat yang terdapat di dalam gula Aren sudah lama diketahui, seperti Vitamin B1, B2, B3, B12, C, serta berbagai jenis asam amino yang penting bagi tubuh seperti leucine, isoleucine, histidine dan lain-lain, dan bahkan gula Aren mengandung inositol dan zat bioaktif lainnya. Tapi baru sekarang kami bisa menunjukkan dengan angka betapa besar efek tersebut.” Hal ini diungkapkan Dr.Ir. Julius Pontoh, yang meraih S3nya di Canada di bidang gula, dan saat ini sebagai dosen UNSRAT serta tenaga ahli pabrik gula aren Masarang.

”Pertama kami masih ragu apakah data kami akurat, tapi setelah dianalisa dengan berbagai cara semua hasil ternyata sangat konsisten dengan hasil penelitian dari literatur ilmiah internasional. Misalnya tikus putih betina yang diberi gula merah hidup 10 bulan lebih lama dibandingkan tikus yang diberi gula putih, yaitu dari 19 bulan menjadi 29 bulan. Tapi tikus jantan rata-rata hanya menambah umur 4.5 bulan. Ternyata hasil yang sama ditemukan jika dibandingkan data laki-laki dan perempuan yang hanya menggunakan gula aren dan yang menggunakan gula putih. Ternyata perempuan yang menggunakan gula aren hidup rata-rata 11 tahun lebih lama, sedangkan laki-laki tidak sampai begitu lama. Dan secara konsisten juga dari data kami terbukti bahwa secara umum wanita menjadi sedikit lebih tua daripada laki-laki dan efek ini konstan untuk pengguna gula putih maupun gula aren seperti nampak dari grafik ini” kata pak Willie, panggilan akrab para petani Aren yang juga ayah dari tiga orang anak. Orang tinggi ini dulunya berkewarganegaraan Belanda dan sudah lama menjadi orang Indonesia terkenal suka berkeliling kebun petani dan bergurau dalam bahasa Toumbulu dengan masyarakat. Pak Willie ternyata sudah lebih dari 25 tahun mendalami penelitian mengenai segala aspek pohon Aren dan katanya pertama-tama tertarik dengan aren karena mas kawin yang digunakannya dulu dibayar dengan pemberian pohon Aren.

”Produk gula semut Aren sudah diekspor ke Eropa dan diperkirakan pemasarannya akan meningkat sangat tajam dengan adanya penemuan mengenai efek gula Aren terhadap kesehatan manusia. Saat ini kami sudah kembangkan gula Aren yang kadar bioaktifnya lebih tinggi lagi dengan suatu teknik baru yang masih sedang dipatenkan. Apalagi dalam beberapa minggu ini sudah akan beroperasi mesin baru yang dapat menghasilkan jenis gula semut yang lebih baik ini dalam jumlah besar.” Demikian yang ditambah oleh Dr. Pontoh.

Yayasan Masarang sudah menindaklanjuti hasil penelitian mengakjubkan ini dengan persiapan suatu program pengumpulan data kesehatan dari para lansia di Tomohon. Menurut Dr. Levie Golioth, Kepala Puskesmas Tomohon Timur, kondisi orang di Tomohon umumnya sangat sehat, dan sebagian bisa dijelaskan karena masih sekitar 70% masyarakat berprofesi petani. ”Memang kelihatan dari data penelitian bahwa petani di Tomohon rata-rata mencapai umur 5 tahun lebih tua daripada orang yang bukan petani. Berarti gaya hidup berpengaruh terhadap harapan hidup, namun efek gula Aren tetap sangat besar jika dilihat khususnya pada kelompok petani yang menggunakan gula Aren dibandingkan gula putih. Sekarang ini kami akan bekerjasama dengan Yayasan Masarang dengan melibatkan berbagai dokter di Tomohon untuk memberi pemeriksaan kesehatan secara cuma-cuma kepada banyak para lansia di Tomohon sambil mempelajari hubungan antara kesehatan dan umur mereka dengan kebiasaan penggunaan gula mereka” demikian Dr. Levie.

LIMA PRODUK ANDALAN DARI AREN

Sumber: http://foragri.blogsome.com/lima-produk-andalan-dari-aren/

Aren

Aren alias enau (Arenga pinnata) merupakan tanaman asli Indonesia yang penyebarannya mulai dari pantai barat India, Cina bagian selatan sampai ke kepulauan Guam di lautan Pasifik. Dia mampu tumbuh di kawasan dengan ketinggian mulai dari 0 m sd. 1.400 m. dpl. Ada lima produk utama yang dihasilkan tanaman aren. Pertama, bunga jantannya yang disadap akan menghasilkan nira untuk bahan gula merah (palm sugar, brown sugar). Dulu nira aren juga dibuat tuak dan saguer, minuman beralkohol. Di Manado, tuak yang disuling (didestilasi) akan menghasilkan “cap tikus” minuman yang lebih keras dari tuak. Kedua, buah mudanya (kolang-kaling), adalah menu istimewa untuk kolak saat berbuka puasa. Kolang-kaling juga biasa digunakan untuk minuman “ronde” serta manisan. Karena langkanya kolang-kaling, pada bulan puasa produk ini sering dipalsukan dengan nata de coco yang dicetak (dibentuk) mirip dengan kolang-kaling. Ketiga, ijuknya merupakan bahan tali, atap rumah serta filter resapan air pada bangunan modern. Kelebihan ijuk sebagai filter adalah tidak bisa lapuk. Keempat, batang aren (bagian luarnya) merupakan kayu keras (ruyung) yang juga tahan lapuk. Karenanya, ruyung lazim digunakan sebagai jembatan. Kerangka jembatan biasanya kayu johar (Cassia siamea) yang juga tahan lapuk, lalu ditutup dengan bilah-bilah ruyung. Kayu aren juga sangat populer sebagai tangkai cangkul (joran) dan alu (penumbuk padi dan hasil pertanian lainnya). Kelima, aren juga menghasilkan tepung “sagu” dari empelur batang menjelang tanaman berbunga. Dan justru produk inilah yang menjadi penyebab terkikisnya tanaman aren. Sebab sebelum tanaman menghasilkan biji untuk perkembangbiakan, sudah terlebih dahulu ditebang.

Penebangan aren untuk diambil tepungnya, meningkat tajam intensitasnya pada zaman Jepang (1942 – 1945), serta sekitar tahun 1960 – 1966. Pada tahun-tahun tersebut Indonesia mengalami krisis pangan. Karenanya, tepung aren memiliki nilai ekonomis tinggi. Terjadilah penebangan aren secara besar-besaran. Tepung aren bisa untuk bubur, dodol, kue tradisional (jongkong), pengganti nasi beras (ongol-ongol), kerupuk dan soun. Ketika terjadi krisis pangan tersebut, tepung aren dijual di pasar-pasar traisional maupun warung-warung kecil di pedesaan. Tepung aren dijual dalam bentuk bulatan (bola) sebesar kepalan tangan. Pada tahun-tahun tersebut, hampir semua tanaman sumber karbohidrat termanfaatkan. Aren menjadi alternatif utama karena dari satu batang tanaman dapat dihasilkan tepung sampai ratusan kg. Rendemen aren bisa lebih tinggi dari sagu karena proses penggilingan dan penepungannya dilakukan di pabrik. Pengangkutan dari lokasi penebangan ke jalan raya terdekat dilakukan dengan memotong batang sepanjang 1 m. memberinya pasak kayu sebagai poros di ke dua sisi, lalu menariknya (menggelindingkannya) dengan bantuan bambu. Setiba di jalan yang bisa dilalui truk, batang-batang aren itu dinaikkan untuk diangkut ke lokasi penggilingan. Proses penggilingan umbut aren dan pelarutan hasil gilingan dengan air dan pengendapannya, sama dengan proses penepungan sagu.

Sebenarnya selain lima produk utama tadi, tulang daun aren juga menghasilkan lidi kasar yang bisa digunakan untuk sapu, keranjang serta berbagai keperluan. Daun mudanya (kaung), sampai sekarang masih dimanfaatkan sebagai penggulung rokok di Jawa Barat. Dulu, ketika korek api modern belum diproduksi massal seperti sekarang, bulu-bulu halus dan tebal pada pelepah mudanya (kawul), merupakan bahan pembuat api. Caranya, baja dan batu api (titikan), saling dipukulkan hingga menghasilkan percikan api. Percikan tersebut diarahkan ke kawul yang akan segera terbakar. Kawul lalu ditiup-tiup hingga menghasilkan nyala api. Dulu, ketika populasi aren masih sangat banyak, sebenarnya masyarakat juga sudah memanfaatkan tepung batang aren. Hanya saja, penebangan dilakukan sangat selektif untuk tujuan penjarangan. Karenanya, populasi tanaman di alam tetap banyak, hingga terjadi keseimbangan antara tanaman yang ditebang serta mati tua, dengan tanaman muda yang tumbuh secara alami. Penyusutan populasi tanaman aren di alam, sebenarnya juga disebabkan oleh pemanfaatan biji kolang-kaling. Karena nilai ekonomisnya tinggi, maka satu tandan buah aren akan dipotong semua untuk diambil kolang-kalingnya. Pengambilan kolang-kaling dilakukan pada saat buah aren masih sangat muda. Seperti halnya pada pengambilan kelapa maupun siwalan (lontar) muda. Akibatnya tidak akan pernah ada buah yang menjadi tua untuk regenerasi.

Sebelum zaman Jepang, ketika populasi aren masih banyak, pengambilan kolang-kaling muda pasti masih menyisakan tandan-tandan yang akan dibiarkan menjadi tua. Setelah masak, buah kolang-kaling akan menjadi santapan musang. Musang sangat senang akan buah kolang-kaling yang berwarna kuning ini. Meskipun kulit dan daging buah ini mengandung kristal oksalat yang akan menimbulkan rasa gatal luar biasa pada kulit manusia. Di dalam lambung dan usus musang, biji kolang-kaling “terfermentasi” dengan sempurna dan akan tetap utuh sampai menjadi fases. Kotoran musang dengan biji kolang-kaling tua ini akan tersebar ke mana-mana lalu tumbuh menjadi individu tanaman baru. Begitulah cara aren berkembangbiak. Hingga orang tua-tua selalu mengajarkan bahwa musanglah yang telah menanam aren. Selain karena kolang-kaling yang habis dipetik muda, musang sebagai “alat fermentasi” serta penyebar biji pun, populasinya juga menyusut tajam bahkan di beberapa tempat sudah punah. Akibatnya, regenerasi aren juga terhambat atau terhenti sama sekali. Balai Penelitian Kelapa (Balitka) dan Dinas Pertanian Jawa Barat, pernah mencoba meneliti kemungkinan untuk menyemai biji aren secara massal lalu menyebarkan tanaman hasil semaian ini ke masyarakat untuk penghijauan. Ini merupakan satu-satunya cara mengembalikan populasi aren yang sekarang ini telah menyusut tajam dan nyaris punah.

Sebagai penghasil gula merah, aren memiliki potensi yang jauh lebih tinggi dari kelapa maupun lontar. Pertama, karena secara keseluruhan, hasil nira dari pohon aren, lebih tinggi dari kelapa dan lontar. Kedua, volume nira dari satu bunga aren yang bisa mencapai 10 liter dalam 24 jam, juga lebih tinggi dibanding kelapa dan lontar yang hanya sekitar 3 liter per 24 jam. Penyadapan nira aren juga lebih mudah karena yang diiris adalah tangkai bunganya. Sementara pada kelapa dan lontar yang diiris adalah malai bunganya (manggar). Makin tahun, pohon kelapa dan lontar akan tumbuh makin tinggi. Hingga penyadapan akan makin susah. Tanaman aren, setelah mencapai ketinggian tertentu akan berhenti tumbuh (tidak lagi bertambah tinggi). Pada saat itulah bunga betina akan keluar dari pangkal pelepah tertinggi, disusul oleh bunga jantan pada pelepah di bawahnya. Bunga betina akan menjadi buah (kolang-kaling) dan bunga jantan bisa disadap untuk menghasilkan nira sebelum terlanjur mekar. Selanjutnya, bunga jantan ini akan keluar secara terus-menerus sepanjang tahun, pada ruas-ruas bekas pelepah di bawahnya. Hingga pada akhir hayatnya, tanaman aren akan mengeluarkan bunga jantan pada ruas bekas pelepah paling bawah yang tingginya satu sampai dua meter dari permukaan tanah. Selanjutnya tanaman akan mati. Aren seperti halnya gebang, adalah palem tunggal yang periode hidupnya terbatas. Beda dengan kelapa dan lontar yang akan tumbuh terus, hampir tanpa batas. Juga beda dengan sagu dan nipah yang merupakan palem berumpun dan berkembangbiak dengan anakan. Karena ketinggiannya terbatas, penyadapan aren jauh lebih mudah, tetapi dengan hasil nira yang lebih banyak dari kelapa maupun lontar.

Setelah mati pun, aren masih menghasilkan kayu yang kualitasnya tidak ada duanya. Meskipun volume kayu aren ini sangat kecil. Sebab dari sekitar 50 cm diameter batang aren, bagian pinggir yang keras itu hanyalah setebal 5 sd. 7 cm. Pada bagian pangkal batang, ketebalan ruyung ini bisa mencapai lebih dari 10 cm. Kualitas ruyung bagian pangkal batang juga lebih bagus, lebih padat dan keras. Makin ke atas, ketebalan ruyung makin berkurang. Pada bagian paling ujung, ketebalan ruyung hanya sekitar 3 sd. 4 cm, dengan kualitas yang lebih rendah. Kayu aren mirip dengan kayu kelapa, terdiri dari serat-serat dengan diameter 2 mm. yang satu sama lain terekat dengan sangat kuat. Rekatan serat-serat ruyung yang berasal dari bagian pangkal batang, sangat kuat dan rapat. Makin ke atas, rekatan ruyung ini makin longgar. Warna serat ruyung adalah hitam, hingga untuk bahan meubel pun sebenarnya memiliki keindahan yang luarbiasa. Kayu aren memiliki kelas keawetan dan kekuatan setara dengan kayu ulin. Sayangnya, dari satu batang aren, volume ruyungnya sangat sedikit. Sebab bagian tengah batang yang sekitar 80% dari volume totalnya, merupakan “gabus” dengan serat-serat kasar yang kosong. Pada waktu batang aren belum berbunga, bagian gabus ini penuh dengan pati. Pati inilah yang oleh tanaman akan diubah menjadi gula dan dikeluarkan secara bertahap dalam bentuk nira aren.

Hasil aren yang tidak ada duanya adalah ijuk. Produk ini merupakan khas hasil tanaman aren. Ijuk adalah serat pada pangkal pelepah daun yang terjalin melingkari batang. Ijuk berguna untuk melindungi bagian pucuk tanaman yang masih sangat muda. Serat ijuk berwarna hitam dan tidak bisa lapuk. Tali ijuk memiliki kekhasan karena bisa mengikat erat bambu utuh.

Tali-tali lain, misalnya tali dari serat sabut kelapa, serat kulit kayu, serat rami atau serat sintetis (plastik) tidak pernah bisa mengikat bambu utuh. Hingga bangunan-bangunan kuno yang terbuat dari bambu, pasti menggunakan tali ijuk. Serat aren ini juga digunakan sebagai atap rumah. Model atap tumah minangkabau asli, selalu beratapkan ijuk. Demikian pula halnya dengan perumahan Badui Dalam. Pada bangunan-bangunan modern, ijuk berfungsi sebagai filter pada sumur resapan. Termasuk lapangan-lapangan golf selalu memanfaatkan ijuk untuk menyaring endapan lumpur agar tidak hanyut (larut) bersama dengan aliran air. Meskipun bisa tumbuh baik mulai dari ketinggian 0 m. sd. 1.500 m. dpl; aren baru akan tumbuh optimal di dataran menengah, mulai dari 200 m. sampai dengan dataran tinggi 1.000 m. dpl.

Terutama aren cocok untuk ditanam di lereng-lereng terjal serta jurang-jurang yang curam. Hingga tanaman ini, bersamaan dengan bambu, sangat cocok untuk penghijauan di pegunungan di Jawa. Kalau bambu dan juga aren ini dimanfaatkan, maka masyarakat bisa memperoleh pendapatan dari nira, ijuk, tepung, kolang-kaling dan ruyung, sementara kawasan tersebut akan selamat dari bencana tanah longsor. (R) ***

00

Pengembangan Aren Yayasan Masarang

Sumber: http://www.masarang.net/aren-a.htm

  • Pengembangan Aren untuk menangani kemiskinan, lapangan kerja, lingkungan hidup, energi, substitusi gula dan masalah sosial
  • Tumbuh di mana saja di Indonesia , dari permukaan laut sampai 2000 meter dapl dan di berbagai jenis tanah
  • Tidak ada hama atau penyakit yang berarti dan manfaatnya 60 jenis produk dari Aren dikenal luas
  • Tumbuh secara alami di lahan kritis, tahan api dan mencegah erosi dengan akar yang dalam dan rapat
  • Produk utama : Energi
  • Produk2 utama berasal dari fotosintesa: Gula, Ethanol, Kayu, Ijuk, Sagu
  • Artinya jika Aren telah tumbuh tidak lagi butuh pupuk dan produksi justru naik
  • Indonesia tahun 2005 impor 1.8 Juta ton gula dan mengimpor banyak minyak
  • Sambil menyelesaikan dua masalah ini Aren mampu menciptakan banyak sekali lapangan kerja melalui energi surya ini

Jadi kenapa Yayasan Masarang mengembangkan pabrik gula Aren?:

  • Untuk mengurangi kemiskinan
  • Untuk menciptakan jutaan lapangan kerja
  • Untuk pelestarian lingkungan hidup
  • Untuk substitusi impor gula
  • Untuk mengurangi impor minyak

Jadi kenapa belum dipakai?

  • Gula Aren belum ada standar2 resmi
  • Belum pernah diproses menjadi gula kristal
  • Pohon tersebar di mana2 di kebun rakyat
  • Pasaran lokal hasil aren terbatas
  • Teknik penyadapan maupun sumber benih sangat menentukan hasilnya
  • Teknologi pembibitan masih baru
  • Bibit unggul hanya di SULUT dan SUMUT

1 Comment »

  1. Kami sangat tertarik untuk budidaya bibit aren, cara yang efektif untuk pembiakan/ semai dari biji tolong dilampirkan, tks

    Comment by barkah sudigdo — October 10, 2012 @ 6:41 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 32 other followers

%d bloggers like this: